Ketika Mata Sudah Buram, Cerminpun Tak Berguna

Beberapa waktu lalu seorang bernama Pwk Tunggu Janjimu  membalas tulisan saya sebelumnya. Tanggapannya tersebut terdapat di grup Esra Soru Friends Community. Di bawah ini adalah tanggapan saya terhadap tanggapan si Pwk

Hal pertama yang diangkat oleh PwK adalah bahwa saya menyuruh dia 24 jam siap siaga 24 jam di depan komputer untuk memberi pertanggungjawabkan apa yang dia katakan. Yang dibahas dalam thread yang saya angkat sebenarnya adalah pernyataan saya bahwa si Alfred Sinar Mata hanya mengemukakan klaim sedangkan si Mata mengatakan bahwa dia sudah mengemukakan alasan. Si  Pwk setuju dengan si Mata dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan si Mata adalah fakta. Implikasinya adalah apa yang dikatakan si Mata benar yaitu dia tidak hanya mengklaim. Kalau apa yang dikatakan Mata benar, maka tugas si PwK adalah tinggal mengutip alias copas argumen si Mata. Pekerjaan Copy Paste bukan pekerjaan yang menuntut konsentrasi berlebihan, bahkan kalau kita mau menggunakan gaya bahasa hiperbola, pekerjaan tersebut dapat dilakukan sambil tutup mata. Lalu apakah batas waktu 24 jam berimplikasi bahwa si Pwk harus menjaga layar komputer 24 jam? Tentu saja tidak. Itu implikasi yang tidak valid dari pernyataan saya. Pekerjaan copas-mengcopas bukan pekerjaan yang membutuhkan waktu 24 jam. Lagipula saat saya memintanya untuk melakukannya, dia masih aktif di thread lain. Apa susahnya memperhatikan permintaan urgen dan mengerjakannya dalam 2 atau tiga menit? Pekerjaan copas-mengcopas bukan masalah besar karena komentar di situpun cuma 41, jadi si Pwk tinggal mengambil komentar yang dia anggap sebagai alasan yang dikemukakan Mata dan paste, pekerjaan selesai. Tidak ada yang terlalu sulit di sana. Coba perhatikan screen capture di bawah:

Asi Mata

Si Pwk juga tidak setuju dengan pernyataan saya yang mengatakan bahwa si Pwk merasa sama atau bahkan lebih dari admin sehingga boleh seenaknya bertingkah laku di grup. Dia juga tidak setuju ketika saya katakan “Saya bisa saja mengatakan bahwa saat menulis komentar di atas, si Pwk sementara mengkonsumsi kotoran manusia goreng dan kalau diminta membuktikan, saya tidak mau membuktikan”.

Kita mulai dari pernyataan saya bahwa saya bisa “…mengatakan bahwa saat menulis komentar [nya], si Pwk sementara mengkonsumsi kotoran manusia goreng dan kalau diminta membuktikan, saya tidak mau membuktikan.” Pernyataan saya itu adalah pernyataan yang syah dan pantas dialamatkan kepada si Pwk. Hal itu pantas dialamatkan kepada Pwk karena Pwk melakukan klaim dan tidak bersedia untuk memberikan justifikasi walaupun justifikasi yang diminta cuma copas pernyataan Alfred Sinar Mata. Tidak butuh 24 jam untuk melakukannya. Kalau si Pwk menganggap apa yang dilakukannya benar, maka tentunya dia tidak akan menganggap salah kalau saya melakukan hal yang sama dengan dia yaitu hanya sekedar mengklaim tetapi tidak membuktikan. Dengan kata lain saya sedang melakukan reductio ad absurdum yaitu strategi menganggap apa yang lawan katakan benar lalu mencoba menunjukkan bahwa kalau dia benar, maka implikasinya tidak akan dia sukai dan dengan demikian terbukti bahwa yang dikatakannya salah. Fakta bahwa dia sewot atau tidak terima apa yang saya lakukan menunjukkan bahwa dia mengakui bahwa apa yang dilakukannya salah. Terima kasih sudah menunjukkannya kepada kita semua siapa sebenarnya anda Pwk.

