Gordon H. Clark Tentang 2 Produk Populer dari Renaisans

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan tulisan Gordon Clark sebelumnya yang dapat diakses di sini! Teks ini diterjemahkan dari buku Religion, Reason, and Revelation yang dapat dibeli dengan harga Rp. 50.000 menggunakan Kartu Kredit atau Paypal

Akal Budi Tanpa Iman

Pandangan dunia (worldview) abad pertengahan yaitu pandangan dunia Roma Katolik kehilangan monopolinya terhadap pikiran masyarakat umum pada abad kelima belas dan keenam belas. Dua gerakan besar bergabung, atau setidaknya bersaing, membentuk peradaban moderen. Salah satu di antaranya adalah Protestantisme yang menolak penalaran skolastik dan mendasarkan diri pada wahyu. Gerakan lain yaitu Renaisans yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada akal budi (reason) dan menolak segala sesuatu yang berbau iman. Gerakan kedua akan dibahas terlebih dahulu, dan perkembangannya dapat dibahas dengan terlebih dahulu memberikan gambaran tentang teori filsafat utama yang disertai dengan beberapa catatan tentang bentuk-bentuknya dalam budaya populer.

Ketidakberagamaan Awal

Dampak dari “akal budi” terhadap budaya secara luas (karena berdampak terhadap perkembangan banyak sisi Renaisans dan pengaruhnya terasa selama beberapa abad, misalnya Revolusi Perancis) terlalu luas untuk dibahas secara memadai dalam tulisan ini. Namun hanya petunjuk adanya permusuhan dengan Kekristenan dan hal yang terkait dengannya yang akan di bahas di sini.

Nasib dari Iman Kristen selalu berada pada titik surut selama berabad-abad. Beberapa jiwa yang saleh seperti kaum Kaum Waldensian, Jan Hus, dan John Wycliffe, hampir saja tidak dapat mempertahankan Injil. Sementara itu sebagian besar umat tenggelam dalam takhyul. Namun, mungkin tidak akan ada revolusi melawan bentuk kekristenan yang mati itu jika tidak ada penemuan mesin percetakan pada pertengahan abad kelima belas. Adalah mesin cetak yang membawa orang kepada Perjanjian Baru serta sastra klasik Yunani dan Romawi.

Di Italia, dimana literatur klasik pertama kali tiba ketika Kekaisaran Timur tunduk kepada Turki, waktunya sudah matang untuk terjadinya revolusi intelektual karena di Italialah teramati kebobrokan kepausan paling nyata. Karena itu ketika kejayaan Yunani dan Roma dikenal umum, yaitu ketika peradaban yang tidak didominasi oleh gagasan tentang Allah diangkat ke permukaan, masyarakat cepat-cepat meninggalkan Kekristenan yang munafik itu dan secara terbuka menjadi kafir.

Tentu saja tidak semua kesarjanaan menjadi kafir. Gagasan tentang Allah tidak dibuang secara universal. Bukan hanya literatur klasik yang dipelajari tetapi juga kesarjanaan Perjanjian Baru mengalami kemajuan, baik yang dipelopori si pengecut Erasmus maupun oleh para Reformator yang pemberani. Namun Reanaisans berbeda dengan Reformasi karena Renaisans bersifat kafir. Kalau hal ini berlaku bagi para sarjana, khurusnya para sarjana Italia (Pico della Mirandola, c.1494; Marsilius Ficinus, c. 1499; dan kemudian, Telesius, c.1588; Giordano Bruno, c. 1600), hal ini juga berlaku bagi Benvenuto Cellini, Niccolo Machiavelli, dan keluarga Borgias. Kecemerlangan artistik, kesombongan, kekuasaan politik, dan kekayaan yang tidak bermoral tidak kompatibel dengan Kekristenan. Tidaklah perlu untuk mendukung gagasan bahwa ketidaktahuan di abad pertengahan tentang literatur klasik merupakan sebuah keuntungan, atau bahwa seni abad pertengahan lebih superior dibanding teknik-teknik baru. Pengetahuan mengenai Homer dan Virgil serta penemuan hukum-hukum perspektif tidaklah dapat dipandang sebagai musuh iman. Namun kandungan dari seni berubah dan tema-tema keagamaan menjadi kurang Kristen sementara tema-tema kafir menjadi lebih sering dijumpai. Dalam kesusasteraan, Boccaccio dan Rabelais, serta si jahat Villon bergabung mengeritik kepalsuan gerejani dengan keengganan untuk moralitas pribadi.

