Iman Tanpa Akal Budi

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan dari tulisan Gordon Clark berjudul Religion, Reason, and Revelation. Terjemahan sebelumnya dapat dibaca di sini.

Iman tanpa Akal Budi

Sepanjang sejarah gereja Kristen dari waktu ke waktu, selalu ada individu dan kelompok yang memandang rendah akal budi, intelek, dan pendidikan tinggi. Sejak jaman Patristik, Tertullianus seringkali dikutip sebagai mengatakan, “Aku percaya karena tidak masuk akal.” Walaupun ini tidak persis yang dikatakan Tertullian, tentangannya terhadap kultur kafir sangatlah terkenal. Apa kesamaan si Kristen dengan si filsuf, katanya secara retoris; gereja dangan Academy[1]; serta wahyu dengan akal budi? Namun demikian, karena dia sendiri berfilsafat, mungkin [kata-katanya] harus dipahamai sebagai mencela akal budi yang bersifat kekafiran dan bukan akal budi secara umum. Namun demikian masih tersisa kecurigaan bahwa imannya adalah iman tanpa akal budi.

Tipe-Tipe Mistisisme

Ada kasus-kasus lain juga dimana walaupun frase tersebut tidak dapat diterapkan dengan ketelitian harafiah yang memadai, ada kecurigaan dan bahkan lebih dari sekedar kecurigaan bahwa iman tanpa akal budi merupakan sesuatu yang ideal. Secara khusus kaum mistik merupakan kelompok yang pantas diperhatikan.

Dionysius

Dionysius dari Areopagus adalah seorang Neoplatonis Kristen pada abad kelima. Beberapa kalimat yang dia ungkapkan tidak menunjukkan bahwa dia benar-benar membenci akal budi, tetapi dia menempatkan sebuah ranah [lain] di atas akal budi. Ranah ini adalah ranah dimana kategori-kategori pemikiran dan bahasa begitu tegang sehingga makna yang dapat dipahami telah hilang. Sebagai contoh,

Triad ilahi, supra Allah dan supra Baik, Penjaga theosofi orang Kristen, mengarahkan kita dengan tepat kepada supra-tak diketahui dan supra brilian serta puncak tertinggi dari nubuat mistik, dimana ada misteri teologi sederhana dan mutlak serta tak berubah yang tersembunyi di dalam kegelapan cahaya gemerlap dari kesunyian, menyatakan hal-hal tersembunyi, yang dalam kegelapannya yang terdalam bersinar melebihi yang sinar yang paling cemerlang sekalipun, dan di dalam isi yang tidak dapat diraba dan tidak dapat dilihat sampai memenuhi pikiran yang tak bermata dengan kemuliaan yang melampaui keindahan.[2]

Mistisisme Neoplatonis, yang darinya Dionysius mendapatkan inspirasi, berbicara tentang kesurupan dimana kepribadian seseorang bergabung dengan kesederhanaan sempurna dari Yang Satu yang asli. Dalam Yang Satu ini, kesederhanaan begitu sempurna sehingga tidak ada sama sekali perbedaan antara subyek dan predikat. Karena itu, dalam ranah ini pengetahuan bukanlah sebuah kemungkinan karena semua pengetahuan terdiri dari atribusi predikat kepada subyek misalnya: Kucing itu berwarna hitam, angka empat adalah bilangan genap, atau William adalah penakluk. Namun dalam keadaan kesurupan atau keterhisapan, tidak ada sama sekali satu Aku dan Kau. Yang ada hanya kesederhanaan murni dari Yang Satu. Karena itu, tidak hanya tidak ada pengetahuan selama terjadi kesurupan, tetapi setelah sadar tidak ada orang yang dapat mengatakan apapun yang benar tentang pengalaman itu karena dia harus menggunakan dualitas kalimat untuk berbicara dan untuk mengetahui.

Bernard dari Clarivaux

Walaupun karakterisasi seperti ini diambil dari Plotinus dan mistisisme kafir, tetapi ini berlaku untuk mistis Kristen juga. Bernard dari Clairvaux, penentang yang lugas dari ketrampilan dialektis Abelard, berbicara tentang ditembusi oleh Allah seperti halnya udara ditembusi oleh cahaya. Meister Eckhart dan Nicholas dari Cusa menggunakan banyak ungkapan yang sejajar dengan ungkapan Plotinus. Adalah sebuah pemahaman yang umum bahwa kesadaran mistis tidak secara jelas membedakan antara subyek dan obyek. Pengalaman ini tidak sepenuhnya terfokus, kalaupun dapat disebut terfokus. Subyek dan obyek, aku dan kau, menyatu atau bercampur-aduk di dalam yang satu yang tidak dapat dipilah-pilah. Dengan antusias namun dengan kata yang tidak dapat dipahami, kaum mistik berbicara tentang dibanjiri dengan aliran dari kedalaman kehidupan terdalam; atau mereka berkata bahwa energi transenden melanda jiwa dan keseluruhan keberadaan (dalam pengalaman yang integral dan tidak terbagi), menemukan diri/identitasnya.

