Friedrich Nietzsche

Di bawah ini adalah lanjutan tulisan Gordon H. Clark Religion, Reason, and Revelation dan merupakan kelanjutan dari terjemahan sebelumnya di sini

Friedrich Nietzsche

Friedrich Nietzsche

Dari sudut pandang filsafat Jerman, Friedrich Nietzsche (1844-1900) merupakan puncak abad kesembilan belas. Adalah paruh kedua abad kesembilan belas yang menyaksikan kemajuan besar dalam sains. Para pakar fisika berpandangan bahwa mereka telah sepenuhnya mendemonstrasikan kebenaran filsafat mekanisme. Walaupun mencoba mendirikan psikologi empiris, namun di bawah pengaruh gagasan besar romantik, Ludwig Fechner menolak filsafat mekanisme dan mengisi alam semestanya dengan jiwa, malaikat, dan para dewa. Rudolph Lötze menjadikan intelek, bukan sebagai instrumen untuk mewakili segala sesuatu, tetapi mentransformasi segala sesuatu. Keberadaan selalu berubah dan realitas selalu lebih kaya dari pemikiran. William Wundt meninggalkan monisme dan menggambarkan alam semesta sebagai pluralitas kehendak. Dan Darwin (walaupun bukan seorang Jerman), melakukan revolusi bukan hanya terhadap biologi tetapi juga terhadap semua fase pemikiran filosofis. Dari sumber-sumber inilah Nietzsche mengambil pandangan yang menarik perhatiannya dan melengkapi sebuah pandangan dunia abad kesembilan belas yang ateistik, materialistik, dan anti-Hegelian.

Teori evolusi Nietzsche, Supermannya, [pandangan tentang] pengulangan abadi, dan transvaluasi nilai tidak akan dibahas di sini. Perhatian kita hanya akan diarahkan kepada pandangannya tentang kekuatan akal budi. Dalam pandangan Nietzsche tidak ada sesuatu yang namanya pikiran; titik mula yang tepat adalah tubuh karena tubuh itu berevolusi. Apa yang Descartes dan Kant salah pahami sebagai sebuah ego sebenarnya bukan subyek sederhana, merupakan keragaman dari keinginan dan dorongan yang saling bertentangan. Karena itu, gagasan tentang dunia yang bekerja sedemikian rupa sehingga akal budi manusia pasti benar merupakan sesuatu yang terlalu menyederhanakan masalah. Segala sesuatu yang mencapai kesadaran kita adalah versi yang disederhanakan, disesuaikan dan diinterpretasi. Kita tidak pernah mendapatkan fakta tentang alam; kita tidak pernah dapat memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Seluruh apparatus [yang digunakan] untuk mengetahui adalah alat yang menyederhanakan yaitu alat yang tidak mengarahkan kita kepada kebenaran tetapi pada pengakomodasian dan pemanfaatan alam/dunia. Para filsuf percaya bahwa kriteria realitas dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk akal budi, sedangkan satu-satunya tujuan dari bentuk-bentuk ini adalah penguasaan akan realitas melalui pemahaman yang salah akan [realitas tersebut] secara cerdas. Ini berarti bahwa kehendak untuk mendapatkan kebenaran yang logis mempraanggapkan falsifikasi mendasar terhadap semua fenomena. Karena itu, apa yang sekarang kita sebut kebenaran hanyalah sejenis kesalahan yang tanpanya spesies kita tidak dapat hidup. Obyek dari kegiatan mental bukanlah untuk mengetahui (dalam pengertian skolastik apapun), tetapi untuk menyusun skema dan menerapkan sebanyak mungkin regularitas/keteraturan kepada kekacauan [di alam] demi memenuhi kebutuhan praktis. Lagipula, mengapa kita harus begitu tertarik dengan kebenaran? Kekeliruan adalah ketiadaan penolakan akan satu pendapat; pertanyaan yang penting adalah, apakah pendapat tersebut mempertahankan kehidupan? Tentu saja, untuk memahami bagaimana sebuah penegasan metafisik termuskil dari seorang filsuf dapat dicapai, selalu merupakan sesuatu yang baik dan bijak untuk bertanya pada diri sendiri, “Moralitas macam apa yang ingin dicapai”? Di balik semua logika terdapat tuntutan fisiologis bagi sebuah mode/cara hidup.

Logika tergantung pada hukum kontradiksi. Namun hukum tersebut bukanlah keharusan, melainkan hanya merupakan tanda ketidakmampuan kita untuk mengakui dan menyangkali satu hal pada saat yang sama. Kita tidak dapat berbicara tanpa menggunakannya. Karena itu kita harus menyelidikinya dengan lebih berhati-hati lagi. Hukum kontradiksi mengklaim diri sebagai sesuatu yang bersifat ontologis sekaligus logis. Hukum ini mengasumsikan sesuatu tentang Being/Wujud. Tetapi untuk berpandangan bahwa logika memadai terhadap realitas, dibutuhkan pengetahuan tentang realitas yang mendahului dan independen dari hukum tersebut. Dengan demikian jelas bahwa hukum kontradiksi hanya baik kalau kita mengasumsikan [sebagai benar] keberadaan-keberadaan yang kita telah ciptakan.

Pola berpikir seperti ini telah diturunkan kepada kita melalui proses evolusi panjang sehingga telah begitu mendarah daging dalam kita dan sebanyak apapun pengalaman kita, kita tidak dapat merubahnya. Jelas cara berpikir [logis] ini merupakan sesuatu yang a priori bagi individu, tetapi bagi umat manusia cara berpikir itu merupakan hasil akhir dari proses evolusi. Kepercayaan akan kausalitas dan kontradiksi mungkin bermanfaat, tetapi itu tidak menjadikannya benar. Kenyataannya, kepercayaan itu pasti salah karena pengetahuan dan evolusi adalah dua hal yang terpisah sama sekali. Karakter dunia yang berada dalam proses menjadi tidak rentan terhadap formulasi intelektual. Kalau dulu Parmenides mengatakan, Orang tidak dapat menyusun konsep tentang non-eksisten; tetapi kita sekarang berada pada titik ekstrim yang bersebarangan dan berkata, sesuatu yang tentangnya sebuah konsep dapat disusun hanyalah sebuah fiksi.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Friedrich Nietzsche, Gordon H. Clark, Irasionalisme, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Friedrich Nietzsche

  1. Ping balik: William James | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s