Bukan Karena Karya Diri Sendiri Tetapi Karena Karya Kristus

Hati nurani orang pada abad keenam belas yang dibangkitkan, melarikan diri kepada “kebenaran Allah.”Di sana hati nurani mendapat perlindungan dari kutuk dan dari ketidakmurnian.

Hanya dengan “kebenaran” hati nurani dapat ditenangkan dan tidak ada sesuatu yang tidak ilahi yang dapat mencapai hal kebenaran itu. Pada kayu salib “kebenaran” ditemukan, manusia dan Allah (Yesus Kristus) menyediakannya bagi manusia dan diberikan oleh Allah kepada manusia untuk menenangkan hati nurani dan pembenaran kehidupan. Dengan satu kata tetelestai, “sudah selesai,” jiwa yang penat duduk dan disegarkan seperti dalam tempat peristirahatan surgawi. Suara dari salib tidak memerintah mereka melakukan sesuatu, namun mengajak untuk dipuaskan oleh apa yang telah dilakukan. Jutaan hati nurani yang terluka mendapatkan kesembuhan dan kedamaian.

Kepercayaan akan karya yang telah selesai tersebut yang membawa orang berdosa berkenan kepada Allah, dan kepercayaan tersebut tidak membiarkannya dalam ketidakpastian akan hal ini. Karya pembenaran di Kalvari adalah cara Allah, bukan hanya membawa pengampunan tetapi juga menjaminkan kepastian. Karya tersebut adalah satu-satunya yang sempurna yang dipersembahkan kepada Allah atas nama manusia; dan begitu luar biasanya kesempurnaan ini sehingga dapat digunakan oleh manusia dalam transaksinya dengan Allah seperti karyanya sendiri.

Pengetahuan akan pembenaran yang pasti ini adalah kehidupan dari yang mati bagi banyak orang. Di seluruh Eropa mulai dari Apennines sampai ke Grampians, dari Pyrenees ke Carpathians, terdengar berita gembira bahwa manusia dibenarkan tanpa ada bayaran darinya, dan bahwa Allah menginginkan dia untuk mengetahui bahwa dia telah dibenarkan. Hal itu bukan semata gagasan baru untuk pikiran manusia, tetapi penemuan baru bagi jiwanya (1) tentang sumber sebenarnya dari kesehatan rohaninya, yaitu, tentang hati nuraninya yang didamaikan dengan Allah; dan (2) kesehatan ini akan berlanjut yaitu menjadikan hati nurani tetap tetap berada pada jalur yang tepat.

Buah dari hal ini bukan hanya agama personal yang sehat tetapi juga intelek yang direnovasi dan sastra yang mulia, serta di atas semua itu penyembahan yang murni. Jaman itu adalah jaman kebangkitan. Kubur terbuka dan jemaat yang mati menjadi gereja yang hiduo. Negara-negara yang dipengaruhi kekristenan terbangun dan bangkit. Embun kebangkitan menetes kemana-mana, dan belum pernah gagal].

Selama berabad-abad, Kekristenan terhina, dicengkeram oleh ritus-ritus semi pagan, siap untuk mati – jika tidak dapat dikatakan sudah mati – dengan tangan dan kaki terikat oleh keimaman yang semi-berhala; tidak mampu berbuat apapun bagi dunia yang kedalamnya dia diutus untuk membangkitkan. Sekarang, “kekristenan diangkat dari debu, berdiri tegak dengan hati seorang laki-laki yang diberikan kepadanya.”

Everlasting Righteousness, tulisan Horatius Bonar. Terjemahan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Horatius Bonar, Iman, Injil, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s