Ketika Tingkap-Tingkap Akal Budi Terkunci

Beberapa saat yang lalu saya ditarik untuk memperhatikan tingkah laku seorang di internet yang bernama Facebook ‘Papa Kriesto’. URL akun Facebook orang ini berisi sesuatu yang sangat menghina Kristen. Kalau tidak percaya silahkan klik saja link di atas dan lihat pada address bar browser anda. Orang ini mengaku diri Katolik. Namun kalau dilirik dari URL tersebut, sangat sulit kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin untuk mempercayai klaimnya. Dia lebih kelihatan seperti seorang non kristen radikal yang sedang beraksi dengan melakukan jurus penipuan. Tetapi untuk sementara kita asumsikan saja bahwa dia jujur mengatakan sebagai seorang Katolik.

Nah, yang menarik saya untuk melihat perilaku orang ini adalah saya diminta untuk menjadi moderator perdebatan antara pdt. Ady Ndiy dengan seorang yang memiliki akun Wahyu Renaldy. Saya tentu saja tidak keberatan untuk itu karena saya rasa saya punya kemampuan untuk menjadi moderator perdebatan. Kemudian si Papa Kriesto muncul dengan klaim tertentu yaitu bahwa “Kuru paijo org lama…, dia paham siapa saya krn dia sering ikuti diskusi saya apalagi sm duke.” (lihat link ini!). Terus terang saya tidak pernah mengikuti perdebatan dia dengan Duke karena itu saya mengemukakan fakta bahwa saya tidak pernah mengikuti perdebatannya dengan Duke tetapi beberapa kali Duke pernah menghubungi saya dan memintai pendapat terhadap argumen tertentu dari Katolik. Saya juga tidak tau apakah Duke menggunakan masukan saya tersebut. Saya tulis komentar yang berbunyi, “Terus terang saya tidak keberatan kalau memang saya menjadi moderator. Tetapi di atas ada klaim yang sangat mengganggu yaitu bahwa saya sering mengikuti debat si Kresto dengan Duke. Saya tidak pernah mengikuti perdebatan kalian. Saya sempat mengatakan akan melihat kepada Duke, tetapi tidak pernah. Saya pernah beberapa kali memberi masukkan berdasarkan argumen yang disodorkan kepada saya, tetapi saya tidak tau itu argumen siapa dan apakah Duke menggunakan argumen tersebut atau tidak. Jadi tolong tarik komentar anda. Terima kasih!”

Saya menulis komentar tersebut dengan dengan asumsi bahwa orang ini memang orang yang normal dan mau tunduk pada kebenaran. Namun apakah itu yang terjadi? Tidak sama sekali! Dia membalas komentar saya dengan mengatakan, “kuru paijo, sepertinya kamu sering diundang sbg pembenaran pendapat tho..hehe, bukan cuma sekali dua kali sepertinya, okleik..tidak ada yg perlu ditarik selama masih dlm kebenaran, okleik”. Perhatikan dia tidak menarik komentarnya dengan alasan masih dalam kebenaran. Dia juga menambah sebuah klaim lagi bahwa saya sepertinya lebih dari sekali atau dua kali dimintai pandangan oleh Duke. Saya bertanya apa maksudnya dengan ‘dalam kebenaran’ atau kebenaran yang dimaksudnya apa dan menginformasikan bahwa paling tidak hanya dua atau tiga kali meminta pandangan saya. Namun sampai jari-jari saya menari di atas keyboard laptop untuk membuat tulisan ini, tidak ada jawaban dari si Kriesto dan tiba-tiba saja si Kriesto menghilang dan digantikan oleh si seorang yang bernama Wahyu Renaldy. Diskusi denga si Kriesto dapat dilihat di sini:

Nah, kalau saya perhatikan, si Kriesto ini memiliki kemiripan yang sangat besar dengan orang lain yang juga mengaku diri Katolik dan juga pekerjaan sehari-harinya di Facebook adalah pergi dari satu status orang Kristen ke status orang Kristen yang lain dan mengata-ngatai mereka sesat atau memaki-maki mereka sebagai bodoh. Orang itu menyebut diri sebagai Wahyu Renaldy. Karena itu kiranya tidaklah tak beralasan untuk mengatakan bahwa si Papa Kriesto adalah si Wahyu Renaldy. Kalaupun misalnya ternyata mereka berdua hanya orang yang berbeda dengan template sikap dan perilaku serta pemikiran yang sama (atau setidaknya sangat mirip), hal itu tidak relevan dengan isu yang saya angkat karena yang perlu diperhatikan adalah sikap dan pemikirannya yang perlu dihindari terlepas dari apakah keduanya orang yang sama atau tidak.

