The Design Matrix: A Consilience of Clues – Ringkasan Bab 2

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya di sini:

Sumber: Amazon.com

Dalam bab 2, penulis mengungkap tiga hal penting. Pertama, dia mengungkap kesalahan faktual yang kalangan tertentu di Amerika percayai terkait perdebatan antara teori atau pendapat bahwa alam semesta hasil rancangan (teleologi) dan pandangan atau teori bahwa alam semesta bukan hasil rancangan (non-teleologi). Kedua, penulis menganalisa terhadap kerangka perdebatan antara kedua belah pihak saat ini, serta kelemahan setting perdebatan ini. Ketiga, penulis mengemukakan pandangannya tentang apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kerangka perdebatan tersebut.

Di Amerika saat ini berkembang sebuah teori bahwa alam semesta merupakan hasil rancangan yang cerdas. Teori tersebut disebut Intelligent Design. Namun demikian beberapa kalangan merasa bahwa teori tersebut  hanya akal-akalan dari orang beragama agar agama mereka diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Penulis buku ini menunjukkan bahwa perdebatan teleologi versus non-teleologi, sudah berlangsung setidaknya selama 2500 tahun. Sejak jaman Yunani kuno perdebatan ini sudah melibatkan para filsuf besar jaman tersebut. Para pendukung teori teleologi adalah Socrates, Plato, Diogenes, dan Aristotle. Sedangkan pihak yang mendukung pandangan non teleologi adalah Democritus, Leucippus dari Elea, dan Epicurus dari Samos. Penulis bahkan sampai mengutip tulisan para filsuf tersebut, yang sangat mirip dengan pandangan pendukung kedua teori di abad-abad setelahnya, bahkan sampai saat ini. Sebagai contoh, pandangan Lucretius (tahun 99-55 SM) tentang evolusi (non teleologi) makhluk hidup hampir sama persis dengan pandangan Darwin (abad ke-19). Demikian juga pandangan teleologi Marcus Aurelius (tahun 106 – 43 SM) sangat mirip dengan pandangan William Paley (abad ke-19). Jadi tidak benar bahwa perdebatan teleologi vs non teleologi yang terjadi saat ini hasil kerjaan orang beragama saat ini yang ingin agamanya diajarkan kembali di sekolah-sekolah di Amerika.

Terkait kerangka perdebatan antar pendukung teleologi dan no-teleologi (saat teori non-teleologi sedang dominan), penulis melihat tiga kelemahan: Pertama, saat ini pendukung teori teleologi berada pada posisi tidak menguntungkan karena sejak Darwin format perdebatan yang dipilih adalah, pandangan non-teleologi dianggap sebagai posisi default. Dalam kerangka debat ini para pendukung pandangan teleologi harus menemukan bagian atau fenomena alam semesta yang tidak mungkin merupakan hasil proses acak, baru pandangan mereka diterima sebagai benar.  Sementara itu, para pendukung teori non-teleologi hanya perlu menunjukkan bahwa ada peluang atau kemungkinan alam semesta atau fenomena tersebut terjadi tanpa rancangan. Dengan kata lain, pendukung teori teleologi harus membuktikan sesuatu yang negatif. Hal ini tidak menguntungkan karena pembuktian negatif sangat sulit, bahkan mustahil dilakukan.

Sebagai ilustrasi kemustahilan atau kesulitan pembuktian negatif seperti yang diminta penganut pandangan non teleologi penulis menangangkat sistem peradilan. Kalau si A melaporkan bahwa si B melakukan pembunuhan, bukanlah tugas si B untuk menunjukkan bahwa dia tidak mungkin melakukan pembunuhan, tetapi tugas si A membuktikan bahwa si B memang melakukan pembunuhan. Dalam setting perdebatan antara teleologi dan non teleologi saat ini, justeru si B yang diminta membuktikan bahwa dia tidak mungkin melakukan kejahatan. 

Kelemahan kedua yang diangkat penulis adalah, karena perdebatan terjadi di sekitar apakah fenomena tertentu mungkin dan tidak mungkin terjadi, orang lupa bahwa perdebatan teleologi vs non teleologi sebenarnya adalah perdebatan tentang sejarah. Kita tidak pernah melihat atau mengamati apakah memang alam semesta ini atau aspek-aspeknya merupakan hasil rancangan atau tidak, tetapi kita mau menyimpulkan berdasarkan informasi yang kita punya apakah alam semesta ini hasil rancangan atau tidak.

Kelemahan ketiga yang diangkat penulis dari setting perdebatan teleologi vs non teleologi adalah bahwa diasumsikan bahwa teori evolusi dan teori rancangan dianggap saling meniadakan atau saling kontradiksi. Hubungan kontradiksi berarti bahwa kalau satu pandangan salah, maka pandangan yang merupakan pasangan kontradiksinya pasti benar. Demikian juga sebaliknya. Namun penulis mencatat bahwa teori evolusi dan rancangan tidak kontradiksi. Seorang perancang dapat saja memasukkan proses evolusi dalam rancangannya, alias si perancang mengambil keuntungan dari proses evolusi. Hal ini sudah terbukti misalnya dalam bidang ilmu yang disebut pemuliaan tanaman atau ternak. 

Akhirnya penulis mengemukakan apa yang menurut dia merupakan perbaikan terhadap kerangka perdebatan teleologi vs non teleologi yang berlangsung saat ini. Karena perdebatan ini adalah perdebatan tentang sejarah, maka penulis mengusulkan untuk tidak terpaku pada perdebatan mengenai mungkin dan tidak mungkin evolusi terjadi, tetapi perdebatan tentang apakah memang benar alam semesta atau aspek alam semesta memang hasil evolusi. Para ilmuwan dapat mengikuti strategi yang diambil seperti seorang penyidik kasus kejahatan yang mengumpulkan petunjuk-petunjuk yang mengarah ke sebuah kesimpulan. Antara kemustahilan alam semesta hasil evolusi dan kepastian bahwa alam semesta hasil evolusi, penulis mengusulkan adanya 3 gradasi kemungkinan alam semesta atau aspek alam semesta merupakan hasil evolusi, dimana semakin banyak bukti atau petunjuk pendukung, maka semakin mungkin alam semesta atau aspeknya merupakan hasil evolusi. Gradasi kemungkinan yang diusulkan adalah: Possible (paling rendah level peluangnya), plausible (lebih tinggi peluangnya dari possible), dan probable (paling tinggi level peluangnya).

Kalau ada waktu dan kemauan saya akan tampilkan lagi ringkasan bab berikutnya.

Pos ini dipublikasikan di Mike Gene, Ringkasan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke The Design Matrix: A Consilience of Clues – Ringkasan Bab 2

  1. Ping balik: The Design Matrix: A Consilience of Clues – Ringkasan Bab 1 | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s