Jatuh Ke Dalam Kebingungan

Dalam komentar terakhir saudara Marvel membalas postingan sebelumnya, dia mengatakan bahwa kamilah yang melakukan straw-men dan bukan dia. Saudara Marvel mengatakan bahwa sebenarnya dia setuju dengan kami bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman tetapi memang ada kasus khusus dimana logika bukan prakondisi bagi iman, yaitu saat orang mati otak tetapi masih hidup. Artinya ada pengecualian terhadap proposisi “Logika adalah prakondisi bagi iman”. Dengan demikian, pada saat tertentu logika bukan prakondisi bagi iman. Kami menyerang pandangan bahwa ada saat dimana logika bukan prakondisi bagi iman. Apakah kami melakukan straw men? Hanya akan menjadi straw men kalau dalam bantahan kami dikatakan bahwa saudara Marvel percaya bahwa logika tidak merupakan prakondisi bagi iman, sedangkan sebenarnya saudara Marvel percaya bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Kenyataanya (setidaknya dalam kasus tertentu) saudara Marvel percaya bahwa logika bukan prakondisi bagi iman. Itu yang kami bantah beserta contoh-contoh yang diangkat. Straw men per definisi adalah menyerang pandangan yang sebenarnya bukan pandangan lawan bicara tetapi hanya dianggap sebagai pandangan lawan. Siapa yang melakukan straw men? Apakah saudara Marvel sekarang akan menyangkali kalau dia percaya bahwa ada saat dimana logika bukan prakondisi bagi iman? Hanya dengan menyangkali posisi tersebut kami dapat disebut melakukan straw men.    

Masih dalam kaitan dengan itu, satu hal dilupakan oleh Marvel adalah dia mengatakan secara eksplisit bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Pernyataan itu saja sudah menunjukkan bahwa posisinya merupakan posisi yang kami bantah. Kami membantah bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Lalu straw-mennya dimana? Hanya saudara Marvel yang tahu. Mungkin beliau punya definisi sendiri tentang straw men yang berbeda dari definisi konvensional.

Saudara Marvel juga kembali melakukan menyamakan proses otak dan pikiran sehingga kalau otak bereaksi secara salah maka pikiran tidak ada. Padahal sudah dibantah bahwa fungsi pikiran tidak berhenti saat otak berhenti bekerja. Ada berbagai contoh yang diangkat termasuk contoh dari Alkitab seperti kasus Lazarus dan orang kaya serta orang percaya yang tetap memuji Tuhan dalam Wahyu dan contoh dari luar Alkitab seperti kasus-kasus NDE.   Saudara Marvel menyangkali kalau dia menyamakan otak dengan pikiran. Mungkin benar bahwa dia tidak menyamakan otak dengan pikiran dan formulasi saya kurang akurat. Itu harus diakui. Yang saya maksud adalah saudara Marvel menganggap bahwa pikiran adalah hasil dari otak, sehingga kalau otak rusak, maka pikiran juga rusak. Contoh tentang NDE orang Kristen di Surga yang menyembah Allah walaupun sudah meninggal akan membantah pemikiran seperti itu.

Dia juga mengatakan bahwa contoh yang saya angkat tentang orang Kristen di Surga yang memuji Tuhan tidak membuktikan bahwa logika prakondisi bagi iman. Dia mengatakan bahwa kesimpulannya terlalu dipaksa kalau saya menggunakan argumen demikian. Mungkin saudara Marvel harus lebih cermat mempelajari argumen yang lawan kemukakan. Hal itu saya angkat untuk menunjukkan bahwa bahkan ketika otak sudah rusakpun, pikiran orang masih ada dan masih normal. Artinya walaupun seorang telah rusak otaknya tapi masih memiliki aktivitas pikiran yang baik,  tidak membuktikan bahwa logika bukan prakondisi bagi iman karena pada saat itu pikiran masih berfungsi dan iman muncul dari pengertian. Apakah orang di surga yang tinggal roh saat ini serta otaknya sudah membusuk tidak memiliki iman? Tentu saja mereka beriman. Setidaknya mereka percaya akan firman Tuhan. Apakah mereka bisa beriman tanpa berpikir? Mungkin saudara Marvel berkata demikian sehingga proposisi ‘logika adalah prakondisi bagi iman’ merupakan kesimpulan yang terlalu dipaksakan.  Mungkin Saudara Marvel percaya bahwa orang-orang di Kristen di Surga itu beriman tanpa berpikir dan memuji Tuhan bernalar sehingga kesimpulan tersebut menjadi terlalu dipaksa. Dikatakan oleh saudara Marvel “Para roh yang memuji2 Tuhan itu karena iman mereka kepada Tuhan, bukan, karena logika mereka.” Namun apakah saya mengatakan bahwa mereka memuji Tuhan karena logika? Bukankah yang saya katakan selama ini ‘logika prakondisi bagi iman’? Bagaimana kalau sebenarnya kesimpulan yang tepat adalah orang Kristen di Surga memuji Tuhan karena iman dan iman karena sudah logika terlebih dahulu? Mungkin proses pengambilan kesimpulan saudara Marvel perlu dipertajam lagi.

