Gordon H. Clark mengenai Kritikan Kant Terhadap Argumen Ontologis

Gordon H. Clark

Di bawah ini adalah tulisan Gordon H. Clark tentang Kritikan Immanuel Kant terhadap Argumen Ontologis bagi Keberadaan Tuhan. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan Clark yang saya sudah terjemahkan sebelumnya. Mungkin terjemahan ini masih perlu dirubah. Saya belum memperhatikan dengan cukup teliti.

Kritik Kant [terhadap argumen Ontologis]
Pada bagian awal tulisannya Kant mendefinisikan ‘gagasan’ sebagai “sebuah konsepsi akal budi (reason) yang tidak terelakkan dimana tidak ada obyek inderawi yang terkait dengannya.” (B. 383). Ketika sampai pada [bagian berjudul] “Ketidakmungkinan Pembuktian Ontologis” (B. 629) dia memulai dengan menulis, “Konsepsi tentang sebuah keberadaan (being) yang mutlak tidak terelakkan, hanyalah sebuah gagasan yang realitas obyektifnya tidak terbukti sama sekali walaupun konsepsi tersebut adalah keharusan akal budi/logis (reason).”

Immanuel Kant

Bahwa sebuah gagasan tidak memiliki obyek di dunia inderawi bukanlah musuh bagi keberadaan Tuhan karena Tuhan bukanlah obyek inderawi. Namun demikian, [apa yang dikatakan] Kant dimaksudkan untuk menggarisbawahi masalah bagaimana [cara] membuktikan realitas obyektif obyek non-inderawi. Bagi Kant, sensasi inderawi sudah cukup untuk membuktikan keberadaan sebuah batu atau sebuah kursi. Namun demikian, hal apa yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Seandainya Anselmus menggunakan kosa kata Kant, mungkin dia akan berkata bahwa sebuah konsep akal budi yang tidak terelakkan harus memiliki obyek karena ketidakterelakanannya tersebut. Tetapi mungkin dia tidak akan berkata demikian karena hukum-hukum logika [misalnya] juga merupakan keharusan akal budi (reason), namun logika adalah peraturan untuk berargumen. Hukum-hukum itu bukan obyek eksternal. Dengan demikian gagasan mengenai Tuhan bisa saja merupakan konsep akal budi yang tidak terelakkan tetapi tanpa memiliki obyek eksternal. Dan inilah sebenarnya yang dipercaya oleh Kant. [Kant percaya] bahwa gagasan tentang Tuhan merupakan gagasan heuristik, yaitu gagasan yang dengannya kita melakukan investigasi, khususnya investigasi ke dalam dunia moralitas. Namun demikian, hal ini sama sekali tidak membuktikan realitas obyektif entitas di balik gagasan tersebut. Seperti dikatakan Kant, “Gagasan tersebut hanyalah berfungsi [untuk] mengindikasikan kesempurnaan tertentu yang tak dapat terjangkau, dan membatasi pemikiran serta tidak mengembangkannya dengan menyajikan obyek-obyek baru.”

Kepercayaan Kant bahwa gagasan tentang Tuhan merupakan prinsip heuristik atau prinsip metodologis, tidak secara valid dapat ditarik/disimpulkan dari pandangan (tesis) bahwa konsep yang tidak terelakkan (diharuskan) boleh jadi tidak memiliki realitas obyektif.” [Karena itu] Kant kemudian melanjutkan upayanya untuk menghancurkan argumen tersebut.

Kant menuduh bahwa ketika kaum Rasionalis berbicara tentang keberadaan/wujud yang tidak terelakkan (necessary being), mereka tidak pernah berhenti sejenak untuk merenungkan bagaimana mungkin untuk memikirkan tentang obyek seperti itu, apalagi membuktikan keberadaannya. “Definisi verbal tentang konsep tersebut mudah saja yaitu sesuatu yang ketidakberadaannya adalah sebuah ketidakmungkinan. Namun demikian, definisi tersebut tidak memberi gambaran apa-apa tentang kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan untuk memikirkan tentang ketidakberadaan sesuatu.”

