Logika Masih Tetap Prakondisi!

PrakondisiTanggapan terakhir saudara Marvel terhadap tulisan sebelumnya menarik. Pertama dia mengatakan bahwa saya mengacaukan antara definisi prakondisi dan prasyarat. Dia lupa bahwa ada sesuatu yang disebut definisi stipulatif. Dalam tulisan saya, saya menggunakan keduanya dengan makna yang sinonim. Apakah ada yang salah kalau saya menggunakan definisi stipulatif yang demikian? Mungkin saudara Marvel bisa menunjukkan ke saya salahnya dimana. Apa masalah saudara Marvel kalau saya menggunakan definisi stipulatif? Saya tunggu! Saudara boleh menolak penyamaan antara ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’ tetapi kalau anda tolak, yang anda tolak itu adalah pandangan anda, karena saya menggunakan definisi stipulatif. Ada tercium bau-bau straw-men yang cukup tajam di sini. Mungkin saudara Marvel perlu belajar terlebih dahulu tentang berbagai jenis definisi. Sebagai tambahan, kata prakondisi di sini saya gunakan sebagai sinonim karena kata ini saya gunakan sebagai terjemahan dari bahasa Inggris ‘precondition’ yang berarti ‘prasyarat’.

Masih dalam kaitan dengan hal yang sama, Saudara Marvel mengatakan bahwa saya melakukan ekuivokasi. Ekuivokasi dari Hongkong? he he he  :D Ekuivokasi secara sederhana berarti menggunakan satu istilah yang memiliki dua makna berbeda dan berpikir bahwa istilah tersebut hanya memiliki satu makna. Dalam kasus ini, saya menggunakan makna kata ‘prakondisi’ sebagai sinonim dari ‘prasyarat’ sedangkan saudara Marvel menggunakan kedua kata itu sebagai kata yang memiliki makna berbeda. Dia menggunakan kasus dimana kedua kata itu memiliki makna berbeda untuk menarik kesimpulan tentang saya yang menggunakan kedua kata itu dengan makna sinonim. Lalu siapa yang melakukan ekuivokasi? Mungkin lain kali saudara Marvel perlu lebih jeli melakukan introspeksi terhadap posisi diri sendiri. 

Pada point yang dia kodekan dengan angka 2, saudara Marvel masih menuduh saya melakukan straw man ketika saya mengatakan bahwa dia menyamakan ‘otak’ dan ‘pemikiran’, walaupun saya sudah tegaskan bahwa formulasi saya salah dan sudah memberikan koreksi formulasi yang lebih merefleksikan pandangan saya. Pembahasan lanjutan terhadap point ini ada pada point 4.

Masih dalam point 2, saudara Marvel menyangkali kalau dia berpandangan bahwa anak-anak kecil yang belum menerapkan hukum-hukum logika (namum yang katanya beriman itu) tidak paham hukum-hukum logika. Dia menganggap itu straw man. Mungkin itu straw man, mungkin juga tidak. Yang jelas, yang saya bantah dalam tulisan saya sebelumnya adalah adalah implikasi dari yang dia katakan. Saya tidak sedang menyerang sesuatu yang secara eksplisit yang dia katakan. Karena itu tugas dia sebenarnya adalah menunjukkan kepada saya bahwa implikasi yang saya tarik dari pernyataan eksplisitnya, tidaklah valid. Tetapi itu tidak dia lakukan dan dia menyerang saya seolah-olah saya sedang menyerang pandangan dia yang eksplisit. Lalu yang straw-men siapa? Sekali lagi saya katakan bahwa untuk mengatakan bahwa saya melakukan straw men, maka saudara Marvel harus menunjukkan (bukan hanya mengklaim) bahwa implikasi yang saya tarik dari pandangan eksplisitnya tidak valid.   

Dalam komentar yang sama, saudara Marvel melakukan kesalahan fatal yaitu melakukan kontradiksi dengan pandangannya sendiri. Di satu pihak dia katakan bahwa bayi baru lahir belum punya kemampuan untuk menerapkan ketiga hukum logika. Tetapi dalam tulisan sebelumnya dia katakan demikian, “Contoh lain yg lebih mendasar, saat seorang anak manusia baru lahir dan bertumbuh serta diperkenalkan akan dunia, walaupun dia belum tahu benar bahwa yang disebut A adalah A, tapi dia turut percaya (setelah diberitahu) bahwa A adalah A, itulah iman.” Apakah sebelum anak ini diberitahu bunyi hukum Identitas (A adalah A), logikanya tidak berjalan? Dia tidak menerapkan hukum Identitas? Tentu saja sudah. Bagaimana dia menerima hukum Identitas kalau hukum identitas itu tidak mengatur benaknya untuk berpikir? Apakah dia menerima hukum identitas itu tanpa berpikir? Tentu saja, kalau tidak berpikir, maka logika bukan prakondisi. Tetapi kalau demikian, maka pada saat itu apakah dapat dikatakan dia menerima hukum Identitas kalau dia tidak berpikir? Mungkin dalam definisi saudara Marvel jawabannya afirmatif, tetapi dalam dunia saya itu lebih seperti beo saja.   

Pada point no. 3 Saudara Marvel meminta penjelasan tentang dimana dia menuduh kami straw men dan ternyata dia yang melakukan straw men. Mungkin saudara Marvel perlu lebih jeli mengikuti jalan pembicaraan ini. Pertama dia mengatakan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika dimana dia ambil contoh tentang anak kecil. Tetapi kami katakan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman dan kami menunjukkan argumen pendukung. Tetapi saudara Marvel mengatakan bahwa kami sedang melakukan straw men. Straw men adalah menyerang pandangan yang bukan pandangan lawan. Dengan kata lain kami hanya akan straw men kalau yang kami serang itu adalah pandangan yang mengatakan bahwa ‘logika bukan prakondisi iman’ sedangkan kenyataannya saudara Marvel percaya bahwa ‘logika adalah prakondisi iman’. Namun saudara Marvel percaya bahwa ‘logika bukan prakondisi bagi iman’ (setidaknya dalam kasus-kasus tertentu), atau yang dia formulasikan secara berbeda yaitu ‘Iman adalah prakondisi bagi logika’. Apakah ketika kami menyerang pandangan ‘logika bukan prakondisi bagi iman’ atau yang setara dengan ‘Iman adalah prakondisi bagi logika’ maka kami menyerang straw men? Tentu saja tidak. yang diserang adalah pandangan saudara Marvel dan dia keluarkan pernyataan eksplisit tentang hal itu.   

