Gordon H. Clark Tentang Kritikan Hume dan Pembelaan Hodge Terhadap Argumen Kosmologis

Di bawah ini adalah lanjutan dari terjemahan sebelumnya dari tulisan Clark yang membantah argumen kosmologis/teologi natural yang dapat dibaca di sini.

David Hume dan Charles Hodge

Hume

Karena itu, mereka yang membela argumen kosmologis tanpa menyatakan apa itu argumen kosmologis harus ditantang untuk menjawab beberapa tantangan yang tampaknya berlaku untuk setiap formulasi. Tidak diragukan bahwa David Humelah yang paling baik mengekspresikan keberatan-keberatan tersebut terlepas dari kritiknya terhadap prinsip kausalitas. Namun karena Hume merupakan musuh yang sangat kasar terhadap kekristenan, namanya menjadi seperti kutukan bagi setiap orang percaya, dan orang percaya cenderung untuk secara irasional mengasumsikan bahwa semua yang dikatakannya salah. Sebaliknyalah yang mungkin lebih mendekati kebenaran. Mungkin kesimpulan Hume ditarik secara valid dari premis-premisnya. Dia mungkin benar ketika berargumen bahwa kerbadaan Allah tidak dapat didemonstrasikan berdasarkan pengalaman inderawi. Kalau misalnya demikian adanya, orang Kristen harus berterima kasih kepadanya karena dia menunjukkan prosedur yang hanya berakhir dengan sesuatu yang memalukan bagi orang Kristen sendiri. Karena itu argumen Hume akan diperiksa tanpa ada asumsi bahwa apa yang dikatakannya tidak mungkin benar.

Terdapat dua piont utama penolakan Hume terhadap teologi alamiah. Poin pertama adalah: Seandainya valid untuk menyimpulkan tentang penyebab dari observasi terhadap akibatnya, maka akan melanggar aturan akal budi (hukum logika) untuk menyatakan bahwa penyebab memiliki ciri yang melebihi apa yang sudah cukup untuk menghasilkan akibat yang diamati. Sebagai contoh, jika kita mengamati adanya komposisi musik dan kita mendengar musiknya Beethoven dan pengetahuan kita tentang Beethoven bergantung pada observasi ini, kita dapat mengatakan bahwa terdapat seorang manusia yang memiliki kemampuan musik yang sangat tinggi. Tetapi kalau kita menyimpulkan bahwa musisi ini juga merupakan pemain bertahan terkenal tim Bonn University, maka hal itu adalah sesuatu yang irasional. Demikian juga dengan argumen kosmologis – seandainya argumen ini sound – mungkin akan menghasilkan satu sosok Allah yang cukup berkuasa untuk menyebabkan/menciptakan apa yang kita amati. Tidak lebih dan tidak kurang. Walaupun ada pandangan dari beberapa teolog ortodoks yang sepakat dengan argumen ini, orang dapat menjawab bahwa Allah itu bukanlah Pencipta yang Mahakuasa yang digambarkan dalam Alkitab.

Paley

Situasinya lebih buruk lagi karena argumen ini tidak valid. Analogi William Paley yang terkenal itu mengasumsikan bahwa alam semesta adalah jam yang seperti mesin, sehingga membutuhkan Pembuat Jam yang ilahi. Namun Hume mempertanyakan analogi ini. Apakah alam semesta itu mesin? Dalam banyak proses alamiah, alam semesta lebih menyerupai satu organisme daripada mesin. Jika alam semesta merupakan organisme yang bergerak secara spontan, maka analogi pembuat jam ilahi gugur. Keberatan ini dapat dikemukakan dengan menggunakan istilah yang lebih umum. Entah alam semesta merupakan mesin atau organisme hidup, argumen kosmologis mengasumsikan bahwa alam semesta adalah sebuah akibat. Sebagai sebuah akibat, maka alam semesta membutuhkan penyebab. Tetapi bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa alam semesta itu merupakan sebuah akibat? Tentu saja ada penyebab dan akibat di alam semesta. Satu bagian mengakibatkan bagian lain untuk bergerak, seperti halnya satu bundaran dalam jam mengakibatkan bergeraknya bundaran lain. Bahkan dalam tubuh sayur terdapat penyebab dan akibat. Namun demikian, argumen kosmologis mengharuskan agar alam semesta ini secara keseluruhan merupakan akibat. Tetapi tidak ada observasi terhadap bagian-bagian alam semesta yang mendukung asumsi yang tidak terelakkan [dari argumen kosmologis] ini. Lebih jelas lagi, tidak ada yang pernah melihat alam semesta secara keseluruhan.

