Iman Tidak Memerlukan Intelek?

Mungkin anda merasa bahwa iman merupakan sesuatu yang tidak intelek? Mungkin anda harus membaca terjemahan tulisan Gordon H. Clark di bawah ini.

Mempercayai dan Menyetujui

Di sini akan dibahas dua contoh faulty psychology (Psikologi yang salah), khususnya peremehan terhadap aktivitas intelektual. Tidak satupun dari keduanya yang dapat dianggap sepele; yang kedua justeru mempengaruhi tanggapan keseluruhan seseorang terhadap Kekristenan. Yang pertama merupakan kebingungan yang lazim terdengar dari mimbar injili, yang mungkin tidak terlalu berbahaya karena implikasinya tidak terlalu jelas. Namun kasus ini juga merupakan gejala dari penyimpangan yang lebih besar.

Ketika memberi gambaran tentang natur iman, kaum fundamentalis, injili (dan dalam pengertian tertentu bahkan modernis) menekankan elemen mempercayai. Inilah yang dirujuk oleh kutipan Catholic Encyclopedia sebelumnya. Seorang pengkhotbah bisa saja membandingkan antara mempercayai Kristus dengan mempercayai sebuah kursi. Kepercayaan bahwa sebuah kursi kuat dan nyaman yaitu hanya persetujuan intelektual terhadap proposisi tersebut, tidak akan memberi kenyamanan kepada tubuh yang lelah. Anda harus, demikian dituntut oleh pengkhotbah, duduk pada kursi tersebut. Atau seperti dikatakan seorang pendeta baru-baru ini, kepercayaan semata bahwa sebuah bank aman dan dapat dipercaya tidak akan melindungi uang anda atau memberi anda bunga. Anda harus menaruh uang anda di bank. Demikian juga, menurut argumen ini, anda dapat mempercayai semua yang dikatakan Alkitab tentang Kristus, tetapi itu semua tidak ada gunanya. Ilustrasi seperti ini secara konstan digunakan walaupun Alkitab mengatakan, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan diselamatkan.”

Dalam kasus ini setidaknya terdapat kekurangmampuan analisa, pencampuradukkan antara sesuatu yang Alkitabiah dengan sesuatu yang tidak alkitabiah, serta kegagalan membandingkan kedua sisi analogi ini. Titik lemah dari ilustrasi seperti ini adah bahwa ilustrasi seperti ini membandingkan iman dengan tindakan fisik berupa duduk. Kepercayaan akan Kristus tidak memberi kenyamanan kepada tubuh anda yang lelah, karena kepercayaan hanyalah merupakan persetujuan akal budi semata. Anda harus duduk atau menaruh uang di bank. Namun analogi ini tidak tepat. Pembedaan antara kepercayaan bahwa sebuah kursi nyaman dan tindakan untuk duduk di atasnya sudah jelas dapat kita pahami. Namun dalam dunia rohani tidak ada tindakan fisik yang diambil; yang ada hanya tindakan mental. Karena itu tindakan duduk dalam dunia rohani (seandainya memiliki arti sama sekali, harus merujuk kepada sesuatu yang sepenuhnya internal yang berbeda sama sekali dari tindakan mempercayai). Kepercayaan akan kursi dijadikan sesuatu yang mewakili kepercayaan kepada Kristus, dan menurut ilustrasi tersebut kepercayaan kepada Kristus tidak menyelamatkan. Diperlukan hal lain selain kepercayaan akan Kristus. Namun apakah ada sesuatu dalam dunia rohani yang berbeda dari kepercayaan dan yang setara dengan tindakan duduk? Ini adalah pertanyaan yang jarang sekali dijawab, kalaupun seandainya pernah dijawab. Si penginjjil menekankan tindakan duduk namun tidak pernah mengidentikasi analog dari duduk [dalam dunia rohani].

