Emil Brunner

Di bawah ini adalah lanjutan terjemahan tulisan Gordon H. Clark berjudul Religion, Reason, and Revelation. Terjemahan sebelumnya dapat dibaca di sini

Emil Brunner

Emil Brunner

Adalah tidak mungkin dan untungnya tidak perlu untuk meringkas semua publikasi Brunner untuk memenuhi tujuan tulisan ini. Namun sekalipun ada pembatasan pembahasan sehingga hanya menyangkut irasionalisme, kita harus membahas memotong jalur dan secara sedikit arbitraris membahas [tulisannya]. Diskusi yang menarik tentang kesalahan yang dilakukan [Brunner] merupakan awal yang baik.

Tidak seperti para filsuf yang berada di luar lingkaran tradisi Kristen, Brunner – sesuai dengan posisi utama Neo-Ortodoks – mengakui bahwa dosa merupakan kuasa yang merajalela dalam kehidupan manusia. Dosa tidak hanya mengakibatkan kejahatan besar, tetapi juga mempengaruhi dunia pemikiran kita. Karena dosa memisahkan manusia dari Allah, pengaruh mental dari dosa terlihat lebih jelas dan lebih sering saat kita mencoba berpikir tentang Allah daripada saat kita berpikir tentang matematika atau fisika. Tidak hanya Brunner mengatakan bahwa kesalahan akibat dosa lebih jelas dalam teologi daripada dalam fisika, tetapi dia menambahkan bahwa matematika dan logika berada sangat jauh sekali dari pusat kehidupan keagamaan sehingga di dalam kedua bidang ini tidak ada kesalahan sama sekali.

Pengamatan yang awalnya tampaknya masuk akal ini, sebenarnya sebuah pencampuradukkan antara yang obyektif dan yang subyektif. Di dalamnya Brunner (mengikuti penekanan Kierkegaard pada subyektifitas) tampaknya telah menolak pembedaan antara orang yang mengetahui dan kebenaran yang diketahui. Dia membingungkan antara bagaimana dan apa.

Mari kita menilai lebih seksama lagi tentang natur kesalahan dalam matematika dan teologi. Secara subyektif, kemerosotan yang diakibatkan oleh dosa menghasilkan kesalahan dalam aritmatika dan geometri serta teologi. Kita semua bermasalah dengan coretan-coretan dalam buku kas kita. Tidak diragukan lagi kesalahan dalam teologi lebih serius, tetapi adalah sebuah kesalahan untuk mengatakan bahwa dalam matematika tidak ada kesalahan.

Seandainya Brunner mungkin menjawab bahwa walaupun anda dan saya melakukan kesalahan dalam matematika, namun matematika itu sendiri (dilihat secara obyektif) tidak mengandung kesalaan, maka jawaban yang kita dapat berikan adalah bahwa kalau demikian, teologi itu sendiri (dilihat secara obyektif) tidak mengandung kesalahan. Secara subyektif kita melakukan kesalahan; secara obyektif keduanya sama benarnya. Karena itu penegasan Brunner bahwa teologi mengandung kesalahan, fisika lebih sedikit kesalahannya dan matematika tidak memiliki kesalahan sama sekali hanya masuk akal kalau dia mencampuradukkan antara obyektif dan subyektif, yaitu hanya dengan menghapus pembedaan antara orang yang berpikir yang mungkin bisa salah dengan proposisi yang secara obyektif benar atau dengan menyangkali kebenaran obyektif. Ini konsisten dengan apropriasi bergairah Kierkegaard yang anti-intelektual. Allah adalah kebenaran, demikian menurut Kierkegaard, tetapi Allah dan kebenaran hanya ada di dalam orang yang percaya; sedangkan orang tidak percaya tidak perlu takut akan hukuman ilahi karena bagi seorang tidak percaya Allah tidak ada. Kebenaran bersifat seluruhnya subyektif.

