Logika Penting: Belajar dari Kebodohan Hai Hai 1

Dalam tulisan-tulisan berikut, saya akan mengangkat tulisan lama saya (beberapa tahun lalu) di Facebook yang menelanjangi tulisan seseorang yang menamakan diri Haihai Bengcu di dunia maya. Saya pernah membongkar kesesatan berpikirnya di beberapa tulisan ini. Ini adalah bagian pertama untuk edisi penelanjangan kali ini. Saya percaya bahwa dengan melakukan ini kita bisa belajar menghindari kebodohan yang sama. Siapa tahu pula kalau si Haihai membaca (kembali) tulisan ini, dia bisa belajar untuk lebih pintar lagi. Mungkin harapan yang sulit tercapai, tetapi bukan tidak mungkin. Only time will tell. We will see!  Toh kemungkinan Haihai berubah bukanlah sebuah kontradiksi!

Hal pertama yang akan saya jadikan pelajaran saat ini adalah klaim Hai Hai bahwa logika tidak penting. Di beberapa tempat dia mengatakan demikian. Terakhir kali dalam komentarnya di Wall saya dia mengatakan “logika adalah permainan di kampung kami kala bulan purnama.” Perhatikan bagaimana dia menganggap logika hanya sebagai sebuah permainan. Menarik!

Di samping pernyataan eksplisit bahwa dia menganggap remeh logika, perilaku Hai Hai juga menunjukkan bahwa dia menganggap remeh logika. Berulang kali dia menyombongkan diri dengan pernyataan yang kira-kira dapat diparafrase seperti ini “Lihatlah! Blog Hai Hai disukai banyak orang. Dalam beberapa tahun ini sudah satu juta hits. Sedangkan Budi Asali? Aaahhh Cuma beberapa ribu. Ma Kuru? Apa lagi dia! Yang komentar cuma itu-itu saja! Karena itu tulisan saya pasti lebih bermutu dari tulisan Budi Asali dan Ma Kuru“. Yang lebih parah adalah bahwa dia terus melakukan kesalahan yang sama walaupun sudah diberitahu berulang-ulang bahwa argumen yang dia kemukakan kesalahan logika informal yang disebut democratic fallacy.

Apakah Hai Hai pernah berpikir implikasi dari pandangannya yang merendahkan logika? Well tampaknya tidak. Karena itu saya ingin menguak ketidaklayakan posisi seperti ini untuk dipegang.

Hal pertama yang harus dipahami untuk menilai pandangan seperti ini adalah definisi logika. Logika didefinisikan dengan berbagai cara tetapi saya ingin mengemukakan definisi yang digunakan oleh Gordon H. Clark dan Rick Grush yang saya pikir cukup memadai. Logika adalah ilmu tentang pengambilan kesimpulan yang diharuskan oleh premis. Premis adalah proposisi/pernyataan yang mendukung satu kesimpulan. Dengan kata lain premis adalah alasan di balik satu pernyataan. Jadi logika berkepentingan dengan pengambilan kesimpulan yang didukung oleh alasan yang kuat alias bukan sekedar pernyataan-pernyataan lepas yang tidak ada alasan pendukung. Masih ada banyak yang bisa dikatakan yang merupakan implikasi dari definisi logika di atas tetapi saya membatasi diri di sini.

Logika mempunyai aturan-aturan yang mendasar. Salah satu aturan yang mendasar itu adalah hukum kontradiksi. Hukum ini mengatakan bahwa A tidak mungkin Non A pada saat yang sama dengan definisi/relasi yang sama. A bisa diganti dengan apa saja. Sebagai contoh si Hai Hai mengatakan “Saya mempunyai dua mobil” dan kita berikan notasi A. Berdasarkan hukum ini pada saat bersamaan dan dengan definisi yang sama Hai Hai tidak bisa mengatakan “Saya tidak mempunyai mobil sama sekali.” atau kita kasih notasi Non A. Salah satunya harus benar dan yang lain salah atau kedua-duanya salah.

Pertama-tama, perhatikan frase “pada saat yang sama”. Kalau Hai Hai mengatakan A pada saat yang berbeda dengan saat dia mengatakan non A, maka itu bisa diterima. Misalnya beberapa bulan lampau dia punya dua mobil (A) tetapi dua sekarang karena bangkrut, dia menjual semua barangnya sehingga tidak punya mobil lagi (Non A).

