Hegel dan Kritiknya

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan tulisan Gordon Clark dari bagian sebelumnya. Tulisan ini diambil dari Religion, Reason, and Revelation

Hegel dan Kritiknya

Hegel

Ada satu lagi, satu yang luar biasa, yaitu sesuatu yang dapat dikatakan sebagai upaya terakhir dari filsuf sekuler untuk menegaskan klaim Akal Budi (perhatikan A dan B besar). Walaupun abad ketujuh belas memunculkan Rasionalisme dalam pengertian yang definitif, tetapi tidak ada seorangpun rasionalis waktu itu yang sangat meninggikan kekuatan akal budi seperti yang dilakukan G. W. F. Hegel.

Karena itu, dalam rangka menunjukkan kegagalan dari upaya (yang dimulai Renaisans) untuk mendasarkan pengetahuan pada sesuatu di luar wahyu, perlu diindikasikan cacat dalam sistem Hegel. Ini tidak mudah. Eksposisi Hegelianisme tidak dapat ditawar-tawar harus sangat teknis karena kalau tidak demikian, lokus ketidakmemadaian Hegel akan sulit ditunjukkan secara bermakna. Jelas hampir secara universal diakui bahwa Hegelianisme tidak dapat dipertahankan secara memadai. Mungkin menjadi bagian dari hikmat serta mungkin keharusan untuk menggantungkan diri pada konsensus ini dan melangkah lebih lanjut. Namun demikian, perlu dikatakan sesuatu tentang alur argumennya.

Seperti telah ditunjukkan sebelumnya, Kant mengajarkan bahwa pengetahuan terdiri dari bentuk dan muatan/isi/content. Bentuk adalah kontribusi dari pikiran, sedangkan muatan/isi berasal dari hal-hal-dalam-dirinya-sendiri yang bersifat independen dan eksternal. Namun demikian, karena kategori-kategori itu tidak berlaku selain pada sensasi, maka hal-hal-dalam-dirinya-sendiri itu tetap tidak diketahui. Kalau tidak diketahui, maka keberadaan dan keharusannya tidak dapat ditegaskan. Hegel mengemukakan poin yang penting terkait dengan konyolnya penegasan akan adanya yang tidak dapat diketahui. Kemudian dia mencoba menghilangkan pertentangan antara kesadaran dan obyeknya dengan menunjukkan bahwa pada tingkat yang lebih tinggi keduanya berada dalam kesadaran itu sendiri. Alam, the given (yang aktual), serta kontribusi sensasi inderawi, merupakan kesatuan dengan pikiran dan roh. Tidak ada disparitas mutlak. Namun kesatuan ini harus ditunjukkan secara rinci. Hegel menolak untuk bergantung pada pengalaman mistik atau estatis apapun untuk menjangkau yang Satu itu. Sebaliknya, dia mengusulkan logika baru yang dengan prosedur dialektikanya dapat mencapai kesatuan yang terbangun langkah demi langkah.

Logika Aristotelian[1] dengan penekanannya pada pembedaan yang jelas, baik sampai pada titik tertentu. Seekor kucing bukanlah seekor anjing dan satu obyek sensasi bukanlah the self: Semua tidak dapat dicampur-adukkan. Kecuali pikiran menandai satu hal sebagai berbeda dibanding dengan yang lain, maka tidak akan ada pikiran. Namun pikiran tidak hanya membedakan satu hal dari hal lain, tetapi pikiran juga menghubungkan satu dengan yang lain. Baik anjing maupun kucing adalah mamalia, dan pengenalan akan satu spesies menggunakan perbedaan spesies satu dengan yang lain. Tanpa hubungan seperti itu tidak mungkin [kita] berpikir, seperti halnya tidak mungkin untuk berpikir tanpa ada pembedaan. Setiap obyek harus dibedakan dari obyek lain, tetapi tidak ada obyek yang sepenuhnya dapat dibedakan sehingga tidak memungkinkan [adanya] identitas yang melampaui perbedaan tersebut. Perbedaan adalah ekspresi dari kesatuan.

Setiap pemikiran yang tertentu menyingkirkan pemikiran lain, terutama pemikiran yang sebaliknya. Namun setiap pemikiran memiliki hubungan tidak terelakkan dengan penyangkalan terhadapnya. Pemikiran tersebut tidak dapat dipisahkan dari penyangkalannya tanpa mengalami kehilangan makna. Negasi merupakan bagian dari makna, karena itu sudah termasuk di dalamnya. Memahami bahwa setiap penyangkalan melibatkan yang lain sama dengan memahami bahwa keduanya menyatu pada tingkatan yang lebih tinggi. Hal ini berlaku bukan hanya bagi kucing dan anjing, tetapi juga kesadaran dan hal-hal lain[2].

