Masih Belum Tepat Sasaran!

Bagaimana aku bersalah? Tolong katakan, supaya aku dapat menghindarinya. ~Martin Luther

Beberapa waktu lalu, teman saya (saudara dalam Kristus) Sdr. Marvel mengemukakan keberatan terhadap posisi yang saya pegang bersama dengan beberapa teman. Posisi dimaksud adalah bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman. Kami percaya (dan sudah berulang-ulang menunjukkan dengan argumen) bahwa iman tidak mungkin ada tanpa logika. Itulah makna istilah “prakondisi” yang kami maksudkan, tetapi makna ini sepertinya tidak pernah Saudara Marvel pahami atau mungkin selama ini terlewatkan dari pengamatan Sdr. Marvel. Tulisan ini hendak membahas keberatan terbaru yang diangkat Saudara Marvel.

Ada dua keberatan yang dikemukakan oleh saudara Marvel. Keberatan pertama diangkat dari contoh ayah beliau yang waktu otaknya sudah tidak bekerja normal pun (karena stroke), ayah Saudara Marvel masih meresponi doa yang dinaikkan mendukungnya. Keberatan kedua adalah orang-orang tidak harus paham hukum-hukum logika untuk bisa memahami sesuatu. Contoh yang diambil adalah anak-anak yang masih kecil tetapi bisa tahu paham mana yang benar dan mana yang salah.

Keberatan pertama yang dikemukakan oleh Saudara Marvel adalah sebuah sesat pikir. Dalam keberatan tersebut saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran sehingga kalau otak tidak berfungsi maka pikiran tidak berfungsi. Dalam logika sesat pikir seperti ini dikenal dengan ekuivokasi. Dalam keberatan ini Saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran. Mungkin juga saudara Marvel berpegang pada pandangan filsafat naturalisme/materialisme bahwa pikir adalah hasil reaksi kimia dalam otak, sehingga kalau reaksi-reaksi kimia dalam otak sudah tidak berjalan ‘normal’, maka pikiran menjadi tidak berfungsi normal.

Saya tidak tau seberapa dalam Saudara Marvel menganalisa keterkaitan antar berbagai pandangan Kristen dengan isu yang dibahas di sini. Bukankah dalam perumpamaan tentang si miskin Lazarus dan si orang kaya, kedua orang ini masih berfungsi nalarnya setelah kematian? Ingat ini bukan sekedar kerusakan otak akibat stroke!  Coba tengok jiwa-jiwa yang di sorga yang digambarkan dalam Kitab Wahyu. Orang-orang Kristen yang digambarkan dalam Kitab Wahyu berada di sorga. Dengan kata lain mereka sudah meninggal. Tetapi aneh, dengan otak yang sudah lapuk, mereka masih bisa memuji Tuhan dan menikmati hadirat Tuhan.

Oke, mungkin Saudara Marvel yang beranggapan bahwa mengangkat ayat Alkitab terlalu naif. Mari kita ambil contoh Near Death Experience atau NDE. Orang-orang ini secara klinis sudah meninggal. Tetapi ada kasus-kasus dimana orang-orang bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka atau yang terjadi jauh dari mereka walaupun mereka mati secara klinis. Bayangkan, ini dalam keadaan mati klinis. Jadi tampaknya secara alkitabiah dan secara pengalaman empirispun, tampaknya tidak ada alasan untuk menyamakan otak dengan pikiran. Tetapi saya harus tegaskan bahwa saya angkat pengalaman empiris di sini hanya sebagai reductio ad absurdum terhadap mereka yang merasa bahwa mengangkat ayat Alkitab sebagai terlalu naif.

