Semua Masalah Sudut Pandang?

Di bawah ini adalah tulisan seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya.

Beberapa saat lalu saya mengamati perbincangan seorang teman dengan temannya yang terkenal sangat percaya diri (sampai pada titik tidak tahu diri) dan merasa diri paham segalanya termasuk filsafat dan logika – katakanlah si L. Saat itu perbincangannya terkait dengan isu hubungan seks bebas. L bercerita tentang apa yang terjadi selama bebarapa hari kegiatan yang difasilitasi lembaga tempat dia kerja katakanlah Lembaga I. Lembaga I sedang meminta proposal dari lembaga-lembaga lokal di daerah tertentu untuk antara lain menangani masalah terkait kesehatan seksual di daerah kerja masing-masing. Tidak hanya Lembaga I tersebut meminta proposal dari lembaga lokal tetapi juga memfasilitasi penyusunannya. Saat fasilitasi, setelah mengidentifikasi bahwa masalah seksual yang terjadi antara lain disebabkan oleh hubungan seks bebas, maka ada lembaga lokal yang mengusulkan agar perlu ada upaya agar hubungan seks bebas dilarang. Hal ini mengejutkan perwakilan Lembaga I yang datang ke daerah tersebut. Menurut perspektif Lembaga I, larang-melarang hubungan seks bebas bukan isu, apalagi kalau itu dilakukan atas persetujuan bersama. Harus dicari cara lain.

Pembicaraan L selanjutnya terkait dengan masalah seks bebas. Saat itu, si teman saya mengatakan kepada L, “Kalau beta masih berpegang pada nilai-nilai tradisional om.” Si L yang terkenal merasa diri paling hebat sendiri di antara orang lain tersebut membalas, “Itu hanya masalah sudut pandang om” seolah-olah teman saya tersebut mengatakan bahwa itu bukan masalah sudut pandang. Karena sepertinya si L tidak paham posisi teman saya tersebut, sekali lagi setelah beberapa saat berbincang, teman saya mengatakan bahwa dia masih berpegang pada nilai-nilai tradisional. Tetapi kembali juga si L mengatakan bahwa semua itu hanya masalah perspektif atau sudut pandang. Karena malas berdiskusi dengan orang seperti L, teman saya tersebut hanya tersenyum dan tidak melanjutkan sedangkan si L terus berbicara.

Menurut teman saya, si L beberapa kali mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung perspektif (sehingga tidak ada yang salah dan benar) dan seringkali mengambil contoh tertentu untuk mendukung penegasan bahwa segala sesuatu tergantung cara pandang atau perspektif. Contoh yang diambil adalah tangan yang diangkat lebih tinggi dari pandangan mata/kepala kemudian diputar searah jarum jam dan perlahan-lahan diturunkan sampai posisi tangan berada di bawah pandangan mata/kepala, misalnya di perut. Pada saat sudah berada di bawah kepala/pandangan mata, putaran yang tadinya searah jarum jam akan menjadi berlawanan dengan jarum jam. Karena memahami kondisi kejiwaan si L yang memang suka dipuji dan didengar, teman saya tersebut hanya tersenyum dan diam.

Karena teman saya tersebut malas menjawab si L dan saya dapati di luar sana ada beberapa orang yang seperti si L yang suka merasa diri paling hebat dan memperlakukan orang lain seolah-olah orang lain tidak tahu apa-apa dan dirinya yang paling tau (dengan kata lain suka mendominasi pembicaraan) ditambah banyak orang yang terkesima dengan kebodohan seperti ini, maka saya memutuskan membahas apa yang dikatakan si L melalui tulisan ini.

Pertama, terkait masalah cara pandang. Teman saya tersebut tidak mempermasalahkan apakah masalah seks bebas itu masalah cara pandang atau tidak. Teman saya tersebut mengakui bahwa itu adalah masalah cara pandang dan dia memiliki cara pandang bahwa seks bebas tidak diperbolehkan. Dia percaya pandangan bahwa seks bebas sebagai bukan sebuah kesalahan juga hanya merupakan sebuah cara pandang. Mengangkat masalah cara pandang seolah-olah masalah cara pandang itu berimplikasi bahwa cara pandang teman saya tersebut salah, tidak relevan sekalipun dengan kesimpulan yang hendak diambil. Masalah apakah satu pandangan itu cara pandang tidak membantah cara pandang tertentu sebagai salah dan mendukung cara pandang lain sebagai benar. Toh pandangan bahwa segala sesuatu itu hanya masalah cara pandang, dalam dirinya sendiri merupakan cara pandang. Karena itu, jika benar bahwa kalau sebuah pandangan hanya masalah cara pandang menjadikan pandangan tersebut salah, maka pandangan yang mengatakan bahwa “segala sesuatu itu hanya masalah cara pandang” juga salah karena pandangan itu hanyalah salah satu cara pandang.

