Pertanyaan-Pertanyaan Filsofis – Revisi

Baru memulai belajar filsafat? Anda menganggap filsafat tidak penting? Atau filsafat sulit? Berikut adalah terjemahan tulisan Gordon H. Clark tentang pentipertanyaan-pertanyaan filosofis yang kiranya dapat mendorong anda belajar filsafat. Terjemahan ini adalah revisi dari dari versi sebelumnya

Pertanyaan-Pertanyaan Filsofis

Saat orang pertama kali berkenalan dengan filsafat, yaitu saat dia menemui masalah abstrak filsafat yang rumit, dia kebingungan. Bagi dia, filsafat seperti teka-teki, sama seperti seorang anak kecil memandang potongan-potongan persegi atau lingkaran yang terpisah-pisah pada jigsaw puzzle (teka-teki menyusun potongan gambar) dan yang harus disusun ulang.

Teka-teki bukan ilustrasi yang buruk bagi kerumitan filsafat karena dalam melakukan keduanya sangat mungkin kita mengutak-atik setiap bagian ke berbagai arah tanpa memperlihatkan kemajuan yang berarti. Tetapi justru di sinilahletak keindahannya. Teka-teki yang terlalu mudah dipecahkan tidak terlalu bernilai. Namun tentu saja teka-teki yang terlalu rumit juga kadang-kadang mengakibatkan patah semangat. Tetapi kerumitan inilah yang membangkitkan selera bagi pikiran yang tajam. Kesulitan menimbulkan ketetapan hati untuk menyelesaikannya agar kesulitan tidak mengalahkan kita! Ilustrasi ini mempunyai persamaan lain. Walapun tampaknya tidak ada kemajuan saat si anak mengutak-atik potongan teka-teki tadi, namun tiba-tiba teka-teki itu terselesaikan dengan sendirinya. Hal ini juga terjadi dalam filsafat, walaupun tingkat keberhasilan penyelesaiannya tidak setinggi penyelesaian terhadap teka-teki tadi. Orang dapat berupaya menyelesaikan satu masalah tertentu tanpa ada hasil sama sekali. Dia mungkin sampai mengalami tingkat frustrasi yang sudah akut. Dengan putus asa dia meninggalkannya sebentar. Tetapi kemudian saat dia bergegas untuk mengikuti pertandingan bola pada hari Sabtu, solusi yang tiba-tiba muncul di benaknya membuat dia terkejut seperti sebuah jegalan keras dari lawan dalam sebuah pertandingan bola.

Entah kita menggunakan ketrampilan kita atau tidak, ada teka-teki yang harus diselesaikan. Teka-teki itu adalah teka-teki tentang manusia dan segala sesuatu yang lain. Dunia adalah teka-teki yang sangat rumit. Salah satu alasan mengapa dunia ini merupakan teka-teki yang rumit adalah karena kita merupakan bagian dari dunia ini dan kita diciptakan secara ajaib dan dahsyat. Cakrawala yang luas dengan bintang-bintangnya, nebulanya, serta misteri ruang dan waktu tidak lebih menakjubkan dari si penghuni kecil yang mencoba memahaminya ini.

“Manusia hanyalah seperti rumput air di alam semesta; tetapi dia adalah rumput air yang berpikir. Alam semesta tidak perlu mempersenjatai diri untuk menghancurkannya. Uap air dan setitik air sudah cukup untuk membunuhnya. Tetapi walaupun alam semesta membunuhnya, manusia masih lebih mulia daripada sang pembunuh karena [manusia] tahu bahwa dia mati sedangkan keuntungan yang didapatkan alam semesta darinya tidak alam semesta ketahui. Jadi martabat manusia adalah pikirannya.”[1]

Dalam kehidupan ini, kita tidak akan penah memahami sepenuhnya misteri tentang dunia, tidak seperti si anak yang mampu menyelesaikan teka-tekinya dengan sempurnya. Tetapi upaya memecahkan teka-teki ini lebih nikmat karena filsafat lebih superior dan mengasyikkan dari pada mainan anak-anak. Filsafat juga lebih bermanfaat.