Tentu saja mudah untuk menyatakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk memikirkan keberadaan sesuatu. Jika sebuah definisi berkontradiksi dengan dirinya sendiri, maka tidak mungkin ada obyek di baliknya. Anselmus bahkan mengatakan demikian. Namun pertanyaan Kant terkait dengan kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan bagi seseorang untuk untuk merenungkan ketidakberadaan sesuatu. Kondisi apa saja yang mencegah seseorang dari berpikir bahwa Tuhan tidak ada? Menjelang akhir dari tulisannya, Anselmus berpendapat bahwa [keberadaan] Tuhan begitu nyata sehingga Dia tidak dapat dipikirkan/dianggap sebagai tidak ada. Alasan yang diberikan adalah, “Karena kalau sebuah pikiran dapat memahami wujud yang lebih baik dari Engkau [yaitu sesuatu yang dengan mudah dilakukan terhadap obyek yang tidak ada], maka ciptaan akan melebihi Penciptanya dan hal ini adalah sebuah kekonyolan/ketidakmasukakalan. Dengan formulasi demikian, alasannya tidak terlalu jelas. Namun tidak dapat diragukan bahwa yang dimaksud adalah bahwa “pernyataan orang bebal bahwa Tuhan tidak ada,” merupakan pernyataan yang berkontradiksi dengan diri sendiri sehingga salah. Agaknya Kant mengetahui apa yang Anselmus telah katakan (walaupun seorang penulis moderen percaya bahwa Kant tidak pernah membaca [tulisan] Anselmus[1]), dan dengan pengetahuan tersebut Kant percaya bahwa kritikannya yang pedas tersebut merupakan sesuatu yang relevan: yaitu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan kondisi macam apa yang menjadikan tidak mungkin untuk memikirkan ketidakberadaan sesuatu.

Tidak diragukan lagi bahwa dia menganggapnya relevan karena saat diminta menjelaskan ‘keharusan/ketidakterelakanan’, kaum Rasionalis mengutip contoh geometris. Mereka berkata bahwa sebuah segitiga pasti memiliki tiga sudut. Adalah sebuah kontradiksi untuk mengatakan bahwa segitiga hanya memiliki dua sudut. Kant menunjukkan bahwa contoh seperti ini adalah contoh sebuah penilaian (proposisi) yang tidak terelakkan, sedangkan yang dibutuhkan adalah penjelasan tentang hal yang tidak terelakkan. Contoh geometris tersebut tidak membuktikan bahwa tiga sudut merupakan sesuatu yang tidak terelakkan dan harus ada. Yang ditunjukkan adalah bahwa jika sebuah segitiga ada, maka tiga sudut tidak terelakkan harus ada. Sedangkan argumen ontologis diklaim membuktikan keberadaan sebuah obyek, bukan keharusan sebuah proposisi.

Kant meneruskan, “Jika dalam sebuah penilaian/proposisi yang identik [dengan itu] saya melenyapkan predikat dari dalam pikiran tetapi mempertahankan subyeknya, hasilnya adalah sebuah kontradiksi. Karena itu saya katakan bahwa predikat tersebut secara tidak terelakkan merupakan milik dari si subyek. Namun jika saya melenyapkan baik subyek maupun predikat dalam pikiran saya, tidak mungkin ada kontradiksi yang muncul karena tidak ada apa-apa sama sekali sehingga tidak mungkin ada cara membentuk kontradiksi. Merupakan sebuah kontradiksi kalau menganggap bahwa sebuah segitiga ada tanpa tiga sudut. Namun adalah sesuatu yang dapat dipertimbangkan kalau [kita] menganggap bahwa baik segitiga maupun ketiga sudut tidak ada. Demikian juga dengan konsep keberadaan yang tidak terelakkan. Lenyapkan saja keberadaannya dalam pemikiran, dan anda akan melenyapkan hal itu sendiri dengan semua predikatnya. Kalau demikian, bagaimana mungkin ada ruang untuk kontradiksi?”