Saudara Marvel mengatakan, pandangan saya bahwa saudara Marvel menyatakan “anak-anak atau bayi-bayi kecil tidak tahu formulasi hukum logika misalnya, hukum identitas, tetapi mereka bisa beroperasi memiliki pemahaman” merupakan sebuah straw men. Dia mengatakan bahwa yang dia maksud adalah “bayi yang baru lahir masih BELUM MAMPU MENGAPLIKASIKAN 3 hukum logika itu, tetapi, toh, mereka tetap beriman.” Sekali lagi itu membuktikan bahwa ketika kami menyerang pandangan saudara Marvel dalam kaitan dengan hubungan iman dan logika, kami tidak menyerang straw men. Dia memang mengakui bahwa dalam kasus ini tanpa logika bisa ada iman. Tetapi apakah benar bahwa anak-anak baru lahir tidak mampu mengaplikasikan 3 hukum logika? Atau kalau diungkapkan dengan cara lain, apakah anak-anak yang baru lahir itu bisa beriman tanpa menggunakan pikirannya? Sejauh seseorang menggunakan pikirannya, maka dia mengaplikasikan logika, walaupun dia tidak tahu formulasi hukum-hukum tersebut. Jadi tampaknya apa yang kami katakan itu beralasan kalau saudara Marvel konsisten bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Tetapi mungkin juga saudara Marvel berkata berpikir bahwa anak-anak itu beriman tanpa berpikir, sehingga hukum logika tidak diterapkan saat dia beriman. 

Di samping itu, saudara Marvel harus membaca ulang apa yang dia tuliskan. Untuk membantu dia membaca, saya kutipkan di sini tulisannya: “Contoh lain yg lebih mendasar, saat seorang anak manusia baru lahir dan bertumbuh serta diperkenalkan akan dunia, walaupun dia belum tahu benar bahwa yang disebut A adalah A, tapi dia turut percaya (setelah diberitahu) bahwa A adalah A, itulah iman. Logika baru berfungsi setelah iman ada.” Apakah ada indikasi dari komentar tersebut bahwa anak-anak kecil itu sudah paham formulasi hukum-hukum logika? Jelas di sana bahwa anak itu belum paham formulasi hukum-hukum logika. Tetapi jelas pula bahwa anak itu sudah bisa beroperasi pikirannya dengan mengakui A adalah A. Dengan kata lain, saudara Marvel harus lebih teliti lagi berpikir. Jangan sampai hanya bisa pake istilah tetapi kurang runut berpikirnya. Apakah ketika anak itu mengakui bahwa A adalah A, logika tidak berjalan? Kalau anak itu tidak berpikir saat ini, maka pasti hukum logika bukan prakondisi. Mungkin saudara Marvel beranggapan bahwa saat itu si anak tidak berpikir. Kalau demikian adanya, maka benar bahwa logika bukan prakondisi bagi iman. Logic is something at the back of their head.

Kesimpulan? Walaupun ada benarnya yang dikatakan oleh Saudara Marvel bahwa orang harus kritis terhadap yang saya tulis, tetapi kekritisan saudara Marvel tidak ada saat mengritik tulisan saya. Dia malah justeru yang terjatuh ke dalam kebingungan. Misalnya dengan di satu pihak mengatakan kami melakukan straw men, padahal pandangan dialah yang kami bantah. Demikian juga ketika dia tidak melihat kontradiksi dalam pandangannya sendiri terkait dengan apakah logika prakondisi atau bukan prakondisi bagi iman.

