William James

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan tulisan Gordon H. Clark berjudul Religion, Reason, and Revelation. Terjemahan sebelumnya dapat dibaca di sini

William James

William James

William James

Setelah Nietzsche, aliran pragmatisme Amerika terus melakukan serangan terhadap akal budi. William James (1842-1910) yang mendapat inspirasi dari perkembangan di Perancis maupun di Jerman, melancarakan serangan hebat terhadap Absolutisme Hegelian dan kebenaran yang tidak berubah. Seperti sebelumnya, yang akan dibahas di sini hanya hal-hal yang penting dan yang berkaitan dengan pembahasan ini saja yang akan dipelajari.

Di dalam domain teisme dan absolutisme, tulis James, “anda akan mendapati jejak si ular naga rasionalisme dan intelektualisme” (Pragmatism, 19). Intelektualisme merupakan si ular naga karena prinsip-prinsip transendennya tidak bermanfaat sama sekali. “Anda tidak dapat mendeduksi sesuatu yang partikular dari sang Absolut…. Allah teistik pun hampir sama sterilnya…. Teisme lebih menjemukan, tetapi keduanya sama-sama jauh dan hampa.” James juga mengulangi tuduhan bahwa Hegel mencampuradukkan perubahan konseptual dan perubahan fisik, dan dengan demikian perlakuan konseptualnya tentang alur realitas tidak memadai, yaitu tidak memadai terkait dengan realitas itu sendiri. Pengetahuan harus datang melalui pengalaman – bukan pengalaman yang terdiiri dari gagasan-gagasan diskrit, atomis, sederhana, melainkan sebuah aliran kesadaran yang terus mengalir. Tidak ada data diskrit; tidak ada yang terpisah atau berbeda; segala sesuatu terus-menerus bersatu dengan yang lain. Tidak ada pembedaan seperti antara materi dan bentuk serta antara substansi dan relasi. Memang benar, konsep-konsep memiliki nilai praktis. Kita memilih bagian pengalaman tertentu dan secara abritraris memilah-milah dan mengelompokannya. Proses ini memenuhi kebutuhan kita dengan baik, namun konsep seperti itu sama sekali jauh dari memenuhi tuntutan spekulatif rasionalistik. Semua konsep ini murni praktis. Cara berpikir kita yang mendasar, kategori-kategori dan hukum kontradiksi, merupakan penemuan dari nenek moyang kita pada di masa lampau yang jauh sekali. Udang galah dan tawon memiliki cara lain untuk memahami pengalaman. Anak-anak dan anjing tidak menggunakan kategori-kategori kita orang dewasa. Pengalaman mereka hampir seluruhnya kacau balau. Ruang dan waktu bukanlah inituisi Kantian tetapi semata-mata merupakan konstruksi artifisial, karena sebagian besar umat manusia menggunakan beberapa waktu dan ruang. Walaupun kategori-kategori kita sangat bermanfaat, kita tidak dapat secara dogmatis menyangkali bahwa kategori-kategori lain yang tidak dapat kita bayangkan saat ini mungkin saja sama bermanfaatnya dengan kategori-kategori yang kita ketahui/gunakan saat ini.

Jika demikian adanya dan jika kita boleh menerapkan prinsip-prinsip James pada contoh tertentu, maka silogisme yang kita sebut Barbara bisa saja telah berevolusi menjadi sebuah kekeliruan berpikir/fallacy. Dan jika demikian, argumen “Semua orang Atena adalah orang Yunani dan Semua orang Yunani adalah manusia” dapat saja berkesimpulan valid bahwa “Beberapa orang Atena bukanlah manusia.” Demikian juga, kekeliruan bernalar asserting the consequent dapat saja menjadi argumen yang valid; sehingga kita dapat berargumen bahwa semua angka yang berakhir dengan nol dapat dibagi lima, karena itu mengingat dua puluh lima dapat dibagi dengan lima, maka dua puluh lima di bagi lima haruslah angka yang berakhir dengan nol.

William James tidak dapat menolak contoh-contoh itu atas dasar bahwa keduanya tidak logis, karena menurut dia bentuk-bentuk logika yang sekarang bukanlah bentuk yang bebas dari kesalahan. Logika juga terlalu sederhana. Logika tidak dapat memahami realitas. Begitu besarnya kegagalan logika sehingga ketika Kaum Rasionalis mengetahui bahwa dunia nyata tidak sesuai dengan rumus mereka yang rapi, mereka menciptakan sebuah dunia yang tidak nyata yang darinya fakta-fakta keras (tak terbantahkan ini) dihalangi/dihindari. Kant yang rasional akan beremigrasi ke dunia noumena; F. H. Bradley dengan caranya sendiri melarikan diri dari kontradiksi dengan masuk ke dalam yang Absolut; dan T. H. Green menggantungkan diri pada sebuah Pikiran yang transenden. Ini semua menunjukkan bahwa konsep-konsep manusia memalsukan realitas.

Namun tidak seperti Nietzsche (yang anti agama), James menggunakan irasionalismenya untuk mendukung sejenis agama dan etika tertentu. Kita perlu sedikit membahas tentang hal ini baik karena pentingnya kedua hal itu maupun sebagai persiapan bagi pembahasan yang akan datang.

Absolutisme dan Pragmatisme, menurut James, mewakili dua sikap religius berbeda. Absolutisme mengatakan bahwa dunia harus dan akan diselamatkan sementara pragmatisme percaya bahwa itu adalah sebuah kemungkinan. Ada lagi pandangan lain yaitu dunia tidak dapat diselamatkan. Karena itu pragmatisme, merupakan titik tengah antara pesimisme dan optimism atau mungkin dapat disebut meliorisme. Dunia dapat menjadi lebih baik karena kita mampu menjadikannya lebih baik.

