Immanuel Kant

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan dari buku Gordon H. Clark berjudul Religion, Reason, dan Revelation. Bagian sebelumnya dapat dibaca di sini

Immanuel Kant

Immanuel Kant

Menurut Immanuel Kant setelah dia disadarkan dari tidurnya oleh David Hume, dia segera memulai upaya untuk memperbaiki cacat Empirisisme. Jika semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman semata, maka tidak mungkin ada pengetahuan tentang kebenaran yang tidak terelakkan. Yang terbaik yang dapat diberikan pengalaman adalah bahwa pengalaman mengungkapkan bahwa ini dan itu demikian adanya, bukan seharusnya demikian. Sebagai contoh, sensasi mungkin akan mengatakan kepada kita bahwa pintu memiliki dua sisi, tetapi sensasi tersebut tidak dapat memberi tahu kita bahwa pintu harus memilki dua sisi. Pintu mungkin di satu tempat dan pada saat tertentu hanya memiliki satu sisi. Tidak ada pengalaman yang dapat membantah kemungkinan ini. Demikian juga, Empirisisme tidak dapat mensubstansiasi proposisi universal. Kita mungkin mengetahui bahwa semua pintu yang kita lihat memiliki dua sisi, tetapi tanpa referensi ke penemuan di masa depan atau bahkan masa lampau, kita tidak dapat mengetahui bahwa semua pintu memiliki dua sisi. Atau contoh lain lagi, setiap kali kita menambahkan dua dengan dua, hasilnya selalu empat. Tetapi dari pengalaman kita tidak dapat mengatakan bahwa dua tambah dua harus selalu empat. Pengalaman tidak dapat mengatakan kepada kita berapa jumlah dua di tambah dua pada kasus-kasus yang kita belum alami. Singkatnya, tanpa keharusan dan universalitas (keduanya tidak dapat dipisahkan), maka tidak mungkin ada matematika dan fisika.

Dengan satu langkah, Kant berhasil merehabilitasi keharusan dan universalitas dan mempertanggungjawabkan persepsi akan obyek individu seperti meja dan kursi. Pikiran manusia pada saat lahir tidak hanya seperti kertas putih, seperti dikatakan Locke. Pikiran memiliki karakteristik, bentuk atau gagasannya sendiri. Ruang dan waktu adalah adalah contoh bentuk yang dimaksud. Pengetahuan tentang ruang dan waktu tidak tergantung pada pengalaman; tetapi sebaliknyalah yang benar yaitu pengalaman tergantung pada pengetahuan kita tentang ruang dan waktu. Kedua bentuk ini memungkinkan adanya persepsi.

Dalam percakapan sehari-hari kita berbicara tentang jalur rel kereta api yang saling mendekati dan mungkin bertemu di satu titik di kejauhan. Namun tidak demikian adanya. Rel kereta api tidak saling mendekat, tetapi kita melihatnya sebagai saling mendekat. Perspektif ini merupakan bentuk dari melihat. Keberadaan jalur rel kereta api itu independen dari penglihatan kita, tetapi ketika memasuki pandangan kita, jalur kereta api tersebut mengambil bentuk perspektif kita. Jadi kita menjadikan mereka saling mendekati ketika melihatnya.

Ilustrasi tentang jalur rel kereta api dalam perspektif harus diperluas sehingga mencakup semua obyek dalam ruang. Jalur rel kereta api mewakili semua obyek apapun seperti kursi atau meja; dan perspektif ilustrasi ini mewakili karakteristik spasial/ruang dari semua obyek yang dapat dilihat. Kursi dan meja itu sendiri atau apapun dalam dirinya sendiri, tidak ada dalam ruang. Adalah kita manusia yang melihatnya demikian. Karena itu, seperti halnya kita mengetahui sebelum ada pengalaman (atau menurut terminologi Kant, kita mengetahui secara a priori) bahwa semua rel kereta api yang terlihat semakin saling mendekat, selalu terlihat seperti itu, dan akan terus terlihat saling mendekat, demikian juga pada tingkat yang lebih mendasar kita mengetahui secara a priori bahwa pintu harus memiliki, selalu memiliki dan akan terus memiliki dua sisi. Dengan kata lain, pintu yang kita alami, pintu yang kita lihat, harus selalu memiliki dua sisi. Namun seperti apakah pintu itu sendiri (yaitu pintu yang tidak tampak dalam persepsi kita; yaitu pintu yang tidak sesuai dengan bentuk a priori pikiran kita tentang ruang), kita tidak tahu apa-apa sama sekali.

