Mencari Tuhan atau Tidak?

Di bawah ini adalah diskusi saya dengan seorang teman FB di sebuah grup. Tidak perlu saya sebutkan nama teman tersebut di sini. Pembicaraan sudah terhenti sampai titik ini. Mungkin akan dilanjutkan ke depan. Ini diskusinya:

Ekuivokasi

MW: ini semua (unconditional election ini) berangkat dari pandangan ke-tidak-berdayaan total karena doktrin kebejatan mutlak (total depravity) manusia.. dengan kondisi yang tak mampu sama sekali melihat cahaya kebenaran, maka harus Allah sendiri yg ‘menghidupkan’ nuraninya sehingga mampu merespon anugerah Allah.. realita-nya, manusia masih bisa berbuat baik, memiliki nurani yang murni, dan sungguh2 mencari Allah yang benar (walaupun kemudian tidak kesampaian) meski ia tidak mengenal Kristus sekalipun.. tentu saja saya bisa dibalas dengan ayat ‘kebaikan seperti kain kotor’ dan akan saya balas pula dengan ayat lain sehingga kita saling main karet dengan ayat2 ini..

MK: ayat yang lain yang katanya dipakai untuk main karet itu yang mana? Penasaran. Kenyataannya manusia punya hati nurani yang murni? Wow…. hati nurani yang tidak ada sama sekali dosa maksudnya?

MW: simple saja… kita bisa menyebutkan Konfusius.. meskipun ia orang berdosa, tapi ia adalah orang yang sungguh2 mencari Allah.. barangkali orang sudah tidak asing lagi dengan kalimatnya “kasihilah sesamamu manusia” yg paralel dgn sabda Kristus, hanya saja ia tidak pernah sampai kepada Kristus.. maka, konsep kerusakan total ini, bahwa manusia benar2 tidak memiliki kemampuan untuk dengan kemauannya sendiri mencari Allah, bisa dipertanyakan

MK: Pertanyaan baru pada level apakah ada yang benar-benar berhati nurani murni? Saya belum bicara tentang yang lain-lain MW. Jadi menurut pengakuan anda tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Begitu?

MW: saya pikir ini sudah jelas: justru saya berkata bahwa setelah Konfusius berdosa pun, ia masih sungguh2 dengan hati yg murni mencari Allah, sehingga doktrin kerusakan total menjadi tidak cocok dengan kenyataan di lapangan. Anyway Nyonk Timorsoe, jika anda sanggup melakukan limitasi kata “semua” dalam Roma 3:11 dan ayat 23, mengapa pula anda tidak konsisten dan melakukan hal yang sama ketika membaca Yohanes 12:32 bahwa “SEMUA orang ditarik oleh Kristus untuk datang” tapi kenyataannya tidak semua orang mau datang karena atas kemauannya sendiri menolak panggilan Allah tersebut?

MK: Dia mencari Allah atau dia mencari sesuatu yang dia anggap sebagai Allah?

MW: saya tidak jelas dengan maksud pertanyaan anda, tapi jika yg anda maksud adalah apakah ia mencari Allah Israel, YHWH, atau apapun sebutannya, mungkin saja tidak, karena memang ia tidak tau. Konfusius, Gautama, Gondor, Kublukubek, atau mbah-mbah kita yang masih belum kenal agama dan pengertian yang benar tapi sembahyang dengan caranya sendiri jelas mencari kepada Sang Hyang khalik langit dan bumi :)

MK: Siapa atau apa yang anda maksud dengan kata ‘Allah’ saat anda mengatakan bahwa Konfusius mencari ‘Allah’ MW?

MW: Ma Kuru, jika anda hendak mengarahkan kepada Allah yang dijelaskan dalam Alkitab (as I believe), seperti saya bilang tadi maka jawabannya adalah Konfusius, Gautama, Gondor, Kublukubek, atau mbah-mbah kita tidak mengenal-Nya, melainkan mencari Allah yg menurut konsep-nya (nah, sepertinya ini menyenangkan anda) adalah Allah pencipta langit dan bumi, simply karena mereka tidak kenal karena tidak mendengar kabarnya.

MK: Therefore, yang dicari oleh Konfusius bukan Allah, tetapi sesuatu yang dia anggap Allah. Dengan demikian anda melakukan ekuivokasi pada kata Allah. Konfusius mencari sesuatu yang lain dari yang anda cari, tetapi anda menyebutnya Allah. Apakah ketika Alkitab mengatakan mencari Allah artinya mencari sesuatu yang tidak jelas identitasnya?