Berikutnya kalau misalnya dapat dibuktikan bahwa alam semesta merupakan akibat, terdapat kesulitan lain yang sangat serius, walaupun itu hanyalah aplikasi khusus dari poin pertama Hume. Poin pertama adalah tidak ada karakteristik atau ciri yang dapat dilekatkan kepada si penyebab di luar yang dibutuhkan untuk menghasilkan akibat yang dengannya si penyebab diketahui. Kenyataannya dalam akibat yang teramati terdapat banyak kejahatan, bencana, tragedi, dan apa saja yang orang Kristen sebut sebagai dosa. Semua dapat disusun menjadi daftar yang panjangnya menakutkan. Semuanya telah didaftarkan dan digunakan melawan kekristenan oleh Hume maupun John Stuart Mill, serta oleh penulis yang lebih sinis seperti Voltaire. Kejahatan-kejahatan yang terjadi ini, mulai dari bayi yang cacat sejak dalam kandungan sampai bilik penganiayaan Nazi dan Kommunis, mencegah kesimpulan bahwa penyebab dunia ini baik. Argumen kosmologis gagal total untuk membuktikan keberadaan Allah yang adil dan maha murah. Memang benar bahwa argumen ini memungkinkan keberadaan sesosok Allah yang baik (tetapi tidak membuktikannya), namun dengan asumsi bahwa sesosok Allah itu tidak mahakuasa dan bukan penyebab dari segala sesuatu yang terjadi. Akan tetapi argumen kosmologis diharapkan untuk membuktikan penyebab universal. Karena itu, kalau dianggap sebagai bantuan bagi teisme Kristen, maka argumen kosmologis lebih buruk daripada tidak bermanfaat. Bahkan orang Kristen boleh bergembira karena kegagalannya, karena kalau valid, argumen ini akan membuktikan sebuah kesimpulan yang tidak konsisten dengan Kekristenan.

Patut disayangkan bahwa sebagian besar Protestan konservatif tidak bersedia membahas keadilan Allah dalam kaitan dengan kejahatan di dunia. Ada orang-orang yang saleh yang tampaknya beranggapan bahwa pembahasan tentang kejahatan dapat menanamkan gagasan yang salah ke dalam pikiran anak muda. Karena itu setiap upaya menjelaskan tentang kejahatan mereka anggap sebagai merusak iman. Dengan melakukan demikian mereka tidak setia terhadap standar mereka sendiri yaitu Alkitab. Lebih jauh lagi, pandangan mereka berimplikasi bahwa Voltaire, Hume, Mill, dan musuh kekristenan lainnya tidak dan tidak akan pernah dikenal orang. Orang-orang Kristen ini memang bermaksud baik tetapi mereka tidak menyadari bahwa argumen Hume telah menjadi milik umum sejak tahun 1776, sehingga jutaan orang telah menolak Kekristenan karena argumen-argumen tersebut. Untuk menghindari hal ini, maka orang Kristen harus menghadapinya dengan jujur. Saya percaya ini dapat dilakukan. Masalah kejahatan bukanlah masalah yang tidak dapat dipecahkan. Namun solusinya tidak bergantung pada rehabilitasi terhadap argumen kosmologis.

Hodge

Charles Hodge mencoba melakukannya. Hodge merupakan salah satu pangeran[1] kekristenan historis. Sebagai seorang teolog dan seorang penafsir, hanya sedikit orang yang menyamai kualitasnya sejak dia pulang kepada Bapa di surga. Orang malah mungkin berani mengatakan bahwa tanpa membaca tulisannya berjudul Commentary on the Epistle to the Romans, tidaklah mungkin memahami Kitab Roma. Walaupun pujian seperti itu merupakan sesuatu yang sedikit berlebihan, namun posisinya yang tinggi sebagai seorang teolog harus diakui. Tetapi filsafatnya menyedihkan khususnya perlakuannya terhadap argumen kosmologis.

Dalam tulisannya berjudul Systematic Theology, dia mencoba membuktikan bahwa alam semesta merupakan akibat. Dia berargumen bahwa karena semua bagian alam semesta memiliki ketergantungan dan dapat bergerak, maka secara keseluruhan alam semesta memiliki ketergantungan, karena “keseluruhan tidak dapat berbeda secara esensial dengan bagian-bagian yang menyusunnya.”[2] Namun itu tidaklah benar. Sebagai contoh, lukisan Rembrandt berjudul Night Watch terdiri dari berbagai pigmen dan kanvas, tetapi sebagai sebuah keseluruhan lukisan tersebut berbeda dari bagian-bagiannya. Keseluruhan secara esensial merupakan obyek estetika; bagian-bagiannya tidak. Jika misalnya kita tidak mengidentifikasi bagian-bagiannya sebagai pigmen-pigmen dalam tabung, tetapi menyebut keseluruhannya sebagai terdiri dari kumpulan dua inchi persegi yang dilukis, hal yang dikemukakan sebelumnya masih berlaku. Tidak ada dua inchi persegi yang merupakan obyek estetis, tetapi keseluruhannya merupakan salah satu lukisan terbaik di dunia. Contoh lain adalah garam dapur. Terasa baik kalau ditaruh dalam makanan – setidak-tidaknya pada telur. Garam juga merupakan pengawet untuk daging babi dan buah zaitun. Garam pada dasarnya merupakan senyawa kimia. Tetapi bagian dari senyawa ini terdiri dari sodium dan klorine. Keduanya adalah elemen esensial. Secara terpisah keduanya juga pada dasarnya beracun untuk sistem tubuh manusia. Garam pada kue terasa enak, tetapi siapa yang akan menaruh sepotong sodium[3] di lidahnya? Jadi tidaklah benar kalau bagian-bagian dari sesuatu memiliki karakteristik yang sama dengan sesuatu (yang tersusun oleh bagian-bagian itu) secara keseluruhan.

