Sorites dan Cerita Detektif

Anda merasa bahwa logika itu tidak menarik dan cerita lebih menarik? Mungkin anda harus berhati-hati karena cerita menarik yang anda baca atau tonton di film didasari oleh serangkaian argumen. Untuk memahami yang saya katakan, saya tampilkan terjemahan tulisan Gordon H. Clark tentang Sorites (argumen yang terdiri dari tiga atau lebih silogisme) dan kisah detektif.

Jika penarikan kesimpulan langsung terdiri dari satu premis, silogisme terdiri dari dua premis, maka sorites terdiri dari tiga atau lebih premis. Sebenarnya sorites adalah tidaklah penting secara sistematis karena sorites sebenarnya hanyalah serangkain silogisme yang digabung menjadi satu. Salah satu contoh adalah A(ab) A(bc) A(cd) A(de) < A(ae).

Kalau dipecah-pecah, maka sorites tersebut sebenarnya tersusun oleh silogisme berikut:

A(ab) A(bc) < A(ac)
A(ac) A(cd) < A(ad)
A(ad) A(de) < A(ae)

Walaupun hal seperti ini secara logis tidak terlalu menarik, tetapi dapat digunakan untuk menulis cerita detektif yang luar biasa. Sebagai ilustrasi kita akan mengangkat salah satu tulisan Lewis Carrol, pengarang Alice in the Wonderland, yang nama aslinya adalah Lutwidge Dodgson. Lewis adalah seorang matematikawan dan penikmat teka-teki. Dia menyusun banyak sorites, tetapi tidak mengungkap kesimpulannya. Di bawah ini adalah salah satu contoh:

Bayi adalah orang yang tidak logis
Tidak ada orang yang diabaikan yang dapat mengurus buaya
Orang yang tidak logis adalah orang yang diabaikan

Lalu apa kesimpulannya? Perhatikan bahwa tidak logis terdapat dalam premis satu dan tiga. Karena itu argumen tersebut dapat disusun sebagai:

Semua orang yang tidak logis adalah orang yang diabaikan
Semua bayi adalah orang yang tidak logis.
Karena itu, bayi adalah orang yang diabaikan

Perhatikan bahwa diabaikan terdapat dalam premis dua dan kesimpulan. Karena itu kita dapat menyusun silogisme:

Tidak ada orang yang diabaikan yang dapat mengurus buaya.
Semua bayi adalah orang yang diabaikan
Karena itu, tidak ada bayi yang dapat mengurus buaya.

………………

Berikut adalah resep untuk menyusun sebuah kisah detektif menarik.

Sebelum anda menulis cerita, susun sebuah sorites, dimana setiap premis merupakan petunjuk sehingga kalau digabung, maka si pembunuh akan teridentifikasi. Buatlah urutan premis yang acak. Kemudian masing-masing premis dituangkan ke dalam satu bab. Tentu saja anda menyertakan informasi rinci yang tidak relevan dengan kisah utama untuk mengacaukan urutan. Jarang sekali pembaca yang mampu menyatukan cerita anda, [dan mungkin saja] buku anda akan laku.

Diterjemahkan Ma Kuru dari buku Logic, karya Gordon H. Clark, Halaman 86 dan 88

_________________________________________________________________

Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh di tautan ini.
Sampel buku ini dapat diunduh dari tautan ini.
Cara mendapatkan buku ini dapat dibaca pada tautan ini.

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Logic, Logika, Sorites. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s