Lingkungan Moral dan Mental

Di bawah ini adalah terjemahan kutipan William Dembski. Tanpa harus setuju dengan semua yang dikatakan Dembski, tetapi ada hal yang dapat dipelajari.🙂

Kita bukan hanya hidup dalam lingkungan fisik tetapi juga lingkungan moral. Profesor filsafat Cambridge bernama Simon Blackburn mendefinisikan lingkungan moral kita sebagai “iklim gagasan-gagasan di sekitar kita tentang bagaimana kita hidup.”[1] Walaupun kita sadar akan lingkungan fisik kita, kita seringkali tidak sadar akan lingkungan moral kita. Namun demikian, lingkungan moral kita selalu sangat mendalam pengaruhnya. Blackburn mencatat,

william-dembski

Dembski

Lingkungan moral ini menentukan apa yang kita dapat terima dan tidak dapat terima, yang kita kagumi dan kita anggap hina. Lingkungan ini menentukan konsepsi kita tentang kapan sesuatu berjalan dengan baik dan kapan berjalan kurang baik. Lingkungan ini menentukan konsepsi kita tentang apa yang merupakan hak kita dan apa yang merupakan kewajiban kita ketika kita berelasi dengan orang lain. Lingkungan moral membentuk tanggapan emosional kita, menentukan apa yang seharusnya menyebabkan kita bangga atau malu atau marah atau berterima kasih atau apa yang dapat ditelorer dan tidak dapat ditolerir.[2]

Lingkungan moral Blackburn ini masuk dalam lingkungan lebih luas lagi yaitu—lingkungan mental kita. Lingkungan mental kita merupakan iklim gagasan yang dengannya kita memaknai dunia. Di dalamnya termasuk lingkungan moral karena gagasan kita tentang bagaimana harusnya hidup merupakan cara utama kita memaknai dunia. Namun lingkungan mental kita lebih luas lagi. Di dalamnya termasuk gagasan kita tentang apa yang ada, apa yang dapat diketahui, dan apa yang kita anggap sebagai bukti bagi kepercayaan kita. Lingkungan ini memberikan nilai kepada hidup dan kerja kita. Di atas itu semua, lingkungan ini menentukan struktur kemasuk-akalan yang kita gunakan—yaitu apa yang menurut kita dapat diterima secara akal atau apa yang tidak masuk akal, dapat dipercaya atau terlalu berlebihan, dapat diterima atau tidak dapat diterima.[3]

Saya menyelesaikan apa yang saya anggap sebagai gelar terakhir saya pada tahun 1988, yaitu gelar doktor di bidang matematika dari University of Chicago. Setelah mendapatkan gelar tersebut, saya memulai fellowship pasca doktoral di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di sana saya terkejut karena kolega-kolega saya dengan mudah beranggapan bahwa Kekristenan adalah masa lampau. Mereka tidak berpandangan bahwa Kekristenan berbahaya dan perlu disingkirkan. Mereka berpendapat bahwa Kekristenan kekurangan vitalitas intelektual dan perlu diabaikan. Dalam pandangan mereka, kekalahan kekristenan merupakan fakta lama – perang terhadap Kekristenan telah berakhir dan Kekristenan kalah.

Dalam lingkungan mental kolega-kolega saya di MIT, Kekristenan tidak memiliki nilai sama sekali. Sebagai seorang Kristen yang saat itu percaya (dan masih percaya) bahwa wahyu Allah dalam Yesus Kristus adalah kebenaran puncak kemanusiaan, saya dapati bahwa peremehan terhadap kekristenan seperti ini mengganggu. Bagaimana mungkin kolege-kolega saya begitu mudahnya menolak iman Kristen? Saya harus mencari akar dari pertanyaan ini dan meninggalkan karier yang menjanjikan sebagai matematikawan peneliti lalu mempelajari filsafat dan teologi lebih lanjut.

Telah banyak yang terjadi dalam budaya kita selam 20 tahun terakhir setelah saya berada di MIT. Patut dicatat bahwa gerakan Intelligent Design telah bertumbuh secara internasional dan menekan kaum intelek di Barat untuk secara serius mempertimbangkan klaim bahwa kehidupan dan kosmos adalah produk dari inteligensia. Benar bahwa banyak dari antara mereka yang secara empatis menolak klaim tersebut. Namun bahwa mereka perlu menantang dan membantahnya mengindikasikan bahwa lingkungan mental kita tidak lagi terstagnasi dalam pandangan materialisme ateistik yang telah mendominasi kehidupan intelektual di barat. Pandangan ateistik tersebut dianggap mendapat dukungan sains, dan merupakan penghalang di dunia Barat untuk secara serius mempertimbangkan Kekristenan.[4] Dengan dipertanyakannya materialisme ateistik, Kekristenan siap didiskusikan lagi.