Mengenai keberatan kedua, bahwa anak-anak atau bayi-bayi kecil tidak tahu formulasi hukum logika misalnya, hukum identitas, tetapi mereka bisa beroperasi memiliki pemahaman. Keberatan ini kembali salah target. Selama ini tidak ada seorangpun dari pihak kami yang mengatakan bahwa orang harus paham formulasi/rumusan hukum logika baru dia bisa berpikir. Saya tidak tahu apa yang menghalangi pikiran saudara Marvel sehingga memahami apa yang kami katakan selama ini sehingga saudara Marvel merasa perlu untuk menyerang pandangan yang bukan pandangan kami seolah-olah itu adalah pandagan kami. Pada dasarnya kami hanya mengatakan bahwa logika adalah prakondisi dari iman. Posisi ini tidak mengharuskan orang yang berpikir dengan dasar hukum-hukum logika itu dapat memformulasikan hukum-hukum logika yang mendasari pemikirannya. Kenyataannya, sudah kami katakan sejak awal bahwa bahkan ada teolog dan filsuf yang anti logika. Tetapi ada kemungkinan Saudara Marvel merasa kami terlalu bodoh sehingga di satu pihak kami percaya bahwa orang yang berpikir harus paham formulasi hukum logika dan di lain pihak kami menegaskan ada fakta yang bertentangan dengan kepercayaan tersebut yaitu ada para teolog yang menolak hukum logika (mungkin karena tidak tahu betapa mendasarnya hukum-hukum tersebut).Yang hendak kami katakan adalah, orang tidak selalu menyadari apa yang menjadi dasar pemikiran di balik ide-idenya yang dia pegang. Itu juga berlaku untuk logika. Orang mungkin tidak bisa memformulasikan hukum-hukum logika, tetapi tanpa hukum-hukum tersebut, mereka tidak akan mungkin bisa berdiskursus/berwacana dan berkomunikasi.

Terlepas dari dua keberatan di atas yang tampaknya tidak ada dasarnya, ada keberatan-keberatan lain yang terdengar sepanjang diskusi. Salah satu keberatan yang paling menonjol adalah pandangan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman, bertentangan dengan ajaran bahwa iman adalah anugerah Allah semata. Keberatan ini sudah dibantah berulang-ulang di masa lampau tetapi tampaknya masih ada saja orang yang menggemari pandangan ini. Karena itu saya akan mengulangi di sini bahwa pandangan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman tidak bertentangan dengan ajaran bahwa iman adalah anugerah Allah semata. Apakah ada petunjuk dalam Alkitab bahwa Allah mengaruniakan kepada sesuatu yang tidak berlogika? Tidak ada sama sekali. Apakah ada batu yang dikaruniakan iman oleh Tuhan? Di Alkitab saya tidak ada. Apakah ada buku yang dikaruniakan iman oleh Tuhan? Sekali lagi tidak ada. Yang ada adalah manusia yang dikaruniakan iman oleh Tuhan. Apakah iman bisa ada tanpa pemahaman? Tidak. Apakah pemahaman bisa ada tanpa logika? Tidak. Lalu kalau demikian, apa salahnya dengan pandangan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman? Mungkin akan ada masalah kalau orang memberikan bagasi makna yang tidak ada dalam pernyataan kami. Dengan kata lain orang hanya akan melihat masalah dengan pandangan kami kalau dia melakukan strawmen. Sekali lagi, saya mohon kepada orang-orang yang tidak setuju dengan saya untuk membedakan antara pemahaman tentang formulasi hukum-hukum logika dengan logika sebagai prakondisi seperti yang saya ungkap di atas. 

Kesimpulan saya? Saya terbuka untuk merubah pandangan saya sejauh ada argumentasi valid yang membantah argumen saya. Keberatan-keberatan yang diangkat di atas tampaknya tidak tepat sasaran. Sampai saat ini saya masih menunggu adanya keberatan yang tepat sasaran dan valid.

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Polemik. Tandai permalink.

3 Balasan ke Masih Belum Tepat Sasaran!

  1. Marvel Ledo berkata:

    Pagi2, bangun tidur dan su dapat “kiriman” dari Ma Kuru. Mau sonde mau terpaksa b musti baca dan tidak ada yang mengejutkan dari tulisan Ma Kuru itu. Ma Kuru cuma mau bela diri sa dan tidak sedang mengajak diskusi.