Pada point 4. Saudara Marvel mengatakan bahwa saya sebenarnya secara diam-diam mengakui telah melakukan straw men dengan mengakui bahwa saya kurang teliti dalam formulasi. Tetapi Straw men dan kekurang-akuratan dalam formulasi isu adalah dua hal berbeda. Kenyataannya, kalau saudara Marvel analisa bahwa apa yang saya tulis, akan jelas ketidak-akuratannya di sana karena pada awal paragraf saya berbicara tentang otak disamakan dengan pikiran sedangkan pada akhir paragraf kesimpulan saya terkait dengan pikiran sebagai hasil reaksi kimia dalam otak. Supaya tidak dibilang mengada-ada saya kutipkan paragraf di maksud di sini “Keberatan pertama yang dikemukakan oleh Saudara Marvel adalah sebuah sesat pikir. Dalam keberatan tersebut saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran sehingga kalau otak tidak berfungsi maka otak tidak berfungsi. Dalam logika sesat pikir seperti ini dikenal dengan ekuivokasi. Dalam keberatan ini Saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran. Mungkin juga saudara Marvel berpegang pada pandangan filsafat naturalisme/materialisme bahwa pikir adalah hasil reaksi kimia dalam otak, sehingga kalau reaksi-reaksi kimia dalam otak sudah tidak berjalan ‘normal’, maka pikiran menjadi tidak berfungsi normal.” Tetapi kalau saudara Marvel memaksa juga untuk saya mengakui, maka saya bilang saya melakukan straw men. Tetapi pada titik ini, jelas saya menggunakan ‘straw men’ dengan definisi yang bertentangan dengan definisi saudara Marvel.

Namun syukur bahwa pada point ini saudara Marvel mengakui bahwa dia percaya bahwa kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak. Artinya dia mengakui bahwa dia menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Jadi kalau otak tidak berfungsi dengan baik maka pikiran tidak berfungsi dengan baik. Dengan kata lain ini adalah pandangan ateisme dan naturalisme. Pandangan Kristen jelas tidak seperti ini seperti yang saya tunjukkan dalam kasus orang Kristen yang memuji Allah di surga dan orang yang mengalami NDE tetapi fungsi pikirannya masih sangat baik.

Untuk menanggapi kasus-kasus itu saudara Marvel menanyakan bahwa apakah saya percaya bahwa ada otak rohani. Saya tidak tahu apakah orang percaya itu ada ‘otak rohani’ atau tidak dan dalam diskusi ini kita tidak sedang berbicara tentang ‘otak rohani’ tetapi ‘otak jasmani’. Intinya adalah walaupun roh-roh itu sudah tidak berotak, tetapi mereka masih berpikir. Dengan kata lain yang hendak dikatakan di sini adlaah bahwa pikiran bukah hasil reksi otak. Otak boleh mati, tetapi pikiran masih berfungsi.

Pada pont 5. Semakin memperjelas bahwa pandangan saya dengan saudara Marvel sebenarnya saling berseberangan. Saya percaya bahwa logika ada terlebih dahulu baru iman ada. Tidak bisa terbalik karena iman membutuhkan pengertian dan pengertian tidak bisa ada tanpa logika. Kalau ada pengertian tanpa logika, maka orang yang katanya beriman itu beriman kepada apa? Menanggapi tentang orang-orang Kristen di surga yang memuji-muji Tuhan, saudara Marvel mengatakan bahwa orang-orang tersebut harus yakin terlebih dahulu bahwa memuji Tuhan itu baik. Jadi itu membuktikan bahwa logika bukan prakondisi. Jadi menurut saudara Marvel, orang-orang yang memuji Tuhan itu harus mengakui bahwa memuji Tuhan itu baik. Lalu apakah mereka mempercayai bahwa memuji Tuhan itu baik, sedangan mereka tidak punya pikiran atau pikiran mereka tidak jalan? Apakah mereka itu seperti robot rohani atau burung beo rohani atau boneka rohani sehingga mereka sebenarnya tidak berpikir ketika melakukan yang mereka lakukan?

Dalam point yang sama saudara Marvel menanyakan apa definisi Iman. Saya tidak tahu sudah berapa lama hal ini dibahas dan sudah ulang-ulang dibicarakan tetapi Saudara Marvel tidak paham juga apa yang kami maksudkan? Hal seperti ini agak kurang etis rasanya dalam debat. Kalau tidak dapat dikatakan kurang etis, setidaknya hal seperti ini dapat mengakibatkan ill-feel pada lawan diskusi. Tetapi daripada disebut-sebut berkelok-kelok saya menjawab, iman adalah mempercaya proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar. Termasuk di dalamnya adalah proposisi yang saudara Marvel angkat bahwa ‘Memuji Tuhan adalah hal yang baik”. Setuju dan mengakui proposisi tersebut adalah contoh iman. Jadi sekarang pertanyaan untuk saudara Marvel adalah, apakah orang percaya di surga paham poposisi itu atau tidak? Kalau paham apakah hukum kontradiksi berlaku atau tidak ketika dia paham? Kalau tidak paham, berarti orang Kristen di surga adalah robot dan bung Marvel berkontradiksi dengan diri sendiri.

Tentang point enam, saudara Marvel mengatakan bahwa kasus seorang anak batita yang menyatakan ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’ menunjukkan bahwa batita tersebut tidak mampu menerapkan ketiga hukum logika. Ini adalah sebuah kesalahan serius. Saya tidak tahu saudara Marvel belajar logika dimana sehingga ini dianggap berarti bahwa batita tersebut tidak mampu menerapkan ketiga hukum logika. Hukum logika tidak mengatakan misalnya “Ohh… you.. kalian semua, kalian harus gunakan kata tikus untuk merujuk kepada binatang rodentia mencicit yang secara ilmiah disebut ‘Mus musculus’.” Sama sekali hukum logika tidak mengatakan demikian. Itu hanya kesalahan pengertian saudara Marvel. Kesalahan pengertian yang sama yang mungkin bertanggung jawab terhadap kritiknya terhadap definisi stipulatif saya terhadap prasyarat dan prakondisi sebagai sinonim. Hukum logika hanya mengatakan “Hei, you, kalian semua, saat kalian menggunakan satu kata, kata itu harus memiliki satu makna saat kalian gunakan. Tidak boleh lebih. Karena kalau kalian menggunakan lebih dari satu makna, maka kata itu menjadi tidak jelas atau tidak ada.” Itu parafrase dari perintah hukum logika. Jadi tidak masalah ketika batitanya saudara Marvel menyebut ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’. Jelas bahwa saat dia menyebut ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’. Dia merujuk kepada satu hal saja. Menjadi bermasalah kalau ternyata batita saudara Marvel menyebut segala sesuatu sebagai ‘tikus’, sehingga ketika dia hendak berkata ’Mama minta susu’ dia hanya bilang ‘tikus tikus tikus’. Tetapi masalahnya kalau demikian, kalimat ‘Tikus tikus tikus’ juga berarti ‘Makuru orang bodoh.’ Tidak ada komunikasi. Tidak ada makna. Jadi…., tidak ada masalah dalam kasus ini. Itu bukan kasus batita tidak bisa menerapkan hukum logika, tetapi lebih menunjuk kepada fakta bahwa saudara Marvel harus lebih banyak belajar lagi tentang logika dan seluk-beluknya.Tetapi saya senang karena sejauh ini saudara Marvel sudah mau belajar tentang logika. Tinggal dilanjutkan saja.

