Presuposisionalis Gadungan atau Presuposisionalis Bingung

Beberapa bulan yang lalu saya berdebat dengan seorang yang bernama Binsar Antoni Hutabarat di salah satu thread Grup EFSC. Perdebatan ini terkait dengan dapat tidaknya orang yang memiliki pra-anggapan dasar berbeda berdebat secara bermakna. Konteksnya adalah terkait dengan perdebatan antara Arminian dan Calvinis. Kedua pihak ini sama-sama mengakui Alkitab sebagai otoritas tetapi dengan ayat Alkitab yang sama mereka sampai pada kesimpulan yang berbeda. Kata “Pra-anggapan dasar” di sini saya gunakan untuk merujuk kepada kepercayaan mendasar yang dengannya orang menilai segala sesuatu. 

Binsar mengatakan bahwa dua orang dengan pra-anggapan dasar yang sama tidak mungkin melakukan diskusi yang bermakna. Ini kutipan kata-kata Binsar: “Dua pandangan yang berbeda tidak mungki didebatkan, yang terjadi adalah debat kusir, karena dasar imannya berbeda” Jadi pada dasarnya dia mengatakan bahwa kalau pra-anggapan dasar (yang Binsar sebut sebagai iman) berbeda, maka tidak mungkin ada perdebatan yang bermakna antara keduanya.

Mari kita asumsikan apa yang dikatakan Binsar benar. Kita asumsikan bahwa memang dua pihak yang memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda tidak mungkin berdiskusi secara bermakna. Pertanyaan pertama adalah apakah benar bahwa dua pandangan ini memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda? Jawabannya adalah Tidak. Seperti yang saya katakan di atas kedua pihak ini percaya (atau setidak-tidaknya mengklaim) bahwa Alkitab satu-satunya otoritas. Kedua belah pihak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas atau mereka percaya doktrin Sola Scriptura. Dengan kata lain komentar Binsar tidak relevan dengan hal yang sedang dibicarakan. Orang sedang berbicara tentang perdebatan antara dua pihak dengan pra-anggapan dasar yang sama, sedangkan Binsar berkomentar terkait dengan perdebatan antara dua pihak yang memiliki pra-anggapan dasar berbeda.

Sekarang mari kita anggap bahwa bahwa Calvinis dan Arminian memang sebenarnya memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda. Dengan asumsi seperti ini, maka komentar Binsar menjadi relevan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah benar bahwa dua pihak berbeda pra-anggapan dasar tidak mungkin berdebat secara bermakna? Jawabannya adalah Tidak yang menggema. Bahkan Binsar sendiri entah sengaja atau tidak sengaja sudah menjawab pertanyaan ini. Berikut adalah yang ditulis Binsar: …..jika kita ingin tahu apakah pandangan itu konsisiten atau tidak bagaimana? Yang bertanggung jawab menerangkan pengetahuan yang didasarkan iman adalah orang yang mengimani itun kita boleh bertanya untuk melihat konsisitensinya, tapi tetap kita tidak bisa melecehkan kepercayaan orang itu, karena tugas kita hanya menolong dia melihat konsisitensi pengetahuannya yang didasarkan iman itu, demikian juga sebaliknya, maka jika ada kejujuran dan ketulusan dialog itu akan positif. Dengan kata lain yang dikatakan oleh Binsar adalah kalau kita bertemu dengan orang yang memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda, maka tugas kita adalah membiarkan orang menjelaskan pandangannya dan kemudian kita nilai konsistensinya. Dengan kata lain, ketika kita berhadapan dengan orang yang memiliki iman berbeda dari kita, maka kita harus memahami apa yang dikatakan/dipercaya orang tersebut lalu kita menilai konsistensinya. Dengan kata lain yang kita lakukan adalah kita menganggap (demi argumen) bahwa premis lawan kita benar dan kita menilai apakah kesimpulannya diharuskan oleh premis. Cara lain mengungkapkannya adalah kita melakukan kritik internal terhadap pandangan dunia lawan bicara kita. Nah, kalau demikian, jelas setidaknya ada kemungkinan perdebatan. Faktanya, itu bukan hanya kemungkinan, tetapi sesuatu yang faktual.

