Bungkusan Bagus Tapi isi Memprihatinkan

IMG_9408

Ilustrasi paket lumayan bagus, isi memprihatinkan. Sumber: http://www.thefrugalgirl.com/

Tulisan ini adalah tanggapan terhadap komentar saudara Marvel yang ditampilkan di bagian komentar tulisan di link ini.

Pertama, saudara Marvel masih menyerang definisi stipulatif saya terhadap kata ‘prakondisi’ yang saya samakan dengan definisi kata ‘prasyarat’ karena prasyarat dan prakondisi bukan kata baru. Menurut Marvel, sebuah definisi stipulatif merupakan upaya memperkenalkan kata baru. Mungkin saudara Marvel sedang tidak menyadari apa sebenarnya definisi stipulatif sehingga berani mempersyaratkan demikian. Mari saya kutipkan makna dari definisi stipulatif dari buku yang sedang saya selesaikan penterjemahannya sekarang yaitu buku Logic Primer oleh Elihu Carranza.

Jenis defisi => Stipulatif. Tujuan Definisi => Untuk memperkenalkan sebuah istilah baru (atau penggunaan istilah lama dengan cara baru) demi meningkatkan kosa kata; usulan untuk menggunakan sebuah kata atau frasa dengan makna tertentu; di dalamnya termasuk singkatan atau akronim-akronim; tidak dinilai sebagai  benar atau salah. (definisi nominal atau verbal). (Buka mata lebar-lebar ko baca itu yang dikasih tebal😀 )

Jadi tidak masalah kalau tidak ada kata baru yang digunakan. Saya menggunakan kata lama dengan cara yang baru (perhatikan tujuan definisi dalam kurung). Saya menggunakannya dengan makna yang juga melekat pada kata prakondisi. Apakah saya tidak punya hak untuk melakukan itu? Mungkin tidak menurut Marvel. Tetapi dia tidak menunjukkan mana aturan yang mengatakan demikian. Dan saya sangka saya tidak akan pernah melihat dia mengutip hukum logika atau hukum apapun yang berlaku universal otoritatif yang melarang saya melakukan apa yang saya lakukan, yaitu menggunakan definisi stipulatif.

Dia juga mengatakan bahwa saya melakukan ekuivokasi. Padahal sebenarnya ekuivokasi adalah menggunakan satu kata (yang memiliki makna berbeda) dalam sebuah argumen, dimana pada premis kata tersebut memiliki makna berbeda daripada yang berada dalam kesimpulan. Contoh argumen:

Premis: Bali adalah surga para wisatawan.
Kesimpulan: Karena itu kalau para wisatawan meninggal, maka rohnya akan berada surganya wisatawan yaitu di Bali.

Di sini terjadi ekuivokasi pada kata ‘surga’. Pada premis kata tersebut berarti tempat favorit atau tempat disenangi para turis. Sedangkan pada kesimpulan, kata tersebut berarti ‘tempat roh hidup setelah kematian tubuh’. Jadi orang yang mengemukakan argumen dengan term dalam premis yang memiliki makna yang berbeda dengan term yang sama dalam kesimpulan.

Sekarang…… apakah saya melakukan hal yang sama dengan itu? Tentu saja tidak. Yang saya lakukan adalah menggunakan dua kata yang berbeda tetapi dengan definisi yang sama. Mungkin Marvel bingung dengan penggunaan seperti itu, tetapi kalau dia bingung bukankah sebaiknya dia mengajukan pertanyaan klarifikasi dan bukannya mencoba menggunakan istilah yang tinggi-tinggi seperti ekuivokasi secara tidak tepat?

Itu adalah reductio ad absurdum saya terhadap yang dikemukakan Saudara Marvel.

Namun ada kemungkinan saudara Marvel akan mengatakan bahwa dia menggunakan ekuivokasi dengan makna stipulatif. Mungkin dia akan mengatakan bahwa makna stipulatif yang dia terapkan terhadap kata ‘ekuivokasi’ adalah dua istilah berbeda digunakan dengan makna yang sama. Yaa.. itu hak beliau. Tetapi harus diingat, dia tidak sedang berbicara tentang logika saat di saat menggunakan definisi demikian. Ini antisipasi saja (tidak berarti bahwa saudara Marvel akan melakukan ini, tapi siapa tahu).

Satu lagi yang saudara Marvel lupa adalah bahwa dalam berbagai kamus definisi online (termasuk kamus besar Bahasa Indonesia), penggunaan ‘prakondisi’ sebagai ‘prasyarat’ adalah sesuatu yang lazim. Saya malas untuk memberi di sini link ke yang saya maksud. Tetapi kalau Marvel atau siapapun mempertanyakan, saya akan dengan senang hati menunjukkannya pada tanggapan saya nanti.

Lebih aneh lagi dengan tanggapan saudara Marvel adalah bahwa dia mengakui ‘precondition’ (bahasa Inggrisnya prakondisi) bisa berarti prasyarat. Nah, kalau kata itu bisa berarti prasyarat dan saya menggunakan itu dengan makna seperti, apa masalahnya saudara Marvel? Walaupun di luar sana kedua kata itu bisa berarti berbeda, saya tidak menggunakannya dengan cara yang berbeda itu saudara Marvel. Tidak. Tetapi kenapa anda mengharuskan saya menggunakannya dengan makna yang berbeda itu? Hak anda darimana saudara Marvel? Saya ingin tahu. Sangat tidak dapat dipercaya kalau anda mempersoalkan itu saudara Marvel!