Ketika dimasukkan ke dalam sebuah kelompok diskusi CLDC, si Wahyu alias si Kriesto dengan tegas mengatakan tidak akan tunduk pada aturan kelompok tersebut. Teman saya Ma Lobo menerima dia dengan baik-baik, tetapi rupanya si Renaldy berasal dari hutan yang tidak pernah tau apa artinya etiket saat memasuki wilayah orang lain. Dia terus melakukan apa yang dia lakukan yaitu mengatakan orang Kristen (dalam hal ini Kristen = Protestan) sebagai sesat dan memaki orang seperti Ma Lobo atau pdt. Ady Ndiy sebagai bodoh dan sebagainya, dan lain-lain. Karena ketidakmampuan untuk berdiskusi baik-baik, maka Ma Lobo dengan tegas mengeluarkan dia, yaitu setelah diberi kesempatan untuk berubah tetapi tidak ada perubahan. Setelah dia dikeluarkan dia mulai berkoar-koar di luar memaki-maki Ma Lobo. Sebuah perilaku yang mengingatkan saya akan seorang muslim mantan katolik bernama Ahmad Ismail Fernandez.

Orang ini sering mengaku-ngaku paham logika dan argumentasi dan beberapa kali berbicara tentang fallacy. Dari perilaku seperti ini tentunya tidak terlalu tak beralasan untuk menanggap bahwa dia paham logika dan argumentasi serta berharap bahwa kesalahan yang dibuatnya tidak terlalu fatal. Kita bisa mengharapkan bahwa orang seperti ini hanya melakukan sedikit kesalahan-kesalahan yang kecil. Artinya kita mengharapkan melihat ia melakukan apa yang dia katakan. Apakah itu yang terjadi? Apakah dia benar-benar seorang yang paham logika dan argumentasi dan orang-orang lain seperti Ma Lobo, Pak Ady Ndiy, dll hanyalah anak SD yang tidak paham apa-apa? Saya akan membiarkan pembaca menilai sendiri dan saya hanya akan menganalisa pernyataan-pernyataannya. Kalau tidak percaya analisa saya, silahkan klik link-link ke tempat-tepat diskusi tersebut.

Kita mulai dari pernyataan di atas yaitu ketika saya minta dia menarik pernyataannya bahwa saya sudah sering mengikuti perebatannya dengan Duke. Bukannya menarik pernyataannya yang salah, sebaliknya dia mengatakan bahwa tidak ada yang perlu ditarik karena semua masih dalam kebenaran. Saya tidak tau logika macam apa yang dia gunakan atau yang dia rasa dia pahami. Salah satu hukum logika adalah hukum kontradiksi yaitu bahwa A tidak mungkin non-A pada saat yang sama dengan definisi yang sama. Saya menginformasikan bahwa saya tidak pernah mengikuti perdebatannya dengan Duke, tetapi dia mengatakan bahwa saya sering mengikuti perdebatannya dengan Duke. Keduanya tidak mungkin benar. Entah saya mengikuti perdebatan mereka atau saya tidak megikuti perdebatan mereka. Harus pilih salah satu. Saudara Duke mendukung saya dalam postingan tersebut. Kalau demikian, maka saya pasti benar dan dia salah. Namun si Kriesto tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah alias tidak tunduk pada hukum kontradiksi dengan mengatakan bahwa yang dia katakan (yang salah itu) masih dalam kebenaran. Orang yang tidak bisa memahami hukum kontradiksi seperti ini dan mengata-ngatai orang lain sebagai anak SD?

