Ringkasan Tentang Sesat Pikir Informal

Di bawah ini adalah Terjemahan bagian Ringkasan Pelajaran tentang Sesat Pikir Informal dari buku Logic Primer yang diterjemahkan Dhan Makerz, Rony Sahaduta, dan Ma Kuru. Dalam waktu lumayan dekat ini, terjemahan buku ini akan tersedia untuk dibeli.🙂

Ringkasan

6a00e5540ff48a88340112790efe3028a4-800wiSesat pikir informal dapat dipahami sebagai argumentasi palsu. Argumentasi palsu merupakan sub-kelompok dari sebuah kelompok yang lebih besar yang dikenal sebagai propaganda atau bahasa yang digunakan untuk menciptakan pengaruh-pengaruh khusus. Haruslah jelas bahwa ketika hubungan antara premis-premis dan kesimpulan dalam suatu konteks yang diberikan adalah jelas-jelas merupakan hubungan psikologis, namun menyamar sebagai sebuah penarikan kesimpulan yang tak terhindarkan, maka kita sedang berhadapan dengan argumentasi palsu – yaitu sesat pikir informal.

Di dalam bab pendek ini dijelaskan tentang dua kelompok sesat pikir informal yaitu: sesat pikir relevansi dan sesat pikir ambiguitas. Sesat pikir relevansi, sesuai dengan namanya, merupakan argumen yang premis-premisnya tidak relevan secara logis dengan kebenaran dari kesimpulannya. Sebagian dari sesat pikir informal yang lebih umum telah lama dikenal dan tetap menggunakan nama Latinnya. Yang lain diberi nama Latin maupun Inggris, karena kurang terkenal. Sesat pikir jenis ini, sering dirujuk dengan istilah non sequitur. Sesat pikir ambiguitas terjadi dalam perumusan-perumusan argumentasi yang menggunakan kata-kata atau frasa-frasa ambigu. Kelompok sesat pikir ini lebih kecil dan berisi sesat pikir ekuivokasi, amfiboli, aksen, komposisi, dan divisi.

Agar seseorang dapat menghentikan laju sebuah sesat pikir informal, adalah efektif untuk meminta definisi yang jelas dari istilah-istilah pokok yang digunakan. Mengemukakan sebuah pemahaman yang jelas terhadap istilah yang krusial menghindari ketidakjelasan atau kerancuan yang menimbulkan kontroversi yang didasari kesalahpahaman atau kesalahan interpretasi bahasa. Namun demikian, kalaupun sudah ada tindakan pencegahan, tidak ada cara untuk menghilangkan argumentasi-argumentasi palsu sama sekali. Tugas logis memerlukan praktek, kewaspadaan, dan bahasa yang jelas. “…anda harus mengerti apa yang anda maksud. Jika tidak, maka anda tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan.” (Gordon Clark, Logic, edisi HC, hal.21)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Sesat pikir, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s