Kesalahapahaman Tentang Argumen Deduktif

1de31-confusedcathuhDi bawah ini adalah kutipan dari tulisan Dr. Juliansyah Noor, SE, MM, dalam bukunya berjudul Metodologi Penelitian, halaman 17.

“Selanjutnya, Jujun S. Sumantri mengatakan, ketepatan penarikan kesimpulan tersebut tergantung pada tiga hal yaitu: (1) kebenaran premis mayor; (2) kebenaran premis minor; dan (3) keabsahan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, apabila salah satu dari ketiga unsur ini  tidak memenuhi persyaratan, dengan kata lain, jika semua premis benar dan pengambilan kesimpulan tidak salah, maka proses deduksi valid.”

Konteks kutipan tersebut adalah pembahasan tentang argumen/penalaran deduktif.

Kutipan di atas saya muat di status Facebook saya dan meminta komentar dari teman-teman di media tersebut tentang kesalahan dalam kutipan tersebut. Teman Rony menanggapi kutipan tersebut tanpa memperhatikan hubungan antara frasa ketepatan penarikan kesimpulan dan validitas. Teman Rony memperhatikan bagian kedua dari tulisan tersebut. Tanggapan teman Rony adalah sebagai berikut:

“Letakknya kesalahannya adalah: Mencampuradukkan pengertian dari properti Soundness dan Validity.

Validitas tidak mempersoalkan kebenaran premis tetapi apakah ide atau gagasan yang ada dalam kesimpulan merupakan satu-satunya ide/gagasan yang tak terhindarkan dari premis.

Soundness mempersoalkan kebenaran premis dalam argumen yang valid. Sehingga, hanya membuang-buang waktu dalam diskusi untuk mengecek properti soundness bila belum beres urusan validitas.”

Saya setuju dengan tanggapan tersebut. Kutipan tulisan ini memang mencampur-adukkan antara validitas dan soundness, padahal keduanya adalah dua konsep berbeda. Validitas hanya memperhatikan hubungan antara premis dan kesimpulan; apakah kesimpulan merupakan proposisi yang diharuskan oleh premis. Sebuah argumen valid tidak harus memiliki premis yang benar. Contoh argumen yang memiliki premis yang salah tetapi valid adalah sebagai berikut:

P1. Semua manusia adalah botol
P2. Ma Kuru adalah manusia.
Kesimpulan: Ma Kuru adalah botol

atau

A(mb) A(km) < A(kb)

Mood AAA, Figur 1

Dalam memahami sebuah argumen, yang perlu dilihat terlebih dahulu adalah validitasnya kemudian kebenaran premis. Kalau argumen valid dan premis benar, maka otomatis kesimpulanpun benar. Argumen valid yang memiliki premis yang benar adalah argumen yang sound (valid dengan premis benar).

Namun demikian dalam memahami kutipan di atas ada hal lain yang patut diperhatikan yaitu apakah ketepatan penarikan kesimpulan sama dengan validitas? Tampaknya dalam kutipan di atas memang keduanya identik karena pada bagian awal Noor mengutip Sumantri yang berbicara tentang ketepatan penarikan kesimpulan dan dari kutipan Sumantri, Noor mengambil kesimpulan tentang validitas. Walaupun demikian dalam komentarnya, om Victor tampaknya masih menyisakan keraguan seperti terlihat dari penggunaan formulasi ’jika.. maka..’ dalam komentarnya:

” kalo “ketepatan penarikan kesimpulan” yg dimaksud beliau adalah soal validitas argumen, maka beta setuju dg ama Rony, ini bkn soal nilai kebenaran dr premis2.”

Dari tulisan tersebut tampaknya memang perlu diragukan kalau yang dimaksud Sumantri dengan ketepatan penarikan kesimpulan adalah validitas. Tampaknya dari tulisan Sumantri tentang  ketepatan penarikan kesimpulan, Noor menyimpulkan bahwa ketepatan penarikan kesimpulan merujuk kepada validitas. Dengan demikian tampaknya bukan saja Noor mencampuradukkan konsep validitas dengan soundness, tetapi dia juga salah paham terhadap tulisan Sumantri.

Seandainya-pun Noor lolos dari kesimpulan bahwa dia menyalahartikan Sumantri, maka Noor kurang belajar sehingga kesalahan Sumantri-pun diulangi Noor tanpa koreksi.

Sekali lagi seperti yang saya katakan dalam kritik saya terhadap tulisan Noor sebelumnya, kritikan ini jangan dianggap sebagai kritikan terhadap bagian-bagian lain dari tulisan Noor yang terkait dengan metodologi penelitian.

Update:

  1. Terjemahan tulisan tentang validitas dapat dilihat di link ini.
  2. Noor punya kebebasan untuk menggunakan definisi stipulatif dari kata valid. Tetapi mengingat dalam dunia akademi/sains, istilah valid atau validitas digunakan dengan makna yang berbeda dari makna yang digunakan Noor, dia tentunya diharapkan untuk tunduk pada konvensi tersebut.
  3. Masih ada kesalahan-kesalahan kecil lain yang dapat dikritik dari tulisan tersebut bagi mereka yang jeli.
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Juliansyah Noor, Komentari Buku, Logika, Validitas. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s