Perhatikan juga frase “definsi/hubungan” yang sama. Hai Hai bisa mengatakan A dan non A dan kedua-duanya benar kalau definisi keduanya berbeda. Kalau pada saat mengatakan “Saya mempunyai dua mobil.” yang Hai Hai maksudkan adalah kepemilikan mobil sedangkan pada saat mengatakan “Saya tidak mempunyai mobil sama sekali.” Hai Hai merujuk kepada fakta bahwa kedua mobilnya tidak tidak berada bersama dia pada saat itu maka keduanya bisa benar. Tetapi kalau Hai Hai menggunakan kata “mempunyai” dengan definisi yang sama pada kedua kalimat misalnya keduanya merujuk kepada kepemilikan mobil, maka salah satunya harus benar dan yang lain salah atau kedua-duanya salah.

Pelajaran yang kita bisa dapatkan dari sini adalah “JANGAN LUPA MENGAJUKAN PERTANYAAN KLARIFIKASI TENTANG APA YANG LAWAN BICARA KATAKAN!” Tanpa klarifikasi maka kita bisa menyalahartikan pandangan lawan bicara dan menyerangnya secara tidak adil. Jangan bertindak seperti Hai Hai saat berdiskusi. Beberapa kali saya mengajukan pertanyan klarifikasi dan yang dia katakan adalah “Saya tidak bersedia membantu anda belajar!” Ada beberapa kemungkinan tentang apa yang sebenarnya terjadi saat seseorang (termasuk Haihai) mengeluarkan pernyataan seperti itu saat diajukan pertanyaan klarifikasi. Beberapa di antaranya dikemukakan di bawah ini:

  1. Dia memang tidak tahu diskusi sehingga tidak tahu mana diskusi yang sehat dan mana diskusi yang tidak sehat.
  2. Dia tahu apa itu diskusi yang sehat tetapi tidak punya kemampuan untuk melakukan itu dan hanya bisa emosional saat diberikan pertanyaan klarifikasi.
  3. Dia sudah punya pandangan yang negatif terhadap si penanya. Hal seperti ini harus dihindari saat diskusi.
  4. Dia adalah seorang yang merasa diri paling hebat (mirip dengan pemimpin kultus) dan orang lain berada di bawah dia sehingga orang lain hanya perlu menerima semua yang dia katakan.
  5. Dia adalah orang gila yang hanya ingin orang lain percaya apa yang dia katakan walaupun tidak ada yang dapat dipertanggungjawabkan dari apa yang dia katakan.
  6. Dia sengaja memberi lawan kesempatan untuk menyerang dia dan pada saat diserang dia akan berkelit “Wah.. itu bukan maksud saya!” sehingga tanggapan lawan menjadi salah.
  7. Alasan lain adalah bahwa Hai Hai tidak menguasai hal yang didiskusikan dan tidak mau dipermalukan sehingga berlindung di bawah berbagai ungkapan emosional.

Yang mana alasan Hai Hai? Saya tidak tahu kecuali Hai Hai mengaku.

Implikasi lain dari hukum kontradiksi adalah bahwa pada saat orang menggunakan satu kata, maka pada saat itu kata tersebut harus mempunyai satu arti yang pasti, tidak memiliki arti yang lain. Perhatikan secara khusus frase “pada saat itu”. Hukum kontradiksi tidak mengharuskan bahwa satu kata hanya memiliki satu arti tetapi bahwa pada saat digunakan maka kata itu hanya memiliki satu arti. Misalnya pada saat saya menggunakan kata “anjing” dalam kalimat “Anjing saya suka makan kotoran ayam”, kata “anjing” berarti hewan berkaki empat yang menggonggong, bukan yang lain lain. Bayangkan apa jadinya kalau saya katakan bahwa hukum kontradiksi tidak berlaku! Kalau saya katakan demikian maka kata ‘anjing’ (seperti halnya kata-kata yang lain) dalam kalimat di atas bisa berarti apa saja: manusia, alam semesta, malaikat dll. Kalau hukum kontradiksi tidak berlaku maka kata apapun bisa berarti apa saja dan kalimat di atas bisa berarti “Hai Hai memang suka makan kotoran ayam” atau “Alam semesta terbuat dari kotoran ayam” atau “Hai Hai adalah sapi yang siap digorok penjagal” atau “Malaikat adalah manusia yang sudah sempurna”, dll dst.

