Subyek Logis vs Subyek Tata Bahasa

Di bawah ini adalah tulisan yang bersifat teknis tentang proposisi dalam logika.

Subyek Logis versus Subyek Tata Bahasa

0ef06-logic-primer-elihu-carranzaKadang-kadang subyek logis dan subyek tata bahasa perlu dibedakan, jika kita ingin mendapatkan pengertian yang tepat dari satu proposisi. Clark memberikan sebuah contoh: “Kamu selalu melarikan diri saat perdebatan.” Subyek tata bahasanya adalah “kamu,” namun subyek tersebut bukanlah subyek logis. Sebenarnya kata ‘selalu’ yang berarti “setiap kali kamu terlibat dalam perdebatan ” merupakan subyek logisnya. Makna dari proposisi awal adalah “Semua waktu-dimana-kamu-terlibat-dalam-perdebatan adalah waktu-dimana-kamu-melarikan-diri-dari-perdebatan.” Perlakuan yang sama juga dibutuhkan oleh proposisi “Jones selalu memenangkan pertandingan tenis.” Subyek logis adalah apa yang dibahas oleh pernyataan tersebut. Proposisi ini tidak mengatakan bahwa setiap saat (24 jam sehari dan 7 hari seminggu) Jones selalu menang dalam pertandingan tenis. Makna yang lebih masuk akal adalah bahwa Jones memenangkan pertandingan tenis SETIAP KALI dia bermain tenis. Dengan demikian proposisi bakunya adalah “SEMUA WAKTU dimana Jones bermain tenis adalah WAKTU ketika Jones memenangkan pertandingan tenis.” Parameter “waktu” bermanfaat untuk membuat penerjemahan yang seragam menjadi proposisi baku.

Dua contoh tambahan akan dikemukakan di bawah ini:

  1. Smith merugi setiap kali dia sakit.
  2. Apabila tidak ada wahyu/visi, menjadi liarlah rakyat.

Proposisi pertama diterjemahkan menjadi “Semua WAKTU ketika Smith sakit adalah WAKTU ketika Smith merugi.” Proposisi kedua diterjemahkan sebagai “Semua KEADAAN ketika tidak ada wahyu/visi adalah KEADAAN ketika rakyat liar.”

Namun demikian patut dicatat bahwa dalam proposisi “Waktu cepat berlalu,” “waktu” adalah subyek tata bahasa sekaligus subyek logis. (“cepat berlalu” adalah predikat tata bahasa sekaligus predikat logis.) Seluruh gagasan tentang subyek dinyatakan dalam kata benda “waktu,” dan seluruh gagasan tentang predikat dinyatakan oleh kata “cepat berlalu.”

Merubah urutan kata dari proposisi tidak baku menjadi bentuk baku A, E, I, dan O memiliki manfaat lain selain merupakan keharusan bagi penarikan kesimpulan langsung. Memang benar, penerapan efektif dari penentuan validitas penarikan kesimpulan tergantung pada jelas tidaknya makna yang dari proposisi baku. Namun demikian, dalam konteks lain ketika penarikan kesimpulan valid bukan suatu masalah, maka perubahan susunan kata bentuk tidak baku menjadi bentuk baku akan menghindari kesalahpahaman, kesalahan, dan kebingungan. Hal yang perlu diingat adalah: jika anda tidak dapat merubah bentuk tidak baku menjadi bentuk baku, sebenarnya anda tidak paham apa makna dari proposisi tidak baku tersebut, dan apa yang anda tidak dapat kemukakan secara jelas adalah sesuatu yang ambigu atau tidak bermakna.

Diterjemahkan dari buku Elihu Carranza berjudul Logic Premier oleh Ma Kuru, Dhan Makerz, dan Rony Sahaduta

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s