Ada tingkatan-tingkatan dalam pandangan mistis. Tipe Neoplatonis, baik Plotinus maupun Nicholas, tidak tidak mengabaikan penggunaan akal budi yang ketat dalam masalah filsafat dan gerejani biasa. Tetapi mereka setuju bahwa kesatuan jiwa dengan Realitas Mutlak bukanlah sesuatu yang intelek. Allah hanya dapat diketahui secara negatif. Tidak ada kualitas/sifat terbatas, yaitu tidak ada sifat yang definitif yang dapat diterapkan kepada-Nya. Dia tidak baik, tidak adil, tidak bijak, tidak apa-apa. Kita bersatu dengan dia; kita menggabungkan diri di dalam Dia dalam persekutuan tanpa kata, dan dalam kesadaran yang melampaui ide/gagasan.

Kaum mistik lain, atau kalau misalnya istilah mistik tidak berlaku di sini kita gunakan frase orang yang yang berbicara tentang iman tanpa akal budi, beralih dari standar Neoplatonis dalam dua hal. Mereka tidak menyukai filsafat sama sekali tetapi juga tidak menggantungkan diri pada kesurupan tanpa kata. Gambaran negatif ini harus diakui bersifat luas dan mencakup kelompok-kelompok yang kalau tidak cukup luas cakupannya pasti tidak akan masuk dalam kelompok ini. Di dalamnya tidak hanya ada si nabi anarkis dari Zwickau yang tidak perlu belajar bahasa Yunani dan bahasa Ibrani karena Allah akan berbicara kepada setiap petani yang bergairah – namun juga kaum pietis tulus yang muncul kemudian dan saleh serta yang sadar (tidak kesurupan). Lalu siapa yang akan terlalu mengeritik kaum pietis? Dengan hidup secara bermoral, mereka memandang formalisme dari kelas terpelajar sebagai sesuatu yang dingin dan mereka menentang teologi sistematika dan lebih memilih devosi yang sederhana dan ramah.

Pada abad kedua puluh dengan berbagai tingkatan, kaum fundamentalis mendukung iman tanpa akal budi. Walaupun mereka lebih menekankan Pemahaman Alkitab dibanding kaum pietis dan para nabi anarkis, mereka seringkali mencela filsafat dan merendahkan akal budi manusia ‘semata’. Terkait dengan doktrin biasanya mereka tidak sampai memiliki lebih dari setengah lusin ajaran. Segala sesuatu yang lebih dari itu dianggap sebagai teologi yang sekering debu.

Adalah tidak akurat untuk mengkategorikan posisi kelompok-kelompok ini sebagai iman tanpa akal budi, karena penghinaan akan intelek selalu melibatkan sejumlah inkonsistensi. Perlu sedikit argumen intelektual untuk menjustifikasi penghinaan seperti itu. Secara khusus, terkait dengan kaum fundamentalis yang membela mati-matian beberapa doktrin, akal budi tidak dapat sama sekali ditinggalkan. Beberapa di antaranya menggunakan dan mengakui lebih banyak peran akal budi dibanding yang lain. Variasi dan inkonsistensi seperti ini mempersulit upaya untuk secara akurat mengelompokkan mereka ke dalam kelompok dengan nama tertentu. Namun demikian, kaum mistik (setidaknya terkait dengan apa yang mereka anggap paling penting), kaum pietis dan fundamentalis, serta pandangan lain yang kemudian kita akan sebutkan memiliki kesamaan kecenderungan yaitu kecenderungan kepada sebuah iman tanpa akal budi.

Pandangan lain yang begitu populer pada saat ini, seringkali disebut Neo-orthodoksi. Pandangan ini bahkan jauh lebih anti-rasional atau anti-intelektual daripada pietisme atau fundamentalisme. Latar belakang dan motivasinya juga berbeda. Tidak seperti fundamentalisme yang merupakan degradasi dari Protestantisme awal, Neo-orthodoksi merupakan turunan dari filsafat pasca Hegel. Karena itu untuk memahami kemana anti-intellektualisme membawa seseorang, maka perlu secara singkat untuk melacak untaian pemikiran abad kesembilan belas tertentu, walaupun pemikiran tersebut bukan benar-benar pemikiran religius.

Dalam bab-bab sebelumnya, kita telah dengan cepat membahas tentang Renaissans yang mencoba untuk menjustifikasi pengetahuan tanpa merujuk kepada wahyu. Rationalisme Descartes dan Spinoza, Empirisisme Britania, dan Kant serta Hegel telah kita nilai sebagai gagal. Walaupun kecemerlangan mereka membangkitkan kekaguman kita, hasil karya mereka tidak dapat kita terima. Penilaian bahwa Hegel gagal bukanlah penilaian seorang Kristen yang bias yang motif utamanya adalah mempertahankan wahyu; tetapi merupakan penilaian dari mereka yang lebih bersemangat untuk menghancurkan kekristenan daripada Hegel.


[1] Nama sekolah Aritoteles

[2] Mystic Theology, 1:1

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Mistisisme, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Iman Tanpa Akal Budi

  1. Ping balik: Karl Marx | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s