Implikasi lanjutan kalau orang berani mengklaim bahwa hukum kontradiksi tidak berlaku adalah adalah bahwa kalau seseorang ingin menulis sebuah esai/skripsi sepanjang 100,000 kata, tidak perlu pikir panjang. Orang tersebut bisa langsung menulis kata “anjing” sebanyak 100,000 kali yang dibagi ke dalam kalimat dan paragraf-paragraf. Setelah itu masukkan ke dosen atau PA dan kita menunggu apa yang terjadi.

Lalu apa hubungan semua ini dengan Hai Hai? Sekarang saatnya menjalin kembali hubungan yang sudah putus dengan beberapa paragraf pertama tulisan ini. Karena Hai Hai merendahkan logika dan menganggapnya tidak penting, maka sebagai Logical ad Hominem saya dapat katakan kepada Hai Hai tanpa rasa bersalah atau berdosa secuilpun bahwa Hai Hai adalah kambing atau sapi atau babi dan bapaknya adalah anjing serta ibunya adalah tikus. Apakah saya sedang memaki Haihai saat mengatakan demikian? Tentu saja tidak, karena hal itu merupakan konsekuensi logis dari pandangan Haihai bahwa logika tidak penting. Saya harap Haihai menerimanya dengan baik, karena kalau tidak, maka dia sebenarnya tidak percaya bahwa logika hanyalah mainan, walaupun dia mengatakan demikian. Dengan kata lain dia munafik.

Pos ini dipublikasikan di Dasar Bego, Hai Hai, Logical ad Hominem, Logika. Tandai permalink.

14 Balasan ke Logika Penting: Belajar dari Kebodohan Hai Hai 1

  1. Ari berkata:

    Dari pengamatan saya, Hai-Hai alias Ang Ci Yang melakukan itu karena alasan tipe 4 dan 5.

  2. ray berkata:

    Hai hai menganggap rendah logika, kemudian dia pke apa dong?? Mungkin dia hanya pke emosinya dalm diskusi(Mau org lain ikut kemauannya skalipun salah). Sanggupkah logika mnjelaskn pada org sprti haihai bahwa dia salah?? Hehehe mohon pnjelasan,,,

    • Ma Kuru berkata:

      He he terima kasih bu Ray. Masalahanya bukan apakah logika sanggup menjelaskan atau tidak sanggup menjelaskan. Pertanyaannya agak mencampuradukkan kategori. Pertanyaan “Apakah logika bisa menjelaskan A?” analog dengan pertanyaan, “Apakah Fisika dapat mengantar orang sakit dari rumah ke rumah sakit.”

      Maksud beta begini: logika adalah dasar yang memungkinkan adanya penjelasan. Tanpa ada logika, tidak mungkin ada penjelasan. Tetapi logika itu tidak berusaha menjelaskan. Orang yang berusaha menjelaskan.🙂 Logika memungkinkan adanya penjelasan.

      Salam🙂

  3. Kalau dulu ada orang pinter namanya Albert Einstein , Sa”at ini ada yang lebih pinter daripada

    Albert Einstein namanya mBah Google.Coba tanya mBah Google artinya logika itu apa dulu , baru

    ada pakem masing2 tentang pengertian logika.Hemat saya salah tafsir bisa terjadi di masing2 –

    pemateri , contoh kecil di istilah awam bin umum yang ada di tengah2 masyarakat istilah pera –

    sa’an.Kalau bahasanya kedokteran atau psychology tentu tidak akan ditemui kata itu (PERASA’

    AN) yang ada adalah affect emosi , kembali ke bahasanya awam bin umum berbeda antara istilah

    emosi dan perasa’an.Padahal kedua istilah itu sebenarnya sama , perasa’an itu yaa emosi.

    Bagaimana menurut anda2 masing2 pemateri …?? Semoga saya tidak ikut2an men-judge , logika

    saya adalah : ” Maksudnya bener , cuma cara-NYA ada keliru sedikit…..Yaa cuma sedikit ”

    ……….Salam Hyppocrates Cerdas !!………doktertoeloes “swiss van java”malang.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s