Teologi Berbeda Tetapi Pandangan Tentang Logika Sama

Berikut adalah kutipan dua pengalaman berbeda. Yang pertama pengalaman dengan seorang Kristen (teolog) dan yang lainnya dengan Kratylus. Walaupun si Kristen memiliki pandangan yang berbeda tentang teologi, tetapi tampaknya pandangan mereka tentang logika mirip (kalau tidak dapat dikatakan sama).:

Ronald Nash menulis, “Saya pernah bertanya kepada Van Til apakah ketika manusia mengetahui bahwa 1 tambah 1 sama dengan 2, maka yang diketahui manusia itu identik dengan yang diketahui Allah. Menurut saya pertanyaan tersebut tidak bermasalah. Satu-satunnya jawaban Van Til adalah senyum, mengangkat bahunya, dan menyatakan bahwa pertanyaan tersebut tidak patut diajukan dalam pengertian bahwa pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab. Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab karena setiap jawaban yang diajukan mengasumsikan sesuatu yang tidak mungkin benar bagi Van Til, yaitu, bahwa hukum-hukum seperti yang ditemukan dalam matematika dan logika berlaku dalam bidang di luar batas-batas yang dikemukakan Dooyeweerd.

Ada kesejajaran antara pengalaman Ronald Nash dengan van Till di atas dan antara pengalaman Plato dengan murid Heraclitus seperti dikutip dari tulisan Gordon H. Clark di bawah:

“Plato berkomentar pedas bahwa penganut ajaran Heraklitus mempraktekkan prinsipnya melalui pandangan mereka yang terus berubah. Mereka tidak pernah menjawab  pertanyaan yang sama dengan cara yang sama dua kali. Pikiran mereka terus mengalir seperti sungai. Namun Kratylus, mampu menghindari celaan Plato. Setiap kali diajukan pertanyaan, apapun pertanyaannya, dia selalu memberikan jawaban yang sama. Namun jawabannya bukan dalam bentuk kata, tetapi lambaian tangan.”

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika. Tandai permalink.

2 Balasan ke Teologi Berbeda Tetapi Pandangan Tentang Logika Sama

  1. Kornelius Logo berkata:

    Logika theologi menurut saya, kelogisan akan Tuhan berada pada jarak yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, maka manusia bertindak atas nama Tuhan namun Tuhan tidak merasakannya, manusia memuji dan atau mencela Tuhan namun Tuhan sendiri tidak merasa dipuji atau dihina, atau dengan kata lain Tuhan dalam keesaanNya berada diluar batas kemanusiaan sehingga, manusia tidak ada alasan untuk mengatakan atau melakukan tindkan kekerasan atas nama Tuhan.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s