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Polemik. Tandai permalink.

3 Balasan ke Jatuh Ke Dalam Kebingungan

  1. Marvel Ledo berkata:

    Membaca tulisan Ma Kuru ini, saya jadi tertawa terpingkal2. Betapa lucunya. Dia bahkan tidak menyadari sedikitpun apa yang menjadi kekurangan argumennya dia. Dia merasa begitu “sempurna” sampai tidak mengijinkan dirinya sendiri untuk melakukan self-critic melalui analisa yang benar terhadap pandangan lawan diskusinya.

    Inti dari tulisannya Ma Kuru adalah Marvel jatuh dalam kebingungan. Apa dasar argumennya? Mari kita lihat satu per satu:

    1. Ma Kuru: Saudara Marvel mengatakan bahwa sebenarnya dia setuju dengan kami bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman tetapi memang ada kasus khusus dimana logika bukan prakondisi bagi iman, yaitu saat orang mati otak tetapi masih hidup. Artinya ada pengecualian terhadap proposisi “Logika adalah prakondisi bagi iman”. Dengan demikian, pada saat tertentu logika bukan prakondisi bagi iman.

    Tanggapan Marvel: Ma Kuru, apakah anda tidak bisa membedakan kata “prakondisi” dari “prasyarat”? Anda menggunakan pengertian kata “prasyarat” dalam kata “prakondisi” yang digunakan dalam kalimat “logika adalah prakondisi iman”. Saya setuju terhadap ungkapan “logika prakondisi iman” dalam arti kata “prakondisi” yang sebenarnya. Anda bingung? Jangan bilang saya yang bingung. Arti kata kalimat “logika adalah prakondisi iman” jelas berbeda dari arti kalimat “logika adalah prasyarat iman”.
    Pada penjelasan saya, jelas sekali saya sampaikan contoh bahwa manusia yang sehat bisa secara proper meresponi anugerah iman dari Tuhan karena kemampuan berpikirnya sehat. Pertanyaannya adalah bagaimana jika manusianya sakit sedemikian rupa sehingga kemampuan berpikirnya rusak? Dapatkah dia meresponi anugerah iman dengan baik? Jawabannya ,tidak. Namun, apakah dengan demikian dia akan kehilangan anugerah keselamatan dari Tuhan? Belum tentu iya. Karena apa? Karena Tuhan tidak mensyaratkan logika sebagai dasar sebelum Dia menganugerahkan iman.
    Disinilah letak perbedaan pemahaman saya dan Ma Kuru akan kalimat “logika prakondisi iman”. Ma Kuru secara terbuka mengatakan bahwa “logika prakondisi iman” = “logika prasyarat iman”. Dua hal berbeda yang saya tolak, karena keduanya tidak bisa disamakan. Jadi, konteks “logika prakondisi iman” menurut saya itu ada pada manusia sehat kemampuan berpikirnya supaya bisa meresponi anugerah Tuhan, sedangkan, konteks “logika prakondisi iman” menurut Ma Kuru adalah Tuhan tidak akan menganugerahkan iman jika tidak ada logika. Dua hal yang sangat berbeda yang saya herankan mengapa Ma Kuru tidak bisa memahaminya sampai saat ini. Why Ma Kuru? Apakah anda bingung dengan arti kata “prakondisi” dengan kata “prasyarat” yang anda campur-adukkan pengertiannya? Melakukan ekuivokasi.

    2. Strawman dimana? Ma Kuru bingung kenapa saya bilang dia strawman.
    Tanggapan Marvel: saat Ma Kuru bilang saya menyamakan otak dengan pikiran, itu adalah strawman. Bagi saya, otak tidak sama dengan pikiran. Jika karena kalimat ini “kemampuan berpikir seseorang hilang jika fungsi otaknya sudah rusak”, maka saya benar2 meragukan kemampuan berpikir Ma Kuru dalam memahami arti kalimat itu. Mungkin, ada baiknya Ma Kuru jabarkan saja supaya semakin nyata kesesatan Ma Kuru dalam memahami kalimat itu. Apakah Ma Kuru tidak membaca pengertian “otak” dan “pikiran” yang saya berikan? Bagaimana logika anda bisa jalan jika pengertian yang anda gunakan keliru?