Di Grup CLDC, si Wahyu menaruh sebuah tautan ke sebuah tulisan di internet, yang dapat diakses di sini. Tulisan tersebut berisi informasi (entah benar atau tidak, tetapi kemungkinan benar) bahwa pejabat VOC yang protestan membunuh atau mengancam para misionaris Katolik di Indonesia. Informasi yang menarik. Tetapi masalahnya adalah kesimpulan yang diambil adalah tentang mentalitas umat protestan yang katanya radikal dan sampai saat ini masih seperti penyakit akut.

Nah, seorang anak SD yang belajar logika tidak bisa melewatkan sesat pikir yang dikandung dalam tulisan ini. Pertama, dia berbicara tentang sesuatu yang terjadi pada masa lampau untuk mendukung kesimpulan tentang kaum Protestan zaman ini. Tidak ada satupun informasi tentang Protestan masa kini yang diangkat dalam tulisan tersebut. Kalau saya katakan misalnya bahwa semua orang dewasa pasti menetek karena waktu kecil dia menetek, tentunya saya akan dianggap bodoh karena waktu kecil memang anak harus menetek tetapi setelah besar orang mengalami perkembangan dan tidak memerlukan ASI. Dan memang sepantasnya saya dikatakan bodoh kalau saya mengatakan demikian. Saya hanya mengangkat contoh tentang anak kecil, tidak tentang orang dewasa, namun mengambil kesimpulan tentang orang dewasa. Nah, apa yang diangkat sebagai contoh ini tidak berbeda secara mendasar dengan apa yang dikatakan oleh penulis yang artikelnya dipasang oleh si Wahyu alias Kriesto di CLDC. Dari komentar-komentarnya, Kriesto jelas sekali setuju dengan tulisan tersebut. Dia tidak memprotes tulisan tersebut. Apakah orang yang paham logika berani melakukan blunder separah ini? Atau mungkin lebih tepatnya, apakah si Kriesto benar-benar paham logika seperti yang digembar-gemborkannya?

Kedua, argumen seperti ini lebih merupakan sebuah ad hominem. Efek yang diinginkan adalah ketika orang mengetahui bahwa orang yang memiliki sistem kepercayaan tertentu, katakanlah A, melakukan kejahatan, maka orang akan berkesimpulan bahwa pastilah sistem A tidak benar. Masalahnya di dunia ini tidak ada seorangpun yang tidak melakukan kesalahan. Tetapi apakah itu berarti bahwa sistem kepercayaannya pasti salah? Belum tentu. Bisa saja orang tersebut melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dipercayainya sebagai benar. Hanya karena orang dari sistem kepercayaan A melakukan kesalahan tidak berarti bahwa sistem kepercayaan A pasti salah. Harus ada argumen yang membantah sistem A baru dapat dikatakan bahwa sistem kepercayaan A salah. Apakah itu dilakukan oleh tulisan yang diangkat Kriesto alias Wahyu? Tidak sama sekali. Apakah Kriesto atau Wahyu menerima tulisan tersebut. Ya, dan dia menerimanya dengan tingkat keradikalan yang mungkin berskala 10 dari 10 kemungkinan skala. Pantaskah ini disebut orang yang paham logika dan argumentasi?

Satu hal lagi yang dilakukan si Wahyu atau si Kriesto adalah serangan ad hominem yang terus-menerus dimanapun dan kapanpun di Facebook. Sepertinya serangan ad hominem ini bukan hanya sekedar makanan buat dia tetapi juga hasil proses makanan itu sendiri. Jadi yang masuk adalah ad hominem, yang dikeluarkan juga ad hominem, kemudian dimakan lagi ad hominem yang keluar itu sehingga yang keluar juga ad hominem. Demikian dan seterusnya. Ad hominem juga sepertinya menjadi semacam kubangan yang dia nikmati dengan tingkat kenikmatan yang amat sangat tinggi. Teman Ma Lobo mengemukakan sebuah komentar di CLDC terkait dengan posting si Kriesto bahwa:

“Argumen-nya mengalami formal fallacy yaitu: conclusion which Denies Premises a.k.a kesimpulan yg bertentangan ato tdk sejalan dengan premis2-nya. Kesimpulannya bicara ttg protestan, tp premis2-nya ttg VOC dan kelakuan-nya yg tdk sejalan dg ajaran protestan.