Namun tidak semua paganisme ini dapat diatribusikan kepada sebuah keputusan filosofis terkait nilai dari iman dan akal budi. Villon dan Rabelais hanyalah hasil khas dari kejahatan manusia. Memang benar bahwa situasi khusus dapat diduga sebagai penyebab rasa muak terhadap apa yang terjadi dalam Kekristenan. Namun demikian, semua orang yang disebutkan ini merupakan perwakilan dari budaya baru. Mereka adalah juru bicara dan cermin dari jaman mereka yang dipengaruhi dan mempengaruhi [jamannya]. Tetapi penulis yang lebih mendalam pemikirannya yang walaupun bukan filsuf sistematis tetapi memiliki pengaruh yang lebih luas adalah Michel de Montaigne.

Memang agak aneh bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara Montaigne dan orang lain dalam tradisi Renaisans, baik tradisi Renaisans awal maupun tradisi yang kemudian. Humanisme Renaisans bersifat optimistik. Humanisme ini tidak mempedulikan batas-batas akal budi manusia. Dengan menolak pentingnya anugerah Allah, diasumsikan bahwa sumber daya yang ada pada manusia cukup memadai untuk memenuhi semua kebutuhannya. Perkembangan filosofis yang akan dibahas serta kemajuan ilmu pengetahuan yang terus berkembang [sepertinya] tidak akan ada titik hentinya. Namun Montaigne kurang yakin akan hal itu.

Montaigne bahkan tidak yakin akan apapun. Dia adalah seorang skeptis. Hal ini terlihat dari sikapnya terhadap moralitas dan agama. Walaupun dia tidak bersedia sama sekali untuk mati demi dogma apapun atau bahkan diganggu oleh keberatan apapun, dia menasihati kita dalam tulisannya berjudul “Custom” untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan [keadaan] di masyarakat kita. Tidak ada prinsip moral yang universal yang mengikat semua manusia. Bahkan terlebih lagi, tidak ada yang dapat diketahui tentang Allah, keselamatan, dan kehidupan setelah kematian. Karena itu [menurutnya] kebijaksanaan terdiri dari tidak adanya keyakinan personal dan penundukan diri pada pendapat umum sehingga masalah dapat dihindari. Ketika berada di Roma, berlakulah seperti Orang Roma.

Penganut Roma Katolik pada saat itu sedang sibuk membantai Protestan di Perancis. Kaum Kalvinis memang mengundang pembantaian seperti itu. Mereka berpegang teguh pada pandangannya yang bertentangan dengan adat kebiasaan yang berlaku. Baik Penganut Roma Katolik maupun Kaum Kalvinis tidak punya alasan untuk percaya apa yang mereka percayai. Tetapi karena penganut Romalah yang pertama berada di sana, maka orang Reformed jelas salah karena menciptakan gangguan. Tentu saja penganut Roma Katolik itu juga salah karena membunuh Kaum Protestan karena tidak ada kepercayaan yang baginya orang pantas untuk membunuh dan dibunuh. [demikian pandangan Montaigne]

Namun demikian, skeptisisme Montaigne, lebih dalam daripada sekedar isu-isu moral dan keagamaan ini. Walaupun Renaisans bersifat optimistik, walaupun Perancis di abad ketujuh belas akan meninggikan akal budi, dan walaupun Montaigne sendiri membawa pengaruh terhadap para penulis abad ketujuh belas, namun dia sendiri masih menyatakan keraguan besar terhadap kemampuan akal budi manusia:

Jika anda mengatakan, “Cuaca baik,” dan anda berbicara kebenaran [saat itu], maka pasti cuaca baik. Bukankah itu salah satu cara untuk mengungkapkan kepastian? Namun itu menipu kita. Untuk memahami apa yang saya katakan, ikuti contoh berikut. Jika anda katakan, “Aku menipu[1],” dan anda berbicara benar, maka anda tetap sedang menipu. Seni, akal budi, serta kekuatan kesimpulan dalam kasus ini sama dengan dalam kasus lain. Namun demikian anda mendapati diri anda dalam keadaan yang memprihatinkan. Saya mengamati para filsuf [penganut ajaran] Pyrrho[2] yang tidak dapat menyatakan gagasan mereka secara umum dengan gaya bicara apapun, karena mereka harus mempunyai bahasa baru. Bahasa kita seluruhnya terdiri dari proposisi afirmatif yang bermusuhan dengan mereka. Dengan demikian ketika mereka katakan “Saya ragu,” tiba-tiba saja mereka mejadi orang yang membutuhkan belas kasihan kita, jika kita memaksa mereka mengakui bahwa mereka setidak-tidaknya menegaskan dan mengetahui bahwa mereka ragu.

Walaupun kalimat terakhir mengarahkan ke sebuah dogmatism yang segera dianut René Descartes, namun inti dari kutipan itu bersifat skeptis sehingga dengan demikian berbeda secara tajam dengan pandangan orang-orang yang pada tiga abad kemudian. Walaupun David Hume merupakan pengecualian, perkembangan filosofis dan ilmu pengetahuan (sains) yang membentuk budaya Eropa Moderen tidak menunjukkan keraguan/kecemasan terhadap kekompetenan pikiran manusia. Kita akan memberi perhatian kepada pemikiran filsuf-filsuf [yang tidak meragukan kekompetenan pikiran manusia] ini. Namun yang pertama pantas dibahas secara singkat adalah keberlanjutan Renaisans dalam pemikiran populer. Jaman yang dimaksud ini disebut Jaman Akal Budi (Age of Reason) yang di dalamnya termasuk Gerakan Pencerahan Perancis dan Gerakan Deisme Inggris.

[Gerakan] Pencerahan Perancis hanya akan dibahas dalam kaitan dengan Voltaire dan kaum Ensiklopedis. Ini bukan gerakan filosofis besar, tetapi sangat populer. Voltaire berpikiran dangkal tetapi produktif. Orang yang menggunakan waktu untuk menulis begitu banyak volume buku dan pamflet pastilah tidak menggunakan waktunya untuk berpikir, walaupun orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata yang masuk keluar penjara, dihormati, diasingkan, dihina, dan disanjung dapat menulis cukup banyak. Namun demikian, Voltaire tidak menyajikan sebuah sistem berpikir yang konsisten. Di satu saat dia berpegang pada kehendak bebas, kemudian pada waktu lain dia berpegang pada determinisme; lalu ada saat dia percaya pada gagasan yang tertanam dalam pikiran manusia dan di saat lain membantahnya; dunia memiliki awal dan kadang-kadang percaya bahwa dunia kekal. Contoh lain ketidakkonsistenan Voltaire adalah dia berpandangan bahwa argumen teleologis bagi keberadaan Allah valid, tetapi hidung dibuat untuk kacamata sehingga kita memiliki kacamata. Namun demikian kekonsistenan dan kedalaman [pemikiran] bukan prasyarat bagi popularitas.

Voltaire

Dengan hampir musnahnya Protestantisme [dari Perancis], Orang Perancis mengerang di bawah kekejaman [kekuasaan] otokratis dari aristokrat dan kaum agamawan. Voltaire menjadi juru bicara bagi mereka. Sejak awal kegiatan menulisnya, dia menabuh genderang perang terhadap agama Kristen yang dia kenal. Seiring dengan bergulirnya waktu, serangan-serangannya menjadi lebih langsung dan keras. Dalam tulisan berjudul God and Men and The Bible Finally Explained, dia menulis bahwa dia tidak menyerang kelemahan dan kekurangan para imam dan orang percaya, namun menyerang Injil itu sendiri. Kesimpulannya adalah bahwa kalau Kitab Suci tidak bersifat apokrif (diragukan kebenarannya), palsu, atau dirubah, maka Kitab Suci tidak bermoral dan konyol.