    Satu lagi strawman-nya Ma Kuru itu terkait dia pikir saya berpikir “orang harus paham 3 hukum logika baru bisa berpikir” padahal, yang saya maksudkan ada pada kemampuan menerapkan 3 hukum logika. Seseorang bisa paham 3 hukum logika, tapi, belum tentu orang tersebut bisa menerapkan 3 hukum logika. Contohnya, Ma Kuru sendiri, saat dia melakukan sesat pikir dengan cara mengabaikan pengertian yang benar dari satu-dua kata dan tetap menggunakan kata-kata tersebut dalam argumen2nya. Bayi baru lahir belum punya kemampuan untuk menerapkan 3 hukum logika. Jika nanti bayi tersebut tumbuh-berkembang menjadi anak yang pengertiannya sudah lebih baik, tanpa paham 3 hukum logika-pun, dia sudah bisa menerapkan 3 hukum logika di lingkungan hidupnya lewat pengertian2 yang dia yakini kebenarannya. Ada baiknya Ma Kuru buka kamus dan cari arti kata “paham” dan “kemampuan”. Kalau tidak, Ma Kuru hanya akan strawman lagi dalam hal ini. Jangan bingung, Ma Kuru!

    3. Ma Kuru: Masih dalam kaitan dengan itu, satu hal dilupakan oleh Marvel adalah dia mengatakan secara eksplisit bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Pernyataan itu saja sudah menunjukkan bahwa posisinya merupakan posisi yang kami bantah. Kami membantah bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Lalu straw-mennya dimana? Hanya saudara Marvel yang tahu. Mungkin beliau punya definisi sendiri tentang straw men yang berbeda dari definisi konvensional.

    Tanggapan Marvel: Sederhana saja, pernyataan mana dari Ma Kuru terkait posisi saya dalam konteks kalimat “iman adalah prakondisi bagi logika” yang saya kutip dan saya katakan bahwa Ma Kuru sedang strawman terhadap saya? Kayaknya, Ma Kuru sudah mixed-up pikirannya (bukan “otak”, lho…).

    4. Saudara Marvel juga kembali melakukan menyamakan proses otak dan pikiran sehingga kalau otak bereaksi secara salah maka pikiran tidak ada. Padahal sudah dibantah bahwa fungsi pikiran tidak berhenti saat otak berhenti bekerja. Ada berbagai contoh yang diangkat termasuk contoh dari Alkitab seperti kasus Lazarus dan orang kaya serta orang percaya yang tetap memuji Tuhan dalam Wahyu dan contoh dari luar Alkitab seperti kasus-kasus NDE. Saudara Marvel menyangkali kalau dia menyamakan otak dengan pikiran. Mungkin benar bahwa dia tidak menyamakan otak dengan pikiran dan formulasi saya kurang akurat. Itu harus diakui. Yang saya maksud adalah saudara Marvel menganggap bahwa pikiran adalah hasil dari otak, sehingga kalau otak rusak, maka pikiran juga rusak. Contoh tentang NDE orang Kristen di Surga yang menyembah Allah walaupun sudah meninggal akan membantah pemikiran seperti itu.

    Tanggapan Marvel: Ma Kuru mengaku kurang akurat, tapi tidak mau secara terbuka mengakui bahwa dia telah sesat pikir, strawman-ing saya. Berjiwa besarlah, Ma Kuru.

    Apakah Ma Kuru tidak membaca pengertian kata “pikiran” yang saya sampaikan? Ini saya kutip lagi: (1) hasil berpikir (memikirkan); (2) akal; ingatan; (3) akal (dl arti daya upaya); (4) angan-angan; gagasan; (5) niat; maksud… Dalam konteks pernyataan saya sebelumnya, jelas sekali saya singgung bahwa kemampuan berpikir seseorang akan hilang jika otaknya sudah tidak berfungsi lagi. Kalau Ma Kuru mau paksakan bahwa kemampuan berpikir seseorang tidak hilang walaupun otaknya sudah tidak berfungsi lagi, maka, saya pikir Ma Kuru mau bilang bahwa ada juga “otak rohani”. Itu maksudnya, Ma Kuru? Baiklah, saya mengerti.