    Membaca kalimat pertama Ma Kuru yang menjelaskan ulang posisi pikirannya terkait “Logika prakondisi iman” membuat beta merasa bahwa ternyata beta selama ini benar dan tidak sedikitpun strawman-ing dia seperti yang dia tuduhkan. Yang terlihat adalah sebaliknya, argumen2 saya sepertinya tidak dibaca dengan benar, sehingga, jelas pengertian dia terhadap argumen saya menjadi keliru. Dan, inilah yang disebut dengan strawman.

    B jadi pikir, sebenarnya, apa motivasi dia untuk terus membela diri dan menyerang beta selama ini? Demi wisdom atau demi kemuliaan diri sendiri?

    Baiklah, mari kita baca kutipan tulisan Ma Kuru berikut: “… Posisi dimaksud adalah bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman. Kami percaya (dan sudah berulang-ulang menunjukkan dengan argumen) bahwa iman tidak mungkin ada tanpa logika …”

    Sebaliknya, ini adalah tulisan saya yang paling terakhir dalam kesempatan diskusi dengan “murid” Ma Kuru bernama Dhan: “… Klaim ama dan MK adalah “Logika adalah prakondisi iman”. Menurut kamus, Prakondisi bermakna “kondisi yang menjadi landasan bagi suatu proses…” dan oleh karena logika disebut sebagai prakondisi dari iman, maka makna dari kalimat itu adalah berlogika menjadi landasan bagi iman. Sampai di titik ini, beta sonde berbeda dengan ama dan MK dalam diskusi2 sebelumnya, karena, bagi beta ini adalah hal yang wajar dan given alias su built-in di tiap orang yang lahir di dunia. Tuhan selalu sertakan logika sebagai bagian dari paket lengkap yang namanya manusia.” Apa yang ama Dhan mengerti dari kalimat beta ini? Kesan yang beta dapat, ama masih pikir beta sonde setuju dengan pengertian logika prakondisi iman sesuai kamus itu. Atau ama ada pengertian lain? Semoga tidak, karena ini bisa lebih panjang lai ktong pung diskusi. B hela napas memang sa…he..he..he…

    Kalau menurut ama Dhan, logika itu melekat pada manusia, kan? Dan, melekatnya itu pada kemampuan berpikir manusia itu, kan? Atau melekat dimana? Ini penting untuk ama jelaskan supaya b yakin ktong dua ni ada di “halaman yang sama” ko sonde. Bagi beta, jelas logika itu melekat pada kemampuan berpikir manusia. Semua hal yang ada kaitan dengan reasoning, baik itu deduktif maupun induktif, disitu logika ada bermain. Nah, logika sonde berfungsi lai pada seseorang jika kemampuan berpikir seseorang itu sudah hilang. Pada kasus seorang manusia yang mengalami “mati otak” tapi, masih hidup, logika-nya dia sudah tidak berfungsi lagi. Nah, sekarang, bagaimana orang tersebut mendapat anugerah keselamatan dari Tuhan? Jawabannya, oleh iman orang itu diselamatkan.