Pada point 7 pernyataan saya bahwa orang bisa tidak menyadari formulasi hukum-hukum logika tetapi namun pikirannya didasari hukum logika, dianggap saudara Marvel sebagai sesuatu yang menunjukkan bahwa ada kasus dimana iman harus ada duluan sebelum logika. Tetapi masalahnya dalam kasus ini adalah dia tidak tahu sama sekali formulasi hukum-hukum logika. Apa yang dia mau percayai? Mempercayai sesuatu yang tidak diketahui? Apakah iman berarti mempercayai sesuatu yang tidak diketahui isinya? Lalu apa yang dipercayai kalau isinya tidak diketahui? Itu absurd. Yang terjadi adalah pikiran itu beroperasi berdasarkan hukum-hukum itu walaupun si subyek tidak menyadarinya. Logic is at the back of their had adalah ungkapan yang merepresentasikan apa yang baru saja saya katakan.

Faktanya saya bisa mendukung pernyataan saya dengan mengangkat kasus yang lebih ekstrim. Ini bukan kasus anak batita, tetapi orang dewasa, orang tua. Orang tua saya yang di kampung tidak paham itu formulasi hukum kontradiksi, hukum tidak ada jalan tengah, hukum identitas. Tetapi setiap hari mereka beroperasi dengan bersandar pada hukum-hukum tersebut. Apakah saudara Marvel akan membantah bahwa saat orang tua saya di kampung yang tidak paham formulasi hukum-hukum logika sebenarnya tunduk pada hukum logika? Supaya adil, ambillah contoh orang tua saudara Marvel sendiri, apakah tidak tunduk pada hukum logika walaupun tidak paham formulasi hukum-hukum tersebut? Akan sangat menarik kalau saudara Marvel menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara positif afirmatif. Tapi rasa-rasanya tidak akan afirmatif jawabannya.

Untuk mendukung posisi tersebut, saya kutipkan terjemahan dari buku Norman Geisler tentang logika, yang berjudul Come, Let us Reason “ Namun demikian, logika bukanlah sesuatu yang sulit. Nyatanya, logika merupakan hal yang paling mudah karena kita menggunakannya setiap saat, walaupun kita tidak menyadarinya. Itu tidak berarti bahwa anda menyusun setiap pemikiran anda menjadi bentuk-bentuk logika dan melakukan analisa bentuk setiap kali anda berpikir.”

Kesimpulan? Diskusi dengan saudara Marvel menarik. Di satu pihak saya melihat ada keinginan dan usaha untuk belajar logika. Sesuatu yang luar biasa. Tetapi di pihak lain pemahaman saudara Marvel tentang logika masih perlu diperbaiki. Paling tidak saya dapat bersyukur bahwa apa yang kami lakukan tidak sia-sia. Kami menginginkan lebih banyak orang lagi yang paham logika, walaupun pada akhirnya mereka mungkin tidak setuju dengan posisi kami. Alasan lain mengapa diskusi ini menarik adalah karena diskusi ini menunjukkan bahwa logika bukanlah sesuatu yang berada di luar sana yang tidak menjangkau kehidupan sehari-hari.

Tentang keberatan saudara Marvel terhadap posisi saya, tidak ada satupun argumen utama yang digugurkan. Logika adalah prakondisi bagi iman. Tanpa logika tidak ada iman

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Polemik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Logika Masih Tetap Prakondisi!

  1. Marvel Ledo berkata:

    Semakin menarik diskusi ini, karena, saya bisa lihat dengan jelas bagaimana Ma Kuru mengembangkan pikirannya, “melompat” dari satu titik ke titik yang lain “seenak perut”-nya dia. Dan, ini semakin meragukan saya apakah Ma Kuru adalah seorang ahli logika seperti yang dia gembar-gemborkan selama ini atau tidak.

    Mari kita lihat bersama:
    1. Ma Kuru:Tanggapan terakhir saudara Marvel terhadap tulisan sebelumnya menarik. Pertama dia mengatakan bahwa saya mengacaukan antara definisi prakondisi dan prasyarat. Dia lupa bahwa ada sesuatu yang disebut definisi stipulatif. Dalam tulisan saya, saya menggunakan keduanya dengan makna yang sinonim. Apakah ada yang salah kalau saya menggunakan definisi stipulatif yang demikian? Mungkin saudara Marvel bisa menunjukkan ke saya salahnya dimana. Apa masalah saudara Marvel kalau saya menggunakan definisi stipulatif? Saya tunggu! Saudara boleh menolak penyamaan antara ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’ tetapi kalau anda tolak, yang anda tolak itu adalah pandangan anda, karena saya menggunakan definisi stipulatif. Ada tercium bau-bau straw-men yang cukup tajam di sini. Mungkin saudara Marvel perlu belajar terlebih dahulu tentang berbagai jenis definisi. Sebagai tambahan, kata prakondisi di sini saya gunakan sebagai sinonim karena kata ini saya gunakan sebagai terjemahan dari bahasa Inggris ‘precondition’ yang berarti ‘prasyarat’.

