Gordon H. Clark tentang Metode Komparatif Mengidentifikasi Agama

Di bawah ini adalah tulisan terjemahan Gordon H. Clark yang merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya.

Metode Komparatif
Gagasan untuk mengklasifikasikan agama seperti halnya ilmu botani mengklasifikasikan Family Bunga Bakung adalah gagasan yang terlalu menarik untuk ditinggalkan begitu saja, walaupun salah satu upayanya telah gagal. Metode yang lain yang digunakan dalam mendekati masalah ini adalah metode komparatif agama. Jika emosi yang hampir sama [satu dengan yang lain] bertumbuh subur dalam berbagai agama, lalu ada emosi yang berbeda [yang bertumbuh] dalam satu agama, dan semua itu tidak ada hubungan dengan agama, maka mungkin natur agama terletak dalam aspek inteleknya. Tentu saja pengecualian sistematis terhadap “tulang-tulang rangka” kandungan intelektual [agama] merupakan posisi yang ekstrim. Sebuah studi tentang kepercayaan atau teologi satu agama merupakan satu yang tidak dapat diabaikan kalau [kita] ingin memahami agama tersebut. Hanya dengan memahami sistem doktrinal atau intelektual dari masing-masing kepercayaan orang dapat menghindari abstraksi yang samar-samar dan salah kaprah. Di balik kesan pertama bahwa masing-masing agama tidak kompatibel satu dengan yang lainnya, [ada pertanyaan] tidak mungkinkah ada kemiripan? Kalau memang tidak ada, lalu mengapa semua disebut agama?

Apakah Tuhan Esensial Terhadap Agama?
Kesan pertama yang didapatkan [dari agama-agama] adalah ada lebih banyak variasi kepercayaan daripada variasi emosi sehingga natur agama tidak mungkin terletak pada formulasi teologisnya. Namun harapan studi komparatif tentu saja menemukan apakah ada denominator bersama atau konsensus minimal, atau persetujuan umum di antara berbagai kepercayaan berbeda ini. Tidak diragukan bahwa Muhamadanisme (Islam) dan Kekristenan memiliki konsepsi berbeda tentang Tuhan, tetapi keduanya percaya kepada sejenis keilahian. Jadi mungkin ini adalah elemen bersama dan esensial dari semua agama.[1]

Karl L. Stolz dalam The Psychology of Religious Living berargumen bahwa humanisme bukan agama karena humanisme “menggunakan kata ‘agama’ dengan konotasi yang mutlak tidak ada kaitan dengan humanisme …. Agama tidak bertuhan adalah istilah kontradiktif” (75-76). Untuk sementara waktu kita anggap saja Stolz dan King benar ketika mereka menyangkali bahwa agama tidak mungkin ada tanpa Tuhan. Sekarang kita ditantang dengan filsafat Spinoza dan dengan takhyul suku-suku liar. Apakah Spinoza memiliki agama? Apakah Spinoza percaya pada Tuhan? Beberapa orang menyebutnya ateis. Kalau itu benar, maka tidak mungkin Spinoza memiliki agama dalam pengertian Stolz. Namun demikian orang lain menyebutnya Gottbetrunkener Mensch – seorang manusia yang mabuk akan Tuhan. Dia sering berbicara tentang Tuhan sebagai Deus sive Natura (Tuhan adalah alam semesta). Karena itu pastilah dia seorang beragama. Namun demikian, sayangnya jika Tuhan identik dengan alam semesta, dan jika Tuhannya Spinoza adalah alam semesta itu sendiri, dapatkah dikatakan bahwa dia percaya kepada Tuhan? Bukankah Tuhan itu berbeda dari alam semesta? Apa makna dari istilah Tuhan? Atau kalau kita beralih dari pembicaraan tentang filsafat Spinoza yang rumit dan membicarakan takhyul orang-orang primitif, jelas bahwa apapun tuhan yang diakui oleh agama Inca atau apapun tuhan yang disembah dalam berbagai kultus aminis, jelas semua itu bukan Tuhan Kekristenan. Jika istilah Tuhan begitu diperluas maknanya sehingga mencakup makna yang digunakan Spinoza dan yang digunakan penganut animis, istilah tersebut dan definisi agama yang di dalamnya digunakan istilah Tuhan menjadi tidak bermakna. Karena itu, jika agama didefinisikan berdasarkan kepercayaan, mungkin agama adalah kepercayaan akan roh, atau kepercayaan akan adanya imortalitas, atau kepercayaan lain yang tersebar luas dan yang ketika dinilai ternyata merupakan bumbu universal dari setiap agama.

Namun demikian kebijakan untuk menggantikan istilah Tuhan dengan istilah roh, yaitu sebuah istilah yang lebih inklusif, menghadapi kesulitan yang sama. Roh harus didefinisikan dan orang harus mempertanyakan apakah sub specie aeternitatis-nya Spinoza dapat dengan tepat masuk dalam gagasan imortalitas. Namun di luar kesulitan detail seperti ini, ada alasan penentu untuk mendukung gagasan bahwa metode ini tidak memuaskan.