    Kalau pake sudut pandang ama Dhan, maka, jika logika adalah prakondisi iman, maka orang yang mengalami “mati otak” tapi hidup itu tidak mungkin akan mendapatkan anugerah keselamatan dari Tuhan. Karena, secara konsisten bisa dijelaskan bahwa otak yang sudah mati membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikirnya, dan, karena kemampuan berpikirnya sudah hilang, maka fungsi logikanya juga hilang, dan, karena fungsi logikanya sudah hilang, berarti dia sonde bisa beriman lagi. Sampai disini ama bisa liat bahwa paham ama ini secara tidak langsung mau bilang bahwa semua orang yang “mati otak” atau cacat mental pasti akan masuk neraka. Apakah ini akitabiah menurut ama Dhan?
    …..
    Iya, betul ama Dhan. Kebenaran Allah itu logis. Jadi, kalau ada orang yang sonde pake logikanya dengan benar, maka dia bisa kesulitan untuk mengakomodir anugerah iman dari Allah. Garis bawah pada kata “mengakomodir”. Apa maknanya dari pernyataan beta ini? Maknanya adalah ada iman yang Tuhan anugerahkan ke manusia, dan, ada manusia yang meresponinya. Manusia yang tidak cacat mental dan sehat akan meresponinya pake logika. Sekarang, manusia yang “mati otak” meresponinya pake apa? Manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Dan, firman Tuhan mengatakan bahwa berkomunikasi dengan Tuhan itu manusia musti lakukan dalam roh dan kebenaran. Nah, jika kemampuan berpikir orang yang “mati otak” su hilang, tinggal roh-nya dia yang berkomunikasi dengan Allah. Apakah rohnya dia berkomunikasi dengan Allah pake logika? Sampai saat ini b belum dapat bacaan yang bisa mengkonfirmasi itu. Iman beta mengatakan bahwa jika sudah di tataran roh, maka “logika” yang manusia kenal (3 hukum logika) bisa jadi su lebih lengkap lagi. Kalau ama tanya deng beta itu logika Allah tu apa sa, b sonde tau, tapi, iman beta mengatakan bahwa pasti lebih lengkap dari sekedar itu 3 hukum.

    Pada kalimat beta yang barusan itu merupakan contoh yang baik dari perbedaan logika dengan iman. Logika membutuhkan suatu proses reasoning agar bisa sampe di tujuan, iman su sampe di itu tujuan. Dengan logika, ama Dhan tanya pi beta tunjukkan dan buktikan bahwa logika Allah itu seperti apa; dengan iman, beta nyatakan bahwa logika Allah lebih lengkap dari 3 hukum logika. Itu bedanya.

    Artinya, tanpa logika pada manusia-pun (yang “mati otak”), manusia itu tetap bisa Tuhan anugerahkan iman dan oleh Tuhan manusia itu bisa menerima iman, sehingga manusia itu tetap bisa Tuhan selamatkan. Inilah yang disebut dengan keselamatan itu semata-mata anugerah Allah.
    …..

    Tentang equivokasi, itu b ada singgung Ma Kuru yang dulu pake istilah “prakondisi” untuk mengartikannya sebagai “prasyarat” seperti yang beta nyatakan dalam komen beta berikut:
    “Yang membuat beta berbeda adalah pada diskusi2 yang lalu2 itu adalah: ada mengemuka juga pikiran dari MK bahwa “logika prakondisi iman” dapat juga diartikan sebagai “logika adalah prasyarat iman”. Menurut kamus, Prasyarat bermakna “syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan sesuatu…” dan oleh karena logika juga disebut sebagai prasyarat dari iman, maka makna dari kalimat itu menjadi logika menjadi syarat yang harus dipenuhi sebelum iman ada. Jika ini pengertiannya, maka jelas tidak alkitabiah, karena Tuhan tidak pernah mensyaratkan logika sebagai syarat yang harus dipenuhi sebelum Tuhan menganugerahkan iman kepada seseorang. Nah, untuk hal ini yang b tunggu2 sampe sekarang, sonde ada orang dari ama dong yang bisa kasi tunjuk dia pung ayat Alkitab yang relevan. Jadi, kalo ama ada ayat Alkitab yang bilang logika adalah syarat yang harus dipenuhi sebelum iman ada, na, kasi tunju sa supaya orang dong sonde penasaran.”
    …”

    Yang tidak Ma Kuru jabarkan dalam tulisan pembelaan dirinya itu adalah terkait apakah logika itu melekat pada kemampuan berpikir manusia atau tidak? Memang, ada sih contoh2 sedikit yang Ma Kuru coba singgung tentang cerita2 Alkitab pengalaman orang2 yang telah mati dan masih berkomunikasi layaknya manusia di alam sana. Yah, b cuma mau kasi satu pernyataan terkait ini: Ma Kuru terkesan percaya bahwa logika tidak hanya melekat pada kemampuan berpikir seseorang, tetapi, juga melekat pada roh dari seseorang tersebut. Mungkin, ini akan menjadi topik baru yang bisa kita diskusikan jika dia mau.