    5. Dia juga mengatakan bahwa contoh yang saya angkat tentang orang Kristen di Surga yang memuji Tuhan tidak membuktikan bahwa logika prakondisi bagi iman. Dia mengatakan bahwa kesimpulannya terlalu dipaksa kalau saya menggunakan argumen demikian. Mungkin saudara Marvel harus lebih cermat mempelajari argumen yang lawan kemukakan. Hal itu saya angkat untuk menunjukkan bahwa bahkan ketika otak sudah rusakpun, pikiran orang masih ada dan masih normal. Artinya walaupun seorang telah rusak otaknya tapi masih memiliki aktivitas pikiran yang baik, tidak membuktikan bahwa logika bukan prakondisi bagi iman karena pada saat itu pikiran masih berfungsi dan iman muncul dari pengertian. Apakah orang di surga yang tinggal roh saat ini serta otaknya sudah membusuk tidak memiliki iman? Tentu saja mereka beriman. Setidaknya mereka percaya akan firman Tuhan. Apakah mereka bisa beriman tanpa berpikir? Mungkin saudara Marvel berkata demikian sehingga proposisi ‘logika adalah prakondisi bagi iman’ merupakan kesimpulan yang terlalu dipakasakan. Mungkin Saudara Marvel percaya bahwa orang-orang di Kristen di Surga itu beriman tanpa berpikir dan memuji Tuhan bernalar sehingga kesimpulan tersebut menjadi terlalu dipaksa. Dikatakan oleh saudara Marvel “Para roh yang memuji2 Tuhan itu karena iman mereka kepada Tuhan, bukan, karena logika mereka.” Namun apakah saya mengatakan bahwa mereka memuji Tuhan karena logika? Bukankah yang saya katakan selama ini ‘logika prakondisi bagi iman’? Bagaimana kalau sebenarnya kesimpulan yang tepat adalah orang Kristen di Surga memuji Tuhan karena iman dan iman ada karena logika? Mungkin proses pengambilan kesimpulannya perlu dipertajam lagi.

    Tanggapan Marvel: Inilah perbedaan kita selama ini. Kesimpulan yang benar adalah logika ada karena iman ada terlebih dahulu. Bagaimana manusia hidup atau para roh bisa memuji2 Tuhan jika tidak ada iman yang meyakinkan mereka terlebih dahulu bahwa memuji2 Tuhan itu baik? Ma Kuru mau memaksa pengertian bahwa iman hanya bisa ada kalau ada pikiran dan pada pikiran itu melekat logika, sehingga, kesimpulannya logika ada dulu baru iman bisa ada. Apa sih “iman” menurut Ma Kuru? Apakah benar iman hanya bisa ada kalau ada pikiran? Jawab saja langsung dua hal tersebut dan tidak usah beri argumen “berkelok-kelok”.

    6. Saudara Marvel mengatakan, pandangan saya bahwa saudara Marvel menyatakan “anak-anak atau bayi-bayi kecil tidak tahu formulasi hukum logika misalnya, hukum identitas, tetapi mereka bisa beroperasi memiliki pemahaman” merupakan sebuah straw men. Dia mengatakan bahwa yang dia maksud adalah “bayi yang baru lahir masih BELUM MAMPU MENGAPLIKASIKAN 3 hukum logika itu, tetapi, toh, mereka tetap beriman.” Sekali lagi itu membuktikan bahwa ketika kami menyerang pandangan saudara Marvel dalam kaitan dengan hubungan iman dan logika, kami tidak menyerang straw men. Dia memang mengakui bahwa dalam kasus ini tanpa logika bisa ada iman. Tetapi apakah benar bahwa anak-anak baru lahir tidak mampu mengaplikasikan 3 hukum logika? Atau kalau diungkapkan dengan cara lain, apakah anak-anak yang baru lahir itu bisa beriman tanpa menggunakan pikirannya? Sejauh seseorang menggunakan pikirannya, maka dia mengaplikasikan logika, walaupun dia tidak tahu formulasi hukum-hukum tersebut. Jadi tampaknya apa yang kami katakan itu beralasan kalau saudara Marvel konsisten bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Tetapi mungkin juga saudara Marvel berkata berpikir bahwa anak-anak itu beriman tanpa berpikir, sehingga hukum logika tidak diterapkan saat dia beriman.