Ada sedikit ketidaktelitian dalam [kutipan] tulisan ini. Mungkin ini hanya merupakan ketidaktelitian verbal. Namun demikian, contoh segitiga tidaklah terlalu cocok. Contoh yang diangkat adalah tentang segitiga dimana segitiga memiliki tiga sudut. Isu yang sebenarnya adalah Tuhan memiliki keberadaan. Lenyapkan segitiga dari pemikiran, maka ketiga sudut lenyap dengan sendirinya. Namun Kant tidak mengatakan, ‘Lenyapkan Tuhan dari pemikiran, dengan sendirinya keberadaan lenyap.” Yang dikatakan Kant sebenarnya adalah, ‘Lenyapkan keberadaan Tuhan dari pemikiran dan Tuhanpun lenyap.’ Apakah ini hanya sedikit kesalahan verbal? Dia dapat saja berkata’ ‘Lenyapkan Tuhan dari pemikiran dan keberadaannya turut lenyap.” Tetapi jika ini yang dimaksudkan Kant, ada pertanyaan yang tidak sekedar hanya kesalahan verbal yaitu, ‘Apakah mungkin melenyapkan Tuhan dari pemikiran?’

Apa artinya melenyapkan sesuatu dari pemikiran? Apakah itu artinya hanya tidak memikirkan tentang hal tersebut? Tentu saja penolakan berpikir merupakan resep untuk menghindari kontradiksi, namun sulit dikatakan apa hubungannya penolakan tersebut dengan Tuhan atau bahkan segitiga. Mungkin pelenyapan itu artinya menyangkali keberadaan [sesuatu]. Jika saya secara positif menyangkali bahwa ada segitiga, bukanlah sesuatu yang konyol untuk menyangkali ketigaan sudut. Jika saya sekarang menyangkali bahwa Tuhan ada, bukanlah sesuatu yang konyol untuk menyangkali keberadaan-Nya. Namun ini tidak cocok dengan contoh segitiga. Terkait dengan segitiga, Kant menekankan bahwa penyangkalan terhadap subyek akan melenyapkan predikat. Namun ketika Kant beralih ke isu utama dan menuntut untuk menyangkali keberadaan Tuhan, dia tidak meminta kita untuk menyangkali subyek seperti dalam contoh segitiga, tetapi meminta kita untuk menyangkali predikat. Dengan demikian, argumennya tidak terkait. Jika Kant kembali ke gagasan tentang tidak memikirkan Tuhan, ada pertimbangan lanjutan. Walaupun kelihatannya benar bahwa orang dapat berpikir tentang botani misalnya tanpa berpikir tentang sudut, tidak jelas bagaimana seorang tidak berpikir tentang Tuhan. Seorang rasionalis bisa berkata, kalau seorang berpikir tentang apa saja, dia harus berpikir tentang Tuhan. Ingat, Agustinus menunjukkan bahwa bukan saja kebenaran itu [merupakan sebuah ke]mungkinan, tetapi kebenaran itu tidak terelakkan dan tidak dapat dihindari. Jika kita berpikir, maka kita memikirkan hukum-hukum logika. Kebenaran adalah sesuatu yang inheren dalam pikiran. Namun Tuhan adalah kebenaran, karena itu tidak mungkin melenyapkan Tuhan dari pemikiran. Begitu nyatanya keberadaan Tuhan sehingga Dia tidak mungkin dipikirkan/dianggap sebagai tidak ada.

Kant menyadari hal ini. Dia secara khusus merujuk kepada [pandangan] ini. Berikut ini adalah kutipan tulisannya, “Anda mungkin merasa harus menyatakan bahwa ada subyek tertentu yang tidak dapat dihilangkan dari pemikiran. Namun mengatakan demikian tidak lebih dari mengatakan bahwa ada subyek yang secara mutlak tidak terelakkan/ harus ada, yaitu sebuah hipotesis yang diharapkan untuk anda buktikan.”