Subyektivasi kebenaran memiliki konsekuensi yang serius. Bagi Brunner, proposisi-proposisi (atau yang dia sebut sebagai kebenaran abstrak), hanyalah penunjuk dari apa yang disebut kebenaran pribadi yang tidak terdefinisi dengan baik. Bukan hanya kata-kata sebagai bunyi hanya merupakan fungsi instrumental, namun juga kandungan konseptual itu sendiri hanyalah merupakan kerangka atau wadah/reseptakel bagi sesuatu yang lain. Proposisi hanyalah penunjuk dan penunjuk dapat efektif terlepas dari apakah penunjuk itu benar atau salah. Brunner menyatakan dengan jelas bahwa sebuah penunjuk tidak perlu benar. Bahkan proposisi yang salahpun merupakan penunjuk karena Allah bebas dari pembatasan kebenaran abstrak dan dapat menyatakan diri dalam pernyataan yang salah semudah Dia menyatakan diri dalam pernyataan yang benar.

Gott kann [kata Brunner dalam Wahrheit als Begegnung, 88], wenn er will, einen Menschen sogar durch falsche Lehre sein Wort sagen.

Jika kita mengesampingkan ketidakjelasan ekspresi dan berbicara dengan tegas dan jelas, tidakkah kita dipaksa untuk menyimpulkan bahwa kata-kata Brunner menunjuk kepada satu sosok allah yang menipu?

Bukankah ini sudah jelas menunjukkan bahwa Neo-orthodoksi sebenarnya lebih merupakan neo daripada orthodoks? Brunner tentu saja tidak berada dalam tradisi John Calvin. Walaupun jelas dia menggunakan kata-kata seperti wahyu, transenden, dosa, dan inkarnasi; namun kemiripan intelektualnya dengan konsep Kalvinistik tidak ada sama sekali. Orang enggan mengelompokkan Brunner dengan Nietzsche, namun kalau mereka bukan bersaudara, kesamaan mereka dalam hal irasionalisme setidaknya menempatkan mereka sebagai saudara sepupu.

Kita barus berhenti di sini. Walaupun Brunner telah menerbitkan banyak buku, tidaklah bermanfaat untuk menilai bahasa apapun kecuali kebenaran berbeda dari kesalahan. Seorang penulis yang memberikan keduanya otoritas yang sama, telah menolak hukum kontradiksi sehingga diskusi yang bermakna tidak akan terjadi.

Karena itu, [dengan pembahasan-pembahasan di atas] sudah saatnya kita mengambil kesimpulan dalam tulisan ini. Di bawah judul “Akal Budi tanpa Iman,” sejarah filsafat moderen gagal dalam upayanya untuk mencoba mendasarkan pengetahuan pada sumber daya yang ada pada manusia semata. Bahkan para filsuf sekuler – yang tidak memiliki kepentingan dengan wahyu – mengakui bahwa Spinoza, Kant, dan Hegel tidak menghasilkan epistemiologi yang benar. Dalam bab ini baik irasionalisme sekuler maupun religius telah dikaji. Tidak hanya Nietzsche dan James meninggalkan kita berada dalam anarki intelektual, tetapi Neo-orthodoksi juga menyimpulkan bahwa akal budi manusia adalah sebuah kegagalan. Walaupun penulis-penulis yang disebut terakhir memiliki ajaran yang disebut wahyu, namun dalam ajaran itupun mereka gagal membedakan kebenaran dari kesalahan. Bukannya mengatakan, Allah adalah benar dan semua manusia pembohong; mereka berkata, Allah salah dan manusia juga pembohong. FIlsafat seperti ini berkontradiksi dengan diri sendiri, merusak diri sendiri, dan secara intelektual merusak semangat.

Karena itu saya mengusulkan kita tidak perlu meninggalkan akal budi, tidak juga menggunakannya sendiri, namun (dengan ancaman bahaya skeptisisme) mengakui kebenaran yang tetap, verbal dan proposisional dari Allah. Hanya dengan menerima informasi yang secara rasional dapat dipahami berdasarkan otorotas Allah, maka kita memiliki filsafat yang sehat dan agama yang benar.

Pos ini dipublikasikan di Emil Brunner, Filosofi, Gordon H. Clark, Irasionalisme, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s