Ketika ilustrasi yang berat sebelah ini tidak digunakan, frase abstrak yang digunakan untuk meremehkan persetujuan intelek sama membingungkannya. Coba renungkan kata-kata dari Dr. Thomas Manton dalam Commentary on the Epistle of James. Dr. Manton adalah seorang Anglikan yang taat, yang – walaupun dia menyukai restorasi Charles II – tetapi merupakan salah satu pendeta yang dikeluarkan dari jabatan berdasarkan Act of Uniformity Tahun 1662. Karyanya Commentary on James merupakan karya yang paling patut diacungi jempol dan sangat bermanfaat. Namun ketika membahas topik yang sedang dibahas saat ini, dia menggunakan frase-frase yang sulit dipahami. Sebagai contoh terkait dengan Yakobus 2:19 dia menulis,

Contoh ini menunjukkan bahwa iman seperti apa yang sedang ditentang; yaitu iman yang hanya merupakan spekulasi dan pengetahuan kosong …. Persetujuan seperti itu, walaupun tidak menyelamatkan, namun sejauh bersifat historis merupakan sesuatu yang baik, sebagai hal yang lazim dan persiapan …. Persetujuan kosong terhadap ajaran satu agama bukanlah iman sejati …. Bukan hanya assensus axiomati…. Dalam iman tidak hanya terdapat persetujuan, tetapi juga penerimaan[1]…. Kepercayaan sebenarnya bukanlah semata tindakan memahami, namun karya seluruh hati ….

Sejauh frase-frase dan bagian yang darinya kutipan di atas diambil mengindikasikan keharusan iman yang menghasilkan buah, maka tidak ada satu orang Kristenpun yang akan keberatan sama sekali. Adalah sebuah kecemerlangan kalau Dr. Manton menekankan hal ini sebagai tema Surat Penggembalaan ini. Jika yang dimaksud dengan “spekulasi kosong” dan “iluminasi kosong” berarti pengakuan yang ternyata munafik karena tidak adanya tindakan yang saleh, maka kita setuju bahwa ini jauh sekali dari iman yang menyelamatkan. Pada titik ini Dr. Manton mengamati bahwa frase Yakobus 2:14, “Jika jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman,” dan menyatakan bahwa orang tersebut dapat dianggap sebagai tidak memiliki iman sama sekali. Pengakuannya adalah kemunafikan. Pengakuannya tidak berarti dia mempercayai doktrin kekristenan manapun. Situasi seperti ini sebenarnya adalah pembedaan yang Alkitabiah antara hati dan mulut. Kemunafikan juga merupakan tindakan intelektual. Kemunafikan bertujuan untuk menipu. Namun fakta bahwa kemunafikan merupakan sesuatu yang intelektual tidak berimplikasi bahwa iman sebagai tindakan intelektual adalah sebuah kemunafikan. Jika satu tindakan intelektual tercela, itu tidak berarti bahwa semua tindakan intelektual sama tercelanya.

Seandainya Dr. Manton hanyalah menegur kemunafikan dan menegaskan bahwa iman yang benar diikuti dengan tindakan kasih, maka tidak akan ada yang menentang. Namun walaupun hal tersebut merupakan penekanan utama Dr. Manton, tetapi terdapat isyarat akan adanya sesuatu yang lebih dari itu. Selain penekanan pada perbuatan baik, persetujuan kosong dibandingkan dengan penerimaan. Dia mengatakan, “Dalam iman tidak hanya terdapat persetujuan tetapi juga penerimaan.” Tidak diragukan bahwa penerimaan merujuk kepada tindakan internal bukan eksternal. Tetapi apa itu penerimaan? Apakah itu bersifat intelektual? Jika tidak, maka apakah penerimaan itu bersifat emosional? Ataukah Dr. Manton berpandangan bahwa pengakuan adalah tindakan kehendak? Dr. Manton tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Dia tidak mendefinisikan atau menjelaskan istilah penerimaan. Dia membiarkannya tanpa definisi, sehingga tidak membantu kita memahami apa yang dikatakannya.