Tidak berarti bahwa diskusi tersebut bersahabat atau bahwa Kekristenan akan diterima secara luas di tempat-tempat seperti MIT. Namun demikian, bukan lagi mengabaikan Kekristenan seperti 20 tahun lalu, banyak intelek Barat memperlakukannya dengan penghinaan terbuka dan menulis panjang lebar untuk membantahnya. Namun demikian, ini adalah sebuah kemajuan. Yang mati akan diabaikan dan dilupakan. Yang hidup akan ditertawakan dan dijelekkan. Karena itu saya sangat bersyukur atas adanya buku-buku dari “neo-ateis” seperti buku Richard Dawkins The God Delusion, buku Christopher Hitchens god Is Not Great (Hitchens menegaskan bahwa tidak perlu menggunakan huruf capital ketika merujuk kepada sesuatu yang ilahi), dan buku Sam Harris The End of Faith.[5] Buku-buku ini tidak perlu ditulis seandainya Kekristenan dan teisme pada umumnya merupakan isu yang sudah mati.[6]

Serangan pertama kaum ‘neo-ateist’ menantang kepercayaan religius khususnya kekristenan adalah dengan menegaskan sains sebagai pembantah agama. Sains dianggap sebagai telah menunjukkan bahwa Tuhan atau inteligensia atau tujuan di balik alam semesta merupakan gagasan yang tidak hanya berlebihan tetapi juga penghambat berkembangnya akal budi. Namun petunjuk-petunjuk yang kita punya menunjukkan yang sebaliknya. Argumen mendukung pandangan bahwa ada inteligensia yang menghasilkan kehidupan dan alam semesta, memiliki dasar yang kokoh, seperti dapat dilihat dari buku-buku The Design of Life dan The Privileged Planet.[7] Faktanya kaum neo-ateis tidak begitu saja dapat membantah kekristenan hanya dengan merujuk kepada sains. Memang benar bahwa bantahan mereka terhadap Kekristenan mempunyai referensi kepada sains. Namun penolakan mereka lebih merupakan sesuatu yang ritualistik, dimana “sains” digunakan sebagai kata-kata sulap (seperti halnya “abracadabra”). Sedikit sekali sains yang terkandung dalam bantahan yang diberikan.

Alih-alih menyajikan petunjuk ilmiah yang mendukung kebenaran (atau kemungkinan masuk akalnya) ateisme, mereka mencoba berteori secara moral tentang bagaimana lebih baiknya dunia ini seandainya ateisme benar. Jauh dari mendemonstrasikan Tuhan tidak ada, kaum neo ateis hanya menunjukkan bagaimana bersemangatnya mereka menginginkan Tuhan tidak ada.[8] Tuhan kekristenan menurut mereka merupakan hal yang terburuk yang pernah ada.

[1]Simon Blackburn, Being Good: A Short Introduction to Ethics (Oxford: Oxford University Press, 2001), 1.
[2] ibid
[3] Lingkungan mental berbeda dari pandangan dunia worldview. Lingkungan mental berlaku secara umum dalam satu kelompok, masyarakat, atau budaya. Sebaliknya, sebuah pandangan dunia pertama-tama merupakan sesuatu yang dipegang secara individu, walaupun dapat dibagikan dan dapat dipegang oleh banyak orang. Karena itu kita dapat berbicara tentang “Pandangan dunia Kristen.” Pandangan dunia anda merupakan serangkaian kepercayaan yang anda pegang tentang seperti apa dunia ini. Dengan demikian, di sini tidak dibedakan antara kepercayaan yang dipegang secara ketat dan tidak ketat. Sebaliknya lingkungan mental menekankan struktur kognitif dan moral yang terdalam yang dengannya kita memaknai hidup. Karena itu lingkungan mental cenderung lebih berpengaruh daripada pandangan dunia. Orang Kristen yang lahir kembali misalnya percaya bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci. Namun demikian peceraian di antara mereka sama saja tingginya dengan golongan lain dalam budaya tertentu. Mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu stigma. Banyaknya penerimaan akan perceraian dalam budaya kita, bahkan di antara orang Kristen yang lahir baru, kurang mencerminkan pandangan dunia kita tetapi lebih mencerminkan lingkungan mental kita. Informasi tentang tingkat perceraian di antara orang Kristen Lahir Baru dapat dilihat di The Barna Group, “Born Again Christians Just As Likely to Divorce As Are Non-Christians,” September 8, 2004, tersedia secara online di http://www.barna.org/‌FlexPage.aspx?Page=BarnaUpdateNarrow&BarnaUpdateID=170 (di akses terakhir 13 February 2009).
[4] Kritikan terhadap bagaimana sains disalah gunakan untuk mendukung ateisme  dapat dilihat dalam tulisan John Lennox, God’s Undertaker: Has Science Buried God? (Oxford: Lion Hudson, 2007).
[5]Richard Dawkins, The God Delusion (New York: Houghton Mifflin, 2006); Christopher Hitchens, god Is Not Great: How Religion Poisons Everything (New York: Hachette, 2007); Sam Harris, The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason (New York: W. W. Norton, 2004).
[6]Kaum neo-ateis punya banyak kesalahan, tetapi mereka tidak apatis. Menurut psikolog Rollo May, “Kebencian bukanlah lawan dari kasih, tetapi apatilah yag merupakan lawan dari kasih.” Kalau demikian, maka ada kemajuan besar setelah masa studi di MIT. Kutipan dari May berasal dari Love and Will (New York: Norton, 1969), 29
[7]William Dembski dan Jonathan Wells, The Design of Life: Discovering Signs of Intelligence in Biological Systems (Dallas: Foundation for Thought and Ethics, 2008); Guillermo Gonzalez dan Jay W. Richards, The Privileged Planet: How Our Place in the Cosmos Is Designed for Discovery (Washington, DC: Regnery, 2004).
[8] Pemenuhan keinginan bukanlah argumen valid.

 

Diterjemahkan oleh Ma Kuru dari The End of Christianity (versi e-book) tulisan William Dembski

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Terjemahan, William Dembski. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s