Tidak dapat disangkal bahwa ada kesulitan. Tetapi ada penghiburan: saat seorang anak mencoba menyelesaikan teka-tekinya dengan satu cara dan gagal, dia akan membolak-balikkan teka-tekinya dan memulai dari sudut berbeda. Demikian juga halnya dengan filsafat. Jika satu fase dari masalah universal menghilangkan semangat atau terkait dengan sesuatu yang tidak menarik minat, maka selalu memungkinkan untuk berpindah ke fase lain. Seorang filsuf kuno yang memiliki pemikiran matematis mengatakan bahwa lingkaran adalah bentuk yang paling indah dari segala bentuk. Keindahan filsafat terletak pada sirkularitasnya karena orang bisa memulai dari mana saja dan seringkali seiring dengan kemajuan yang terus dicapai, orang akan kembali ke titik awal lagi. Sementara itu dia melewati sirkuit yang terlihat dan yang tidak terlihat dan dia akan menemukan sebagian keindahan keduanya. Alam semesta dengan astronominya yang begitu luas, rumput air yang berpikir, serta sejarah dan politik bangsa-bangsa adalah hasil karya Allah dan telah diciptakan dengan istimewa. Setidak-tidaknya demikianlah menurut iman Kristen. Tetapi bagaimana orang tahu bahwa dunia itu indah kalau dia tidak menggunakan pikirannya atau kalau tidak ada waktu yang digunakan untuk menyelidikinya, atau kalau tujuan warna-warna gelap atau garis-garis dari pelukisnya tidak dipahami? Setelah seorang seniman menghasilkan karyanya, penikmat hanya mampu menghargainya kalau mereka memahami bagaimana setiap goresan kuas atau baris puisi sesuai dengan pesan secara keseluruhan. Sebuah karya seni adalah satu kesatuan yang terpadu, bukan kumpulan hal-hal yang tidak saling terkait satu dengan yang lain. Pengetahuan dan penghargaan akan karya tersebut akan tergantung pada pemahaman tentang rancangan karya tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat tidak sepenuhnya memahami genius dari seorang seniman. Tetapi tampaknya irasional, tragis, dan tidak dapat dibayangkan kalau Pencipta yang Mahakuasa akan membiarkan keindahan bunga yang terindah ciptaan-Nya terbuang percuma di udara gurun. Dengan kata lain berfilsafat adalah bentuk penyembahan.

Bukan hanya filsafat sulit karena kerumitannya, tetapi juga filsafat memiliki reputasi sebagai membosankan, akademis, dan tidak praktis. Saat seorang pembaca yang awam mencoba mempelajari sebuah karya filsafat, kemungkinan besar kesan yang dia dapat adalah betapa tidak relevannya filsafat terhadap bidang kehidupan yang penting. Atau kalau dia mencurigai ada sesuatu yang penting dari filsafat tetapi terkubur di balik bahasa yang bertele-tele, dia akan gagal memisahkan yang penting itu dari bahasa yang abstrak seperti seorang yang gagal memisahkan mumi dari peti mati. Salah satu cara terbaik, atau mungkin satu-satunya cara untuk menghindari kegagalan tersebut perlu mengklarifikasi apa yang dibahas. Sebuah sistem filsafat mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu. Untuk memahami jawabannya, penting untuk mengetahui pertanyaannya. Saat pertanyaan diungkapkan dengan jelas, kecil kemungkinan bahwa jawaban yang diberikan dianggap tidak relevan dengan isu penting. Masalah yang kita hadapi di dunia ini banyak, dan banyak masalah tersebut merupakan masalah mendesak sekaligus bersifat filosofis. Dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, kerumitan sejarah dan paradoks politik terangkat dari ruang-ruang belajar akademis dan dari badan legislatif ke dalam taman-taman dan ke dalam ruang makan di setiap rumah. Harga kentang dan telur bergantung pada pemilu bulan November. Haruskah partai yang cenderung menyukai peraturan terketat dipilih? Partai mana yang akan menjadi pemerintah yang paling baik? Partai mana yang bisa bekerja dengan keadaan yang sekarang? Ataukah tidak ada partai yang tepat untuk dipilih? Kemana sejarah akan membawa kita? Apakah sejarah berulang? Apakah peradaban kita hampir runtuh? Apa saja (kalau ada) yang mengendalikan sejarah? Apakah sejarah merupakan urut-rutan kejadian serampangan yang tidak dapat dipahami? Apakah sejarah punya makna sama sekali?  Apakah Tuhan memberi kita jawaban atau sebagian jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini? Apakah kita perlu percaya kepada Tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Ataukah komunisme ateistik merupakan solusi sebenarnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidaklah tak relevan. Pertanyaan-pertanyaan itu termasuk di antara pertanyaan-pertanyaan yang paling mendesak dalam abad ini. Orang yang praktis/pragmatis sekeras apapun tidak dapat menyangkali bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sebagai hanya abstraksi yang tidak nyata dari seorang profesor yang sudah pikun. Namun demikian, walaupun praktis, pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah kurang sulitnya, kurang abstraknya, kurang filosofisnya dibanding apa yang digunakan untuk memberi gambaran karikatur seorang pemikir sebagai orang yang kepalanya berada di awan-awan.