Lalu bagaimana kelanjutannya sekarang? Pertukaran argumen antara kedua belah pihak meninggalkan kesan bahwa argumen ini sangat rumit dan detail. Tampaknya isu ini bukan subyek yang pantas diajarkan kepada orang yang tidak atau hanya sedikit memiliki latar belakang filsafat. Namun demikian, bagaimana mungkin pelajar filsafat agama menghindari diskusi tentang keberadaan Tuhan? Dalam pengertian tertentu ateisme dapat disebut agama; namun dalam percakapan sehari-hari dan dalam pandangan umum, jika tidak ada Tuhan maka tidak ada agama. Pelajar filsafat agama sedang mempelajarinya sekarang. Mundur berarti kepengecutan atau kemalasan. Karena itu dia harus terus tahan menderita. Mungkin saja, nanti segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Mungkin!

Lalu bagaimana dengan argumen pro kontra terkait isu ini? Ada tiga hal yang Kant tidak dapat klaim sebagai sesuatu yang telah dia capai. Pertama, mungkin benar bahwa penegasan “ada hal tertentu yang tidak dapat dilenyapkan dari pemikiran” sama dengan proposisi “Ada subyek yang mutlak tidak terelakkan.” Namun andaikata kaum rasionalis diminta untuk membuktikan apa yang dikatakannya, maka Kant juga harus menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan melenyapkan sesuatu dari pemikiran dan menunjukkan bagaimana menghilangkan Tuhan dari pemikiran. Situasinya kurang lebih seri. Namun Kant berada pada situasi yang kurang menguntungkan karena setidaknya Agustinus dan Anselmus mencoba membuktikan pandangan mereka, tetapi Kant tidak menunjukkan sama sekali bagaimana Tuhan bisa dilenyapkan dari pemikiran.

Kedua, dia tidak dapat mengklaim bahwa dia telah membantah keberadaan Tuhan. Dia sendiri malah menekankan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membantah keberadaan Tuhan karena dia percaya bahwa walaupun semua argumen yang mendukung keberadaan Tuhan ternyata tidak valid, Tuhan bisa saja ada. Dan ketiga, pada titik ini dia tidak dapat secara syah mengklaim bahwa dia telah membantah argumen ontologis. Paling banter, yang dia telah lakukan adalah menyatakan bahwa argumen ontologis tidak lengkap. Dia mungkin berkata bahwa Anselmus dan Spinoza menggunakan proposisi yang harus dibuktikan kebenarannya sebagai premis. Sebagai balasan, Agustinus pasti akan berkata bahwa argumen ontologis ini lengkap karena mereka telah menunjukkan bahwa adalah sesuatu yang tidak terlelakkan untuk berpikir tentang Allah.

Kant masih mempunyai dua poin yang dia kemukakan, atau mungkin hanya satu point, atau malah mungkin [dapat disebut] pengulangan point sebelumnya.

Pada awal buku Critique of Pure Reason, Kant membedakan antara penilaian/proposisi analitis dan penilaian/proposisi sintetis. Proposisi atau penilaian analitis adalah proposisi atau penilaian yang predikatnya sudah terkandung dalam subyeknya. Kalau saya katakan, “Semua benda [fisik] menempati ruang”, maka proposisi tersebut adalah proposisi analitis karena saya tidak perlu keluar dari konsep benda [fisik] untuk mengetahui bahwa benda [fisik] menempati ruang. Saya hanya perlu menganalisa konsep tersebut [untuk mengetahui bahwa benda fisik menempati ruang].”[2] Sementara itu penilaian/proposisi sintetis bersifat augmentatif (perluasan). Proposisi ini tidak secara konseptual terkandung dalam subyek tetapi menambahkan informasi tentangnya. Jika saya katakan bahwa meja belajar itu coklat, proposisi tersebut bersifat sintetis karena tidak ada analisa terhadap makna kata meja belajar yang mengharuskannya berwarna coklat.

