Serang Orang-Orangan Sawah vs Mengalihkan Pembicaraan

Di bawah ini adalah tulisan kritis sebagai pembelajaran terhadap Sesat Pikir Straw Man dan Red Herring. Tulisan ini diterjemahkan oleh ama Dominirsep Dodo

Bagaimana dengan Thingamajig[1]?
Vincent Cheung

thingamajig-blackAndaikan saya meminta anda melakukan sejumlah pekerjaan sulit untuk saya. Anda bertanya, “Apa bayarannya?” Dan saya menjawab, “Bayaran yang pantas adalah pertemanan, kebahagiaan, dan umur panjang. Jika anda bekerja untuk saya, maka saya akan menjadi teman Anda. Anda akan senang untuk membantu saya. Pekerjaan tersebut terkait dengan pekerjaan angkat berat dalam jumlah banyak, sehingga akan menjadi sarana berlatih yang baik sehingga mengakibatkan anda umur panjang. “Apakah Anda yakin? Atau saat ini anda berpikir bahwa saya sedang menghindari pertanyaan Anda? Jawaban saya mungkin memiliki sedikit makna dalam konteks yang lain, tetapi tidak relevan dengan keprihatinan Anda atau pertanyaan yang anda angkat. Sebaliknya, saya sedang menegaskan makna yang berbeda [dari yang anda maksudkan] terhadap istilah kunci [yang anda gunakan], dan saya sebenarnya sedang membahas makna yang yang saya tegaskan tersebut. Anda mungkin berpikir bahwa saya bodoh atau licik.

Ketika Anda bertanya tentang bayaran, anda mengacu pada uang, yaitu sejumlah dolar AS yang akan ditransfer dari rekening saya kepada rekening anda.  Keprihatinan anda tidak ada hubungannya dengan kekayaan yang sesungguhnya atau makna kehidupan yang lebih dalam. Makna dari istilah tersebut tidak berubah dalam pertanyaan anda.Bahkan kalaupun kamus memiliki beberapa definisi lain dari istilah yang anda gunakan, namun hanya satu makna yang penting dalam konteks ini yaitu makna yang anda gunakan. Jawaban saya terkesan konyol: “Dolar AS yang sebenarnya adalah mencakup pertemanan, kebahagiaan dan umur panjang.” Jelas jawaban ini tidak relevan. Jawaban yang sebenarnya adalah, “Tidak, saya tidak akan membayar Anda.”

Ketika satu kata digunakan dengan dua makna yang berbeda, maka salah satu atau kedua kata bisa diganti, dengan kata-kata maupun dengan ungkapan-ungkapan berbeda yang mewakili makna yang hendak diutarakan melalui kata tersebut. Dengan demikian, kita dapat menuliskan ulang dialog di atas seperti ini: “Berapa dolar AS yang akan anda beri saya?” “Saya akan memberikan $0. Namun, anda akan menerima berbagai jenis penghargaan lain berupa pertemanan, kebahagiaan, dan panjang umur.”Dengan kata lain, jika X digunakan dengan dua makna berbeda, maka selalu memungkinkan untuk menyatakan hal tersebut menggunakan istilah Y dan Z, sebagai ganti X. Dengan demikian, sekarang sudah jauh lebih jelas maknanya. Namun dengan menyatakan seperti itu, saya terpaksa harus mengakui fakta bahwa saya akan memberikan $ 0, meskipun saya dapat mencoba untuk meyakinkan Anda agar tetap bekerja untuk saya dengan menawarkan bentuk motivasi yang lain. Dengan melakukan itu, saya lebih jujur.

Sekarang, perhatikan sesuatu yang kita baca dari buku Teologi Sistematiknya Louis Berkhof. Dia menulis, “Dikatakan bahwa doktrin ketekunan orang-orang kudus tidak konsisten dengan kebebasan manusia. Tapi keberatan ini berasal dari asumsi yang salah bahwa kebebasan sebenarnya berupa kebebasan dari ketidakpedulian, atau kekuatan untuk memilih yang sebaliknya dalam hal moral dan rohani. Namun demikian, itu keliru. Kebebasan yang sejati tepatnya merupakan tekad diri menuju kekudusan. Manusia tidak pernah lebih bebas daripada ketika ia bergerak secara sadar menuju kepada Tuhan. Dan orang Kristen berada dalam kebebasan tersebut melalui kasih karunia Allah.”