    Contoh yang Ma Kuru angkat terkait pengalaman saya dengan orang tua saya dulu, sayang sekali Ma Kuru tidak memahami konteksnya secara menyeluruh. Strawman Ma Kuru terhadap saya terlihat pada pernyataannya yang mengatakan bahwa, “… saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran sehingga kalau otak tidak berfungsi maka otak tidak berfungsi …” Perhatikan bahwa pertama, Ma Kuru sepertinya ada salah ketik disitu. Mungkin, yang dimaksudkan Ma Kuru dalam pernyataannya adalah “… kalau otak tidak berfungsi maka PIKIRAN tidak berfungsi …” Anyway, strawman si Ma Kuru ini fatal, karena dia berpikir saya menyamakan otak dengan pikiran. Padahal tidak sedikitpun pernah terbersit dalam pikiranku saat memberi tanggapan bahwa “otak = pikiran”. Ini adalah interpretasi out of context yang seharusnya hanya menunjukkan betapa si Ma Kuru ini juga manusia yang tidak lepas dari sesat pikir. (padahal dia memberi kesan seolah2 dia sangat pandai akan ilmu ini, sehingga, dia tidak mungkin sesat pikir)

    Mari kita bedah pernyataan si Ma Kuru itu. Pertama, satu hal yang paling mendasar yang seorang ahli logika tidak boleh lupakan adalah hal pengertian. Pada pernyataan Ma Kuru itu ada dua hal yang perlu dijelaskan pengertiannya: 1) otak; 2) pikiran. Menurut kamus, pengertian “otak” ada dua, yakni: yang pertama, benda putih yg lunak terdapat di dl rongga tengkorak yg menjadi pusat saraf; benak — dan, yang kedua, alat berpikir; pikiran; benak. Selanjutnya, pengertian “pikiran” menurut kamus juga ada beberapa, yakni: (1) hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; (2) akal; ingatan; (3) akal (dl arti daya upaya): mendapat ~; (4) angan-angan; gagasan: ~ baru; (5) niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah

    Baiklah, yang jelas sekali yang saya maksudkan dalam pernyataan2 saya dulu saat diskusi dengan mereka adalah kemampuan berpikir seseorang hilang jika fungsi otaknya sudah rusak. Apakah ini menyamakan otak dengan pikiran sesuai definisi diatas? Tentu saja tidak. Pengertian Ma Kuru yang keliru. Dan, inilah yang disebut dengan strawman. Bisa anda lihat, Ma Kuru, anda-pun tidak terbebas dari sesat pikir.

    Mari kita kembali ke topik, logika yang dimaksudkan oleh Ma Kuru dalam diskusi ini adalah 3 hukum logika-nya Aristotle. Dalam, diskusi2 saya sebelumnya, saya jelas sekali menunjukkan pengertian saya bahwa logika itu melekat pada kemampuan berpikir seseorang. Jika, Ma Kuru punya pengertian yang berbeda, maka ini merupakan topik baru yang bisa kita diskusikan, jika mau. Ingat, semua hal musti ada dasarnya.

    Dalam konteks seseorang yang mengalami “mati otak”, jelas kemampuan berpikirnya hilang. Lebih lanjut, silahkan baca tanggapan saya ke Dhan yang saya copy-kan diatas.

    Mari kita bedah pernyataan Ma Kuru berikut, “… iman tidak mungkin ada tanpa logika …” Disini, Ma Kuru melakukan equivokasi terhadap kata “prakondisi”. Dia gunakan arti kata “prasyarat” pada istilah “prakondisi”….mari simak penjelasan saya terkait ini: “… Menurut kamus, Prasyarat bermakna “syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan sesuatu…” dan oleh karena logika juga disebut sebagai prasyarat dari iman, maka makna dari kalimat itu menjadi logika menjadi syarat yang harus dipenuhi sebelum iman ada …” Perhatikan bahwa Ma Kuru bilang “iman tidak mungkin ada tanpa logika”. Asli equivokasi dan ini sama sekali tidak alkitabiah. Maksa banget narik2nya.