Namun tidak seperti Diderot, dan sebagian besar kaum Ensiklopedis, Voltaire bukanlah seorang ateis. Dia percaya bahwa moralitas membutuhkan sesosok allah yang terbatas yang akan memberi penghargaan dan hukuman. Namun gagasan mengenai penghargaan dan hukuman (reward and punishment) bertentangan dengan ajaran dasar Deisme bahwa Allah tidak berintervensi dalam urusan umat manusia. Seandainya penghargaan dan hukuman ini dianggap akan diberikan dalam kehidupan yang akan datang, maka harus diingat bahwa Voltaire menertawakan gagasan tentang jiwa/roh dengan mengatakan: [Ada dua pilihan saja] yaitu mengakui bahwa kutu dan larva memiliki jiwa/roh, atau manusia adalah mesin.

[Gerakan] Deisme Inggris, yang darinya Voltaire mendapatkan banyak gagasannya, adalah sebuah fenomena yang dapat dibedakan yang dapat diidentifikasi pada abad kedelapan belas. Secara alamiah, akarnya berada di masa lampau yaitu Jaman Renaisans, dan bahkan sampai ke Celsus dan Porphyry. Di Inggris Lord Herbert of Cherbury (1583-1648) yang pertama mengumpulkan serangkaian gagasan yang kemudian dikenal dengan Deisme; namun mungkin dapat dikatakan bahwa Charles Blountlah (1654-1693) yang mugkin paling baik disebut sebagai Deis[3] sepenuhnya. Setelah dia, wakil utama gerakan ini adalah: John Toland (1670-1722), the Earl of Shaftesbury (1671-1713), Anthony Collins (1676-1729), Thomas Woolston (1669-1731), Matthew Tindal (1656-1733), serta banyak tokoh lain yang kurang ternama seperti, Viscount Bolingbroke (1672-1751).

Pada umumnya tulisan kaum Deis menyerang Kekristenan. Otensitas dan otoritas Alkitab disangkal dan cerita tentang mujizat didiskreditkan. Sikap anti-klerikalisme[4] tidak dibatasi pada sistem Roma Katolik tetapi juga diperlihatkan kepada para pendeta Protestan yang digambarkan sebagai korup dan serakah. Bahkan lebih jauh lagi, tokoh Deisme seperti Shaftesbury dan kebanyakan Deis lain bersikap anti-semitis. [Dalam gerakan ini] seringkali ada kecenderungan untuk menggantungkan diri pada ejekan, dan bahkan orang yang cenderung bersahabat dengan Deisme mengakui bahwa tulisan Thomas Woolston sangat kasar dan tidak bersopan santun.

Strategi mereka secara umum, penggunaan ejekan, dan bahkan terlalu memusatkan perhatian pada rincian tertentu tidaklah kondusif terhadap konstruksi positif, kedalaman filosofis dan komprehensivitas yang sistematis dan konsisten. Wakil terbaik dari Deisme, dalam hal temperamen yang tenang dan luasnya pernyataan adalah Matthew Tindal.