MW: as I’ve said, mereka tidak mengenal YHWH, tapi mereka mencari-Nya meski ia tidak tau namanya, karya-karya-Nya, etc.. bukankah ini yg dijelaskan dalam Roma 2:14, bahwa orang2 yg tidak mengenal Taurat (therefore tidak mengenal YHWH) tapi melakukan kebaikan2 seperti yg dituntut oleh Taurat maka ia akan mendapatkan bagiannya sendiri?

MK: Then so be it. Dia tidak mencari Allah. Dapatkah seseorang yang tidak tahu apa itu sebuah kelereng tetapi mengklaim mencari sesuatu lalu anda menyebutnya mencari sebuah kelereng?

MW: jika definisi ‘Allah” adalah sesuai Alkitab (namanya “YHWH”, Firman-Nya ke dunia, mati disalibkan, etc), maka sama sekali tidak ada masalah dgn pernyataan anda, Ma Kuru.. tapi kadang2, anda tidak bisa mudah2 saja berkata kepada orang2 itu bahwa mereka tidak pernah mencari “Allah” sesuai definisi Alkitab.. lebih mudah bagi kita untuk berkata bahwa mereka mencari, hanya saja tidak kesampaian

MK: Dengan kata lain mereka mencari sesuatu. Tetapi mencari Allah? No. Jadi mereka mencari sesuatu tetapi bukan Allah.

MW: No. Mereka mencari Allah, tapi karena belum mendengarnya, mereka tidak mengerti Allah dalam Alkitab. Saya pikir kita deadlock di sini, tapi saya ingin tau bagaimana Ma Kuru mengartikan “bangsa2 lain yg tidak mengenal Taurat [therefore tidak mengenal YHWH/Allah Alkitab]”, tapi tetap dihargai di Roma 2:14.

MK: Bagaimana mereka mencari sesuatu yang mereka tidak tau itu apa? Itu oxymoron. Saya tidak tahu apa itu kelereng, saya mencari sesuatu yang bulat (selebihnya tidak jelas), tetapi tiba-tiba ada orang bilang saya mencari kelereng. Ekuivokasi. Kalau ekuivokasi diterima dalam sistem anda MW, then good luck! Beta angkat tangan. Apa maksudnya ‘dihargai’?

MW: Ma Kuru, di sini kita berbicara tentang Allah yg supranatural. Jika anda mengaitkannya dengan ciri2 fisik (bundar, dsb) tentu tidak ada satupun yg tau. Jika anda bicara karya2nya, secara umum kaum theist mengenalnya: bahwa Ia adalah pencipta dan pemelihara, dsb. Jika anda bicara karya2nya yg khusus/spesifik, tentu tidak semua orang tau. ‘dihargai’ maksudnya ‘diperhitungkan’

MK: Bundar dan sebagainya Itu hanya analogi

MW: ayolah Ma Kuru, kita semua tau bahwa itu hanya analogi.. yg saya maksudkan, ada yg memang kita semua benar2 tidak tau dari Allah, misal: dari bahan/substance apa Dia? apakah hanya karena kita tidak mengetahui sebagian dari ciri2nya maka kita jadi sama sekali tidak tau tentang Dia? menurut saya tidak.

MK: Yang namanya general theist itu omong kosong saja. Mereka menggunakan satu kata, kemudian kata itu digunakan untuk menampung semua konsep tentang Tuhan dengan membuang kontradiksi antar konsep tersebut. Apakah itu Tuhan? Mungkin itu tuhannya para filsuf, tetapi bukan Tuhan dalam pengertian Alkitab.

Dengan demikian, mungkin anda bisa saja menyebut Konfusius mencari tuhan dalam definiis para filsuf. Tetapi dalam Alkitab, tuhannya para filsuf tersebut bukan Tuhan. Jadi dalam pengertian Alkitab, dia tidak mencari Tuhan.

Kalau mereka tidak tahu Allah MW dan mereka mencari sesuatu tetapi anda menyebutnya mencari Allah, coba tunjukkan ke kita bagaimana itu bukan ekuivokasi?

MW: Allahnya para filosof adalah the one supreme being (Yunani: To Hen) yg menjadi causa prima. Dalam batas2 tertentu, Alkitab juga cocok dengan filosofi. Jika Ma Kuru membaca Kisah Rasul 17, di Aeropagus Paulus menunjuk kepada sebuah altar dewa tanpa nama dan dengan menggunakan filsafat Helenik menjelaskan kepada orang2 kafir di sana bahwa “Allah yang KAMU SEMBAH TANPA MENGENALNYA, ITULAH YANG KUBERITAKAN KEPADA KAMU. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi” (ayat 23-24). Ouw…

MK: Bagaimana kalau itu sebuah reductio ad absurdum?

Pos ini dipublikasikan di Ekuivokasi, Logical ad Hominem. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s