Dari dua hal yang dikatakannya tentang saya di atas, Pwk menyimpulkan bahwa saya telah melakukan tindakan sewenang-wenang menggunakan media gratis yang disediakan oleh Facebook. Namun demikian, fakta bahwa saya mengatakan kedua hal itu tidak berimplikasi bahwa saya sewenang-wenang menggunakan Facebook. Tidak ada satupun peraturan Facebook dimana ada keharusan bahwa admin grup tidak boleh menegakkan aturan yang telah dibuat. Tidak ada juga aturan di Facebook dimana tidak boleh memberikan waktu 24 jam kepada member untuk bertanggung jawab. Tidak ada juga aturan di Facebook dimana dikatakan bahwa admin tidak bisa melakukan reductio ad absurdum seperti yang saya lakukan. Si Pwk mengemukakan sebuah klaim dan tidak dapat mempertanggung jawabkan klaimnya lalu apa masalahnya kalau saya menunjukkan reductio ad absurdum? Kalau memang benar saya sudah sewenang-wenang menggunakan Facebook, lalu dengan standar macam apa si Pwk dengan kepala tegak mengatakan dia tidak menyalahgunakan Facebook pada saat dia hanya pintar klaim? Apakah ada aturan di Facebook yang mengatakan bahwa orang boleh mengklaim seenaknya tanpa peduli mengemukakan argumen pendukung klaim? Apakah ada aturan di Facebook yang mengatakan bahwa kalau admin di satu grup mengatakan A, maka berarti member boleh mengatakan non-A? Kecuali si Pwk bisa menjawab secara afirmatif pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka pernyataan si Pwk bahwa saya semena-mena menggunakan Facebook hanyalah pernyataan yang tidak ada dasar sama sekali dan merupakan sesuatu yang di cari-cari.

Si Pwk juga mengkritik ketika saya memblokir orang yang terus-menerus melakukan sesat pikir dari keanggotaan kelompok. Itupun dianggap telah melanggar aturan Facebook. Kalau memang demikian, saya akan meminta Pwk untuk menunjukkan aturan Facebook yang mengatakan tindakan saya salah. Saya meminta kepada Pwk untuk menunjukkan bahwa admin satu grup tidak bisa membuat aturan yang dia anggap tepat. Saya akan meminta Pwk untuk menunjukkan bahwa ada aturan Facebook yang mengharuskan anggota untuk tidak memblokir anggota yang melakukan sesat pikir. Kegagalan untuk menunjukkan hal ini berimplikasi bahwa si Pwk hanya bicara sembarangan alias tidak punya dasar.

Seandainya Pwk tidak mungkin menunjukkan aturan seperti yang saya minta, mungkin si Pwk akan mengatakan bahwa karena Facebook adalah Media Sosial untuk sharing, maka seharusnya tidak boleh ada blokir-memblokir anggota yang melakukan sesat pikir. Mungkin dari istilah “Media Sosial untuk sharing” dia menyimpulkan aturan tidak boleh memblokir orang lain dari grup di Facebook. Tetapi harus diingat adalah bahwa Facebook bukanlah Media Sosial untuk Sharing. Tidak ada yang mendefinisikan Facebook seperti yang didefinisikan oleh si Pwk. Facebook dimana-mana didefinisikan sebagai ‘a social networking site’ atau ‘social networking website’ atau sejenis itu, alias Facebook adalah media jejaring sosial. Istilah ini berimplikasi bahwa Facebook adalah tempat orang melakukan jejaring, sehingga kalau misalnya saya atau grup tertentu tidak mau berjejaring dengan orang yang melakukan sesat pikir, maka tentunya orang tersebut dapat diputuskan hubungannya dari grup tersebut. Istilah networking/jejaring tidak mempunyai implikasi bahwa orang atau kelompok harus berjejaring dengan siapapun dan apapun. Istilah ‘networking’ juga tidak berimplikasi bahwa orang tidak boleh membuat grup yang salah satu aturannya adalah tidak memperbolehkan admin memblokir orang yang melakukan sesat pikir. Kalau memang saya salah, saya minta si Pwk tunjukkan ke saya bahwa memang ada aturan di Facebook demikian.