Dari semua upaya Kant, teorinya tentang the self bukanlah perbaikan yang terlalu signifikan terhadap [pandangan] Hume. Kesadaran diri, kata Kant, bukanlah sebuah konsep tetapi sebuah kesadaran yang mendampingi semua konsep. Ego dalam dirinya sendiri tetap tidak diketahui dan hanya diketahui melalui pemikiran yang merupakan predikatnya. Tetapi menurut Hegel, ini sama saja dengan mengatakan bahwa kita tidak dapat melihat matahari karena kita tidak dapat melemparkan cahaya lilin kepadanya. Kant menyatakan bahwa inteligensia itu sendiri tidak dapat dipahami! Dia mengatakan demikian karena dia menggap sebagai benar bahwa hanyalah identitas abstrak, tanpa perbedaan, yang dapat dipahami sepenuhnya.

Logika lama mengasumsikan bahwa setiap obyek adalah indentitas terpisah, yaitu murni hal ini dan bukan hal itu. Hubungan dianggap sebagai eksternal, yaitu sebagai sesuatu di luar natur sebenarnya dari segala sesuatu. Sebaliknya, adalah penting bahwa seekor anjing bukanlah seekor kucing. Makna dari setiap obyek terimplikasi dalam makna dari semua yang lain. Tidak ada yang terisolasi atau murni satu. Secara khusus, prosedur kaum isolasionis terantuk pada kesadaran diri karena di dalamnya kesatuan yang sebenarnya secara mendasar [merupakan sesuatu yang] kompleks. Pikiran dan obyek, subyek dan substansi, serta kedirian (self) tertentu membentuk kesatuan. Tidak ada yang di luar atau independen. Alam dan manusia adalah identik. Namun identitas ini bukanlah sesuatu yang abstrak atau kosong. Semua perbedaan itu tetap ada. Kesatuan dan kemajemukan begitu bercampur sehingga yang satu tidak memiliki makna tanpa yang lainnya.

Dalam pandangan Descartes serta Locke, berpikir dipandang sebagai kegiatan dari satu individu orang. Namun jika berpikir pada dasarnya dan secara eksklusif merupakan kapasitas individu, maka tampaknya tidaklah memungkinkan untuk menghindari solipsisme. Tidak ada pelarian dari pikiran sendiri. Apapun yang terjadi, apakah ada banyak pikiran atau hanya ada pikiran saya, obyek-obyek pengalaman secara ajaib terus-menerus menjadi nyata dalam tindakan persepsi yang terpisah dan biasa. Kant berpandapat bahwa dia telah menghindari solipsisme, namun dia gagal untuk memberikan penjelasan yang memadai tentang bagaimana satu obyek dapat tampak kepada banyak orang. Tidak diragukan bahwa dia bermaksud bahwa kategori-kategori tersebut sama dalam semua pikiran dan berlaku untuk obyek-obyek yang biasa di dunia obyek. Namun tidak ada pengalaman individu murni yang dapat menunjukkan sebuah dunia yang sama bagi pusat pengalaman lain. Karena itu, Hegel menyimpulkan bahwa pasti ada sebuah pikiran universal yang di dalamnya semua orang dan obyek menjadi bagian/berpartisipasi.

Untuk menerapkan prinsip-prinsip ini secara rinci, dan untuk menunjukkan secara tepat perbedaan yang menyatu dari Pikiran Mutlak, Hegel menyusun sebuah sistem kategori. Tidak seperti sistem Kant yang memiliki dua belas kategori, Hegel memiliki seratus atau lebih kategori. Kategori-kategori ini merupakan konsep-konsep yang berlaku dan ada dalam segala sesuatu. Kategori yang pertama yang paling abstrak dan paling kosong adalah Keberadaan/Wujud (being) murni. Setiap obyek adalah satu keberadaan/wujud. Wujud terdiri dari segala sesuatu – secara implisit. Yang implisit harus dijadikan eksplisit melalui proses dialektis. Karena segala sesuatu ditentukan oleh sesuatu yang sebaliknya, maka Wujud/Keberadaan tidak dapat dipikirkan sebagai terpisah dari Bukan Wujud (non being). Ketika kita telah mengatakan tentang satu obyek bahwa dia adalah wujud, maka universalitas dan kekosongan Wujud telah diam-diam meninggalkan kita, walaupun kita belum mengatakan apakah sesuatu itu hijau atau berat; kita belum menetapkan apa-apa sama sekali. Karena itu Wujud/Keberadaan sama dengan Nothing/Bukan apa-apa/tidak ada apa-apa. Tetapi karena dengan proses berpikir dialektis ini Wujud/Keberadaan telah menjadi Bukan Apa-Apa/Nothing, maka kategori Menjadi/Becoming akan muncul. Menjadi merupakan sintesis dari Keberadaan/Wujud dan Bukan Apa-Apa karena satu hal merupakan dan bukan merupakan sesuatu ketika mengalami pross menjadi.