    Tanggapan Marvel: Mari kita bersama-sama menelaah apa itu yang disebut dengan definisi stipulatif. Pertama-tama, mari kita lihat pengertian dari definisi. Secara sederhana, definisi berarti batasan atau batas yang menentukan batas suatu konsep (pengertian) secara tepat, jelas, dan singkat. Definisi berupa pernyataan yang memberi arti pada sebuah kata atau frase. Salah satu tujuan dari definisi adalah untuk menghilangkan kemungkinan pemaknaan ganda pada kata, khususnya kata-kata kunci, agar tidak menjurus pada kesesatan berpikir. Dari sekian banyak tipe dan bentuk definisi, definisi stipulatif digunakan apabila kita hendak memperkenalkan sebuah term baru yang sebelumnya tidak diketahui.

    Berikutnya, mari kita telaah istilah “sinonim” yang Ma Kuru gunakan. Definisi sinonim digunakan apabila seseorang hendak menjelaskan satu term menggunakan paduan kata yang sesuai. Contoh, kata “konstruksi”, disampaikan juga kata lain yang bermakna sama yakni, “membangun”. Kedua kata tersebut dipadukan dalam penggunaannya agar menutup kemungkinan terjadinya pemaknaan ganda.

    Definisi stipulatif dan sinonim, keduanya berada dalam kelompok Definisi Nominal yang merupakan “definisi yang dirumuskan menurut katanya si A atau si B”. Oleh karena itu, definisi-definisi dalam kelompok definisi nominal biasanya kurang akurat dibandingkan dengan Definisi Real.
    Masalah Ma Kuru adalah apakah term “prakondisi” adalah term baru? Jawabannya, jelas bukan. Apakah term “prasyarat” adalah term baru? Jawabannya, jelas bukan. Makna dari kedua term itu jelas berbeda. Nah, pengertian dari kedua term yang berbeda tapi dia gunakan secara berganti2an pada argumen yang sama jelas menimbulkan makna yang ganda pada argumennya dia. Dan, inilah yang disebut dengan ekuivokasi. Adakah Ma Kuru salah mengerti ekuivokasi, sehingga tidak menyadari bahwa dia sendiri sedang melakukan kesalahan berpikir itu? Jawabannya, mungkin iya. Mungkin dia tahu tapi untuk kepentingan “menang” dalam diskusi ini, dia belagak tidak tahu. Masa’ seorang ahli logika tidak tahu hal ini? Harusnya tidak mungkin.

    Satu lagi, Ma Kuru sampaikan bahwa ia menggunakan kata bahasa Inggris “precondition” secara sinonim dan mamadukannya dengan kata “prasyarat” untuk menjelaskan maksudnya. Apakah “prasyarat” adalah padanan dari kata “precondition”? Jawabannya, ya dan tidak, karena makna kata “prasyarat” punya arti tersendiri. Sehingga, yang terjadi pada penggunaan definisi sinonim seperti yang Ma Kuru lakukan hanya menimbulkan kebingungan orang yang mencoba memahami argumen-nya. Jelas saja, karena, makna dari argumen menjadi berbeda dalam konteks “prekondisi” dibandingkan dengan dalam konteks “prasyarat”. Disini, mungkin Ma Kuru akan “menyalahkan” kamus yang telah salah memberi informasi padanya. Semoga tidak.

    Dan, inilah makna argumen-nya Ma Kuru untuk masing-masing term:
    “Logika adalah prakondisi iman”. Menurut kamus, Prakondisi bermakna “kondisi yang menjadi landasan bagi suatu proses…” dan oleh karena logika disebut sebagai prakondisi dari iman, maka makna dari kalimat itu adalah berlogika menjadi landasan bagi iman.

    Kemudian, perhatikan yang berikut:
    “Logika adalah prasyarat iman”. Menurut kamus, Prasyarat bermakna “syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan sesuatu…” dan oleh karena logika juga disebut sebagai prasyarat dari iman, maka makna dari kalimat itu menjadi logika menjadi syarat yang harus dipenuhi sebelum iman ada.

    Dalam konteks “berlogika menjadi landasan bagi iman”, makna yang terkandung adalah agar iman seseorang dapat bertumbuh, maka orang tersebut wajib memiliki logika. Disini, logika menjadi semacam “media” tempat iman diletakkan untuk kemudian tumbuh berkembang. Sedangkan, dalam konteks “logika menjadi syarat yang harus dipenuhi sebelum iman ada”, makna yang terkandung adalah iman tidak akan ada jika logika tidak ada. Sayangnya, kedua argumen ini digunakan oleh Ma Kuru untuk menjelaskan posisinya dalam “logika adalah prakondisi iman”. Fatal, bukan? Sampai disini, bisa tidak Ma Kuru melihat perbedaannya? Memang tipis, tetapi jelas sekali perbedaannya.

    Andaikan, ada dua gelas, (silahkan, Ma Kuru pegang dua gelas, satu di tangan kiri dan yang satu lagi di tangan kanan). Yang di tangan kiri adalah “iman”, yang di tangan kanan adalah “logika”, dua-duanya ada. Dalam konteks pengertian argument Ma Kuru yang pertama, taruh gelas di tangan kiri Ma Kuru ke atas gelas yang di tangan kanan Ma Kuru. Itulah argumen Ma Kuru yang pertama. Sedangkan, dalam konteks argumen Ma Kuru yang kedua, sembunyikan kedua gelas di belakang punggung Ma Kuru, lalu keluarkan gelas yang di tangan kiri, eh, stop, tidak boleh, musti gelas yang di tangan kanan keluar duluan, baru boleh gelas yang di tangan kiri keluar. Itulah argumen Ma Kuru yang kedua….bagaimana, Ma Kuru, bisa anda mengerti mengapa saya katakan anda sedang melakukan ekuivokasi? Mungkin, Ma Kuru akan menyangkalinya dengan mengatakan saya sedang strawman terhadap dia. Yah, kalau itu yang terjadi, itulah modus operandinya. Saya maklum saja jika dia tidak mau mengakuinya. Ahli logika, gitu, lho.

    2. Masih dalam kaitan dengan hal yang sama, Saudara Marvel mengatakan bahwa saya melakukan ekuivokasi. Ekuivokasi dari Hongkong? he he he😀 Ekuivokasi secara sederhana berarti menggunakan satu istilah yang memiliki dua makna berbeda dan berpikir bahwa istilah tersebut hanya memiliki satu makna. Dalam kasus ini, saya menggunakan makna kata ‘prakondisi’ sebagai sinonim dari ‘prasyarat’ sedangkan saudara Marvel menggunakan kedua kata itu sebagai kata yang memiliki makna berbeda. Dia menggunakan kasus dimana kedua kata itu memiliki makna berbeda untuk menarik kesimpulan tentang saya yang menggunakan kedua kata itu dengan makna sinonim. Lalu siapa yang melakukan ekuivokasi? Mungkin lain kali saudara Marvel perlu lebih jeli melakukan introspeksi terhadap posisi diri sendiri.

