Kesatuan dan Kepelbagaian

Di bawah ini adalah sambungan dari tulisan yang dapat diklik di sini.

Para Filsuf dari Miletus

Thales

Apa sebenarnya yang ada sejak tahun 585 SM tetapi tidak ada sebelumnya dan dimulai pada jam 6:13 sore? Pada hari itu terjadi gerhana matahari. Tentu saja gerhana matahari sudah pernah terjadi sebelumnya. Namun terdapat karakteristik baru yang dimiliki oleh gerhana kali ini. Gerhana tersebut sudah diperkirakan terlebih dahulu oleh Thales, seorang astronom dari Miletus di Wilayah Ionia. Catatan tentang berbagai fenomena di langit sudah telah dibuat dan disimpan selama berabad-abad oleh orang bijak dari Timur pada jaman lampau. Namun untuk pertama kalinya Thales mengamati adanya keseragaman dalam kejadian-kejadian gerhana dan merumuskan sebuah hukum serta mengujinya dengan sebuah prediksi yang ternyata berhasil. Bersama dengan spekulasi Thales yang lainnya, ini disebut filsafat. Hal ini belum pernah ada sebelumnya.

Kesatuan dan Kepelbagian

Pada jaman-jaman selanjutnya, misalnya pada jaman Johannes Kepler, perumusan sebuah hukum astronomis akan dianggap sebagai pencapaian ilmu astronomi dan hampir-hampir tidak akan disebut sebagai pencapaian filsafat sama sekali. Satu alasan yang mendasarinya adalah bahwa filsafat telah melahirkan cabang-cabang ilmu khusus yang baru. Ketika ilmu-ilmu ini terus berkembang menjadi matang serta menjadi terspesialisasi dan mengalami pertambahan informasi yang rinci, maka mereka meninggalkan ‘rumah orang tuanya’ dan membentuk ‘rumah sendiri.’ Namun demikian pada jaman Thales, tidak ada cabang ilmu khusus dan adalah kemujuran bahwa dia menjadi pencetus sains sekaligus filsafat.

Hukum yang mendasari prediksi gerhana matahari merupakan contoh keduanya (sains dan filsafat), karena walaupun hukum ini yang secara langsung berlaku pada Matahari, Bulan, dan Bumi merupakan bagian dari Astronomi, namun secara mendasar hal itu tetaplah sebuah hukum yaitu sebuah contoh universalisasi (perumusan sesuatu yang universal) dan hal inilah yang menjadikannya peristiwa besar jaman itu. Orang bijak dari Timur telah mengumpulkan data astronomis yang tak terhingga banyaknya, namun mereka tidak pernah mereduksi informasi-informasi terpisah ini menjadi bentuk yang teratur dan menyatu. Filsafat dimulai dengan mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan.

Sains-sains juga mereduksi kepelbagaian yang ada [dalam bidangnya] menjadi kesatuan. Kecerdasannya terletak pada fakta bahwa sains mengatur informasi rinci yang banyak jumlahnya sehingga muncul sebah keseragaman. Sebagai contoh sains menunjukkan bahwa semua planet bergerak dengan cara yang sama – yaitu bergerak dengan lintasan elips yang jari-jari vector-vektornyanya melewati luas daerah yang sama dalam waktu yang sama. Ini adalah bentuk penyatuan kepelbagaian. Jika satu bidang sudah cukup mandiri, maka bidang tersebut disebut sains. Namun jika masih bersifat umum dibanding dengan pengetahuan yang ada pada jaman itu, maka bidang tersebut disebut filsafat. Karena itu Thales adalah pencetus keduanya.

Jika Thales hanya berspekulasi tentang gerhana, maka mungkin sejarah hanya akan mencatat dia sebagai seorang astronom, walaupun gagasan tentang sebuah hukum merupakan sesuatu yang signifikan. Namun Thales juga mencoba untuk merumuskan kesatuan atas kepelbagaian yang terdapat di seluruh alam semesta. Di samping matahari, terdapat planet dan bintang. Di Bumi terdapat gunung, lautan, manusia, badai, musim, kehidupan, sensasi, dan kematian serta berbagai kualitas mulai dari cita rasa zaitun sampai langit senja yang berwarna kemerah-merahan atau berat tameng Achilles. Jelas semua ini adalah kepelbagaian. Apakah ada kesatuan dalam semua ini?

Pertanyaan yang tampaknya sangat jelas bagi Thales dan penerus langsungnya adalah bagaimana kepelbagaian yang teratur ini terjadi? Apa yang menjadi penyusun semuanya itu? Dunia tampaknya terdiri dari berbagai macam hal seperti tanaman, hewan, awan, dan gunung. Tetapi tampaknya banyak dari hal-hal ini tersusun dari hal-hal yang mirip/hampir sama. Karena manusia memakan tumbuhan dan hewan, maka komposisi tubuh manusia pastilah mirip keduanya. Hewan dan manusia meminum air, bahkan pohon-pohonan di hutan terdiri dari 98% air. Ketika air mendidih, uap yang keluar terasa seperti api. Kilat yang membuat sebatang pohon terbakar pastilah hal yang sejenis/sama dengan api yang berada dalam tungku, yang menjadikan air mendidih. Sementara itu, karena badan kita panas, maka pastilah tubuh kita juga mengandung api atau air panas juga. Mungkinkah segala sesuatu tersusun dari hanya satu unsur/bahan dasar?