Dengan prosedur dialektis seperti itu Hegel mendeduksi daftar panjang kategori. Kategori final/terakhir secara eksplisit mengandung semua yang dikandung secara implisit dalam kategori pertama.

Tidak diragukan bahwa Hegel seorang jenius dan terlepas dari jargonnya yang menyulitkan terdapat kedalaman yang berharga dalam tulisannya yang berjudul Phenomenology dan Logic. Secara khusus dia selalu menunjukkan kesalahan-kesalahan besar dalam sistem-sistem yang telah ada sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk memahami Kant, Descartes, atau kaum Stoa [dari jaman Yunani] kuno, orang harus pertama-tama mempelajari Hegel. Kejadian dalam politik Prussia yang orang dapat gunakan sebagai penyebab popularitasnya yang segera meroket di Jerman, tidak dapat menjelaskan penghargaan atas Hegel tinggi di Britania Raya maupun digemarinya [Hegel] di Amerika Serikat. Namun demikian, sejak Perang Dunia I, Hegelianisme mengalami banyak hal tetapi tidak dapat dikatakan musnah. Namun, di Jerman Hegelianisme bahkan mulai mengalami kemunduran pada pertengahan abad kesembilan belas. Hal ini dapat dipandangan sebagai petunjuk adanya kesalahan filosofis dalam konstruksi Hegel, dan masalah tersebut akan dibahas di sini.

Satu kritikan yang pertama diangkat oleh pengikut dekat Hegel. Mereka berargumen bahwa jika alam semesta merupakan sistem kategori seperti ini dan jika yang nyata (the real) merupakan yang rasional dan yang rasional rational adalah yang nyata, maka jelas seluruh realitas dapat dideduksi secara dialektis dan setiap hal memiliki tempat yang jelas dalam sistem ini. Hegel menyatakan bahwa dia mempertahankan perbedaan; dia tidak menyukai abstraksi kosong atau mistisisme malam hari dimana semua sapi menjadi hitam. Agar klaimnya berdasar, Hegel harus mendeduksi sapi tertentu yang hitam dan sapi Holstein yang berada di padang rumput nun jauh di sana.

Namun inilah yang Hegel tidak lakukan dan tidak dapat lakukan. Seperti halnya Plato yang tidak pernah secara memuaskan berhasil menghubungkan [dunia] Gagasan dengan obyek inderawi individu, demikian juga, bahkan lebih parah lagi Hegel tidak dapat secara rasional mendeduksi obyek individu dari Yang Absolut/Mutlak. Jelas, Hegel bukannya tidak sadar akan kritikan seperti ini. Ketika dihadapkan pada kritikan seperti ini, Hegel menjawab bahwa dia telah melarutkan indivudi – yaitu yang ada saat ini di sini dan ego individu– dalam bab pertama tulisannya berjudul Phenomenology; namun apapun realitas yang dimilikinya, Hegel telah mempertahankannya dalam proses dialektis. Tentu saja ini sesuai dengan penolakan terhadap Ding-an-sich[3] yang tidak dapat diketahui and penghapusan pemisahan yang tajam antara bentuk mental dan data sensasi inderawi yang melanda filsafat pasca-Kantians.

Tampaknya tidak mungkin mempertahankan Ding-an-sich, namun tampaknya klaim Hegel bahwa dia mempertahankan perbedaan dalam pendakian dialektisnya tidak dapat dibuktikan juga. Dalam kaitan dengan zoology, Hegel mengakui dengan terus terang bahwa deduksinya bukan hanya gagal untuk mencapai individu tetapi juga mencapai sub spesies. Konsep hewan mungkin dapat dideduksi, dan bahkan spesies sapi dapat dideduksi; tetapi Holstein-Friesian, apa lagi Pieterje van Rijn III tidak dapat dideduksi.

