Anselmus Dan Argumen Ontologis – Revisi

Di bawah ini adalah terjemahan tulisan ringkas Gordon H. Clark tentang Anselmus dan argumen ontologisnya. Patut dicatat bahwa Argumen Anselmus berbentuk sebuah doa (tulisan miring). Ini adalah edisi revisi dari edisi sebelumnya.

Anselmus
Anselmus (1033 – 1109), Uskup Agung Canterbury yang disinggung sebelumnya mencoba untuk memperbaiki [ajaran] Agustinus. Ini bukan satu tindakan yang hina atau pembangkangan. Anselmus secara sadar mengadopsi motto Agustinus credo ut intelligam: [yang artinya] aku percaya supaya paham/mengerti. Ajaran kekristenan diwahyukan dalam Alkitab dan diterima sebagai benar dengan iman. Iman menyelamatkan. Jika keselamatan didasarkan pada pemahaman tentang filsafat, hanya sedikit orang yang akan ke surga. Namun demikian, pemahaman adalah sesuatu yang terpuji dan orang Kristen bisa semakin saleh kalau pemahamannya semakin luas. Namun demikian, kalau Allah tidak mewahyukan sesuatu dan manusia mempercayainya, tidak akan ada apa-apa untuk dipahami. Karena itu, aku percaya supaya paham.

Hal yang antara lain Anselmus ingin ketahui dengan lebih baik daripada Agustinus adalah tentang keberadaan Allah. Untuk mencapai tujuan ini, dia menuliskan sebuah argumen tradisional berdasarkan metode Plato yang dalam [tulisannya berjudul] Monoslogium menghipostasiskan kebaikan, keadilan, dan gagasan-gagasan kekal lainnya. Namun dia tidak puas. Dia menginginkan sesuatu yang lebih jelas dan lebih sederhana. Dengan sebuah kejeniusan – yang tidak dapat diremehkan hanya karena dia dipengaruhi oleh Agustinus – dia menemukan agumen otologis. Di bawah ini kutipan penuhnya:

Tuhan, Engkau yang memberikan pemahaman kepada iman, memberikan kepadaku sejauh yang Kau pandang bermanfaat, pemahaman bahwa Engkau [adalah] seperti yang kami percayai dan Engkaulah yang kami percayai. Kami percaya bahwa Engkau adalah wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar [dari Engkau]. Atau tidak adakah wujud seperti itu karena orang bebal mengatakan demikian? (Mazmur 14 : 1). Namun demikian, saat mendengar yang aku katakan yaitu wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar, si bebal yang sama memahami apa yang dia dengar dan apa yang dia pahami ada dalam pemahamannya/pikirannya, walaupun dia tidak memahaminya sebagai sesuatu yang ada.

 Adalah satu hal yang berbeda ketika satu obyek berada dalam pikiran dan ketika obyek tersebut ada. Saat seorang pelukis memikirkan apa yang akan dia lukiskan, dia memiliki [lukisan tersebut] dalam pikirannya. Tetapi dia tidak memahaminya sebagai sesuatu yang ada karena dia belum melukiskannya. Tetapi setelah melukiskannya, dia memilikinya dalam pikirannya dan juga memahaminya sebagai sesuatu yang ada, karena dia telah melukiskannya.

Karena itu bahkan si bebal ini setidak-tidaknya yakin ada sesuatu dalam pikirannya yaitu wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar, karena ketika dia mendengar [apa yang aku katakan] dia memahaminya. Tentu saja wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar tidak mungkin berada dalam pikiran semata karena kalau hanya berada dalam pikiran, maka dapat dipahami/dipikirkan pula bahwa [ada] wujud itu dalam realitas, yaitu sesuatu yang lebih besar [dari sekedar dalam pikiran].

Karena itu, kalau wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar hanya berada dalam pikiran/pemahaman semata, maka wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar itu merupakan sebuah wujud dimana ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar. Jelas ini tidak mungkin. Karena itu, tidak dapat disangkal bahwa ada satu wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar yaitu dalam pikiran dan dalam realitas.

Dan wujud itu sungguh ada sehingga tidak dapat dipikirkan sebagai tidak ada. Karena adalah sebuah mungkin untuk memahami sebuah wujud yang tidak dapat dipahami sebagai tidak ada, dan wujud ini lebih besar dibanding wujud yang dapat dipahami sebagai tidak ada. Karena itu, jika wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar dapat dipahami sebagai tidak ada, maka wujud itu bukanlah wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar. Karena itu, ada satu wujud dimana tidak ada wujud lain yang dapat dipahami sebagai lebih besar, yang tidak dapat dipikirkan/dipahami sebagai tidak ada; dan wujud tersebut adalah Engkau Tuhan dan Allah kami.

Engkau sungguh ada O Tuhan, Allah kami, sehingga Engkau tidak dapat dipikirkan sebagai tidak ada; dan itu benar adanya. Karena kalau sebuah pikiran dapat memahami sebuah wujud yang lebih baik dari Engkau, maka ciptaan akan melebihi Penciptanya dan hal ini adalah sebuah kekonyolan/ketidakmasukakalan. Dan sesungguhnya apa saja selain Engkau dapat dipikirkan sebagai yang tidak ada. Karena itu, hanya engkau saja yang memiliki keberadaan yang benar-benar pasti, yaitu lebih pasti dari dari wujud lain, [dan] lebih tinggi dari semua yang lain. Karena wujud lain yang ada tidak lebih pasti keberadaannya daripada Engkau sehingga tingkat keberadaannya lebih rendah dari Engkau. Lalu mengapa orang bebal mengatakan dalam hatinya bahwa tidak ada Allah karena sangat jelas bagi sebuah pikiran yang rasional bahwa [kepastian] keberadaan-Mu lebih tinggi dari semuanya? Mengapa? [Tidak ada alasan lain] kecuali karena dia bodoh dan bebal!

Descartes mereduksi argumen ini menjadi sebuah silogisme: Allah, secara definisi adalah wujud yang memiliki semua kesempurnaan; keberadaan adalah salah satu kesempurnaan; karena itu Allah ada. Spinoza, seperti dikatakan sebelumnya, memperluasnya menjadi sebelas proposisi yang dideduksi dari serangkaian aksioma dan definisi.

Seorang biarawan, bernama Guanilo, yang hidup sezaman dengan Anselmus menyerang argumen ontologis. Kemudian Kant dianggap telah menghancurkan argumen ini. Mungkin Hegel mengatakan sesuatu yang seperti [argumen Anselm]. Tetapi Hegel meninggal. Hal pertama yang akan kita lakukan adalah merenungkan kritik Kant. Kritikannya sangat rumit dan butuh perhatian penuh.

Catatan: makna dari Percaya baru memahami dapat dibaca di sini!

The Works of Gordon Haddon Clark Volume 4, halaman 35 – 36. Buku Three Types of Religius Philosophy. Terjemahan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Anselmus, Argumen Ontologis, Christian Philosophy The Works of Gordon Haddon Clark Volume 4, Filosofi, Gordon H. Clark, Three Types of Religious Philosophy. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Anselmus Dan Argumen Ontologis – Revisi

  1. Ping balik: Gordon H. Clark mengenai Kritikan Kant Terhadap Argumen Ontologis | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s