Coba saja amati di perdebatan antar agama, ada Kristen (bukan semua) yang mengatakan bahwa kesimpulan dari ayat-ayat kitab suci Islam justeru mendukung posisi Kristen alias membantah posisi Islam dan yang Islam (sebagian besar, kalau tidak dapat dikatakan semua) mengatakan bahwa kesimpulan dari ayat-ayat kitab suci Kristen justeru mendukung ajaran Islam. Orang dari dua pandangan berbeda mengatakan bahwa pandangan lawannya tidak konsisten secara internal. Dan terkait dengan hal ini, jelas bisa terjadi perdebatan yang bermakna karena sudah jelas apa yang harus dinilai. Kedua belah pihak tinggal menunjukkan saja bagaimana argumen mereka valid dan argumen lawan mereka tidak valid.

Validitas sudah jelas bagaimana cara mengukurnya. Jadi kalau terjadi perdebatan paling tidak ada kemungkinan perdebatan tersebut bermakna. Dengan demikian, Binsar (secara sengaja atau tidak sengaja) sedang berkontradiksi dengan diri sendiri. Di samping menilai konsistensi internal, hal lain yang bisa diperdebatkan adalah kememadaian dari pra-anggapan dasar masing-masing agama. Kalau saya Kristen dan pra-anggapan dasar saya adalah Alkitab, maka teman-teman yang Islam tinggal menunjukkan bahwa misalnya di dalam Alkitab teradapat kontradiksi, dan kalau memang ada kontradiksi maka Alkitab tidak pantas jadi pra-anggapan dasar. Demikian juga dengan muslim. Karena mereka percaya bahwa Kuran adalah pra-anggapan dasar mereka, maka yang Kristen tinggal menunjukkan kontradiksi dalam Kuran dan kalau ada kontradiksi, tidak pantas jadi pra-anggapan dasar.

Di samping dua isu itu, masih ada isu lain yang mungkin untuk diperdebatkan secara bermakna antara orang yang memiliki pra-anggapan dasar berbeda. Dengan demikian, pandangan bahwa dua pihak yang memiliki pra-anggapan berbeda tidak mungkin berdiskusi secara bermakna adalah murni halusinasi.

Mungkin menghadapi hal ini Binsar akan melarikan diri dengan mengatakan bahwa sepengetahuan dia sebenarnya tidak ada perdebatan yang bermakna dan semua perdebatan yang terjadi selama ini hanya cenderung debat kusir. Faktanya dia benar-benar mengatakan demikian. Ini yang dikatakan Binsar: “…sebagai seorang yang sudah melayani 26 tahun, baik sebagai penginjil, pendeta, dosen, dan juga mendalami dialog agama-agama, saya prihatin dengan debat yang saling menjatuhkan, karena keprihatinan itulah saya mencoba menyadarkannya”

Kalau dibaca tanpa memperhatikan konteks, tampaknya si Binsar hanya tidak suka perdebatan yang saling menjatuhkan (apapun itu definisinya). Dia hanya tidak mau perdebatan jenis tertentu itu terjadi. Tetapi kalau kita perhatikan konteks diskusi, dia mengatakan bahwa semua debat antar agama/antar orang berpra-anggapan dasar berbeda adalah dialog yang saling menjatuhkan, yang menurut dia tidak boleh dilakukan. Jadi yang dia katakan sebenarnya adalah bahwa selama dia melayani tidak ada perdebatan antar agama yang bermakna.