Kant bertanya, apakah proposisi “Tuhan ada” bersifat analitis atau bersifat sintetis? Jika bersifat analitis, predikatnya tidak menambahkan apapun kepada konsep [tentang] subyek. “Namun kalau demikian, konsep yang berada dalam pikiran anda identik dengan [subyek] itu sendiri,” dan anda hanya membuktikan keberadaan konsep anda. “Tetapi jika anda mengakui, seperti yang seharusnya dilakukan oleh semua orang berakal, bahwa setiap proposisi eksistensial bersifat sintetis, bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa predikat keberadaan tidak dapat disangkal tanpa kontradiksi – yaitu satu ciri yang merupakan karakteristik hanya dimiliki proposisi analitis?”[3]

Poin kedua, atau mungkin tepatnya poin yang sama diulangi lagi, adalah

“Being (keberadaan) bukanlah predikat yang sebenarnya, yaitu konsepsi tentang sesuatu yang ditambahkan kepada konsepsi tentang hal lain… Secara logis keberadaan hanyalah kopula sebuah proposisi. Proposisi, Tuhan adalah mahakuasa, mengandung dua konsepsi… kata ‘adalah’ bukanlah predikat tambahan… Jika saya mengambil subyek [Tuhan] dengan semua predikatnya [mahakuasa salah satu di antaranya] dan berkata, Tuhan adalah…, atau Ada Tuhan, saya tidak menambahkan predikat baru pada konsepsi Tuhan; saya hanya mengasumsikan atau mengakui keberadaan subyek tersebut dengan semua predikatnya – Saya mengasumsikan obyek tersebut dalam kaitan dengan konsepsi saya.”

Kemudian Kant melanjutkan dengan ilustrasinya yang terkenal tentang seratus dollar dalam kaitannya dengan rekeningnya.

Dengan demikian, yang aktual tidak lebih daripada yang mungkin. ‘Seratus dollar yang aktual’ tidak melebihi ‘seratus dollar yang mungkin’. Karena ‘seratus dollar yang mungkin’ mengindikasikan konsepsinya dan ‘seratus dollar yang aktual’ mengindikasikan obyeknya, sehingga jika isi (content) dari ‘seratus dollar yang aktual’ melebihi isi dari ‘seratus dollar yang mungkin’, maka konsepsi saya bukanlah ungkapan tentang obyek secara keseluruhan, dan konsepsi saya bukanlah konsepsi yang memadai tentang si obyek. Namun terkait dengan kekayaan saya, dapat dikatakan bahwa ada yang lebih pada ‘seratus dollar yang aktual’ daripada ‘seratus dollar yang mungkin’ yaitu yang hanya merupakan konsepsi dari seratus dollar yang aktual. Karena obyek yang sebenarnya, yaitu dollar, tidak secara analitis terkandung dalam konsepsi saya (yang hanyalah merupakan determinasi keadaan mental saya), walaupun realitas obyektif – keberadaan ini – yaitu terpisah dari konsepsi saya, tidak sedikitpun menaikkan nilainya melebihi seratus dollar yang disebut tadi.”[4]

Dua dari komentator/penafsir Kant yang cukup antusias menulis, “Hegel mengatakan bahwa popularitas kritik Kant terhadap argumen ini mungkin diakibatkan karena ilustrasinya yang sederhana tentang seratus dollar.”[5] Tidak diragukan bahwa ilustrasi yang sangat sederhana ini seperti oase di tengah-tengah 884 halaman gurun tulisan yang gaya sastranya paling sukar dibaca [di antara literatur] yang pernah ada. Namun demikian, mendasari reputasi seorang filsuf besar pada sebuah ilustrasi bukanlah sesuatu tindakan yang adil terhadap Kant. Walaupun kedua penafsir tersebut mengagumi Kant, melanjutkan tulisannya