    Tanggapan Marvel: Anak batita yang salah identifikasi penghapus dan mengatakannya sebagai tikus, bukankah itu kemampuan menerapkan 3 hukum logikanya masih belum ada? Kenyataannya, batita-pun punya kemampuan berpikir, tetapi, kalau masih belum mampu menerapkan logika dengan benar, bagaimana batita itu bisa beriman? Jawab langsung saja, Ma Kuru.

    7. Di samping itu, saudara Marvel harus membaca ulang apa yang dia tuliskan. Untuk membantu dia membaca, saya kutipkan di sini tulisannya: “Contoh lain yg lebih mendasar, saat seorang anak manusia baru lahir dan bertumbuh serta diperkenalkan akan dunia, walaupun dia belum tahu benar bahwa yang disebut A adalah A, tapi dia turut percaya (setelah diberitahu) bahwa A adalah A, itulah iman. Logika baru berfungsi setelah iman ada.” Apakah ada indikasi dari komentar tersebut bahwa anak-anak kecil itu sudah paham formulasi hukum-hukum logika? Jelas di sana bahwa anak itu belum paham formulasi hukum-hukum logika. Tetapi jelas pula bahwa anak itu sudah bisa beroperasi pikirannya dengan mengakui A adalah A. Dengan kata lain, saudara Marvel harus lebih teliti lagi berpikir. Jangan sampai hanya bisa pake istilah tetapi kurang runut berpikirnya. Apakah ketika anak itu mengakui bahwa A adalah A, logika tidak berjalan? Kalau anak itu tidak berpikir saat ini, maka pasti hukum logika bukan prakondisi. Mungkin saudara Marvel beranggapan bahwa saat itu si anak tidak berpikir. Kalau demikian adanya, maka benar bahwa logika bukan prakondisi bagi iman. Logic is something at the back of their head.

    Tanggapan Marvel: Apakah Ma Kuru tidak bisa secara konsisten mengajarkan logika disini? Di satu sisi, Ma Kuru bilang logika harus benar. Dan, batu adalah batu, bukan kayu. Walaupun seorang anak bisa bilang batu adalah batu tanpa dia mengerti benar apa itu batu sesuai tuntutan logika, itu adalah iman. Dia hanya asal ikut apa yang orang lain omong. Dia percaya dulu bahwa itu batu sesuai ajaran orang lain, barulah kemudian dalam proses penalarannya di masa2 berikutnya, pelan2 pengertian dia akan batu itu apa diperlengkapi. Logika menuntut kebenaran mutlak bukan kebenaran kira2. Janganlah Ma Kuru tidak konsisten dalam hal ini. Ungkapan “Logic is something at the back of their head” apakah karanganmu, Ma Kuru? Karena, kalaupun itu benar, logic tetap harus bisa difungsikan dulu baru bisa dikatakan logic. Jika tidak difungsikan dulu, maka darimana orang tahu itu logic? Jangan mengada-ada, Ma Kuru.

    8. Kesimpulan? Walaupun ada benarnya yang dikatakan oleh Saudara Marvel bahwa orang harus kritis terhadap yang saya tulis, tetapi kekritisan saudara Marvel tidak ada saat mengritik tulisan saya. Dia malah justeru yang terjatuh ke dalam kebingungan. Misalnya dengan di satu pihak mengatakan kami melakukan straw men, padahal pandangan dialah yang kami bantah. Demikian juga ketika dia tidak melihat kontradiksi dalam pandangannya sendiri terkait dengan apakah logika prakondisi atau bukan prakondisi bagi iman. Lebih parah lagi

    Tanggapan Marvel: Silahkan, yang baca menilai. I’m just fine (sambil tersenyum).

  2. Ping balik: Logika Masih Tetap Prakondisi! | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s