    Tanggapan Marvel: Ma Kuru, itu “ekuivokasi dari hongkong” ada duduk dekat2 di Ma Kuru pung samping ju, sonde sadar ko?

    Ini pengertian ekuivokasi: “The fallacy of equivocation is committed when A TERM IS USED IN TWO OR MORE DIFFERENT SENSES WITHIN A SINGLE ARGUMENT.”
    Nah, Ma Kuru menggunakan satu istilah “prekondisi” pada dua makna yang berbeda dalam satu argumen yakni “logika adalah prakondisi iman”. Sudah saya jelaskan di poin satu diatas. Masa’ masih belum jelas juga, sih?

    Kalau kita perhatikan pengertian Ma Kuru akan ekuivokasi, saya jadi mengerti mengapa dia pikir dia sedang tidak ekuivokasi. Perhatikan kalimatnya: “…menggunakan satu istilah yang memiliki dua makna berbeda dan berpikir bahwa istilah tersebut hanya memiliki satu makna…” Kalimat “…dan berpikir bahwa istilah tersebut hanya memiliki satu makna” itu yang menjadi masalahnya. Dia pikir, memiliki “satu makna” itu yang jadi masalah, padahal yang jadi masalah adalah makna ganda atau lebih pada satu term. Mungkin, Ma Kuru hanya keliru sedikit sa dalam menuliskan kalimat itu. Keliru sedikit yang fatal yang harusnya bisa dihindari seorang ahli logika.

    Perhatikan penjelasan ekuivokasi berikut:
    “For an argument to work, WORDS MUST HAVE THE SAME MEANING each time they appear in its premises or conclusion. ARGUMENTS THAT SWITCH BETWEEN DIFFERENT MEANINGS OF WORDS equivocate, and so don’t work. This is because THE CHANGE IN MEANING INTRODUCES A CHANGE IN SUBJECT. If the words in the premises and the conclusion mean different things, then the premises and the conclusion are about different things, and so the former cannot support the latter.”

    Kata-kata yang digunakan dalam berargumen harus memiliki arti yang sama tiap kali digunakan. Tiap kali Ma Kuru berganti2 makna kata “prekondisi” dalam mengemukakan argumen-argumen Ma Kuru sepanjang diskusi dengan saya dari dulu sampai sekarang, maka ekuivokasi yang sedang terjadi. Bukan begitu? Atau saya strawman lagi terhadap posisi Ma Kuru? “Modus”, man.

    3. Pada point yang dia kodekan dengan angka 2, saudara Marvel masih menuduh saya melakukan straw man ketika saya mengatakan bahwa dia menyamakan ‘otak’ dan ‘pemikiran’, walaupun saya sudah tegaskan bahwa formulasi saya salah dan sudah memberikan koreksi formulasi yang lebih merefleksikan pandangan saya. Pembahasan lanjutan terhadap point ini ada pada point 4.

    Tanggapan Marvel: Ini saya kutip kembali pernyataan saya sebelumnya ke Ma Kuru: “Baiklah, yang jelas sekali yang saya maksudkan dalam pernyataan2 saya dulu saat diskusi dengan mereka adalah kemampuan berpikir seseorang hilang jika fungsi otaknya sudah rusak.”
    Pertanyaan saya ke Ma Kuru masih sama, apakah pernyataan ini menyamakan otak dengan pikiran sesuai definisi otak dan pikiran yang pernah saya sampaikan?

    4. Masih dalam point 2, saudara Marvel menyangkali kalau dia berpandangan bahwa anak-anak kecil yang belum menerapkan hukum-hukum logika (namum yang katanya beriman itu) tidak paham hukum-hukum logika. Dia menganggap itu straw man. Mungkin itu straw man, mungkin juga tidak. Yang jelas, yang saya bantah dalam tulisan saya sebelumnya adalah adalah implikasi dari yang dia katakan. Saya tidak sedang menyerang sesuatu yang secara eksplisit yang dia katakan. Karena itu tugas dia sebenarnya adalah menunjukkan kepada saya bahwa implikasi yang saya tarik dari pernyataan eksplisitnya, tidaklah valid. Tetapi itu tidak dia lakukan dan dia menyerang saya seolah-olah saya sedang menyerang pandangan dia yang eksplisit. Lalu yang straw-men siapa? Sekali lagi saya katakan bahwa untuk mengatakan bahwa saya melakukan straw men, maka saudara Marvel harus menunjukkan (bukan hanya mengklaim) bahwa implikasi yang saya tarik dari pandangan eksplisitnya tidak valid.

    Tanggapan Marvel: Implikasi apa yang sebenarnya Ma Kuru maksudkan dalam pernyataan diatas? Karena, pemahaman Ma Kuru akan implikasi versi Ma Kuru itu bisa saja bukan saja seperti yang saya maksudkan. Dan, itu sudah saya jelaskan. Silahkan, diulangi jika dipandang perlu.

    5. Dalam komentar yang sama, saudara Marvel melakukan kesalahan fatal yaitu melakukan kontradiksi dengan pandangannya sendiri. Di satu pihak dia katakan bahwa bayi baru lahir belum punya kemampuan untuk menerapkan ketiga hukum logika. Tetapi dalam tulisan sebelumnya dia katakan demikian, “Contoh lain yg lebih mendasar, saat seorang anak manusia baru lahir dan bertumbuh serta diperkenalkan akan dunia, walaupun dia belum tahu benar bahwa yang disebut A adalah A, tapi dia turut percaya (setelah diberitahu) bahwa A adalah A, itulah iman.” Apakah sebelum anak ini diberitahu bunyi hukum Identitas (A adalah A), logikanya tidak berjalan? Dia tidak menerapkan hukum Identitas? Tentu saja sudah. Bagaimana dia menerima hukum Identitas kalau hukum identitas itu tidak mengatur benaknya untuk berpikir? Apakah dia menerima hukum identitas itu tanpa berpikir? Tentu saja, kalau tidak berpikir, maka logika bukan prakondisi. Tetapi kalau demikian, maka pada saat itu apakah dapat dikatakan dia menerima hukum Identitas kalau dia tidak berpikir? Mungkin dalam definisi saudara Marvel jawabannya afirmatif, tetapi dalam dunia saya itu lebih seperti beo saja.