Semua orang bisa memahami bahwa dalam kasus seratus dollar, anda tidak bisa mendeduksi keberadaannya (being) dari gagasan tentangnya. Namun penting untuk diingat bahwa ilustrasi ini tidak cukup tepat. Natur dari obyek [yang] terbatas diekspresikan dengan mengatakan bahwa keberadaannya (being) dalam waktu dan tempat memiliki kesenjangan dengan gagasan tentangnya. Sebaliknya, Tuhan, adalah sesuatu yang tidak dapat tidak “dipikirkan/dianggap sebagai ada”; gagasan tentang-Nya sudah termasuk keberadaan-Nya (being). Kesatuan antara gagasan dan keberadaan merupakan gagasan tentang Tuhan. Yang Kant tunjukkan adalah bahwa berdasarkan pandangan (supposition) bahwa Sensibilitas berbeda sumbernya dengan Pemahaman, anda tidak dapat menyimpulkan keberadaan dalam tempat dan waktu hanya dari sebuah konsep. Namun Hegel menyadari bahwa apa yang dianggap perbedaan sumber ini hanyalah fiksi semata; Sensibilitas maupun Pemahaman hanyalah fase Pemikiran sehingga argumentasi yang Kant berikan dengan susah payah tidak terlalu bernilai.”

Ada satu ilustrasi lain yang terkenal. Selama masa Anselmus, seorang biarawan bernama Guanilo menentangnya. Inti dari kritik Guanilo adalah bahwa konsep harus dikonstruksikan berdasarkan bahan-bahan/materi inderawi. Sekedar definisi verbal seperti, “wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar” tidak memiliki arti sama sekali. Kemudian Guanilo menggambarkan pulaunya yang merupakan pulau terbaik dan terbesar dari semua pulau yang mungkin [ada]. Ilustrasi ini adalah sebuah kegagalan yang lebih buruk dari argumen Kant. Ilustrasi selalu berbahaya.

Jadi jelas sekarang bahwa penerimaan atau penolakan seseorang akan argumen ontologis tidak tergantung atau tidak tergantung secara mutlak pada kerumitan bantahan Kant. Bantahan Kant tergantung pada sebuah teori tentang pengetahuan dimana data sensasi inderawi adalah sesuatu yang sangat penting. Rasionalis menolak pembedaan yang dilakukan Kant antara penilaian/proposisi analitis dan proposisi sintetis. Bagi dia, semua kebenaran adalah kebenaran analitis. Karena itu dia menolak untuk terintimidasi ketika Kant menyatakan bahwa setiap orang yang berakal harusnya setuju dengan dia bahwa proposisi eksistensial adalah proposisi sintetis. Kenyataannya, Kant sendiri tidak cukup mampu untuk mempertahankan pandangannya, karena jika eksistensi (keberadaan) bukanlah predikat atau atribut seperti halnya predikat coklat yang dikenakan kepada meja belajar, maka proposisi eksistensial tidak mungkin merupakan sesuatu yang sintetis karena [proposisi seperti itu] tidak memiliki predikat dan karena itu bukanlah proposisi sama sekali. Lebih jauh lagi, dengan mengabaikan kejadian historis dan kemenduaan beberapa Rasionalis yang pemalu, orang dapat mengangkat dilemma dari Guanilo dan menegaskan bahwa “Saya juga memiliki inituisi mengenai Tuhan! Dan kaupun bisa memiliki inituisi seperti itu asalkan saja kau mengetahui/mengakui apa yang terjadi ketika kau berpikir.”