Berburu Snark
Metode ini tidak memuaskan karena metode ini sejak awal sudah membutuhkan pengetahuan yang dia ingin peroleh pada akhir proses. Untuk mendapatkan unsur bersama dari semua agama, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membedakan antara fenomena agama dan fenomena yang bukan agama. Seandainya ada daftar otoritatif dari agama-agama, seorang pelajar/mahasiswa dapat mulai mencari unsur bersamanya. Namun demikian, sebelum elemen bersamanya diketahui, bagaimana mungkin dapat disusun sebuah daftar yang otoritatif? Jika Lewis Carroll menyuruh Alice memeriksa semua snark[2] dan menemukan ciri bersama dari snark, Alice (setidaknya kalau dia waras) tidak akan mengetahui apakah semua obyek yang didepannya merupakan snark, atau bahkan apakah ada dari antara mereka yang merupakan snark. Nah, kita tidak berada pada posisi yang lebih baik daripada Alice. Dalam upaya kita mencari natur bersama dari agama, kita percaya bahwa adalah sesuatu yang dapat diterima kalau kita mengasumsikan bahwa Kekristanan dan Muhamadanisme (Islam) adalah agama. Namun apakah Budhisme Hinayana agama? Jika demikian, maka kepercayaan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang esensial bagi agama; namun jika kepercayaan akan Tuhan esensial, maka bentuk Buddhisme yang satu ini bukan agama. Apakah kita akan membahas tentang Budhisme atau tidak? Haruskah kita memasukkan Budhisme dalam daftar kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama orang harus mengetahui natur esensial dari agama. Namun demikian, natur esensial ini merupakan obyek yang belum diketahui dan sedang dicari. Bukanlah sesuatu yang membantu kalau kita mencoba memulai dengan daftar pendek yang tidak lagi diperdebatkan. Pertama-tama, tidak ada daftar seperti itu. Kecuali kita mengetahui apa itu agama, tidak ada apapun yang dapat ditambahkan ke dalam daftar. Kedua, seandainyapun kita memiliki daftar yang tidak dapat diperdebatkan, unsur bersamanya tidak dapat dianggap sebagai natur agama, karena bagi agama (mungkin lebih lagi kalau botani) elemen bersama dari daftar yang lebih panjang kemungkinan bukanlah elemen bersama yang didapatkan dari daftar awal yang lebih pendek.

Budhisme bukan merupakan satu-satunya kesulitan atau kesulitan yang paling memalukan. Coba renungkan Komunisme. Tampaknya komunisme merupakan musuh dari semua agama dan secara mendasar serta secara lantang anti agama. Sesungguhnya komunisme dengan semangat keagamaan bersifat anti-agama. Semangat anti agamanya menjadikannya agama bagi para penganutnya. Kalau demikian, haruskah pelajar agama mendaftarkan Komunisme sebagai salah satu agama di dunia dan mencari elemen bersama dari Komunisme, Kekristenan, dan Budhisme? Bagaimana mungkin pelajar memutuskannya? Kecuali dia paham dulu apa itu agama, dia tidak akan mengetahui apakah perlu menyelidiki tentang Komunisme bersama dengan yang lainnya demi mendapatkan natur esensi dari agama.

Di samping keberatan terhadap metode [ini], ada pula keberatan terhadap kesimpulan yang ditawarkannya. Mari kita asumsikan untuk sementara bahwa Kekristenan, Muhamadanisme, dan bahkan Buddhisme telah diteliti. Mungkin setelah penilitian diklaim bahwa elemen yang dijumpai di semua agama adalah Original Being (Keberadaan Asli). Namun, frase yang digunakan untuk menyatakan elemen bersama pasti bersifat umum dan ditafsirkan oleh berbagai agama dengan cara yang tidak saling kompatibel dan antagonistik satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada satu maknapun yang tersisa kecuali kata-kata kosong. Bagi Budhisme Original Being mungkin bisa berupa Nirwana, bagi kekristenan Trinitas; bagi Komunisme atom. Namun jika Trinitas merupakan roh dan bukan materi, jika atom merupakan materi dan bukan roh, serta Nirwana bukan keduanya, sulit untuk mengatakan bahwa ada unsur bersama di antara semuanya. Original Being hanyalah sebuah istilah, yaitu nama yang tidak merujuk kepada apa-apa; sebuah bunyi yang tidak ada arti.