    Tanggapan Marvel: Adakah penjelasan ilmiah lain yang Ma Kuru temukan dan tidak saya tahu yang menyatakan sebaliknya? Yang saya pernah baca, hasil penelitian ilmiah mengatakan bahwa otak bayi yang baru lahir itu walaupun sudah memiliki sekitar 100 milyar sel, tetapi, masih belum terhubung dalam satu jaringan antara satu dengan yang lainnya. Pada kondisi ini, otak bayi baru lahir masih belum “matang”. Nah, bagaimana seorang bayi bisa berpikir pada kondisi seperti ini? Bagaimana logika-nya dia berfungsi jika kemampuan berpikirnya itu masih belum berfungsi?
    Mengutip pernyataan Ma Kuru sendiri, “Mungkin saudara Marvel beranggapan bahwa saat itu si anak tidak berpikir. Kalau demikian adanya, maka benar bahwa logika bukan prakondisi bagi iman.” Jadi, cukup sudah, Ma Kuru. logika bukan prakondisi iman. Jelas, bukan?

    6. Pada point no. 3 Saudara Marvel meminta penjelasan tentang dimana dia menuduh kami straw men dan ternyata dia yang melakukan straw men. Mungkin saudara Marvel perlu lebih jeli mengikuti jalan pembicaraan ini. Pertama dia mengatakan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika dimana dia ambil contoh tentang anak kecil. Tetapi kami katakan bahwa logika adalah prakondisi bagi iman dan kami menunjukkan argumen pendukung. Tetapi saudara Marvel mengatakan bahwa kami sedang melakukan straw men. Straw men adalah menyerang pandangan yang bukan pandangan lawan. Dengan kata lain kami hanya akan straw men kalau yang kami serang itu adalah pandangan yang mengatakan bahwa ‘logika bukan prakondisi iman’ sedangkan kenyataannya saudara Marvel percaya bahwa ‘logika adalah prakondisi iman’. Namun saudara Marvel percaya bahwa ‘logika bukan prakondisi bagi iman’ (setidaknya dalam kasus-kasus tertentu), atau yang dia formulasikan secara berbeda yaitu ‘Iman adalah prakondisi bagi logika’. Apakah ketika kami menyerang pandangan ‘logika bukan prakondisi bagi iman’ atau yang setara dengan ‘Iman adalah prakondisi bagi logika’ maka kami menyerang straw men? Tentu saja tidak. yang diserang adalah pandangan saudara Marvel dan dia keluarkan pernyataan eksplisit tentang hal itu.

    Tanggapan Marvel: Ma Kuru, anda ahli logika, bukan? Ngerti tidak bahwa argumen anda itu dikemukakan lewat sekian banyak penjelasan, pertukaran kata-kata dalam kalimat2 yang panjang juga termasuk diantaranya memahami penjelasan lawan bicara anda yang juga melakukan yang sama dalam menjelaskan posisinya. Apabila, anda salah mengerti penjelasan lawan bicara anda, apakah itu bukan strawman?

    Supaya anda mengerti, mari ikuti penjelasan gaya anak SD berikut ini:
    Ada satu payung besar yang sedang terbuka. Sebut saja payung A. Di bawah payung itu ada payung lebih kecil yang juga sedang terbuka dan disebut payung B. Di bawah payung B, ada payung yang lebih kecil yang disebut dengan payung C. Payung A membawahi payung B, dan payung B membawahi payung C.

    Nah, sekarang mari kita gunakan payung2 itu sebagai ilustrasi. Payung A adalah pernyataan posisi saya “Iman adalah prakondisi logika”. Payung B adalah pernyataan saya dalam proses berargumen yang berbunyi: “Bayi baru lahir dianugerahi iman dari Tuhan”. Payung C adalah pernyataan saya berikut dalam proses berargumen itu yang berbunyi: “Seorang bayi percaya ibunya bahwa A adalah A” dalam istilahnya Ma Kuru bayi itu membeo.

    Jika Ma Kuru salah mengerti “Payung C” dan menggunakannya untuk memperlemah posisi saya di “Payung A”, maka itu juga disebut dengan strawman. Bisa mengerti, Ma Kuru?

    7. Pada point 4. Saudara Marvel mengatakan bahwa saya sebenarnya secara diam-diam mengakui telah melakukan straw men dengan mengakui bahwa saya kurang teliti dalam formulasi. Tetapi Straw men dan kekurang-akuratan dalam formulasi isu adalah dua hal berbeda. Kenyataannya, kalau saudara Marvel analisa bahwa apa yang saya tulis, akan jelas ketidak-akuratannya di sana karena pada awal paragraf saya berbicara tentang otak disamakan dengan pikiran sedangkan pada akhir paragraf kesimpulan saya terkait dengan pikiran sebagai hasil reaksi kimia dalam otak. Supaya tidak dibilang mengada-ada saya kutipkan paragraf di maksud di sini “Keberatan pertama yang dikemukakan oleh Saudara Marvel adalah sebuah sesat pikir. Dalam keberatan tersebut saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran sehingga kalau otak tidak berfungsi maka otak tidak berfungsi. Dalam logika sesat pikir seperti ini dikenal dengan ekuivokasi. Dalam keberatan ini Saudara Marvel menyamakan otak dengan pikiran. Mungkin juga saudara Marvel berpegang pada pandangan filsafat naturalisme/materialisme bahwa pikir adalah hasil reaksi kimia dalam otak, sehingga kalau reaksi-reaksi kimia dalam otak sudah tidak berjalan ‘normal’, maka pikiran menjadi tidak berfungsi normal.” Tetapi kalau saudara Marvel memaksa juga untuk saya mengakui, maka saya bilang saya melakukan straw men. Tetapi pada titik ini, jelas saya menggunakan ‘straw men’ dengan definisi yang bertentangan dengan definisi saudara Marvel.
    Namun syukur bahwa pada point ini saudara Marvel mengakui bahwa dia percaya bahwa kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak. Artinya dia mengakui bahwa dia menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Jadi kalau otak tidak berfungsi dengan baik maka pikiran tidak berfungsi dengan baik. Dengan kata lain ini adalah pandangan ateisme dan naturalisme. Pandangan Kristen jelas tidak seperti ini seperti yang saya tunjukkan dalam kasus orang Kristen yang memuji Allah di surga dan orang yang mengalami NDE tetapi fungsi pikirannya masih sangat baik.