Keberatan lain dikemukakan si Pwk terhadap aturan di Grup adalah bahwa aturan di Grup memperbolehkan nama palsu. Dia mengangkat fakta bahwa Facebook memiliki kebijakan bahwa user tidak boleh menggunakan nama palsu untuk menunjukkan bahwa admin Grup EFSC telah melanggar aturan Facebook. Pertama, memang benar bahwa Facebook mempunyai kebijakan tersebut. Tetapi masalahnya adalah grup tidak sedang mengatur tentang apakah seseorang boleh mendaftar dengan nama palsu atau tidak. Grup hanya mengatur orang yang bernama palsu di Facebook boleh berpartisipasi. Dengan kata lain, si Pwk sedang berasumsi bahwa tugas saya adalah menjadi pengatur Facebook secara keseluruhan. Padahal itu bukan tugas saja. Itu tugasnya orang-orang di markas Facebook sana. Bukan tugas saya. Tugas saya adalah di grup. Kalau Facebook mau mengeluarkan orang yang memiliki nama palsu, itu hak mereka. Tetapi toh sampai hari ini ada begitu banyak orang di Facebook yang mempunyai nama palsu (mungkin termasuk Pwk). Apakah orang-orang ini tidak boleh diakomodir pandangannya kalau memang bertanggung jawab? Saya harap jawaban terhadap pertanyaan ini jelas. Toh, aturan tidak boleh menggunakan nama palsu sedang ditentang sekarang.

Jadi tampaknya si Pwk tidak saja hendak mengangkat diri di atas admin, tetapi juga sedang mengangkat diri di atas pemilik Facebook sehingga hal-hal yang tidak diatur oleh Facebook pun hendak diatur oleh Pwk dan bukan hanya hendak diatur tetapi aturan versi Pwk itu juga dianggap oleh Pwk sebagai aturan Facebook. Menarik.

Si Pwk juga tidak setuju dengan pernyataan saya bahwa andaikata Pwk “berada pada posisi pemerintaan, maka dia adalah calon koruptor kelas wahid,” tetapi dengan alasan yang tidak jelas. Saya mengatakan bahwa si Pwk berpotensi menjadi calon koruptor kelas wahid karena tidak berada dalam posisi admin saja, dia berusaha melebih admin. Lebih parah lagi, seperti saya tunjukkan di atas, tidak saja dia tidak mau menjadi penguasa Facebook sehingga walaupun tidak ada aturan Facebook tentang hal tertentu, dia menganggapnya sebagai ada.

Lalu apa yang dapat kita simpulkan tentang Pwk? Saya tawarkan yang berikut sebagai kesimpulan:

  1. Pwk adalah orang yang tidak tahu diri sehingga bukan hanya admin grup yang dia mau lebihi tetapi juga dia mencoba mengatur-atur Facebook dengan aturan yang sebenarnya adalah hanya keinginan dia. Saking tidak tau dirinya, Pwk juga berasumsi bahwa saya harus mengikuti kebodohannya dan harus menegakkan aturan FB bahwa pemilik akun FB harus menggunakan nama asli.
  2. Pwk adalah seorang penipu kelas kakap karena mencoba memutarbalikkan fakta dengan mengatakan seolah-olah Facebook punya aturan tertentu padahal itu adalah aturan yang dia rasa benar, bukan aturan Facebook. Dia juga memutarbalikkan definisi ‘Facebook’ dari jejaring sosial menjadi
  3. Pwk adalah seorang yang memiliki standar ganda karena dia menyerang ijin kepada yang memiliki akun bernama palsu, sedangkan dia sendiri menggunakan akun seperti itu.  Di samping itu standar gandanya jelas ketika dia menolak sebagai benar saat saya mengemukakan sebuah klaim tetapi dia sendiri seenaknya mengklaim.
  4. Pwk adalah orang yang hanya pintar klaim seperti terlihat dari kesimpulan yang dia tulis yaitu kesimpulan 4 – 6. Kesimpulan-kesimpulan tersebut tidak mendapat dukungan dari isi tulisan yang dia buat.
Pos ini dipublikasikan di Dasar Bego, Memang Bodoh, Pwk Tunggu Janjimu. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ketika Mata Sudah Buram, Cerminpun Tak Berguna

  1. malumaluin berkata:

    Blog yang menarik. Mari teruskan berbagi ide-ide kreatif lewat blog-blog menarik. Kunjungi juga http://malumaluin.wordpress.com/ Salam malu-maluin!

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s