Treatment Sebuah Buku Tentang Metodologi Penelitian Terhadap Logika

Beberapa saat yang lalu beta membaca sebuah buku dari seorang penulis Indonesia bernama dan bergelar Dr. Juliansyah Noor, S.E, M.M yang berjudul Metodologi Penelithan Skripsi, Tesis, Disertasi & Karya Ilmiah. Saya tidak akan menilai baik tidaknya atau berkualitas tidaknya buku ini dalam hal teknis terkait Metodologi Penelitian. Saya hanya akam memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan pada halaman 7 buku tersebut berbunyi:

Secara universal terdapat tiga jenis pengetahuan yang mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah, menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan salah; (2) etika yang dapat membedakan antara baik dan buruk dalam perbuatan manusia; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek. Kepekaan indra yang dimiliki merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan itu.

Masalah yang paling mendasar dengan pernyataan tersebut adalah bahwa yang dikemukakan itu hanya sekedar klaim dan tidak ada alasan yang dikemukakan untuk mendukungnya. Dan kalau tidak ada alasan yang dikemukakan untuk mendukungnya, siapapun dapat mengemukakan klaim sebaliknya yang bertentangan dengan apa yang dikatakan. Saya dapat dengan mudah misalnya mengatakan bahwa logikalah yang merupakan dasar dari seluruh kehidupan manusia yang melibatkan intelek dan di dalamnya termasuk etika dan estetika. Saya dapat mengatakannya dengan kepala tegak tanpa memberikan alasan apapun yang mendukungnya.

Namun tentunya kita harus belajar dari kesalahan orang lain. Sepertinya akan sia-sia saja kalau kita mengangkat kesalahan orang lain tetapi kita tidak mampu memperbaiki diri setelah mengetahuinya. Karena itu saya akan mengemukakan pandangan saya yang bertentangan dengan apa yang dikatakan. Saya akan mengatakan seperti yang saya katakan di atas yaitu bahwa logika merupakan dasar dari segala sesuatu yang melibatkan pemikiran manusia entah etika, entah estetika, entah agama, entah apapun. Bahkan ketika orang menolak logika sebagai sesuatu yang mendasar, dia harus tunduk pada logika. Dalam etika, ketika orang mengatkan satu tindakan itu baik atau buruk, maka dia sedang tunduk kepada hukum-hukum logika. Kalau tidak, maka pernyataan ‘mencuri buruk’ bisa berarti apa saja. Tanpa logika, pernyataan itu bisa berarti ‘mencuri baik’, ‘anjing malang’, ‘Makuru bodoh’, ‘pintu basah’, baling-baling berputar’, ‘musik ganteng’, dll dst. Demikian juga kalau misalnya dalam estetika orang mengatakan sesuatu, maka itu bisa berarti apa saja tanpa ada akhir.

Mengapa demikian? Sederhana saja. Salah satu hukum logika adalah hukum kontradiksi. Salah satu implikasi dari hukum ini adalah bahwa saat digunakan, satu kata tidak dapat berarti segala sesuatu. Kalau saya mengatakan ‘Anjing saya menggonggong’ misalnya, maka semua setiap kata itu harus memiliki satu arti. Kalau misalnya saya mengatakan seperti itu tetapi kata ‘anjing’, ‘saya’, dan ‘menggonggong’ bisa berarti apa saja, maka akan berakhir dengan kalimat tersebut berarti segala sesuatu. Saat saya mengatakan seperti itu, maka adalah sesuatu yang tidak salah kalau seorang menganggapnya sebagai berarti ‘Gunung Mutis meletus’ atau mungkin orang lain menganggapnya sebagai berarti ‘Hotel Maya penuh’ dan seorang lain lagi menganggapnya sebagai berarti ‘Laptop saya MacBook Pro’, demikian seterusnya tak terhingga. Kalau itu  sesuatu yang diterima dalam etika dan estetika, maka jelas memang logika bukan sesuatu yang sangat mendasar dan apa yang dikatakan dikutip dari buku di atas memang benar.

Hal lain yang bermasalah dari pernyataan yang berbunyi ‘Kepekaan indra yang dimiliki merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan itu.’ Sekali lagi, itu hanyalah sebuah klaim tanpa alasan pendukung. Yang paling mendasar sebenarnya bukan kepekaan indra tetapi hukum logika yang ‘tertanam’ dalam akal budi manusia. Ada banyak kasus NDE dimana orang yang mengalami kematian klinis justeru dapat memahami dan melihat apa yang terjadi.  Pada saat dimana inderanya sudah tidak berfungsi, dia masih bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi. Mungkin ada yang protes bahwa dibanding dengan umat manusia, jumlah yang mengalami NDE sangat sedikit. Mungkin benar demikian. Tetapi satu saja kasus yang bertentangan dengan apa yang dikatakan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa apa yang dikatakan salah. Apalagi klaim ini (yang dikemukakan penulis buku) sepertinya dipahami sebagai klaim universal.

Mungkin buku ini memberikan paparan yang baik tentang hal-hal teknis yang terkait dengan metodologi penelitian, tetapi apa yang dikemukakan terkait logika adalah sesuatu yang salah.

Pos ini dipublikasikan di Disertasi & Karya Ilmiah, Juliansyah Noor, Komentari Buku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Treatment Sebuah Buku Tentang Metodologi Penelitian Terhadap Logika

  1. A. Rozi berkata:

    Salam dari Widia Rumadja < Harris HM

  2. Ping balik: Kesalahapahaman Tentang Argumen Deduktif | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s