    Tanggapan Marvel: Pertama-tama, saya lucu juga dengan penalaran Ma Kuru ini. Coba Ma Kuru jabarkan dalam konstruksi logis, bagaimana pernyataan “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak? Langsung saja dan tidak usah berkelok-kelok. Misalnya, premis 1 apa, premis 2 apa, dst, sehingga konklusinya: pikiran = hasil reaksi kimia dalam otak. Silahkan, Ma Kuru.

    8. Untuk menanggapi kasus-kasus itu saudara Marvel menanyakan bahwa apakah saya percaya bahwa ada otak rohani. Saya tidak tahu apakah orang percaya itu ada ‘otak rohani’ atau tidak dan dalam diskusi ini kita tidak sedang berbicara tentang ‘otak rohani’ tetapi ‘otak jasmani’. Intinya adalah walaupun roh-roh itu sudah tidak berotak, tetapi mereka masih berpikir. Dengan kata lain yang hendak dikatakan di sini adlaah bahwa pikiran bukah hasil reksi otak. Otak boleh mati, tetapi pikiran masih berfungsi.
    Pada pont 5. Semakin memperjelas bahwa pandangan saya dengan saudara Marvel sebenarnya saling berseberangan. Saya percaya bahwa logika ada terlebih dahulu baru iman ada. Tidak bisa terbalik karena iman membutuhkan pengertian dan pengertian tidak bisa ada tanpa logika. Kalau ada pengertian tanpa logika, maka orang yang katanya beriman itu beriman kepada apa? Menanggapi tentang orang-orang Kristen di surga yang memuji-muji Tuhan, saudara Marvel mengatakan bahwa orang-orang tersebut harus yakin terlebih dahulu bahwa memuji Tuhan itu baik. Jadi itu membuktikan bahwa logika bukan prakondisi. Jadi menurut saudara Marvel, orang-orang yang memuji Tuhan itu harus mengakui bahwa memuji Tuhan itu baik. Lalu apakah mereka mempercayai bahwa memuji Tuhan itu baik, sedangan mereka tidak punya pikiran atau pikiran mereka tidak jalan? Apakah mereka itu seperti robot rohani atau burung beo rohani atau boneka rohani sehingga mereka sebenarnya tidak berpikir ketika melakukan yang mereka lakukan?

    Tanggapan Marvel: Apa sih pengertian Ma Kuru akan kata “pikiran”? Jangan-jangan kita sedang tidak berada “pada halaman yang sama”.

    9. Dalam point yang sama saudara Marvel menanyakan apa definisi Iman. Saya tidak tahu sudah berapa lama hal ini dibahas dan sudah ulang-ulang dibicarakan tetapi Saudara Marvel tidak paham juga apa yang kami maksudkan? Hal seperti ini agak kurang etis rasanya dalam debat. Kalau tidak dapat dikatakan kurang etis, setidaknya hal seperti ini dapat mengakibatkan ill-feel pada lawan diskusi. Tetapi daripada disebut-sebut berkelok-kelok saya menjawab, iman adalah mempercaya proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar. Termasuk di dalamnya adalah proposisi yang saudara Marvel angkat bahwa ‘Memuji Tuhan adalah hal yang baik”. Setuju dan mengakui proposisi tersebut adalah contoh iman. Jadi sekarang pertanyaan untuk saudara Marvel adalah, apakah orang percaya di surga paham poposisi itu atau tidak? Kalau paham apakah hukum kontradiksi berlaku atau tidak ketika dia paham? Kalau tidak paham, berarti orang Kristen di surga adalah robot dan bung Marvel berkontradiksi dengan diri sendiri.

    Tanggapan Marvel: Saya pikir jelas sudah mengapa Ma Kuru berbeda dengan saya. Menurut Alkitab dalam Ibrani 11:1, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Perhatikan dua kata kunci pada ayat itu: “dasar” dan “bukti”. Dan, “dasar” dan “bukti” TIDAK SAMA dengan “mempercayai proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar”?

    “Dasar” dan “bukti” dalam Ibrani 11:1 itu sudah ada. Jadi, kalau kita bicara mengenai Tuhan menganugerahkan iman kepada kita, maka yang sebenarnya kita bicara adalah Tuhan menganugerahkan “dasar” dan “bukti” itu kepada kita. Sehingga, saat kita harapkan sesuatu dan tidak melihat sesuatu itu, maka “dasar” dan “bukti” itu telah ada untuk meyakinkan kita bahwa sesuatu itu benar2 ada. Implikasi dari pemahaman ini adalah “iman adalah prakondisi dari logika”. Contohnya, pikiran Ma Kuru sedang menalar kalimat “mempercayai proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar”. Ma Kuru belum yakin benar bahwa kalimat itu bernilai benar, tetapi, oleh “dasar” dan “bukti” itu, Ma Kuru merasa bahwa kalimat itu bernilai benar. Oleh karena itu, Ma Kuru mengambil sikap dan tindakan mendalami makna kalimat itu sampai akhirnya Ma Kuru yakin bahwa Ma Kuru sudah menemukan kebenaran yang terkandung dalam kalimat itu. Jadi, nyatalah bahwa iman Ma Kuru telah menggerakkan dia untuk menggunakan pikirannya (yang ada melekat logika itu) untuk mencapai kebenaran.

    Apakah “dasar” dan “bukti” itu berupa proposisi? Ingat, proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Apakah “dasar” dan “bukti” itu berupa kalimat pernyataan? Jelas saja bukan! “Dasar” dan “bukti” itu adalah “the truth” dan “the truth” itu Tuhan anugerahkan kepada manusia, sehingga manusia bisa yakin akan sesuatu bahkan sebelum dia melihat bukti. Saya minta Ma Kuru jangan melihat “the truth” itu sebagai satu kata yang berisi huruf2 T R U T H. Tapi, sense the essence of the “truth”. The truth is the truth! The truth needs no reasoning, because the truth is God, alpha and omega.

    Dengan demikian, apakah iman itu Tuhan? Mari kita renungkan bersama2. Saya belum bisa menjawabnya dengan pasti, tapi, iman saya mengatakan, dalam konteks ini, iya. Jadi, bisa dibilang ada iman (baca:Tuhan) baru bisa ada logika. Amin.