Kedua, menyangkut analogi yang diangkat untuk mendukung pandangan L. Seandainya pun masalah pada poin pertama tadi diabaikan alias kita anggap tidak ada atau kita anggap bahwa si L dapat membantah dengan mudah, namun masih ada masalah dengan contoh yang diangkat L. Contoh yang diangkat sebagai analogi adalah tangan yang kalau berada di atas kepala masih berputar searah jarum jam tetapi kalau terus diturunkan perlahan-lahan ke bawah kepala, maka berubah menjadi berlawanan dengan arah jarum jam. Ada dua masalah dengan analogi ini dan keduanya terkait dengan apakah analogi ini mewakili situasi sebenarnya terkait dengan masalah moralitas.

Masalah pertama dengan analogi ini adalah bahwa ada pilihan analogi di luar sana yang bisa membantah kesimpulan dari analogi yang dikemukakan L dan L tidak membantah analogi-analogi tersebut (kalau dia mau membantah maka dia mungkin harus menuliskan essei 1000 halaman). Dengan kata lain, secara logis argumen L adalah argumen yang tidak valid – apalagi valid. Analogi lain adalah bahwa cara memandang sesuatu secara moral itu adalah seperti memandang sebuah jam. Memang ada banyak cara melihat jam. Bisa dilihat dari bawah, atas, samping dan dari belakang. Tetapi kalau dilihat dari berbagai sudut tersebut, maka fungsi jam menjadi tidak lagi seperti yang dimaksudkan yaitu menunjukkan waktu. Orang bisa saja melihat dari dari atas dan bawah dan samping, tetapi untuk mengetahui jam, maka dia tetap harus menggunakan standar melihat dari depan atau mengasumsikan bahwa cara pandang demikian itulah yang benar. Sekarang menjadi pertanyaan, mengapa si L tidak berpegang pada analogi jam dan memilih berpegang pada analogi seperti tangan yang digerakan perlahan dari atas pandangan mata/kepala ke bawah pandangan mata/kepala? Tidak ada justifikasi. Setidaknya sampai saat ini tidak ada justifikasi terhadap pemilihan tersebut.

Masalah kedua dengan analogi tersebut adalah bahwa L menggunakan standar yang salah. Standarnya adalah kita sudah menetapkan bahwa arah jarum jam akan tetap sama tidak peduli sudut manapun dilihat, entah di atas pandangan mata ataupun di bawah pandangan mata/kepala. Tetapi coba lakukan hal yang sama dengan jam. Angkat jam dan taruh di atas pandangan mata lalu perlahan-lahan diturunkan di bawah pandangan mata, maka pasti akan sama dengan kasus gerakan tangan, yaitu perubahan arah gerak jarum. Padahal arah gerak tidak berubah. Kalau demikian, apakah kita akan menganggap bahwa gerak jarum jam sudah bertentangan dengan arah gerak jarum jam? Tentu saja tidak. Dengan kata lain, yang terjadi dengan gerak tangan dalam analogi yang diangkat L sebenarnya bukan gerak tangan kita yang berubah menjadi berlawanan dengan arah gerak jarum jam. Arah gerak tangan tetap sama dengan arah gerak jarum jam. Yang menjadi masalah adalah standar yang digunakan L salah. Yang paling mungkin disimpulkan dari kasus seperti ini adalah tidak dapat diandalkannya pengalaman inderawi.

Ketiga, analogi yang diangkat oleh L tetap merupakan analogi dan karena semua argumen analogi itu tidak bisa valid tetapi hanya bisa kuat dan lemah, maka argumen si L tetaplah bukan argumen yang valid. Artinya, kalaupun premis yang digunakan benar, maka kesimpulan belum pasti benar.

Akhirnya yang saya ingin katakan adalah, jangan langsung terkesima dengan kemampuan berbicara termasuk kemampuan berbicara di depan umum. Jangan langsung terkesima bahkan kalau sebagian besar orang terkesima. Pahami pandangan orang yang sedang berbicara dan nilai validitas dan kebenarannya. Ada orang di luar sana (saya tidak katakan semua orang demikian) yang memanfaatkan ketidakkritisan kita untuk mendominasi kita dan ‘memaksa’ kita menerima pandangan mereka yang sebenarnya tidak kuat. Dan untuk menjadi kritis, belajar logika, menjadi sangat penting.

 

Update: saya tidak mengatakan bahwa sudut pandang teman saya tersebut tidak bermanfaat. Sudut pandang tersebut bisa saja bermanfaat. Misalnya, dengan berpegang pada pandangan tersebut teman saya mendapat gaji dan bisa menghidupi keluarga. Tetapi kalau dia mengatakan bahwa itu kebenaran, maka saya bilang, tunggu dulu. 

Pos ini dipublikasikan di Analogi, Filosofi, Logika, Uncategorized. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s