Gordon H. Clark Tentang Empirisisme

Di bawah ini adalah lanjutan tulisan Clark yang saya terjemahkan sebelumnya di sini. Kali ini tulisannya terkait dengan Empirisisme. Teks ini diambil dari buku Religion, Reason, and Revelation

Empirisisme

George Berkeley

Upaya berikut dalam filsafat Eropa untuk membangun [sebuah sistem filsafat] atas “akal budi” tanpa iman adalah Empirisisme Britania (British Empiricism). Filsafat ini adalah filsafat yang diadopsi Kaum Deis. Kalau bukan Deis awal, maka Deis di kemudian waktu pasti mengadopsinya. Tetapi perlu dicatat bahwa istilah akal budi telah memiliki arti yang sangat berbeda. Tanpa banyak masalah dapat dikatakan bahwa pada jaman ini akal budi berarti sensasi inderawi. Dengan kata lain, sementara Rasionalisme mencoba mendasari semua pengetahuan pada logika semata, Empirisisme menggantungkan diri pada pengalaman semata. Kalimat terkenal dari John Locke adalah, “Dari mana pikiran mendapatkan semua bahan akal budi dan pengetahuan? Saya menjawab pertanyaan ini dengan satu kata, ‘pengalaman.’ Di dalamnyalah semua pengetahuan didasari dan daripadanyalah pengetahuan kita secara mutlak berasal dan dari pengalamanlah pengetahuan kita diderivasi/diturunkan.”

Pandangan Locke terhadap wahyu mungkin sedikit terlalu rumit, atau mungkin terlalu tersamar untuk dapat digambarkan secara akurat. Walaupun dia tampaknya mengakui fakta wahyu, beberapa penafsir menganggap [pengakuan itu] sebagai pengakuan yang terpaksa. Di satu bagian dia mengangkat pertanyaan tentang apakah kita dapat meyakini bahwa ada yang disebut wahyu, serta ada indikasi bahwa dia mengatakan bahwa ada kemungkinan kita tidak dapat melakukannya.

Namun demikian, bagaimanapun pandangan Locke – atau terlebih lagi – bagaimanapun pandangan Uskup Berkeley yang saleh itu, Hume menunjukkan bahwa kalau Empirisisme dipertahankan secara konsisten, maka tidak ada ruang bagi wahyu. Tidak perlu untuk menyeimbangkan pandangan Berkeley si Kristen dan Locke si sekuler dalam rangka menekankan kekurangan Locke demi mempercayai pandangan Berkeley yang lebih bersahabat dengan wahyu. Hal yang penting untuk diketahui adalah konsekuensi dari prinsip bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman, terutama sensasi [inderawi].

John Locke

Menurut Empirisisme, pengetahuan dimulai dengan apa yang Locke sebut sebagai ide, gagasan, atau phantasms (fantasi); atau apa yang Hume sebut impressions (kesan); atau apa yang sebagian besar orang saat ini sebut sebagai sensasi [inderawi]. Dengan menggabungkan, mentransposisikan, menambah atau mengurangi bahan-bahan sensasi [inderawi] ini, kita mengembangkan semua pengetahuan kita bahkan pengetahuan yang sulit dipahami sekalipun. Rumus teori Enistein yang paling rumitpun misalnya (walaupun ini bukan contoh yang digunakan Hume), dapat diselesaikan dengan gambaran mental (memory images) yang disalin dari sensasi inderawi sebelumnya.

Namun sejauh mana pengalaman membawa kita? Apakah sensasi internal ini memberikan pengetahuan tentang benda-benda eksternal? Apakah kita menemukan penyebab kesan-kesan tersebut? Berkeley telah menunjukkan bahwa sensasi merah, keras, pahit, dll., tidak memberi petunjuk adanya dunia materi eksternal. Mengikuti Berkeley, Hume memberi contoh sebuah meja. Andaikan kita sedang melihat meja. Kita memiliki sensasi sebuah meja. Jika kita menjauh darinya, meja yang kita lihat tampak menjadi lebih kecil daripada ketika kita lebih dekat dengan meja tersebut. Karena sebuah meja eksternal selalu memiliki ukuran yang sama, maka apa yang kita lihat bukanlah sesuatu yang disebut meja eksternal itu, karena apa yang kita lihat berubah ukurannya. Apa yang kita lihat adalah imej/gambaran atau fantasi dalam pikiran sendiri sehingga sensasi inderawi kita tidak memberikan bukti/petunjuk adanya dunia eksternal. Bahkan kalaupun seandainya gambaran kita memiliki penyebab eksternal, kita tidak dapat mengetahui bahwa gambaran itu menyerupai penyebabnya, karena kita hanya melihat gambarannya. Nyatanya, jika kata image atau gambaran berkonotasi kemiripan dengan sesuatu yang eksternal, kita tidak memiliki alasan untuk mempercayai bahwa sensasi inderawi kita adalah image/gambaran.[1]