Pertanyaan di atas muncul lagi ke permukaan: Jika kepercayaan diwakili oleh percaya bahwa bahwa kursi kuat, maka pertanyaannya adalah apa yang diwakili oleh tindakan yang berbeda dan terpisah yaitu duduk di atas kursi? Memang dalam pengertian tertentu terdapat faktor lain; namun ketika diidentifikasi faktor tersebut ternyata bukan tindakan yang berbeda dan terpisah yang analog dengan duduk di kursi. Faktor tersebut masih berupa tindakan mental menyetujui, walaupun dipandang dari sudut berbeda. Kesulitan dalam semua diskusi ini berasal dari berasal dari asumsi bahwa persetujuan intelektual “kosong” adalah sesuatu yang memungkinkan. Si penginjil yang bersemangat tersebut ingin menambahkan emosi kepada persetujuan intelektual. Mungkinkah bahwa yang perlu ditambahkan tersebut bukan emosi melainkan tindakan kehendak? Namun demikian, penambahan ini sebenarnya bukan penambahan sama sekali, tindakan kehendak “kosong” harus diakui sebagai sama tidak memungkinkannya dengan persetujuan intelek “kosong”. Tidak diragukan bahwa iman kepada Yesus Kristus melibatkan apa yang biasanya dan secara membingungkan disebut sebagai tindakan kehendak. Entah iman membutuhkan emosi atau tidak – dan jika membutuhkan, emosi macam apa yang dibutuhkan – bukanlah pertanyaan penting. Secara definisi emosi itu berubah-ubah; seorang yang emosional cenderung tidak stabil dan hanya sedikit orang yang menganggap hal itu baik; sementara kalau emosi kita terus-menerus berubah, kepercayaan dan kehendak kita yang didasarkan padanya lebih tetap. Jadi dengan demikian, iman melibatkan kehendak.

Namun demikian, ketika digunakan ilustrasi kursi, kesulitan faculty psychology kembali lagi dengan kekuatan penuh dan semuanya runtuh. Tidakkah bahasa yang memasukkan frase seperti “persetujuan intelektual semata” menunjukkan dasarnya yang tidak alkitabiah di dalam faculty psychology yang skizofrenis? Tentu saja pemikiran dan kehendak tidak dapat terjadi secara terpisah. Tidak mungkin ada kemauan/kehendak tanpa pemikiran. Bahkan ilustrasi duduk di kursi membuktikan hal ini. Orang tidak dapat duduk di kursi tanpa dia percaya bahwa ada kursi untuk diduduki. Demikian juga sebaliknya tidak mungkin ada pemikiran tanpa kemauan/kehendak, karena persetujuan intelek itu sendiri merupakan tindakan kehendak.

Jika kaum Skolastik berkeberatan terhadap proposisi terakhir dan mencoba untuk memisahkan kesimpulan silogisme demonstratif dari penerimaan kehendak, maka mereka melakukannya dengan mengabaikan persetujuan sukarela yang diharuskan oleh premis. Kaum Skolastik – dan mungkin kaum Rasionalis abad ketujuh belas – dapat menekankan bahwa logika itu sendiri bukanlah pilihan sukarela karena tidak ada seorangpun yang dapat memilih berpikir tanpanya. Jika orang berpandangan sebaliknya, maka itu adalah sebuah kesalahan tidak disengaja. Dalam pembahasan berikut tentang bahasa akan ditegaskan bahwa logika bukan sesuatu yang stipulatif melainkan sesuatu yang tidak terelakkan dan tidak tergantikan. Namun untuk berargumen bahwa yang tidak terelakkan tidak mungkin merupakan tindakan kehendak, maka harus sebuah teori tentang kehendak bebas akan diasumsikan sebagai benar, dan ajaran tentang kehendak bebas ini akan diruntuhkan pada bagian akhir tulisan ini. Bagaimanapun, pemanfaatan logika membutuhkan perhatian yang sukarela, seperti halnya kepercayaan lain. Orang mungkin dapat memilih untuk tidak berpikir atau jika berpikir, dia harus memilih untuk untuk memberikan perhatian.

Lebih lanjut, bentuk-bentuk logika, tanpa kandungan makna, tidak menyelesaikan masalah iman. Hal berikut terkait dengan proposisi proposisi teologis dan kredo. Keduanya tidak dapat dideduksi dari bentuk-bentuk logika semata. Karena itu, dalam kaitan dengan iman dan akal budi, mungkin dapat ditegaskan bahwa tdak mungkin ada kehendak tanpa intelek dan tidak mungkin ada intelek tanpa kehendak. Keduanya tidak perlu dianggap sebagai dua kemampuan berbeda, atau dua tindakan terpisah. Pandangan umum bahwa tindakan kehendak berbeda dari intelek merupakan sebuah ilusi yang diakibatkan oleh pembatasan perhatian pada tindakan fisik seperti duduk. Namun ketika tindakan itu bukan tindakan fisik, seperti ketika tindakan itu merupakan tindakan mempercayai sebuah proposisi sebagai benar, maka apa yang dianggap dua tindakan tersebut ternyata begitu saling terkait satu dengan yang lain sehingga tidak dapat dibedakan. Tentu saja orang dapat membedakan antara kepercayaan kepada kursi atau matematika dari kepercayaan kepada Kristus; artinya obyek-obyek yang dipikirkan atau dikehendaki dapat dibedakan. Namun tindakan mental tersebut adalah tindakan kehendak sekaligus intelek. Inilah yang merupakan implikasi dari ungkapan bahwa seorang [individu] adalah sebuah unit. Untuk tujuan superfisial tertentu, terutama dalam kaitan dengan pegerakan fisik, dilakukan pembedaan populer dalam hal penekanan. Namun pemisahan seorang menjadi tiga bagian yaitu emosi, intelek, dan kehendak sama-sama memberikan kesan yang salah seperti halnya pembedaan menjadi id, ego, dan superego.