Karya Tindal berjudul Christianity as Old as Creation mensintesa tema-tema utama Deisme. Pertama-tama, terdapat agama alamiah yang dapat ditemukan oleh akal budi. Tidak diperlukan wahyu khusus serta hal yang misterius dan supranatural tidak dapat diterima. Akal budi mendukung kepercayaan akan sesosok allah yang memerintah dunia secara rasional. Namun, karena allah ini sempurna dan tidak berubah, maka dia tidak dapat melanggar hukum-hukum alam dengan mujizat. Dengan alasan yang sama, agama yang dia berikan kepada manusia saat penciptaan sudah sempurna sehingga tidak memerlukan tambahan. Demikian pula, rasionalitas yang sempurna dari allah tidak kompatibel dengan pemilihan dan perkenan hanya terhadap umat tertentu. Sementara itu wahyu khusus justeru merupakan sebuah contoh sikap yang memihak [pada umat tertentu]. Sebaliknya semua orang pasti memiliki cara yang memadai untuk mengetahui apa yang tuhan [ini] persyaratkan, karena kita tidak dapat memiliki gambaran tentang Allah yang adil yang mengharapkan manusia mengetahui informasi yang hanya Dia berikan kepada segelintir orang. Bagaimanapun keadaannya, Alkitab bukan wahyu khusus karena penuh dangan takhyul dan kesalahan. Perjanjian Lama bersifat immoral dan Kristus sendiri perlu dikecam karena menjadikan keselamatan tergantung pada kepercayaan yang sebagian besar manusia tidak pernah dengar. Yang allah persyaratkan adalah bahwa kita harus memajukan kebaikan bersama. Tindal juga percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, walaupun beberapa Deis menolak kepercayaan ini.

Di samping sebagai seorang deis yang berpandangan paling komprehensif dan layak, karya Tindal mendapat penghargaan lain karena buku tersebut mendorong Bishop Butler menulis sebuah buku terkenal berjudul Analogy yang berhasil mengakhiri Deisme.

Mungkin agak berlebihan mengatakan bahwa buku Butler yang berjudul Analogy menghancurkan Deisme. Namun Kaum Deis sendiri mulai merasa kesulitan mempertahankan penolakan mereka ketika berhadapan dengan jawaban ortodoks dan mempertahankan pengakuan mereka ketika berhadapan dengan argumen yang lebih radikal. Walaupun Deisme mengaku sebagai agama yang etis, tetapi Deisme juga dituduh (dengan cukup adil) sebagai mendukung penyebaran imoralitas publik. Revivalis Metodislah yang merubah pandangan populer pada titik ini. Mungkin pula kejadian politis dan militer cenderung mengalihkan perhatian utama dari Deisme.

Hal lain yang semenarik hal yang dibahas di atas adalah bahwa Deisme Inggris dan Pencerahan Perancis pada dasarnya merupakan hasil populer dari Renaisans. Walaupun orang-orang yang dibahas di sini banyak menulis, mereka sebenarnya lebih berperanan sebagai pengikut dan bukan pemimpin dalam pembentukan budaya Eropa. Argumen-argumen mereka kadang-kadang tidak konsisten dan istilah-istilah yang mereka gunakan ambigu. Secara khusus istilah dimaksud adalah akal budi (reason) yang berubah-ubah makna, entah dalam tulisan satu orang atau antara tulisan satu orang dengan tulisan orang lain. Di belakang orang-orang ini terdapat filsuf-filsuf besar. Karena itu penting untuk menilai sumber dari iman kepada akal budi yang berpandangan bahwa akal budi tidak membutuhkan iman.

Secara manusiawi, arah dari budaya pada satu jaman dipilih oleh segelintir orang yang sangat cerdas. Penulis-penulis populer kemudian mengangkat beberapa gagasan utamanya, biasanya dengan mendistorsi dan mengurangi maknanya secara berarti, dan akhirnya lima puluh tahun atau satu abad kemudian pandangan umumnya telah merembes ke dalam seluruh lapisan masyarakat.

Karena itu, gagasan terjelas tentang akal budi versus iman harus dipelajari dari para filsuf utama yaitu: kaum rasionalis – Descartes, Spinoza, dan Leibniz; serta Kaum Empiris – Locke, Berkeley, and Hume; serta akhirnya Kant dan Hegel.


[1] Perhatikan bahwa di sini tidak dikatakan ‘Aku sedang menipu’
[2] Filsuf yang mengajarkan skeptismsme atau meragukan segala sesuatu.
[3] Penganut Deisme
[4] Sistem pemerintahan dalam gereja
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Jaman Renaisans, Religion Reason and Revelation, Terjemahan, Voltaire. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gordon H. Clark Tentang 2 Produk Populer dari Renaisans

  1. Ping balik: Gordon H. Clark Tentang Rasionalisme | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s