Prinsip Harus Memberi Penjelasan

Di bawah ini adalah lanjutan tulisan Clark tentang para filsuf dari Miletus. Sambungan dari sini

Sebuah Prinsip Harus Memberi Penjelasan

Segala Sesuatu Terususun dari Air

Walaupun fakta bahwa segala sesuatu tersusun dari air mungkin tidak lebih penting daripada fakta bahwa segala sesuatu tersusun dari energi, alasan-alasan dan motif-motif di balik penegasan seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Thales berusaha memberikan penjelasan yang komprehensif tentang alam semesta. Apapun unsur yang dia pilih untuk menjelaskan alam semesta haruslah cukup beralasan untuk menjelaskan sumber dari semua gaya yang nampak dalam fenomena alam. Dapatkah orang yang yang pernah diombang-ambingkan oleh gelombang di laut Mediterania menyangkali bahwa samudera merupakan sumber kekuatan yang besar? Jika air mendasari segala sesuatu dan terdapat di bawah bumi seperti jelas terlihat ketika orang menggali sumur, maka sebuah samudera bawah tanah bisa mengakibatkan gempa bumi. Demikian juga jika alam semesta dan semua fenomenanya dapat dijelaskan dengan menggunakan satu unsur mendasar, maka maka elemen mendasar tersebut harus mampu mentransformasikan diri menjadi hal-hal yang kelihatan, yang dialami sehari-hari. Air dapat menghasilkan bumi[1] seperti telihat ketika air menguap yang dari dalam sebuah piring meninggalkan bumi kecil. Evaporasi juga menunjukkan bagaimana air dapat menghasilkan udara. Sementara itu dalam persitiwa kilat dan hujan terdapat hubungan antara air dan api. Karena itu, bukanlah sebuah ketidakmungkinan kalau diasumsikan/dipercayai bahwa segala sesuatu berasal dari air. Namun lebih jauh lagi, tidak hanya fisika, kimia dan meteorologi harus dijelaskan dengan air, tetapi juga botani, zoology, dan fisiologi tunduk pada penjelasan seperti itu. Filsafat tidak dapat mengabaikan bagian dunia manapun.

Bagaimana mungkin air menciptakan kehidupan? Pertama-tama kehidupan tidak mungkin ada tanpa air. Tumbuhan akan segera mati kalau kekeringan dan ketika mati tumbuhan akan mengering. Demikian juga halnya dengan manusia, walaupun dia bisa bertahan hidup beberapa saat hanya dengan air, dia tidak dapat bertahan hidup lama tanpa air. Demikian juga tampaknya air dapat menghasilkan kehidupan karena ketika kolam mulai mengering, akan tampak makhluk-makhluk kecil yang bergerak-gerak dalam lumpur. Lebih jauh lagi, air tidak dapat mendukung kehidupan atau menghasilkan kehidupan kalau air itu sendiri merupakan benda mati. Untuk mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan, orang harus menunjukkan apakah hal-hal yang tampak bernyawa itu pada dasarnya mati atau hidup. Sejauh ini, pilihan kedua merupakan pandangan tentatif yang lebih menjanjikkan. Satu unsur yang dapat menjelaskan seluruh dunia haruslah merupakan unsur yang hidup. Pembedaan antara yang bernyawa dan tidak bernyawa merupakan hasil perkembangan di kemudian hari. Pada jaman moderen, khususnya abad ketujuh belas, gagasan tentang benda tak bernyawa merupakan sesuatu yang tidak terelakkan. Bahkan beberapa pemikir menyangkali keberadaan jiwa atau prinsip kehidupan dan mencoba menjelaskan tentang tumbuhan, hewan, dan manusia secara materialistik. Para pemikir lain percaya bahwa jiwa merupakan keharusan. Namun karena mereka tidak dapat menyangkali keberadaan benda-benda tak bernyawa, mereka mempercayai sebuah dualism. Namun filsafat dari Miletus mempercayai sebuah unsur dasar yang hidup dan bertubuh. Teori ini disebut hylozoisme.

Pandangan ini dapat dikemukakan dengan menggunakan istilah yang lebih universal dan mendasar, yaitu; gempa bumi dan adanya hewan-hewan kecil yang bergerak-gerak dalam kolam serta revolusi planet dan bintang merupakan kasus khusus dari gerak dan perubahan[2]. Tidak dapat diragukan bahwa gerak dan perubahan merupakan sesuatu fenomena yang paling universal daripada fenomena apapun dan hylozoisme mencoba menjelaskan tentang gerak dan perubahan. Sesuatu yang asali[3] tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain yang lebih asali lagi. Sesuatu yang asali harus menggerakkan atau merubah diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari segala sesuatu yang merubah diri sendiri merupakan sesuatu yang hidup. Perubahan spontan merupakan kriteria dari kehidupan. Karena itu, gerak dan perubahan, merupakan karakteristik asli dari wujud asali. Mencoba mencari prinsip lain merupakan penyangkalan terhadap motivasi monistik yang akan mengakibatkan dualism. Karena itu, spontanitas merupakan kualitas benda fisik yang melekat.

Teori ini merupakan teori penting. Pengikut Thales, yaitu Anaximander serta Anaximenes yang juga penduduk Miletus menambahkan sejumlah fakta lain [kepada teori ini]. Mereka bahkan mengusulkan satu atau dua prinsip tambahan, namun secara mendasar pandangan mereka sama. Karena itu ketiganya dimasukkan ke dalam kelompok yang disebut filsuf alam dari Ionia atau Aliran Milesia[4].


[1] Merujuk kepada tanah atau batuan atau benda-benda yang berat.
[2] Diterjemahkan dari kata motion
[3] Asali di sini digunakan dalam pengertian asal-usul dari segala sesuatu
[4] Milesia diterjemahkan dari kata Milesian – yang merupakan kata sifat untuk Miletus
Di terjemahkan oleh Ma Kuru dari The Works of Gordon Haddon Clark Volume 3, Thales to Dewey
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsuf Dari Miletus, Gordon H. Clark, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s