Kelakuan VOC (abad 16) seperti itu, kemungkinan besar mrpkn ekses negatif dari perang panjang (30-an tahun) di Eropa yg terbagi dua Katolik vs Protestan, di mana saat itu Belanda adalah bagian dari kaum Protestan Eropa. Kita semua tahu bhw keributan besar di Eropa pada abad 16 itu, pemicunya adalah ketidakmampuan Gereja Katolik dalam mengelola konflik internal-nya scr damai. Jadi, kalo kasus VOC ini kita cari root-cause nya, maka penelusuran akan terhenti pada gereja Katolik sendiri.” (lihat komentar pada tulisan yang berjudul: KERADIKALAN PROTESTAN DALAM PENYEBARAN KLONINGAN ISMENYA DIINDONESIA.)

Seandainya benar bahwa si Wahyu atau Kriesto paham logika seperti yang digembar-gemborkannya, maka dia akan menunjukkan bahwa tulisan tersebut tidak mengalami sesat pikir Conclusion Which Denies Premises. Apakah itu yang dilakukan? Jawabannya sama dengan di atas, yaitu tidak yang bersahut-sahutan gaungnya. Atau kalau tidak tertarik membahasnya, dia bisa mengemukakan argumen yang membantah apa yang dikatakan Ma Lobo dalam komentar tersebut. Apakah itu dilakukan? Jawabannya sama dengan di atas. Agar tidak dikatakan mengada-ada, saya postingkan tanggapannya di sini. Jawaban ini dapat diakses di sini.

Dan gobloknya lagi dia ngawur sejarah,dgn mengatakan” bhw keributan besar di Eropa pada abad 16 itu, pemicunya adalah ketidakmampuan Gereja Katolik dalam mengelola konflik internal-nya scr damai.”, sangatlah goblok ilmu sejarah ini koar tanpa menampilkan bukti,saya jadi bertanya”Apakah mental debater protestan rata rata sesesat ini semua?” hanya bisa koar disaat diserang tanpa berani diskusikan permasalahan?

Orang protestan sesat seperti lobo ini banyak saya jumpai cari umat dgn iming iming mencapai surga dgn mudah,padahal hanya utk kepentingan perutnya sendiri saja anak pewartaan dgn nama kerja diladang Tuhan.

Sepertinya ibunya anak nyidam BABI NGEPET saat hamilnya anak ini.

Dan gobloknya dgn ilmu PASTOLOGInya anak ini semakin ngawur ilmunya dgn bilang”Jadi, kalo kasus VOC ini kita cari root-cause nya, maka penelusuran akan terhenti pada gereja Katolik sendiri.”

Sepertinya dicekoki doktrin sesat protestan radikal anak ini,makanya ilmunya asal copas saja dan selalu ngawur,tapi semua ini hanya ucapan bodohnya dia saja,dan saat ditanya bukti dia selalu kabur.

Apakah orang yang kerjanya hanya melakukan pelanggaran hukum-hukum logika dengan bisa memaki-maki orang tanpa punya argumen mengindikasikan orang yang paham logika atau sebenarnya hanya berkoar-koar pintar logika namun sebenarnya kosong? Atau mungkin dia paham logika, tetapi kebenciannya menghilangkan kemampuan logika dan argumentasi? Saya sungguh tidak tau pasti. Saya hanya bisa berspekulasi. Tetapi intinya ketiga hal itu adalah hal yang harus dihindari. Semoga kita belajar!

Catatan:
Kutipan ditampilkan dalam font miring tanpa merubah sedikitpun kesalahan penulisan

Pos ini dipublikasikan di Dasar Bego, Memang Bodoh, Papa Kresto, Penipuan, Wahyu Reinaldy. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ketika Tingkap-Tingkap Akal Budi Terkunci

  1. Ping balik: Ketika Si Buta Menganggap Fantasi Cahaya Akibat Benturan di Kepala sebagai Bukti Ketidakbutannya (Kasus Papa Kriesto) | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s