Sebelum kita meninggalkan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dan melanjutkan dengan teorema tambahan, gagasan tentang keberadaan itu sendiri pantas dikomentari. Kant menegaskan bahwa penilaian/proposisi eksistensial selalu bersifat sintetis. Dia juga mengatakan bahwa eksistensi bukanlah atribut. Andaikan sekarang kita menerima kalimat terakhir bahwa eksistensi bukanlah atribut sehingga dengan demikian menolak pandangan bahwa proposisi eksistensial adalah proposisi sintetis. Andaikan kita menyangkali sama sekali bahwa ada proposisi eksistensial. Walaupun ini kedengaran aneh bagi pelajar yang belum banyak mempelajari filsafat dan kedengaran gila bagi beberapa filsuf yang begitu terpikat dengan proposisi eksistensial, ada argumen yang layak [dipertimbangkan] bagi pandangan ini. Argumennya adalah: Jika sebuah predikat dapat dilekatkan kepada apa saja tanpa kecuali, maka predikat tersebut tidak memiliki arti yang jelas atau dengan kata lain tidak memiliki arti sama sekali. Jika sebuah rumah adalah mur; seekor kucing adalah mur; sebuah perahu, gunung, dan mimpi juga adalah mur; demikian juga dengan keindahan dan keadilan adalah mur; dan akar pangkat dua dari minus satu serta aleph nol adalau juga mur; maka kiranya jelas bahwa mur tidak memiliki makna apa-apa. Penilaian/proposisi bahwa rumah itu tinggi hanya masuk akal kalau kucing dan beberapa hal lain tidak tinggi. Jika keindahan dan keadilan merupakan norma, maka penegasan itu hanya masuk akal karena beberapa hal bukan norma. Dengan kata lain, predikat yang dapat dilekatkan pada apapun tanpa kecuali, tidak memiliki makna. Kesimpulannya adalah: Predikat keberadaan dapat dilekatkan kepada apa saja tanpa kecuali, baik yang nyata maupun yang imajiner. Mimpi ada, khayalan ada, akar pangkat dua dari minus satu ada. Namun demikian, pernyataan seperti ini tidak bermakna. Semuanya tidak mengatakan apa-apa tentang mimpi atau akar pangkat dua dari minus satu misalnya. Yang kita ingin ketahui adalah bagaimana satu hal berbeda dengan hal lain. Mengapa mimpi bukan akar pangkat dua dari minus satu; mengapa rumah bukan kucing? Demikian juga, pertanyaan yang harus diajukan tentang Tuhan bukanlah apakah Dia ada, tetapi apa [atau siapa] Dia. Tentu saja Tuhan ada. Bahkan apapun ada selama kata [yang digunakan] memiliki makna. Tetapi akan membawa perbedaan besar apakah Tuhan itu sebuah mimpi, khayalan, atau akar pangkat dua dari minus satu. Spinoza tidak perlu membuktikan bahwa Tuhan ada. Poin penting yang dikemukakannya adalah bahwa Tuhan adalah alam semesta. Tetapi jika Tuhan bukan alam semesta, namun merupakan Pencipta dan Hakim umat manusia, maka kita sedang berbicara tentang sesuatu yang substansial, bukan sekedar kata tidak bermakna seperti keberadaan/eksistensi.

The Works of Gordon Haddon Clark, Volume 4, halaman 36-42. Terjemahan Ma Kuru


[1] Arthur C. McGill, dalam The Many-faced Argument, 38 berkata, “Baru-baru ini menjadi jelas bahwa karya Anselmus berjudul Proslogion tidak diketahui baik oleh Immanuel Kant maupun Thomas Aquinas.” McGill juga mengutip tulisan Alexandre Koyré berjudul L’Idée de Dieu.
[2] Kant, Critique of Pure Reason, B II
[3] Kant, Critique of Pure Reason, B 626
[4] Kritik der reinen Vernunft, B 637
[5] Mahaffy and Bernard, Kant’s Critical Philosophy, London, 1899, 340
Pos ini dipublikasikan di Anselmus, Argumen Ontologis, Filosofi, Gordon H. Clark, Immanuel Kant, Terjemahan, Three Types of Religious Philosophy. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s