Keterusterangan Hegel menghilangkan sengatan kritikan terhadapnya, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa kesediaannya untuk menerima kritikan telah mengurangi kekuatan kritikan tersebut. Orang bertanya apakah sapi atau konsep hewan dapat dideduksi. Dan terkait dengan fisika, jelas bahwa tidak ada deduksi tentang wujud, sifat, atau kuantitas tertentu yang dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang sifat asam belerang atau berat atom emas. Karena itu tidak dapatkah kita menyimpulkan bahwa Hegel gagal menemukan universal kongkrit yang dia cari dan hanya menawarkan abstraksi kosong?

Ketidaktahuan Absolut

Ada juga kritikan kedua dan kedua kritikan ini merupakan dasar untuk membantah Hegelianisme. Di atas sudah dipahami bahwa bagi Hegel kebenaran merupakan sesuatu yang menyeluruh, setiap penegasan adalah juga negasi dan hubungan-hubungan satu obyek merupakan sesuatu yang secara logis internal dalam maknanya. ‘Seekor kucing’ bukan ‘seekor anjing’. Adalah esensi dari ‘kucing’ bahwa dia ‘bukan anjing’. Tetapi menjadi ‘bukan anjing’ berarti terkait dengan anjing dan hal ini mempertahankan hubungan internal dengan makna dari ‘kucing’. Karena itu ‘kucing’ dan ‘anjing’ serta obyek inderawi dan self, sudah termasuk dalam sesuatu yang lebih luas. Sesuatu yang mencakup semua merupakan Yang Absolut.

Sulit untuk disangkal bahwa hubungan ini bersifat internal dan terlebih lagi bahwa kebenaran itu menyeluruh. Namun implikasinya sangat merusak. Sejauh anda dan saya tidak paham hubungan yang terkait dengan makna ‘kucing’ atau ‘diri/self’, kita tidak mengetahui obyek yang dibicarakan. Jika kita katakan bahwa kita mengetahui hubungan-hubungan – misalnya seekor kucing bukan seekor anjing – dan mengakui bahwa kita tidak mengetahui hubungan lain – misalnya seekor kucing bukan satu hewan yang kita tidak pernah dengar sebelumnya – maka tidak terelakkan bahwa kita tidak dapat mengetahui bagaimana hubungan yang tidak diketahui ini merubah pandangan kita tentang hubungan yang saat ini kita pandang kita ketahui. Perubahan yang terjadi bisa jadi sangat besar. Karena itu kita bahkan tidak dapat mengetahui satu hubungan tanpa mengetahui semua hubungan. Jelas kita tidak mengetahui semua. Karena itu kita tidak dapat mengetahui apa-apa.

Kritikan ini sangat mengganggu bagi seorang penganut Hegel, karena prinsipnya tidak hanya berlaku untuk anjing dan kucing serta diri/self, tetapi juga pada Yang Absolut itu sendiri. Kebenaran adalah keseluruhan dan keseluruhan adalah Absolut. Tetapi jelas bahwa kita tidak mengetahui keseluruhan; karena itu kita tidak mengetahui Yang Absolut. Dengan tidak mengetahui Yang Absolut, kita tidak dapat mengetahui apakah ada sesuatu Yang Absolut. Namun bagaimana Idealisme Absolut dapat didasarkan pada ketidaktahuan absolut? Kita mengalami ketidaktahuan absolut karena kita tidak mengetahui apapun tanpa mengetahui semua hal.

Rasionalisme abad ketujuh belas, Empirisisme Britania, filsafat kritis Kant, dan sekarang Hegelianisme telah mencoba dan gagal memberi justifikasi terhadap pengetahuan. Akal budi terpisah dari wahyu telah mengalami kesedihan. Satu-satunya kemungkinan melarikan diri dari wahyu adalah meninggalkan akal budi. Ini adalah obat yang pahit untuk dimakan, tetapi beberapa orang lebih senang berada dalam ketidaktahuan yang tak terbatas daripada menerima informasi dari anugerah Allah.


[1] Dua paragraf berikut mengikuti Edward Caird, Hegel, 134ff.
[2] Hal ini dikemukakan sebagai argumen yang sangat rinci dalam The Phenomenology of Mind, bab 1-3.
[3] Kata Bahasa Jerman untuk sesuatu dalam dirinya sendiri
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, G W F Hegel, Gordon H. Clark, Rasionalisme, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hegel dan Kritiknya

  1. Ping balik: Iman Tanpa Akal Budi | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s