Apakah anda bisa melihat bahwa dia tampaknya memang mengatakan sesuatu yang bernilai, tapi sebenarnya menghindari keberatan [yang dikemukakan lawan]? Ini adalah cara pemikiran yang khas dari orang Reformed. Saya telah memilih contoh ini karena kebetulan ada di meja saya, tetapi ada ribuan contoh seperti ini dalam tulisan-tulisan Reformed, dan anda akan dengan mudah menemukan contoh dan membuat analisis sendiri. Pada dasarnya jawaban Berkhof adalah, “Apa yang Anda sebut X, saya maksudkan bukan Y, tapi Z. “Baiklah, tapi bagaimana dengan Y? Keberatannya adalah bahwa X tidak konsisten dengan Y, dan Berkhof mengabaikan keberatan ini. Jika lawan mengklaim bahwa Y adalah penting, dan tanpanya sebuah sistem teologi tidak dapat dipertahankan, maka pembelaan Berkhof gagal total. Lawan mengatakan, “Jika Allah berdaulat, maka manusia tidak memiliki thingamajig.” Jawaban kaum Reformed (seperti di atas) adalah, “Kebebasan sejati merupakan penentuan berdasarkan pilihan sendiri.”Tapi keberatan sebenarnya terkait dengan thingamajig. Sama seperti saya mencoba untuk menipu Anda agar bekerja untuk saya tanpa dibayar, jawaban Reformed (seperti di atas) adalah sebuah kecurangan/penipuan.

Pembahasan awal ini mempersiapkan kita untuk menilai isi sebenarnya dari keberatan tersebut. Kebebasan adalah istilah relatif – yaitu seseorang bebas dari sesuatu. Karena itu, dalam konteks tertentu makna kata tersebut ditentukan oleh dari apa/siapa sebenarnya orang dikatakan bebas. Ketika topiknya adalah kedaulatan ilahi, pemilihan, regenerasi, ketekunan, atau sejenisnya – yaitu, ketika topiknya adalah kendali Allah – kontras yang relevan atau hal yang tampaknya tidak konsisten dengan hal itu, tak pelak adalah kebebasan dari Allah. Jadi pertanyaannya adalah, “Apakah saya memiliki kebebasan untuk berpikir, memilih, dan bertindak, dalam pengertian bahwa keputusan saya selalu ditentukan diri sendiri atau [dengan kata lain] alasan bagi keputusan-keputusan saya selalu sepenuhnya berasal diri saya terlepas dari penentuan eksternal, termasuk ketetapan dan kuasa Allah sama sekali?” Apakah tidak produktif, dan mengakibatkan frustrasi (yang sebenarnya dapat dipahami), kalau mengatakan, “Tapi itu bukan yang Alkitab maksudkan dengan kebebasan”? Anda dapat menyebutnya apa pun yang anda mau, tapi bukan itu yang diminta oleh lawan anda. Kalaupun kata ‘kebebasan’ dihilangkan, Anda masih perlu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.

Hal ini penting karena kebebasan, dalam pengertian yang lebih kuat ini, adalah yang dirujuk oleh lawan kita ketika mereka menggunakan istilah tersebut, dan mereka menganggapnya sebagai dasar yang tidak terhindarkan bagi pertanggungjawaban moral. Meredefinisi kebebasan yang mereka [maksudkan], tidaklah menjawab pertanyaan yang diajukan tersebut. Jawaban khas yang disodorkan adalah kompatibilisme, atau manusia memiliki kekuatan untuk menentukan nasib sendiri. Dia selalu memutuskan sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa paksaan. Kaum reformed [demikian] menyangkal ide lawan tentang kebebasan, dengan mengatakan bahwa ide itu salah definisi dan mustahil, dan sebagai gantinya mereka menawarkan definis sendiri sebagai dasar bagi tanggung jawab moral.

Namun, bahkan komputer sekalipun memiliki kebebasan semacam ini – dan komputer itu selalu berfungsi sesuai dengan programnya, dan tidak pernah dipaksa. Tapi manusia adalah orang yang menulis program, dan yang merancang perangkat keras sehingga komputer akan berfungsi sesuai dengan program tersebut. Lawan kita menanyakan apakah komputer dapat berfungsi tanpa pemrograman apapun, atau dapat membuat programnya sendiri, atau beroperasi di luar atau bahkan melawan pemrogramannya sendiri. Bagi mereka, jawaban kaum Reformed sama saja dengan mengatakan bahwa jika komputer menjalankan suatu virus, maka kita bisa menuntutnya dengan kejahatan dunia maya. Menurut mereka jika seorang pria menulis virus, dan komputer hanya menjalankan itu, maka pria tersebutlah yang harus dituntut atas kejahatan tersebut. Komputer dapat bertanggung jawab hanya jika komputer menulis virus dengan sendirinya atau jika ia melakukan kejahatan yang sama tanpa virus. Jika kita berbicara tentang kedaulatan ilahi, maka kebebasan harus didefinisikan dengan cara seperti ini – yaitu kebebasan dari kendali ilahi. Dan jika kebebasan ini merupakan dasar yang tak terhindarkan bagi tanggung jawab moral, maka lawan kita benar. Entah Tuhan tidak bisa berdaulat, atau manusia tidak dapat bertanggung jawab. Jawaban kaum Reformed (seperti di atas) gagal total dan memalukan.