David Hume

Namun demikian, Hume berpandangan lebih jauh lagi dari Berkeley dalam hal reduksi pengetahuan sebagai pengalaman. Locke menjelaskan gagasan mengenai materi berdasarkan abstraksi, dan Berkeley menunjukkan bahwa pengalaman tidak menghasilkan contoh sebuah gagasan abstrak. Kita memiliki gagasan tentang biru, merah, dan hijau yang berlimpah; namun gagasan abstrak tentang warna [yaitu sesuatu] yang tidak biru, merah atau hijau – yakni gagasan tentang warna yang bukan warna sama sekali – sebenarnya tidak ada. Demikian juga, “materi” itu tidak ada. ‘Materi’ hanyalah bunyi suara kita dan tidak lebih dari kata-kata kosong. Tetapi jika gagasan abstrak dari substansi material bukanlah apa-apa, maka tidak terelakkan pula bahwa pengalaman tidak memberikan kita gagasan mengenai substansi spiritual. Keduanya sama-sama abstraknya. Dengan kata lain, pikiran atau jiwa tidak ada. Pengalaman hanya memberikan gagasan saja. Ada gagasan tentang merah, hijau, pahit, manis, kasar, dan halus serta kombinasi dari berbagai gagasan itu seperti sungai, pohon, dan meja; tetapi tidak ada materi atau roh karena persepsi tidak dapat memberikan petunjuk tentang segala sesuatu yang tidak dapat dipersepsikan. Kita sendiri sesungguhnya tidak lebh dari kumpulan persepsi-persepsi inderawi.

Berikutnya jika jelas bahwa persepsi tidak dapat memberikan petunjuk/bukti tentang adanya entitas yang tidak dapat diinderai, mungkin jelas pula bahwa persepsi tidak dapat memberikan petunjuk/bukti bagi apa yang tidak dapat dipersepsikan.

Jika saya mengatakan bahwa surat yang dapat dipersepsi merupakan bukti adanya seorang teman saya (yang tidak dapat dipersepsikan) di Perancis, maka saya berasumsi bahwa ada hubungan tidak terelakkan antara surat dan teman saya yang tidak ada di sini. Seandainya tidak ada hubungan yang tidak terelakkan, dan seandainya dia bukan penyebab surat ini, maka saya tidak tahu bahwa dia berada di Perancis. Karena itu, semua hal terkait dengan sejarah dan terlebih lagi semua yang disebut pengetahuan tentang fakta selain sensasi inderawi saat ini dan ingatan kita, bergantung pada prinsip kausalitas/sebab akibat.

Namun demikian, penilaian terhadap pengalaman menunjukkan bahwa pengetahuan tentang penyebab dan akibat bukanlah sesuatu yang dapat kita capai. Kita bisa saja memiliki sensasi merah kemudian diikuti sensasi rasa pahit; atau sensasi suara nyaring yang diikuti dengan aroma yang wangi. Pengalaman memberikan suksesi ide; tetapi kita tidak pernah melihat, membaui, mencicipi, atau mendengar hubungan yang tidak terelakkan. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa merah mengakibatkan rasa pahit atau keributan mengakibatkan aroma yang wangi. Sebaliknya, tidak ada seorangpun yang pernah membayangkan bagaimana atau mengapa warna dapat mengakibatkan rasa. Hal ini berlaku bagi gagasan yang rumit maupun gagasan yang sederhana. Kombinasi antara warna putih, bentuk kubus, dan struktur kristal yang kita sebut gula bisa saja memberikan rasa manis. Namun bagaimana orang menunjukkan hubungan tidak terelakkan antara serangkaian gagasan yang disebut pertama tadi baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan rasa enak atau perasaan kenyang setelah memakannya sedikit?

Pengalaman membiasakan kita mengharapkan adanya urut-urutan [pengalaman inderawi] tertentu. Urutan-urutan ini menjadi sangat familiar bagi kita sehingga kita menganggapnya sebagai sesuatu yang memang seharusnya demikian. Kita menyebutnya sebab dan akibat. Tetapi dalam itu semua kita tidak memiliki pemahaman tentang urut-urutan dan tidak mengalami hubungan tidak terelakkan. Karena itu pengetahuan akan sejarah merupakan ketidakmungkinan.