    10. Tentang point enam, saudara Marvel mengatakan bahwa kasus seorang anak batita yang menyatakan ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’ menunjukkan bahwa batita tersebut tidak mampu menerapkan ketiga hukum logika. Ini adalah sebuah kesalahan serius. Saya tidak tahu saudara Marvel belajar logika dimana sehingga ini dianggap berarti bahwa batita tersebut tidak mampu menerapkan ketiga hukum logika. Hukum logika tidak mengatakan misalnya “Ohh… you.. kalian semua, kalian harus gunakan kata tikus untuk merujuk kepada binatang rodentia mencicit yang secara ilmiah disebut ‘Mus musculus’.” Sama sekali hukum logika tidak mengatakan demikian. Itu hanya kesalahan pengertian saudara Marvel. Kesalahan pengertian yang sama yang mungkin bertanggung jawab terhadap kritiknya terhadap definisi stipulatif saya terhadap prasyarat dan prakondisi sebagai sinonim. Hukum logika hanya mengatakan “Hei, you, kalian semua, saat kalian menggunakan satu kata, kata itu harus memiliki satu makna saat kalian gunakan. Tidak boleh lebih. Karena kalau kalian menggunakan lebih dari satu makna, maka kata itu menjadi tidak jelas atau tidak ada.” Itu parafrase dari perintah hukum logika. Jadi tidak masalah ketika batitanya saudara Marvel menyebut ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’. Jelas bahwa saat dia menyebut ‘penghapus’ sebagai ‘tikus’. Dia merujuk kepada satu hal saja. Menjadi bermasalah kalau ternyata batita saudara Marvel menyebut segala sesuatu sebagai ‘tikus’, sehingga ketika dia hendak berkata ’Mama minta susu’ dia hanya bilang ‘tikus tikus tikus’. Tetapi masalahnya kalau demikian, kalimat ‘Tikus tikus tikus’ juga berarti ‘Makuru orang bodoh.’ Tidak ada komunikasi. Tidak ada makna. Jadi…., tidak ada masalah dalam kasus ini. Itu bukan kasus batita tidak bisa menerapkan hukum logika, tetapi lebih menunjuk kepada fakta bahwa saudara Marvel harus lebih banyak belajar lagi tentang logika dan seluk-beluknya.Tetapi saya senang karena sejauh ini saudara Marvel sudah mau belajar tentang logika. Tinggal dilanjutkan saja.

    Tanggapan Marvel: Penjelasan terhadap ini, sama dengan penjelasan saya pada poin 5 diatas. Saya akui bahwa contoh batita itu bukan contoh yang ideal untuk menjelaskan maksud saya. Baca saja penjelasan di poin 5. Makasih.

    11. Pada point 7 pernyataan saya bahwa orang bisa tidak menyadari formulasi hukum-hukum logika tetapi namun pikirannya didasari hukum logika, dianggap saudara Marvel sebagai sesuatu yang menunjukkan bahwa ada kasus dimana iman harus ada duluan sebelum logika. Tetapi masalahnya dalam kasus ini adalah dia tidak tahu sama sekali formulasi hukum-hukum logika. Apa yang dia mau percayai? Mempercayai sesuatu yang tidak diketahui? Apakah iman berarti mempercayai sesuatu yang tidak diketahui isinya? Lalu apa yang dipercayai kalau isinya tidak diketahui? Itu absurd. Yang terjadi adalah pikiran itu beroperasi berdasarkan hukum-hukum itu walaupun si subyek tidak menyadarinya. Logic is at the back of their had adalah ungkapan yang merepresentasikan apa yang baru saja saya katakan.
    Faktanya saya bisa mendukung pernyataan saya dengan mengangkat kasus yang lebih ekstrim. Ini bukan kasus anak batita, tetapi orang dewasa, orang tua. Orang tua saya yang di kampung tidak paham itu formulasi hukum kontradiksi, hukum tidak ada jalan tengah, hukum identitas. Tetapi setiap hari mereka beroperasi dengan bersandar pada hukum-hukum tersebut. Apakah saudara Marvel akan membantah bahwa saat orang tua saya di kampung yang tidak paham formulasi hukum-hukum logika sebenarnya tunduk pada hukum logika? Supaya adil, ambillah contoh orang tua saudara Marvel sendiri, apakah tidak tunduk pada hukum logika walaupun tidak paham formulasi hukum-hukum tersebut? Akan sangat menarik kalau saudara Marvel menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara positif afirmatif. Tapi rasa-rasanya tidak akan afirmatif jawabannya.
    Untuk mendukung posisi tersebut, saya kutipkan terjemahan dari buku Norman Geisler tentang logika, yang berjudul Come, Let us Reason “ Namun demikian, logika bukanlah sesuatu yang sulit. Nyatanya, logika merupakan hal yang paling mudah karena kita menggunakannya setiap saat, walaupun kita tidak menyadarinya. Itu tidak berarti bahwa anda menyusun setiap pemikiran anda menjadi bentuk-bentuk logika dan melakukan analisa bentuk setiap kali anda berpikir.”
    Kesimpulan? Diskusi dengan saudara Marvel menarik. Di satu pihak saya melihat ada keinginan dan usaha untuk belajar logika. Sesuatu yang luar biasa. Tetapi di pihak lain pemahaman saudara Marvel tentang logika masih perlu diperbaiki. Paling tidak saya dapat bersyukur bahwa apa yang kami lakukan tidak sia-sia. Kami menginginkan lebih banyak orang lagi yang paham logika, walaupun pada akhirnya mereka mungkin tidak setuju dengan posisi kami. Alasan lain mengapa diskusi ini menarik adalah karena diskusi ini menunjukkan bahwa logika bukanlah sesuatu yang berada di luar sana yang tidak menjangkau kehidupan sehari-hari.
    Tentang keberatan saudara Marvel terhadap posisi saya, tidak ada satupun argumen utama yang digugurkan. Logika adalah prakondisi bagi iman. Tanpa logika tidak ada iman.

    Tanggapan Marvel: Perbedaan pemahaman akan “iman” telah mendasari perbedaan yang diperdebatkan Ma Kuru pada poin ini. Tidak ada lagi yang perlu saya tanggapi. Baca saja poin 9 diatas. Makasih.

    Jelas sekali bahwa ada iman baru ada logika! Saya senang karena akhirnya bisa mengetahuinya dengan sangat jelas.

    Terima kasih saya ucapkan kepada Ma Kuru yang telah berkenan berlelah2 menanggapi “kebawelan” saya. Saya berharap, diskusi ini juga pada akhirnya dapat berkontribusi positif kepada Ma Kuru.

  2. Ping balik: Bungkusan Bagus Tapi isi Memprihatinkan | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s