Bahasan Singkat Tentang Sesat Pikir Formal

Di bawah ini adalah kutipan terjemahan buku Logic Primer oleh Elihu Carranza. Terjemahan ini sedang diselesaikan oleh Ama Dhan, Ma Kolo, dan Ma Kuru dan dalam waktu dekat akan tersedia untuk dibeli di situs ini.

Sesat Pikir Formal

Sesat pikir merupakan kesalahan dalam berargumenasi. Sesat pikir formal merupakan kesalahan dalam bentuk argumen; sesat pikir ini merupakan bentuk argumen yang tidak valid. Ada dua sesat pikir formal yang terkadang disalahpahami sebagai Modus Ponens dan Modus Tollens. Sesat pikir ini dikenal sebagai (1) Sesat Pikir Menegaskan Konsekuen; dan (2) Sesat Pikir Menyangkali Anteseden

Sesat Pikir Menyangkali Anteseden

Jika sebuah implikasi berfungsi sebagai premis pertama dari sebuah argumen dan penolakan akan antesedennya merupakan premis kedua, maka tidak dapat ditarik kesimpulan dari premis-premis tersebut. Mengklaim bahwa premis-premis itu dapat menghasilkan kesimpulan merupakan sebuah sesat pikir. Dengan demikian, berargumen bahwa karena a berimplikasi b, sedangkan a adalah salah; maka b adalah salah sudah merupakan sebuah sesat pikir menyangkali anteseden.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut: Jika Jane adalah seorang pengeja yang baik, maka dia bisa mengeja kata “silogisme”. Jane bukan pengeja yang baik. Oleh karena itu, Jane tidak bisa mengeja “silogisme”.

Namun demikian, walaupun Jane adalah pengeja yang buruk, dia mungkin secara kebetulan dapat mengeja kata ‘silogisme’.

Sesat Pikir Menegaskan Konsekuen

Jika sebuah implikasi merupakan premis pertama dari sebuah argumen dan penerimaan akan konsekuennya merupakan premis kedua dari argumen tersebut, maka tidak dapat ditarik kesimpulan dari premis-premis tersebut. Dengan demikian, jika kita berargumen bahwa jika a berimplikasi b dan b adalah benar; maka, a adalah benar berarti kita melakukan sesat pikir menegaskan konsekuen.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut: Jika laki-laki itu jujur, dia tidak akan berbohong. Dia tidak akan berbohong. Oleh karena itu, laki-laki itu jujur.

(Pada Bab selanjutnya ada bagian yang membahas ketidakvalidan/invaliditas dari sesat Pikir Menegaskan Konsekuen dan Sesat Pikir Menolak Anteseden lewat Analisis Tabel Kebenaran)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Sesat pikir, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s