Hodge melanjutkan dengan mengatakan bahwa “sejumlah akibat yang tak terhingga tidak mungkin ada dengan sendirinya/terjadi dengan sendirinya. Jika satu rangkaian rantai yang terdiri dari tiga mata rantai tidak dapat mendukung diri sendiri, maka rangkaian rantai yang terdiri dari jutaan mata rantai lebih tidak mungkin lagi mendukung diri sendiri. Ketiadaan dikali tidak berhingga tetaplah ketiadaan.” Mari kita memeriksa dengan seksama apa yang dikatakan Hodge. Kalimat pertama dari ketiga kalimat ini, yaitu sejumlah akibat yang tak terhingga tidak mungkin ada dengan sendirinya/mendukung dirinya sendiri, merupakan kesimpuan yang ingin Hodge buktikan. Kalimat itu tidak menyediakan alasan/dasar untuk dirinya sendiri. Kalimat kedua yang tampaknya dimaksudkan sebagai bukti, merupakan sebuah analogi. Hodge menganggap bahwa kejadian-kejadian di alam adalah seperti sambungan dalam sebuah rantai dan jika sebuah rantai yang terdiri dari tiga mata rantai tidak dapat mendukung diri sendiri, apalagi sebuah rantai yang terdiri dari sejuta mata rantai. Namun demikian analogi, tidak pernah merupakan argumen valid, dan analogi ini secara khusus cukup buruk. Pertama-tama, gambaran tentang rantai yang mata rantai pertamanya dikaitkan dengan sebuah kaitan merupakan gambaran yang jauh dari memadai tentang keterkaitan antar bagian-bagian di alam. Kedua, entah tiga mata rantai, atau sejuta mata rantai, atau satu mata rantai, fakta bahwa mata rantai tersebut tidak dapat melayang sendiri di udara tidak menjadi dasar rasional untuk menyimpulkan bahwa alam semesta tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Keberadaan kekal dalam diri sendiri merupakan konsep yang cukup berbeda dari sebuah mata rantai yang tergantung dengan sebuah kaitan. Akhirnya, kalimat ketiga Hodge, yang tampaknya mengandung bentuk dari argumen utamanya, tidak dengan jelas terkait dengan kalimat sebelumnya. Dia baru saja mengatakan bahwa apa yang berlaku bagi tiga mata rantai pasti benar juga untuk jutaan mata rantai. Tetapi sekarang dia menambahkan bahwa ketiadaan dikalikan dengan ketidakberhinggaan tetaplah sebuah ketiadaan. Terlepas dari hubungan yang tidak jelas dengan kalimat sebelumnya karena dia tidak menyebut nol atau perkalian [dalam kalimat sebelumnya], kalimat ini menunjukkan aritmetika yang buruk. Tidaklah benar bahwa nol dikalikan dengan tak terhingga sama dengan nol. Hal ini dapat dengan mudah dipahami dengan menyadari bahwa dua dibagi nol atau tiga dibagi nol sama dengan tak terhingga[4]. Kita cukupkan di sini untuk menunjukkan contoh yang buruk dalam membela teologi alamiah.

Kita cukupkan di sini untuk membantah klaim bahwa keberadaan Allah dapat didemonstrasikan dengan dasar pengamatan terhadap alam semesta. Argumen kosmologis tidak valid dan jenis filsafat yang lain diperlukan. Satu kemungkinan adalah berpegang pada Kekristenan dan siap-siap dianggap tidak rasional. Kemungkinan lain yang akan dibahas berikut adalah mengikuti akal budi bahkan kalaupun mengakibatkan ketidakpercayaan akan Kekristenan dan wahyu. Dengan demikian “Akal Budi dan Iman” membawa kita ke bagian baru, “Akal Budi tanpa Iman.”

Diterjemahkan Ma Kuru dari versi elektronik buku Religion, Reason, and Revelation, tulisan Gordon H. Clark, terbitan The Trinity Foundation


[1] Pangeran = tokoh penting
[2] Charles Hodge, Systematic Theology
[3] Sodium akan meledak kalau bersentuhan dengan air dan penyusun air liur adalah sebagian besar air
[4] Penterjemah tidak yakin apakah Clark menggunakan gaya bahasa ironi (yang sering dia gunakan) dalam kalimat ini ataukah memang dia salah. Bilangan apa saja dibagi nol tidak terdefinisikan seperti halnya nol dikali tak terhingga juga tidak terdefinisikan.
Pos ini dipublikasikan di Argumen Kosmologis, Charles Hodge, David Hume, Filosofi, Gordon H. Clark, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gordon H. Clark Tentang Kritikan Hume dan Pembelaan Hodge Terhadap Argumen Kosmologis

  1. Ping balik: Clark Tentang 2 Produk Populer dari Renaisans | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s