Namun demikian, pengetahuan tidak dibatasi pada persepsi tentang obyek semata. Di samping sensasi terdapati juga pikiran. Pikiran menggabungkan sensasi menjadi penilaian. Kita dapat mengatakan, “Pintu ini tebal” atau “Beberapa kucing berwarna hitam” atau “Setiap perubahan harus memiliki penyebab.” Pada penilaian seperti itu ada banyak persepsi yang diringkas dan digabungkan bersama. Jelas bahwa hal-hal [yang berasal] dari pengalaman tidak menggabungkan diri sendiri. Membuat kerangka penilaian merupakan hal yang dilakukan oleh wujud yang berpikir. Karena itu pikiran bukannya penerima pengetahuan yang pasif sama sekali, tetapi merupakan pembuat pengetahuan yang aktif. Karena itu pikiran memiliki metode tertentu. Pikiran menggabungkan atau menyatukan pengalaman dengan beberapa cara tertentu. Metode penyatuan tidak dipelajari dari pengalaman tetapi metode-metode ini menjadikan pengalaman memungkinkan. Jika kita tidak memiliki metode ini, kita akan dapat mulai berpikir seperti halnya kita tidak dapat melihat obyek tanpa bentuk a priori ruang. Karena itu mengingat berpikir atau menilai terdiri dari menempatkan persepsi ke dalam konsep (seperti menempatkan anak kucing dalam spesies kucing, atau ke dalam kelas obyek berwarna hitam), maka pengalaman bermakna adalah sesuatu yang memungkinkan hanya kalau ada konsep atau kategori-kategori a priori tertentu.

Identifikasi kategori-kategori dicapai dengan memperhatikan bahwa bentuk-bentuk yang digunakan dalam mengorganisir pengetahuan adalah bentuk-bentuk logika. Karena semua pengetahuan terdiri dari penilaian, maka bentuk-bentuk pengetahuan, dan bentuk-bentuk penilaian adalah bentuk-bentuk logika. Karena itu, kategori-kategori ini merupakan konsep dasar yang tanpanya kita tidak dapat berpikir sama sekali. Kategori-kategori tersebut merupakan cara dimana pikiran mensintesa kepelbagaian pengalaman. Kategori-kategori tersebut menghasilkan penilaian. Karena berdasarkan teori Kant secara keseluruhan ada dua belas elemen logika dalam penilaian, maka ada dua belas kategori. Konsep kesatuan dan kemajemukan adalah kategori. Tanpa konsep kesatuan kita tidak dapat berpikir sama sekali. Bentuk yang lebih rumit dari penilaian adalah implikasi dimana kita mengatakan ‘karena ini benar, maka itu benar’ atau kita dapat mengatakan, ‘itu pasti benar karena ini benar.’ Perhatikan kata karena. Karena itu implikasi bergantung pada kausalitas. Dengan demikian kausalitas adalah sebuah kategori yaitu sebuah konsep a priori, yang merupakan pengetahuan yang bukannya dipelajari dari pengalaman tetapi yang harus diketahui sebelum adanya pengalaman sehingga memungkinkan adanya pengalaman. Dengan demikian, karena [Kant] menjadikan pengetahuan tentang kausalitas terjadi sebelum pengalaman, dia percaya bahwa dia telah meloloskan diri dari skeptisisme Hume. Jika memang demikian adanya, maka dia telah membuktikan bahwa pengetahuan tanpa merujuk kepada wahyu yaitu akal budi tanpa iman merupakan sesuatu yang dapat dicapai.

Namun demikian, bukanlah orang Kristen yang mencoba mempertahankan wahyu yang mempertanyakan keberhasilan Kant. Orang Kristen kadang-kadang dituduh bias dan memaksakan diri [menyusun] sebuah argumen yang mendukung sebuah kesimpulan yang sudah terlebih dahulu dipercaya sebagai benar. Namun hal ini tidak hanya berlaku untuk orang Kristen tetapi juga berlaku untuk Kant atau siapa saja. Kant mengetahui bahwa dia ingin menyusun sebuah teori tentang kategori, dan dia berulang kali mencoba mendeduksinya sebelum akhirnya dia sampai pada formulasi akhirnya. Kesimpulannya sudah diputuskan sebagai benar sebelum argumennya disusun. Ini berlaku untuk semua filsuf, walaupun [hanya] orang Kristen lebih sering dikecam daripada penulis-penulis lain. Mereka yang mengecam itu sebenarnya merupakan contoh yang lebih mencolok daripada orang yang mereka kecam. Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa kegagalan Kant tidak dibongkar oleh seorang Kristen yang mencoba mempertahankan wahyu [sebagai benar atau sesuatu yang mungkin terjadi].

