Menghindari Sesat Pikir Informal

false dillema

Contoh Sesat Pikir Informal: Dilema Palsu

Seperti yang telah kami sarankan di bagian lain, konteks tidak boleh diabaikan ketika menilai sesat pikir. Demikian juga, konteks tidak boleh diabaikan saat menentukan apakah akan memberi label sesuatu sebagai sesat pikir informal. Sebagai contoh, ketika orang tidak menganggap sebuah ungkapan emosional sebagai suatu kesimpulan yang tak terhindarkan, maka tidak pada tempatnya kita menuduh orang tersebut melakukan sesat pikir informal. Demikian juga, ketika semua pendekatan logis telah gagal untuk meyakinkan seorang penentang yang secara sadar dan sengaja tidak mengindahkan kebenaran dan lebih memilih kesalahan, maka apa lagi yang tersisa selain ad hominem (bukan ad hominem abusif/hinaan yang yang adalah sesat pikir)? Bungkam? Mungkin demikian. Tidak diragukan juga ada saat-saat dimana ada manfaatnya berterus-terang. Bahkan bahasa ad baculum bisa menjadi satu-satunya alternatif; seperti ketika seorang polisi dihadapkan dengan seorang penjahat bersenjata.

Ad hominem harusnya tidak dicampuradukkan dengan ad hominem yang bersifat abusif/menghina. Ad hominem adalah sebuah bentuk argumen yang mengasumsikan proposisi-proposisi yang dipegang orang lain sebagai benar demi menghasilkan kesimpulan yang kontradiktif atau kesimpulan-kesimpulan yang tak dapat diterima oleh orang yang berpegang pada proposisi-proposisi tersebut.

Ada juga keadaan khusus dimana perlu mengemukakan pertanyaan bermuatan pada orang lain. Contoh: “Dimana kamu sembunyikan mayat itu?” atau “Apakah kau sadar hukuman untuk sumpah palsu?” merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat digolongkan sebagai sesat pikir informal, kalau dasarnya penggunaannya sudah kuat. Konteks merupakan hal penting dalam menilai pemakaian bahasa.

Apa yang dapat dilakukan untuk menghindari sesat pikir informal? Harusnya jelas bahwa mengungkap kepada seseorang bahwa dia sedang melakukan penalaran ad hominem abusif/hinaan mungkin tidak memberi efek yang diinginkan yaitu orang tersebut berdiam diri dan merenungkan pemikirannya. Orang tersebut mungkin tidak mengetahui apa yang Anda maksud dengan ad hominem, atau sesat pikir informal. Kalau sudah begitu apa lagi yang dapat dibuat? Namun demikian, identifikasi argumen palsu menggunakan nama yang sesuai adalah sebuah langkah awal yang penting. Langkah kedua membutuhkan definisi yang jelas dari istilah yang bermakna ambigu atau samar-samar. Dalam langkah ketiga, kita boleh mengemukakan contoh yang bertentangan, namun sepenuhnya analog dengan sesat pikir informal yang dikemukakan dimana premis-premisnya jelas-jelas benar dan kesimpulannya jelas-jelas salah.

Sebagai contoh, misalkan seseorang berargumen:

“Jika Presiden Kennedy dibunuh, maka ia mati. Nah, semua orang setuju bahwa Kennedy sungguh telah mati. Oleh karena itu, Presiden Kennedy pasti dibunuh.”

Argumen ini keliru secara formal, karena merupakan Sesat Pikir Menegaskan Konsekuen. Namun demikian, cara lain mendemonstrasikan sesat pikir yang mungkin lebih efektif dibanding menggunakan metode-metode formal, adalah memberikan kontra argumen yang jelas-jelas keliru.

Hal yang diperlukan dalam menyusun sebuah kontra argumen untuk mengeksplisitkan sebuah penalaran keliru adalah (1) proposisi-proposisinya memiliki bentuk yang sama dengan bentuk proposisi asli, (2) formatnya identik dengan proposisi asli,  dan (3) premis-premisnya benar dan kesimpulannya salah.

Sebuah kontra argumen terhadap argumen di atas dapat disusun seperti di bawah ini:

“Anda juga bisa berargumen bahwa Jika President Johnson telah dibunuh, maka ia mati. Nah, Presiden Johnson mati. Oleh karena itu, Presiden Johnson telah dibunuh.”

Jelas, kesimpulan kontra argumen tersebut tidak diharuskan oleh premis-premisnya yang benar. Dengan demikian, kesimpulan argumen yang sebelumnya juga tidak diharuskan oleh premis-premisnya.

Dikutip dari Terjemahan Buku Logic Primer oleh Ma Kuru, Dhan Makers, dan Rony Sahaduta. Terjemahan buku ini akan tersedia dan diterbitkan dalam waktu dekat ini.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Sesat pikir, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s