Jika Anda mengeluh bahwa dalam banyak hal, si pria tidak seperti komputer, maka saya setuju. Tapi hati-hati dengan hal ini, karena mungkin tidak membawa anda kepada posisi yang anda harapkan. Seorang mungkin memprogram si komputer, tapi dia tidak mengendalikan banyak hal tentang dari komputer tersebut. Dia tidak menciptakan banyak bahan yang dipakai untuk membuat komputer, dan dia tidak mengendalikan listrik dan banyak hal lain yang diperlukan untuk beroperasinya komputer tersebut. Jika seorang manusia lebih besar dari komputer, maka Allah tak terbatas lebih besarnya daripada si pembuat program. Jadi, keluhan seperti ini menekankan kendali Allah atas manusia, Analoginya runtuh, tapi keruntuhannya tidak mendukung posisi Reformed ataupun lawan-lawan Reformed.

Hal yang sama berlaku ketika ditanya apakah Adam memiliki kebebasan sebelum kejatuhannya dalam dosa. Menyodorkan doktrin kompatibilisme atau skema “empat keadaan manusia” tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Masalah Adam bebas dari dosa untuk menjauhkan diri dari dosa adalah masalah sekunder. Lawan menanyakan apakah Adam bebas dari Tuhan untuk bisa menjauhkan diri dari dosa. Jika ia bebas dari Tuhan, maka bagaimana Tuhan berdaulat? Jika Adam tak lepas dari Tuhan, maka mengapa dia bertanggung jawab? Jika Tuhan menciptakan Adam jujur/tulus/tidak berdosa, dan Adam bertindak sesuai dengan kodratnya sendiri, maka bagaimana mungkin dia mengalami kejatuhan [ke dalam dosa]? Sejauh ini, lawan benar-benar tepat, dan jawaban Reformed benar-benar salah.

Jawaban yang benar sederhana saja: 1. Menegaskan kedaulatan ilahi, dan bahwa kedaulatan itu lengkap, mencakup segala sesuatu, bahkan pikiran, motif, keinginan, dan tindakan manusia; 2. Menolak kebebasan manusia, dan mengakui bahwa kebebasan manusia tidak konsisten dengan dan dianulir oleh kedaulatan ilahi; 3. Menolak pandangan bahwa kebebasan manusia adalah dasar yang tidak terhindarkan bagi tanggung jawab moral; 4. Menegaskan bahwa kedaulatan ilahi adalah dasar yang benar bagi tanggung jawab moral; yaitu, orang bertanggung jawab karena Allah mengharuskan mereka bertanggungjawab, dan Dia tidak memerlukan jaminan lain selain sifat dan kehendak-Nya; dan 5. Mengakui bahwa definisi keadilan dihasilkan oleh natur, ketetapan dan tindakan Allah, sehingga apapun yang Dia putuskan dan yang timbul, secara definisi sesuai dengan keadilan; yaitu, Dia selalu sesuai dengan diri-Nya sendiri.

Jawaban seperti ini secara langsung membantah ide kebebasan yang dikemukakan oleh mereka yang menolak kedaulatan ilahi serta dengan tegas membantahnya, dan bukannya mengalihkan makna ‘kebebasan’ (yang mereka gunakan) menjadi bermakna yang lain. Kemudian tanggapan ini menantang mereka dengan keprihatinan yang lebih mendalam, yakni tanggung jawab moral, dan menunjukkan bahwa asumsi mereka (bahwa tanggung jawab mempra-anggapkan kebebasan, yaitu kebebasan dari Allah dalam pengertian apapun dan menurut definisi manapun) merupakan sesuatu yang tidak berdasar dan tidak beralasan, serta bertentangan dengan Kitab Suci maupun penalaran.

Apakah kita benar-benar membutuhkan ribuan halaman yang ditulis selama ratusan tahun untuk menyelesaikan ini? Hubungan komputer saya dengan pemrogramannya tidak relevan secara moral. Komputer tersebut adalah milik saya. Saya bisa menggunakan komputer tersebut saya seperti saya menggunakan Frisbee[2], misalnya. Sebagai pemilik, adalah hak saya untuk memperlakukannya dengan cara apapun yang saya inginkan. Jadi Allah adalah pembuat bejana yang dari gumpalan yang sama dapat menciptakan bejana untuk digunakan secara terhormat dan beberapa bejana untuk digunakan secara tidak terhormat. Dan tidak ada yang bisa mengatakan kepadanya, “Mengapa Engkau membuatku seperti ini? ” Itu adalah ringkasan dari teologi, dan akhir dari masalah ini.

Sumber: Tulisan Vincent Cheung

[1] Sesuatu yang sulit untuk diklasifikasi atau yang namanya tidak diketahui atau dilupakan. Penggunaan pertama kali yang diketahuiadalah tahun 1828. Sumber: http://www.merriam-webster.com/dictionary/Thingamajig.
[2]Benda seperti cakram terbang yang dilemparkan oleh seseorang dan kemudian ditangkap oleh lawannya

Pos ini dipublikasikan di Logika, Terjemahan, Vincent Cheung. Tandai permalink.

2 Balasan ke Serang Orang-Orangan Sawah vs Mengalihkan Pembicaraan

  1. Ping balik: Bagaimana dengan “Thingamajig” ? | The Journey

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s