Memang benar, tampaknya [segala sesuatu tidak tersusun dari satu bahan dasar saja]. Tetapi andaikan alam semesta tersusun oleh beberapa unsur, katakanlah sembilan puluh empat unsur dasar. Apakah ada alasan mengapa jumlah unsur itu sembilan puluh empat? Mengapa bukan enam puluh satu atau lima puluh dua? Bukankah berapapun jumlah unsurnya, seharusnya ada alasan di balik itu? Seandainya tidak ada alasan, maka alam semesta merupakan alam semesta yang tidak masuk akal, irasional sehingga tidak dapat dipahami. Hanya sesuatu yang bersifat rasional yang dapat dipahami. Untuk dipahami, maka perlu mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan. Gerhana dipahami ketika hukum terkait gerhana dirumuskan dan hukum ini merupakan kesatuan yang ditemukan dalam semua kasus gerhana. Karena itu tidak terelakkan bahwa alam semesta pastilah terdiri dari satu unsur mendasar saja.

Prinsip yang mengatakan bahwa penjelasan tergantung pada reduksi kepelbagaian menjadi kesatuan dan gagasan bahwa alam semesta tersusun dari hanya satu jenis unsur merupakan sebuah posisi yang bersifat luas, umum, dan filosofis. Namun ketika mengidentifikasi unsur materi tersebut, khususnya dalam abad kedua puluh ini, sulit untuk mengatakan apakah itu merupakan bidang filsafat ataukah bidang fisika spekulatif. Teori lama tentang sembilan puluh empat unsur biasanya diajarkan dalam bidang kimia. Namun dengan tumbuhnya teori kuantum dan dibelahnya atom, nama macam apa yang kita berikan kepada pandangan bahwa alam semesta tersusun, bukan oleh partikel material yang diskrit tetapi oleh energi atau bidang gaya?

Nama lama yang digunakan [untuk bidang tersebut] adalah Kosmologi. Pandangan Kosmologi moderen sangat mirip dengan pendapat Thales bahwa hanya ada satu substansi yang ada dimana-mana di alam semesta yang darinya segala sesuatu berasal. Namun tentu saja [pandangan] Thales lebih naïf dibanding dengan [pandangan] abad kedua puluh yang lebih canggih ketika menentukan apa sebenarnya substansi tersebut. Thales tidak memilih energi atau [gaya] listrik (yang memang dia tidak pernah ketahui) sebagai substansi dasar tersebut, tetapi dia memilih air.

Walaupun sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) untuk menarik garis antara fisika spekulatif dan filsafat dan walaupun sejarah filsafat adalah filsafat, namun pilihan Thales pada air sebagai substansi dasar alam semesta merupakan informasi fisika dan historis yang sebagian orang anggap sebagai tidak penting. Beberapa pendidik memberi kesan seolah-olah semua fakta tidak penting. Mereka mencela transmisi informasi dari guru kepada murid. Tujuan pendidikan [menurut mereka] adalah untuk mencapai pemikiran yang independen, bukan pemerolehan fakta melalui katekisasi dan hafalan.

Memang benar bahwa kemampuan berpikir lebih bermanfaat daripada sekumpulan informasi historis yang tidak saling terkait dan studi filsafat secara khusus harus memberikan pelatihan berpikir, bukan saja menghafal. Cara terbaik untuk belajar filsafat adalah dengan berargumen; baik dengan profesor di kelas maupun dengan sesama mahasiswa di luar kelas. Berargumen, yaitu berargumen secara serius adalah berfilsafat. Namun demikian, masih tersisa satu pertanyaan [yang harus dijawab] yaitu apakah mungkin seorang mahasiswa dapat berpikir atau berargumen secara serius dengan menggunakan pikiran yang kosong? Seandainya diakui bahwa orang yang awam tentang kanker tidak dapat berargumen secara cerdas  tentang kanker, maka seharusnya tidak kurang jelasnya bahwa seorang yang tidak paham tentang kecenderungan serta sumber daya militer lawan tidak dapat secara cerdas berargumen tentang strategi dan taktik militer internasional. Demikian pula, seharusnya juga jelas bahwa jalan tercepat untuk mengenal filsafat adalah mengisi pikiran dengan beberapa fakta. Salah satu dari fakta tersebut adalah Thales berpandangan bahwa segala sesuatu tersusun dari air.

Di terjemahkan oleh Ma Kuru dari The Works of Gordon Haddon Clark Volume 3, Thales to Dewey

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsuf Dari Miletus, Gordon H. Clark, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kesatuan dan Kepelbagaian

  1. Ping balik: Filsafat dan Sejarah Filsafat – Edisi Revisi | Futility over Futility

  2. Ping balik: Prinsip Harus Memberi Penjelasan | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s