Orang yang sudah pernah belajar banyak tentang pertanyaan-pertanyaan ini akan tergoda untuk memberi jawaban cepat dan mudah. Tetapi jawaban mudah dan cepat seperti itu akan menimbulkan pertanyaan baru.  Dan semakin jauh kita bertanya, semakin sulit pertanyaannya. Itu tidak berarti bahwa tidak ada solusi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, itu berarti bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki lebih banyak aspek daripada yang diperkirakan pada awalnya [oleh pemberi jawaban cepat dan mudah tersebut]. Seorang genius dan raksasa intelek yang lebih besar daripada yang pernah dimiliki dunia, mungkin akan dengan mudah menangkap masalah ini dengan kerangka yang jelas. Tetapi tidak ada orang yang kemampuannya di bawah Plato, Agustinus, atau Hegel yang dapat mulai dari nol dan berharap untuk tetap melanjutkan pemikirannya tanpa bantuan. Ketiga filsuf ini serta para filsuf lain telah mempelajari hal-hal terkait pertanyaan-pertanyaan ini dengan perhatian dan kemampuan yang besar. Adalah bebal kalau kita mengabaikan begitu saja karya-karya mereka karena walaupun mereka salah tetapi pandangan mereka menjadi pelajaran bagi kita. Sama pentingnya atau bahkan lebih penting lagi untuk memahami kesimpulan yang tidak memuaskan dari satu usulan yang masuk akal dari pada mendapatkan petunjuk tentang jawaban yang secara mutlak benar tetapi tanpa pengetahuan tentang implikasinya. Karena itu kalau kita ingin belajar filsafat sejarah, maka kita harus memberi perhatian kepada sejarah filsafat.

Ketika mempelajari filsafat sejarah, dan terlebih lagi studi tentang ilmu politik, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memahami bahwa ada masalah yang lebih mendalam yang terkait dengannya. Tidak dapat disangkal di dalam studi ini terlibat pertimbangan etis. Deklarasi perang oleh Kongres, perang yang dikobarkan tanpa deklarasi resmi, sistem komunisme yang didasarkan pada teori tentang penentuan sejarah oleh ekonomi, serta pandangan Stalin bahwa pembunuhan adalah instrumen politik, bukan hanya masalah poltik tetapi juga masalah moralitas. Teori totalitarian bahwa individu ada demi kesejahteraan negara; pandangan bahwa masyarakat adalah satu organisme dimana satu orang adalah seperti sel darah merah yang dapat dihabiskan; penyangkalan terhadap hak minoritas atau penerimaan akan hak minoritas, semuanya terkait dengan keputusan moral. Hal-hal ini menyangkut teori tentang nilai kehidupan. Apakah kehidupan individu begitu rendah nilainya sehingga individu harus dikorbankan demi kelompok? Kalau kehidupan dinilai tinggi, apakah hukuman mati salah? Ataukah demi kehidupan itu sendiri, hukuman mati dapat dibenarkan atau bahkan sebuah keharusan? Apa tujuan kehidupan itu?  Apakah kehidupan mempunyai tujuan? Ataukah semuanya tidak ada bedanya? Apakah ada perbedaan antara salah dan benar? Kalau ada, apakah perbedaan ini sama di setiap negara dan jaman ataukah setiap kelompok masyarakat menciptakan kode etik sendiri-sendiri? Apakah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tergantung pada teologi? Apakah nilai manusia hanya dapat dijustifikasi berdasarkan keberadaan Allah, ataukah humanisme tidak bertuhan berhasil menjadikan hidup ini menarik?

Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Skeptisisme atau keputusasaan yang percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab dan agama yang khusyuk yang menganggap semua ini tidak penting sama-sama terlalu berbahaya untuk dianut. Setidak-tidaknya kita berharap bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dan kita merasa yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan ini praktis, penting, dan relevan. Tetapi perlu sedikit refleksi untuk berkesimpulan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan pemikiran yang serius. Inilah teka-teki yang lebih rumit daripada mainan yang dapat ditangani anak-anak. Karena itu tidak mengherankan kalau bahasa yang digunakan harus sesuai dengan kerumitan masalah yang dihadapi.

Tetapi jika pertanyaan tentang etika harus diajukan, orang harus bertanya lebih lanjut. Pembedaan etis bagi manusia hanya dapat dipertahankan jika manusia mendiami sebuah dunia dimana moralitas memungkinkan. Jika dunia yang didiami manusia tidak lebih daripada sebuah mesin yang mekanisme tak terelakkannya menghasilkan nasib yang tidak dapat dipahami, tampaknya sulit untuk mempercayai kemungkinan adanya moralitas. Andaikan dunia ini hanyalah reaksi fisikokimia. Andaikan apa yang kita sebut sebagai pikiran itu hanya energi listrik dari eksitasi sel saraf. Akan beralasankah mempercayai moralitas? Atau kalau manusia adalah produk evolusi dari perpindahan partikel-partikel mati, dapatkah kita menganggap hidup ini suci? Jika dunia ini demikian, mengapa Lenin dan Stalin tidak boleh membunuh lawan mereka? Atau sekali lagi, jika ada Allah, dan Allah menciptakan dunia, dan secara khusus telah melakukan mujizat pada titik tetentu, orang harus bertanya dunia macam apa yang kita diami, apa yang dimaksud dengan hukum alam, dan apa fungsi sains? Ini bukan pertanyaan remeh.

Pertanyaan-pertanyaan di atas sulit. Sangat sulit. Kita membuatnya seperti teka-teki; kita mengutak-atiknya; dan terjerat dalam perangkap sendiri. Dalam keadaan seperti ini, adalah lumrah merasa berkecil hati, putus asa, dan tergoda untuk mengatakan bahwa tidak ada jawaban. Hal yang dibahas terlalu rumit dan teori-teori yang dikemukakan lebih rumit lagi; dan siapa yang bisa paham semua ini? Satu orang berpikir seperti ini, yang lain berpikir seperti itu. Justeru para filsuf yang sudah memberi perhatian besar terhadap masalah seperti itu yang selalu berbeda pendapat satu dengan yang lain. Bukan hanya ada dua jawaban yang saling bertentangan yang diusulkan bagi berbagai pertanyaan ini – karena kalau demikian kita tinggal melempar uang logam dan menentukan mana yang benar dan kemungkinan kita benar adalah 50% – tetapi ada tak terhingga banyaknya pendapat untuk menjawab setiap pertanyaan dan diragukan apakah ada satu yang benar. Sumber kesalahan ada dimana-mana dan mungkin bahkan sumber kebenaran tidak ada. Setidaknya tidak ada seorangpun yang tahu apa-apa. Atau mungkin Tuhan tahu kalau misalnya Tuhan ada. Tetapi bagaimana manusia bisa tahu? Apa itu pengetahuan? Apakah pengetahuan itu hanya kepercayaan? Apakah pengetahuan sama dengan iman? Apakah iman punya dasar yang beralasan yang dapat diketahui sebagai beralasan? Ataukah iman itu tidak punya fondasi yang solid? Apakah kita hanya percaya bahwa kita percaya? Apakah ada nilainya memecahkan teka-teki abstrak, spekulatif, dan filosofis seperti demikian?

Diterjemahkan Ma Kuru dari ‘A Christian View of Man and Things, The Works of Gordon H. Clark Volume 1


[1] Pascal, Pensees

Pos ini dipublikasikan di A Christian View of Men and Things, Filosofi, Gordon H. Clark, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s