Pertama, jelas argumen seperti ini adalah argumen yang tidak valid. Hanya karena dia tidak pernah melihat bahwa ada debat antar agama yang bermakna, tidak berarti bahwa debat yang demikian tidak ada dan tidak mungkin terjadi. Saya boleh tidak pernah melihat angsa hitam, tetapi tidak berarti bahwa angsa hitam benar-benar tidak ada. Kedua, ada perdebatan antar agama yang bermakna. Mungkin Binsar hanya perlu lebih banyak cari mengamati di internet. James White, David Wood, Nabeel Qureshi, Sam Shamoun adalah orang-orang dengan perdebatan antar agama yang patut dicontoh karena mereka tidak terjatuh dalam debat kusir.

Pada bagian lain dari komentarnya Binsar berkata kepada teman saya Ivan Bartels bahwa kalaupun seorang bisa menjelaskan tidak logisnya pandangan lawan yang memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda dengannya, lawan tersebut tidak dapat memahaminya. Ini yang dia tulis:  “bagaimana saya membuktikan kepada anda bahwa anda tidak berpikir logis,meski saya bisa membuktikan pun anda tidak paham.” Ini adalah pandangan yang sangat bodoh dan berasal dari pandangan Cornelis van Till yang salah[1]. Van Till mengatakan bahwa orang yang tidak percaya (orang non Kristen) tidak mungkin memahami apa yang dikatakan oleh orang percaya.

Ini adalah pandangan yang sangat salah. Paulus, ketika dia masih belum bertobat dan bernama Saulus jelas dia mengerti ketika orang Kristen mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Karena dia mengerti apa yang dikatakan tetapi dia menolak menerimanya atau menganggapnya salah, maka dia menggunakan segala cara untuk menghambat orang Kristen. Hal yang sama juga terjadi dalam diskusi antar agama saat ini. Bahkan ada banyak contoh dimana orang sebenarnya mengetahui bahwa argumen mereka tidak valid, tetapi mereka tetap menggunakan argumen yang sama walaupun sudah dipatahkan. Tetapi ini tidak otomatis membuktikan bahwa orang tidak mungkin mengerti bahwa argumennya tidak valid, ini bisa menunjukkan bahwa walaupun orang mengerti bahwa ajarannya salah, tetapi dia sulit meninggalkannya

Darimana Binsar mendapatkan ajaran seperti yang dia pegang itu? Atau, formulasi lengkap pertanyaannya, “Darimana Binsar mendapatkan ajaran bahwa kalau dua orang memiliki pra-anggapan dasar yang berbeda, maka tidak akan ada diskusi yang bermakna?” Jawaban Binsar dapat disimpulkan dari kutipan ini “Coba belajar apologetika presupposisionalis, mudah-mudahan kalaian berhenti berdebat. Mendengar dan saling menerima itu jauh lebih tepat.” Dengan kata lain Binsar mau mengatakan bahwa kalau orang belajar/paham apologetika pressuposisionalis (sic) maka dengan sendirinya mereka tidak akan berdebat? Benarkah demikian? Mungkin ada baiknya sedikit memberikan informasi terlebih dahulu mengenai presuposisionalisme.

Pertama-tama, saya mengoreksi Binsar dalam hal penggunaan istilah. Istilah yang tepat adalah apologetika presuposisionalisme bukan apologetika presuposisionalis. Presuposisionalis adalah penganut apologetika presuposisionalisme.

Kedua, mengenai presuposisionalisme. Presuposisionalisme adalah apologetika yang mempertanyakan pra-anggapan dasar dari pandangan dunia atau kepercayaan atau filsafat yang dipegang oleh masing-masing orang yang menentang kekristenan dan menunjukkan bahwa pra-anggapan dasar tersebut tidak memadai. Sebagai informasi tambahan, walaupun seseorang (John Frame) pernah mengatakan bahwa presuposisionalis sebenarnya adalah Gordon H. Clark, tetapi dalam kenyataannya ada dua jenis presuposisionalisme yang ada saat ini yaitu jenis yang mengikuti gagasan Cornelis van Till dan jenis yang mengikuti gagasan Gordon H. Clark.