Ada kerumitan lebih lanjut terkait dengan gagasan tentang percaya atau persetujuan yang mendorong adanya antipati terhadap kegiatan intelek. Mereka yang mengatakan bahwa kepercayaan intelektual kepada Kristus tidak memiliki nilai, bukan saja terjatuh ke dalam kesalahan yang diungkap di atas, tetapi juga dalam kasus tertentu gagal untuk membedakan persetujuan dari pemahaman. Ketika mereka menyerang “persetujuan [akal budi] semata” mungkin yang dimaksud – walaupun ini hanyalah tebakan kasar terhadap apa yang orang maksudkan – adalah bahwa keselamatan tidak didapatkan hanya dengan mengetahui proposisi dalam Alkitab dan memahami maknanya. Jelas bahwa ini benar. Banyak orang cerdas mengetahui apa yang dikatakan Alkitab, bahkan jauh lebih paham daripada banyak orang Kristen sendiri. Namun mereka tidak diselamatkan karena mereka bukan orang Kristen. Alasannya adalah bahwa walaupun mereka memahaminya, mereka tidak mempercayainya. Mereka mengetahui apa yang dikatakan Alkitab, tetapi mereka tidak setuju dengannya. Namun karena pemahaman dan kepercayaan merupakan kegiatan intlektual, maka mereka yang berpikir dengan kurang cermat akan menyamakan keduanya. Pembedaan antara mengetahui makna sebuah proposisi dan mempercayainya tampaknya kecil sehingga sebagian pengkhotbah menyimpulkan bahwa “kepercayaan semata” tidak memiliki nilai. Kesimpulan ini ditarik secara salah. Hanya karena satu kegiatan intelek – yaitu memahami makna kata – bukanlah iman, tidak berarti bahwa iman atau kepercayaan bukan masalah intelek.

Eksegesis menunjukkan bahwa iman, yaitu iman Kristen, tidak untuk dibedakan dari kepercayaan. Renungkan Ibrani 11:1. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ini tidak tampak seperti sebuah definisi formal, tetapi harus diterima sebagai pernyataan yang benar tentang iman. Alkitab American Revised Version menterjemahkan “iman adalah jaminan dari hal yang diharapkan, [dan] keyakinan akan hal yang belum terlihat.” Jaminan dan keyakinan adalah kepercayaan, kepercayaan yang kuat, kepercayaan yang sadar dan bersifat seintelektual mungkin. Kepercayaan dan iman bersifat intelektual karena obyeknya adalah proposisi yang bermakna. Obyeknya adalah kebenaran. Semua pahlawan iman yang digambarkan dalam pasal yang diangkat tersebut mempercayai kebenaran intelektual tertentu. Dalam kasus-kasus ini, iman mereka diikuti dengan aksi fisik. Habel mempersembahkan korban dan Nuh membangun bahtera. Namun demikian tindakan fisik yang diambil bukanlah iman itu sendiri. Iman adalah sesuatu yang internal, mental, intelektual; seperti dikatakan Ibrani 11:3, “Karena iman kita mengerti” sesuatu tentang penciptaan dunia. Jelas ini adalah tindakan intelek. Alasan yang dikemukakan untuk mendukung penegasan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” dalam ayat enam adalah, “Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada.” Pemikiran di atas tampaknya sudah cukup untuk menjawab mereka yang merendahkan kegiatan intelek dengan menggunakan ilustrasi kursi.


[1] [Catatan penterjemah: diterjemahkan dari kata consent]

Diterjemahkan Ma Kuru dari Religion, Reason, and Revelation oleh Gordon H. Clark

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Iman, Religion Reason and Revelation, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s