James kemudian menawarkan pilihan berikut. Andaikan pencipta dunia datang kepada anda sebelum penciptaan dunia dan berkata “Aku akan menjadikan dunia yang tidak pasti akan diselamatkan.” Dunia dapat diselamatkan hanya jika setiap agen melakukan yang terbaik [dan jika ada yang tidak melakukan yang terbaik, hasilnya akan mengecewakan]. Nah, apakah anda mau bertaruh dengan mengambil bagian dalam dunia dengan bahayanya yang nyata dan tanpa jaminan untuk selamat ataukah anda ingin kembali kelelapan non-entitas yang darinya saya baru bangunkan anda?

Perhatikan bahwa James tidak menawarkan kepada kita pilihan antara dunia yang berbahaya ini dengan dunia dimana kebaikan sudah dijamin secara mutlak.

Absolutisme tampaknya telah dilupakan. Pilihannya ada antara bahaya dan Nirwana. Untuk itu James sudah siap untuk memilih bagi kita. Setiap orang yang “pada dasarnya normal” yang memiliki “pembawaan ceria yang sehat” akan mendapati bahwa [alam semesta] pilihan James sebagai sesuatu yang diinginkan. Hanya beberapa orang yang “berpikiran tidak sehat,” dan orang “Budha” yang “takut akan kehidupan,” yang menolak kesempatan ini. Orang-orang Budha ini dalam pengertian tertentu mungkin dapat disebut religius tetapi mereka tidak bermoral. “Pada akhirnya adalah iman dan bukan logika yang memutuskan hal itu” yaitu iman kepada sesama manusia bahwa mereka akan melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan dan juga iman kepada kekuatan supra manusia [yang menentukan], karena ada satu sosok allah, (walaupun bukan Allah yang mahakuasa yang mampu menentukan outcome dari segala sesuatu) yaitu sosok allah ini yang terbatas dan berhingga yang akan bermanfaat buat kita. Dialah yang membantu kita sehingga bahaya yang kita hadapi berkurang drastis. Kepercayaan akan allah sejenis ini benar karena membawa hasil. Tentu saja kita tidak tahu pasti apakah allah ini ada,

karena kita tidak tahu pasti jenis agama yang mana yang akan bermanfaat di jangka panjang. [Ini hanyalah masalah keputusan pribadi.] Jika anda cukup tangguh, maka hiruk-pikuk fakta inderawi alam sudah cukup bagi anda dan anda tidak membutuhkan agama sama sekali …. Tetapi jika anda tidak tangguh namun juga tidak lunak…maka jenis agama yang pluralistik dan moralistik yang saya tawarkan kepada anda sama baiknya dengan sintesis religious yang mungkin anda akan temukan.”

Pada bagian tentang Søren Kierkegaard, [kita melihat bahwa] isu tentang keputusan pribadi juga merupakan isu yang penting – yaitu [sama-sama] merupakan sebuah keputusan yang terpisah dari pengetahuan. Secara pribadi Kierkegaard membuat pilihan yang tidak terlalu berbeda dari pilihan James’. Walaupun Kekristenan Kirkegaard bukanlah [agama] yang diinginkan James, namun keduanya (seperti halnya Nietzsche) mengatakan Ya kepada alam semesta. Namun demikian, ketika James menyebut pilihannya sebagai pilihan moral dan pilihan lain sebagai pilihan tidak wajar, tampaknya ada implikasi bahwa pilihan itu lebih dari sekedar pilihan pribadi. Bagaimana James membedakan antara pilihan yang bermoral dan tidak bermoral? Jika dia mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang membawa manfaat, dan bahwa yang bermanfaat itu adalah yang memberikan kepuasan pribadi, maka orang yang lebih memilih Nirwana daripada bahaya tampaknya telah mencapai lebih banyak kepuasan dibanding yang dicapai Pragmatis. Apakah mungkin semua manusia dapat melakukan yang terbaik yang bereka dapat lakukan? Iman kepada umat manusia merupakan slogan yang memberi inspirasi, namun fakta menunjukkan bahwa satu atau dua orang dalam sejarah tidak bekerja sebaik mereka untuk menjadikan dunia lebih baik. Tentu saja James konsisten dalam memilih bahaya, karena teorinya tergantung pada keputusan pribadi; namun atas dasar irasional ini dia tidak dapat menyimpulkan bahwa setiap orang harus membuat pilihan yang sama.

Sayangnya penolakan intelektualistik seperti ini didasarkan pada hukum kontradiksi. Penolakan ini mengasumsikan bahwa satu prinsip filosofis harus berlaku secara konsisten kepada semua manusia. Jika keberhasilan memuaskan preferensi pribadi tertentu memberi justifikasi bagi pilihan seseorang, maka keberhasilan memuaskan preferensi yang lain harus juga memberi justifikasi pilihan lain dari orang lain. Namun adalah konsistensi dan logika yang tidak dilarang oleh James.

Walaupun Nietzsche dan James berada di luar lingkaran tradisi Kristen sehingga merupakan contoh runtuhnya akal budi manusia terpisah dari pengetahuan yang diberikan wahyu ilahi, namun dalam kasus Kierkegaard, bahkan pemikiran religious jaman pasca Hegelpun telah berbalik ke arah irasionalisme. Karena itu, sehagai kesimpulan dari analisa iman tanpa akal budi, kita perlu membahas pengaruh Kierkegaard pada abad ke-dua puluh dan untuk membahas itu kita akan membahas tentang pemikiran Emil Brunner [yang mewakili pengaruh tersebut].

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Irasionalisme, Religion Reason and Revelation, Terjemahan, William James. Tandai permalink.

Satu Balasan ke William James

  1. Ping balik: Emil Brunner | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s