Akhirnya, jika tidak mungkin untuk mengetahui hal yang tidak dapat diinderai melalui persepsi dan jika tidak mungkin untuk mengetahui yang tidak dapat dipahami melalui persepsi, apakah mungkin untuk mengetahui apa yang kita lihat sekarang? Kalau benar bahwa tidak ada petunjuk/bukti apa-apa dalam sebuah pengalaman dengan sebuah meja yang tidak dapat dialami, yang ukurannya tidak berubah, apakah kita punya gambaran/image sebuah meja yang tersusun dari sensasi warna, bentuk, dan kekerasan tertentu?

Inilah masalahnya. Pada saat tertentu yang terbatas, tidak peduli berapapun pendeknya waktu tersebut, kita mengalami banyak sekali sensasi inderawi sekaligus. Kita melihat banyak warna, kita mendengar dua atau tiga bunyi, kita membaui beberapa aroma sekaligus, dan sendainyapun kita tidak mengecap sesuatu pada saat itu, kita selalu memiliki sensasi rabaan. Dari sebegitu banyak sensasi kita memilih beberapa di antaranya dan menggabung-gabungkannya untuk membentuk sebuah meja. Namun mengapa kita menggabungkan warna coklat, sensasi bentuk yang persegi empat, dan sensasi kekerasan sehingga membentuk meja, dan bukannya dari sekian banyak sensasi memilih warna hijau muda, bunyi C-minor, dan aroma roti yang baru dibakar dan membentuk gagasan tentang jobbleycluck[2]?

Locke mencoba menjustifikasi keterkaitan antar gagasan tertentu berdasarkan pandangan bahwa gagasan-gagasan tersebut adalah kualitas yang melekat dalam substansi yang sama. Namun karena substansi material tidak ada (walaupun ada kita tidak dapat mengetahuinya sampai kita menggabungkan gagasan-gagasan sederhana menjadi sesuatu dan melakukan abstraksi), maka penjelasan ini tidak tersedia bagi Empirisisme. Berkeley dan Hume memberi kesan bahwa pemilihan sensasi yang akan dikombinasikan tergantung pada fakta bahwa gagasan atau ide yang dipilih terjadi pada ruang dan saat sama. Namun demikian, waktu tidak terlalu penting karena pada saat tertentu kita mengalami banyak gagasan tetapi kita tidak menggabungkannya menjadi meja. Lalu apakah seorang penganut empirisisme mengatakan bahwa penggabungan tertentu tergantung pada ruang dimana gagasan/ide sederhana itu dipersepsikan?

Entah jawaban ini memuaskan atau tidak, itu tergantung pada penjelasan empiris tentang bagaimana kita mengenal ruang.

Apakah kita melihat ruang? Apakah kita mendengar ruang? Apakah kita membaui ruang? Bukan hanya tidak mungkin, tetapi walaupun kita melihat obyek tunggal dalam ruang, kita tidak dapat melihat jarak antaranya dengan kita. Kita menilai jarak dengan membandingkan obyek yang diketahui. Karena kita telah melihat dan meraba meja tertentu sehingga kita mengetahui ukurannya pada jarak pendek, kita dapat menilai berapa jaraknya dari kita ketika ukurannya terlihat hanya separuh dari ukuran awal. Kita juga dapat mengatakan bahwa sebuah rumah jaraknya satu mil karena sebelumnya kita telah menjalani jarak tersebut. Karena itu, ruang dan jarak adalah masalah penilaian dan perbandingan, bukan sensasi sederhana.

Namun jika ruang dipelajari dengan membandingkan antara rumah dan meja, pertama-tama kita harus mampu mempersepsikan meja sebelum kita dapat membandingkannya dengan rumah dan mempelajari tentang ruang. Dengan kata lain ruang adalah gagasan tentang perbandingan. Tetapi jika gagasan tentang ruang tidak dapat dimiliki kecuali kita telah membandingkan meja dan rumah, kita tidak dapat menghasilkan meja dan rumah dengan cara memilih gagasan sederhana dengan menggunakan ruang.

Karena itu Empirisisme telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Empirisisme sejak awal proses pembelajaran secara diam-diam memasukkan sebuah gagasan tentang ruang yang sebenarnya tidak ada kecuali ketika proses tersebut hampir sempurna. Sekali lagi, upaya mendasari pengetahuan atas “akal budi” dan bukan wahyu telah gagal. Seandainya hanya ada pilihan ini, maka Kekristenan dapat menawarkan pilihan yaitu antara iman kepada wahyu dan skeptisisme yang tiada akhir.


[1] Pembaca yang tidak yakin akan tulisan singkat ini harus membaca juga beberapa halaman pertama dari karya Berkeley berjudul Principles of Human Knowledge.

[2] Kata yang sengaja diciptakan Clark

Pos ini dipublikasikan di David Hume, Empirisisme, Filosofi, George Berkeley, Gordon H. Clark, John Locke, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gordon H. Clark Tentang Empirisisme

  1. Ping balik: Immanuel Kant | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s