Pertanyaannya sekarang, kalau informasi seperti itu, apakah presuposisionalisme secara konsep meniadakan kemungkinan debat dengan antar orang yang berbeda pandangan dunia?

Jelas tidak. Kalau benar presuposisionalisme mempertanyakan pra-anggapan dasar, maka jelas ada kemungkinan perdebatan pada level itu, seperti yang sudah disebut pada bagian awal tulisan ini. Bahkan Cornelis van Till dan Gordon H. Clark saling berdebat satu dengan yang lain. Demikian juga murid-muridnya. Bahkan Greg Bahnsen (alm) yang adalah murid van Till merupakan apologet Kristen yang sering berdebat dengan ateis menggunakan pendekatan presupposisionalisme. James R. White misalnya yang juga tampaknya adalah seorang van Tillian atau setidaknya dipengaruhi van Till sudah melakukan seratusan perdebatan dengan orang dari berbagai latar belakang dan semua berjalan dengan baik-baik saja, tidak seperti yang dikatakan oleh Binsar.

Mentalitas dan pandangan yang sama tidak hanya dimiliki oleh Binsar, tetapi juga oleh seorang teman di FB bernama Sangkurun Sibarani. Dalam sebuah diskusi tentang tantangan teman saya Ivan Bartels kepada muslim untuk menunjukkan tidak logisnya ajaran Tritunggal, Sangkurun menulis “Jadi adakah murid-murid dari Aristoteles menyusun sebuah teori/doktrin yg tidak logis di dalam bingkai kepercayaan mereka masing-masing???” Sebelum itu Sangkurun menulis “Ivan Bartels, tentu saja Allah Trinitas disajikan di dalam sebuah doktrin yg diklaim logis oleh penganutnya. Sama seperti Allah Yang Tunggal yg disajikan dalam bentuk doktrin Monoteisme mutlak (tidak mengenal kejamakan) yg diklaim juga pasti logis oleh penganutnya.”

Intinya di sini sama saja, tidak mungkin berdebat dengan orang yang memiliki praanggapan dasar yang saling bertentangan karena sebenarnya secara internal pandangan dunia mereka sudah konsisten. Karena itu sudah dibantah di atas, maka saya akan memusatkan perhatian pada klaim bahwa pasti semua sistem berpikir merupakan sistem yang logis berdasarkan pra-anggapan setiap sistem berpikir tersebut.

Tentu saja ini tidak benar. Coba saja perhatikan sistem berpikir ilmiah yang secara mendasar mengikuti pola berpikir induktif. David Hume, Bertrand Russel dan orang-orang yang sepikiran dengan dia menunjukkan sesat pikir yang terjadi pada sains yang mengakibatkan kesimpulan sains tidak valid (tidak logis), dan sampai saat ini tidak ada bantahan terhadap ketidaklogisan ini. Jadi tampaknya tidak benar bahwa orang dengan pra-anggapan dasar berbeda tidak mungkin berdebat secara bermakna. Dan klaim bahwa presuposisionalisme mendukung anggapan bahwa “orang dengan pra-anggapan dasar berbeda tidak mungkin berdebat secara bermakna” adalah klaim yang tidak berdasar.

Kalaupun mungkin benar bahwa pandangan tersebut (yang dipegang Binsar dan mungkin juga Sangkurun) disebut presuposisionalisme, maka yang disebut presuposisionalisme itu hanyalah presuposisionalisme palsu atau presuposisionalisme yang sudah diredefinisi sehingga sebenarnya bukan presuposisionalisme dan dengan demikian Binsar hanya melakukan ekuivokasi.


[1] Saya tidak katakan bahwa semua pandangan van Till salah. Tetapi dalam hal ini dia salah.
Pos ini dipublikasikan di Argumen Bunuh Diri, Binsar Antoni Hutabarat, Filosofi, Polemik, Sangkurun Sibarani. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s