Kebutuhan Bersama Manusia
Jika terhadap kritik seperti itu dikatakan bahwa ketiga [hal yang disebut] Original Being melakukan fungsi yang analog dalam ketiga sistem, dan bahwa fungsi tersebut sebenarnya merupakan elemen bersama, jawaban yang diberikan akan berupa pengulangan dari argumennya. Pembelaan terhadap pandangan seperti ini seringkali berbicara tentang agama yang memenuhi kebutuhan dari penganutnya, dan dengan demikian unsur bersama dari semua agama adalah bahwa semua agama memenuhi kebutuhan tertentu. Namun demikian, jawaban ini tidak berhasil. Pembelaan seperti ini tidak akan berhasil karena beberapa agama tidak saling setuju apa yang dibutuhkan manusia. Tentu saja ada persetujuan verbal bahwa manusia membutuhkan apa yang baik bagi mereka, namun ketika apa yang disebut baik tersebut dijelaskan, mereka saling berbeda satu dengan yang lain. Apakah orang perlu Surga dimana Kristus duduk di sebelah kanan Bapa, ataukah manusia membutuhkan Nirvana dan kepunahan pribadi? Tidak ada orang Kristen saleh yang mengakui bahwa Nirvana (atau atom) dapat melakukan fungsi yang sama dengan Trinitas; demikian juga seorang Komunis atau penganut Budha tidak mengakui bahwa Trinitas dapat melakukan apa yang Nirvana atau atom lakukan. Hanya pengeritik yang tidak beragama yang menyamakan ketiganya. Penganut agama itu sendiri tidak mengklaim bahwa Original Being mereka melakukan fungsi yang sama dengan dengan yang diklaim dilakukan oleh Original Being pada agama lain. Fungsi dan kebutuhan, seperti halnya Original Being, hanyalah nama-nama yang kosong. Karena itu tidak ada elemen bersama di antara fenomena-fenomena yang secara populer disebut agama.

Lalu apa itu agama? Dalam pembicaraan sehari-hari kata ini diterapkan pada Muhamadanisme, Budhisme, dan Kekristenan. Namun karena kata ini tidak jelas [maknanya], kata ini dapat diterapkan juga pada Komunisme. Kalau demikian definisi agama adalah “hal yang baginya manusia hidup dan mati.” Definisi seperti itu tidak memiliki makna sama sekali dan tidak secara spesifik menentukan subyek investigasi ilmiah tertentu.

Kata-kata Bermakna
Sebaliknya, agar ada satu subyek studi yang jelas dan bermakna, maka bahasa sehari-hari dan kata-kata kosong harus ditinggalkan dan kandungan [makna] khusus harus dipilih. Sebagai contoh, kata Tuhan tidak dapat diartikan sebagai sebarang prinsip awal. Deus sive Natura-nya Spinoza dan Tuhan-nya Abraham, Ishak, dan Yakub – seperti dipahami Pascal dengan sangat baik – bukanlah hal yang sama. Demikian juga keselamatan tidak bisa berarti Nirwana dan Surga. Karena itu, jika kita ingin menggunakan kata agama, kita harus mendefinisikannya secara khusus. Kita mungkin ingin membahas tentang Muhamadanisme, atau kita mungkin ingin membahas tentang Kekristenan. Memang benar bahwa mungkin sulit mendefinisikan Kekristenan atau Muhamadanisme, tetapi bukan ketidakmungkinan. Demi ketepatan makna, kita terkadang harus merubah definisi sehari-hari [dari sebuah kata], definisi teknis tersebut tidak boleh terlalu jauh dari makna sehari-harinya sehingga tidak konyol (absurd). Bagaimanapun kasusnya, kita memerlukan konsep yang jelas untuk menghindari kebingungan. Ketika makna istilah seperti Tuhan diperluas sedemikian rupa sehingga menjadi prinsip awal yang pernah dipikirkan oleh siapapun (dan setiap benda sembahan, roh, dan takhyul, walaupun bukan prinsip awal), istilah tersebut menjadi tidak berarti apa-apa. Seperti yang ditekankan Hegel, setiap determinasi (penentuan) merupakan negasi. Aristoteles menunjukkan bahwa sebuah istilah bukan hanya harus memiliki arti tertentu, tetapi juga berarti bukan hal lain. Setelah berabad-abad diskusi filosofis, seharusnya tidak perlu lagi melakukan pembelaan terhadap [penggunaan istilah] yang memiliki makna yang tegas. Namun ada begitu banyak kekacauan dalam pembahasan mengenai agama dan ada begitu banyak antipati terhadap langkah untuk mengambil sudut pandang tertentu yang diharuskan untuk menghindari bencana akibat generalisasi yang samar. Sebagian besar kata dalam kamus memiliki tiga, empat, bahkan lima makna yang agak berbeda satu dengan yang lain. Namun jika satu kata memiliki ribuan makna atau jika satu kata berarti apapun, tidak ada seorangpun yang mengetahui maknanya. Jika sebuah kata memiliki arti apa saja, kata itu menjadi tidak berarti apa-apa. Tidak memiliki makna khusus atau makna yang terbatas sama artinya dengan tidak memiliki makna sama sekali


[1] Lihat Karl Barth, Church Dogmatics, II 1, 449: “Karena itu, adalah sebuah tindakan tidak berdasar untuk membedakan Islam dan Kekristenan, seolah-olah monoteisme tidak memiliki satu aspek bersama. Kenyataannya, tidak ada yang memisahkan keduanya secara radikal daripada cara berbeda keduanya mengatakan hal yang sama– yaitu hanya satu Tuhan.”

[2] Makhluk khayalan dalam tulisan Lewis Carrol

Sumber: The Works of Gordon Haddon Clark, Volume 4, halaman 118 – 122, terjemahan Ma Kuru

Enhanced by Zemanta
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s