Clark, Van Til, dan “Inkomprehensibilitas/Tidak Dapat Dipahaminya Allah”

Di bawah ini adalah terjemahan tulisan tentang perbedaan pandangan Van Till dan Clark mengenai Inkomprehensibilitas Allah oleh teman Dominirsep Ovidius Dodo

Cornelius van Til

Meskipun diskusi tersebut dikenal sebagai perdebatan tentang “inkomprehensibilitas/tidak dapat dipahaminya Allah”, namun baik Gordon Clark maupun Cornelius Van Til setuju bahwa Allah tidak dapat dipahami. Yang dimaksud adalah bahwa tidak ada seorangpun yang bisa, atau pernah bisa, mengenal Allah sepenuhnya. Inti sebenarnya dari perdebatan ini adalah mengenai “isi dari pengetahuan manusia” dan “isi dari pengetahuan Tuhan”. Apakah ada satu titik kesamaan/univokal antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia? Bagaimana pengetahuan dalam pikiran manusia terkait dengan pengetahuan dalam pikiran Tuhan?

Van Til ingin menekankan apa yang disebutnya sebagai “Perbedaan Pencipta – Ciptaan”. Dalam pandangan Van Til, Allah adalah sesuatu yang sepenuhnya berbeda dari manusia dan manusia hanya dapat mengetahui apa yang Tuhan tahu secara analogi yaitu dengan berpikir mengikuti Allah. Dia menyatakan bahwa posisi Clark mengabaikan “Perbedaan Pencipta – Ciptaan”.

clark1945Namun demikian, Clark membedakan antara Allah dan manusia di area pengetahuan; yaitu Tuhan mengetahui secara intuitif dan manusia mengetaui secara diskursif. Tuhan tahu semuanya sekaligus dan selalu demikian, sedangkan pikiran manusia harus bekerja keras dan hanya dapat memiliki satu pikiran pada satu saat tertentu. Adalah cara Allah mengetahui “sesuatu” yang berbeda dari cara manusia untuk mengetahui “sesuatu.” Pengetahuan itu sendiri dapat dibagikan [dengan manusia] ketika diwahyukan oleh Allah kepada manusia. Pengetahuan inilah yang menghubungkan manusia dan Allah yaitu kita dapat mengetahui proposisi-proposisi yang Dia ungkapkan kepada kita. Jika kita mengetahui sesuatu dengan benar, Tuhan juga tahu hal tersebut. Jika ide/gagasan kita bukan ide/gagasan Tuhan maka sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Dengan mengklaim pengetahuan manusia dan pengetahuan Allah adalah sesuatu yang bersifat analogi, maka Van Til sedang membuat sebuah kesalahan kritis. Sebuah analogi digunakan untuk menunjukkan kesamaan antara dua hal. Tapi, bagi Van Til tidak ada kesamaan atau kemiripan antara pengetahuan kita dan pengetahuan Allah. Dengan mengklaim bahwa pengetahuan kita berbeda secara kualitas dengan pengetahuan Tuhan –  saya harus setuju dengan Clark di sini – maka Van Till menghasilkan “skeptisisme mutlak.” Dalam tulisan Van Till saya tidak menemukan apa yang dimaksud dengan perbedaan “kualitas”.

Penulis biografi Van Til, bernama Muether, juga mengatakan bahwa Clark tidak membedakan antara keberadaan Allah dan keberadaan manusia:

Van Til menegaskan kesamaan keberadaan dan pengetahuan manusia sebagai pembawa citra Allah, sementara menyangkal kesamaan mereka pada setiap titik. Sedangkan Gordon Clark, karena tidak mentolerir gagasan tentang misteri, melakukan kesalahan yang memungkinkan [kedua] lingkaran  tersebut saling menyentuh.[i]

Pernyataan ini salah. Keberadaan atau substansi Tuhan, sepenuhnya berbeda dengan manusia. Di sini Muether telah menggabungkan dua ide yakni keberadaan dan pengetahuan. Adalah benar bahwa “lingkaran keberadaan” manusia dan “lingkaran keberadaan’ Allah tidak saling beririsan, tapi lingkaran pengetahuan antara keduanya saling beririsan. Meskipun demikian, penggambaran ini lemah/rapuh karena pengetahuan Allah tak terbatas, dan tidak akan ada lingkaran dapat digambarkan melingkupi pengetahuan tersebut.

Allah berbeda dari manusia dalam hal keberadaan-Nya. Namun ketika pengetahuan kita benar, maka pengetahuan itu identik dengan pengetahuan yang dimiliki Allah. Kita tidak akan bisa memiliki semua pengetahuan seperti yang ada dalam pikiran Allah karena pikiran-Nya tidak terbatas. Allah mengungkapkan pengetahuan untuk kita, tetapi tidak cukup banyak waktu bagi Allah untuk mengungkapkan semua pengetahuan-Nya yang tak terbatas itu pada kita. Tuhan mengetahui baik segala sesuatu maupun hubungan antara segala sesuatu, sedangkan manusia tidak.

Ada orang yang mungkin akan menanggapi dengan mengatakan, “Jalan Tuhan bukanlah jalan kita, dan pikirannya bukanlah pikiran kita”, dan itu memang benar. Tapi ini adalah perbedaan antara bagaimana kita bertindak dan bagaimana Allah bertindak pada pengetahuan. Kita tidak pernah memiliki pengetahuan yang cukup untuk melakukan hal-hal secara benar, karena jalan kita dan pikiran kita tidak kudus seperti Allah. Tapi Allah, dalam rencana indah-Nya, telah menyingkapkan pengetahuan kepada kita dalam Kitab Suci, tanpanya kita tidak punya apapun.

Tulisan asli didapatkan dari sumber ini.


[i] John Muether, Cornelius Van Til, Reformed Apologist and Churchman, P&R Publishing. Halaman 116

Pos ini dipublikasikan di Cornelius van Til, Filosofi, Gordon H. Clark, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s