Beberapa cacat mendasar dalam sistem Kant dikenal secara universal. Kant menjelaskan bahwa kategori-kategori merupakan metode pikiran untuk menyatukan pengalaman. Kesatuan, kemajemukan, kausalitas, dan lain-lain merupakan bentuk-bentuk yang dengannya pengalaman disusun. Tetapi jika tidak ada pengalaman inderawi yang akan mengisi bentuk-bentuk tersebut, kategori-kategori tersebut tetaplah kategori kosong dan tidak akan menjadi pengetahuan. Lebih jauh lagi, kategori-kategori tidak ada manfaat lebih lanjut sama sekali. Kategori-kategori ini dapat diterapkan pada pengalaman tetapi tidak dapat diterapkan pada hal-hal di luar pengalaman. Sebuah konsep tanpa muatan sensasi inderawi adalah sesuatu yang kosong. Demikian juga sesuatu yang kosong adalah gagasan a priori dari ruang. Kecuali sensasi inderawi tampak dalam ruang, kita tidak dapat memiliki kontak dengan realitas. Pengetahuan membutuhkan kombinasi bentuk-bentuk a priori dan pengalaman a posteriori. Salah satu saja dari keduanya hilang maka pengetahuan tidak ada.

Konstruksi ini menjadikan masalah Kant tidak terselesaikan. Dia berusaha mencari prakondisi bagi pengalaman, tetapi menyangkali bahwa prakondisi-prakondisi ini merupakan obyek pengalaman. Jika pengetahuan kita selalu merupakan kombinasi antara bentuk dan muatan/isi (content), maka kita tidak dapat mengetahui bentuk sebelum adanya muatan/isi (content). Namun Kant mengaku bahwa dia mendeduksi kategori-kategori tersebut.

Kritikan ini mungkin dapat dinyatakan dengan cara lain yang lebih jelas. Kant pada dasarnya berargumen bahwa sebelum kita mencoba mempelajari Fisika dan Teologi, kita harus menentukan terlebih dahulu apakah pikiran kita mampu atau tidak mampu untuk melakukan penyelidikan tentang hal-hal fisik dan Allah. Jika demikian, tidakkah dapat dikatakan dengan kemasukakalan yang sama bahwa sebelum kita mencoba mempelajari tentang keterbatasan pikiran, kita harus menentukan apakah pikiran mampu untuk mempelajari keterbatasannya? Karena itu, Karya Kant Critique of Pure Reason (Kritik terhadap Akal Budi Murni) harus didahului dengan tulisan berjudul Critique of the Critique of Pure Reason (Kritik terhadap Kritik Terhadap Akal Budi Murni), demikian dan seterusnya.

F. H. Jacobi

Penolakan standar lain terhadap Kant, atau mungkin penolakan yang sama tetapi dengan bentuk berbeda adalah berkaitan dengan hal-hal-dalam-dirinya-sendiri. Dalam teori Kant, hal-hal-dalam dirinya-sendiri berada di balik apa yang kelihatan kepada kita. Diasumsikan (mengunakan ilustrasi sebelumnya), bahwa dibalik jalur rel kereta api yang saling mendekat, terdapat jalur rel yang tidak saling mendekati. Jalur rel kereta api yang tidak saling mendekat ini merupakan penyebab bagi jalur kereta api yang tampak dan kelihatan saling mendekat. Hal saling mendekati antar jalur rel kereta api ini hanyalah apa yang kelihatan. Sedangkan ketidak-saling-mendekati-an itu tidak terjadi dalam pengalaman. Tetapi sangat disayangkan bagi Kant bahwa kategori-kategori tidak dapat digunakan di luar pengalaman. Sebab akibat/kausalitas adalah hubungan yang terjadi hanya antara dua obyek pengalaman. Kategori kausalitas tidak dapat diterapkan pada jalur rel kereta api yang tidak saling mendekat. Atau kalau kita mengulangi kata-kata yang cerdas dari F. H. Jacobi, “Tanpa hal-hal-dalam dirinya-sendiri, orang tidak dapat masuk ke dalam sistem Kant, dan dengan hal-hal-dalam dirinya-sendiri orang tidak dapat tinggal di dalamnya.”

Keberatan-keberatan terhadap Kant tidak tergantung pada fakta bahwa dia gagal membangun sebuah teologi. Allah tidak dapat menjadi penyebab dunia ini karena Allah bukanlah obyek sensasi [inderawi] dan penyebab harus selalu dibatasi pada [sesuatu] di dalam pengalaman inderawi. Namun kegagalan untuk membangun teologi tidak menghancurkan filsafat Kant. Keberatan-keberatan terhadap Kant tergantung pada kenyataan bahwa Kant gagal menemukan dasar bagi fisika. Dia gagal untuk menjelaskan sensasi. Dia gagal untuk menyediakan penjelasan yang dapat dipahami tentang hubungan antara bentuk dan muatan/isi (content). Dia gagal untuk memungkinkan adanya pengetahuan. Karena itu pertanyaan masih belum terjawab apakah pengetahuan dapat diperoleh tanpa wahyu.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Immanuel Kant, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Immanuel Kant

  1. Ping balik: Hegel dan Kritiknya | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s