    Fakta2 cerita alkitab yang Ma Kuru sampaikan tentang kehidupan orang2 di surga yang memuji2 Tuhan, itu sama sekali tidak membuktikan bahwa logika adalah prasyarat iman. Saya pikir, Ma Kuru perlu dengan sangat hati2 menelaah ini berdasarkan pengertian yang baik. Jika tidak, Ma Kuru dapat menjadi nabi palsu yang mengajarkan sesuatu yang salah dan tidak alkitabiah.

    Jika Ma Kuru katakan bahwa logika juga melekat pada roh dan berfungsi sebagai hukum yang mengatur kemampuan berkomunikasi para roh, iya, saya setuju, tetapi, ingat bahwa di surga mungkin saja lebih dari sekedar 3 hukum yang diidentifikasi aristotle. Jika Ma Kuru katakan bahwa logika adalah prasyarat iman, ini adalah hal yang berbeda sama sekali konteksnya.

    Para roh yang memuji2 Tuhan itu karena iman mereka kepada Tuhan, bukan, karena logika mereka. Justru, sebaliknya, iman mereka membuat logika mereka terpicu untuk berfungsi sehingga keluarlah puji2an kepada Allah. Dugaan saya, pengertian “iman” Ma Kuru, berbeda dengan pengertian “iman” saya. Mungkin juga, pengertian “logika” Ma Kuru, berbeda dengan pengertian “logika” saya. Karena, walaupun kita sedang berbicara mengenai 3 hukum aristotle yang sama, tetapi, terapannya jelas sekali perbedaannya. Ini mungkin, dapat menjadi titik baru dalam diskusi saya dengan Ma Kuru.

    Satu lagi strawman si Ma Kuru terhadap saya. Perhatikan penjelasannya dia berikut, “… Mengenai keberatan kedua, bahwa anak-anak atau bayi-bayi kecil tidak tahu formulasi hukum logika misalnya, hukum identitas, tetapi mereka bisa beroperasi memiliki pemahaman. Keberatan ini kembali salah target. Selama ini tidak ada seorangpun dari pihak kami yang mengatakan bahwa orang harus paham formulasi/rumusan hukum logika baru dia bisa berpikir. …” Waktu itu saya jelaskan bahwa bayi yang baru lahir masih BELUM MAMPU MENGAPLIKASIKAN 3 hukum logika itu, tetapi, toh, mereka tetap beriman. Jika logika adalah prasyarat iman, maka jelas saja gugur dengan sendirinya teori itu jika diterapkan pada bayi2 yang baru lahir. Perhatikan bahwa konteks “belum mampu mengaplikasikan” jauh berbeda dengan konteks yang dimaksudkan Ma Kuru dalam pernyataannya “… orang harus paham formulasi/rumusan hukum logika baru dia bisa berpikir …”. Disini Ma Kuru katakan bahwa saya pikir orang harus paham 3 hukum logika baru bisa berpikir, padahal, yang saya maksudkan ada pada kemampuan menerapkan 3 hukum logika. Asli strawman!

    Ini adalah pikiran saya yang sebenarnya: Kemampuan berpikir para bayi jelas ada, tetapi, mereka masih belum mampu menerapkan 3 hukum logika dengan benar dan ini mempengaruhi hasil kesimpulan mereka, sehingga, jika logika adalah prasyarat iman menurut Ma Kuru, maka, Ma Kuru mau bilang bahwa bayi2 tidak bisa beriman. Dimana landasan alkitabiahnya?

    Sampai di titik ini, saya hendak mengajak semua untuk bersikap kritis terhadap Ma Kuru. Telaah dan cermati setiap kalimat yang dia keluarkan baik2, karena, kesimpulan2 yang dia buat atas dasar sesat pikir jelas keliru dan juga berpotensi sesat.

  2. Ping balik: Jatuh Ke Dalam Kebingungan | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s