Lalu apa sebenarnya masalah saudara Marvel dengan penggunaan istilah seperti itu? Dari pembahasan yang dia lakukan, ternyata dia menggunakan kedua istilah itu dengan makna berbeda. Dalam definisi dia, jika digunakan kata ‘prakondisi,’ maka di sana tidak terkandung makna ‘tanpa logika tidak ada iman.’ Tetapi sebaliknya kalau digunakan kata ‘prasyarat’ maka di sana terkandung makna bahwa ‘tanpa logika tidak ada iman.’ Nah, seperti saya katakan, itu hak dia untuk mendefinisikan kata seperti itu. Terserah saja. Saya menggunakan keduanya sebagai sinonim. Logika adalah prasyarat/prakondisi bagi iman. Tanpa logika, tidak akan ada iman. Kalau iman sudah tidak ada tanpa logika, lalu apa dia bisa tumbuh? Proposisi ‘Iman tidak akan tumbuh kalau tidak ada logika’itu merupakan konsekuensi logis yang valid dari proposisi ‘tanpa logika, tidak ada iman’. Itu adalah konsekuensi tidak terhindarkan dari posisi bahwa ‘tanpa logika, tidak ada iman.’

Lalu saudara Marvel mengatakan mungkin saya akan menyalahkan kamus karena mendefinisikan kedua kata tersebut sebagai bukan sinonim. Saya jelas tidak akan menyalahkan kamus bung Marvel. Mungkin bung Marvel yang tidak paham tentang definisi stipulatif yang akan mempersalahkan kamus. Kamus punya definisi sendiri dan saya bisa saja menggunakan definisi stipulatif terlepas dari kamus. Coba pelajari definisi stipulatif lebih baik lagi.  Tetapi di sini ada masalah, kamus mana yang saudara Marvel maksudkan? Kita tidak tahu dan tidak pernah diperlihatkan bagaimana kedua istilah tersebut didefinisikan secara berbeda. Apakah akan muncul dalam tanggapan berikut? Mungkin. Kita tinggal melihat saja. Saya juga akan menunjukkan referensi online yang menyatakan sebaliknya. 

Untuk mengilustrasikan pandangannya terhadap pandangan saya, Saudara Marvel mengemukakan analogi 2 gelas. Masalahnya adalah saya tidak berpegang pada analogi gelas. Analogi itu tidak mencerminkan pandangan saya. Analogi tersebut analogi yang cacat. Hubungan logika dan iman lebih seperti hubungan antara ‘kejuaraan bulu tangkis taraf internasional’ dengan ‘lapangan bulu tangkis yang memadai.’ Kejuaraan bulu tangkis internasional hanya dilakukan di lapangan bulu tangkis yang memadai. Tanpa lapangan bulu tangkis yang memadai, tidak ada kejuaraan bulu tangkis internasional. Jadi lapangan bulu tangkis yang memadai adalah prakondisi atau prasyarat bagi kejuaraan bulu tangkis taraf internasional. Namun demikian, tidak berarti bahwa lapangan yang memadai adalah penyebab dari kejuaraan bulu tangkis internasional. Siapa yang straw men? Dengan kata lain, siapa yang menyerang pandangan yang bukan pandangan orang lain? Hmm…    

Satu hal lain yang cukup mengganggu adalah, sejak awal diskusi setahun atau dua tahun lalu, jelas bahwa yang kami maksudkan dengan prakondisi itu adalah tanpa logika, tidak ada iman. Bahkan Ama Rony dalam statusnya mengatakan ‘No logic, no faith’.  Ini sudah dibahas dalam postingan saya sebelumnya. Tetapi aneh sekali, Marvel sengaja tidak tahu tentang diskusi lama dan memaksa kami berpegang pada pembedaan antara ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’. Lalu selama ini bung Marvel ini serang katong dengan pemahaman sendiri bahwa prakondisi dan prasayarat berbeda sedangkan sejak awal sudah jelas posisi kami bahwa prakondisi sinonim dengan prasyarat. Apa ini bukan straw men? Straw men berkepanjangan yang kemudian dia putar-putar sehingga akhirnya kamilah yang dia anggap melakukan straw men.          

Pada point kedua Marvel menyangkali kalau dia melakukan dia melakukan ekuivokasi. Tampaknya dia sudah paham apa itu ekuivokasi (Thanks God), yaitu ekuivokasi adalah menggunakan satu istilah yang sebenarya memiliki lebih dari satu makna tetapi dianggap hanya memiliki satu makna oleh sang pembuat argumen, sehingga dia menganggap kesimpulannya valid (Btw, siapa yang akan secara serius mengemukakan argumen yang dia tidak anggap valid?). Dalam kasus saya, apakah saya menggunakan satu istilah dengan dua makna? Tidak. Saya menggunakan dua istilah dengan satu makna. Sejak awal saya sudah bilang bahwa istilah ‘prakondisi’ dan ‘prasyarat’ saya gunakan sinonim. Jadi tidak masalah kalau saya menggunakan istilah tersebut secara bergantian dalam proposisi sebuah argumen karena maknanya sama. Yang terjadi di sini adalah, Marvel memaksa saya (dengan argumen palsu) mengakui bahwa kedua istilah tersebut merujuk kepada hal berbeda dalam rangka dia bisa menuduh saya melakukan ekuivokasi. Dengan kata lain, dia sengaja membuat saya mengakui straw men yang dia lakukan (pandangan bahwa ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’ memiliki makna berbeda) supaya dengan itu dia dapat ditangkap melakukan ekuivokasi. Tetapi sekali lagi masih sama, pertanyaannya adalah beta lakukan ekuivokasi dari Hongkong?

Pada point ketiga saya, saya sudah jelaskan bahwa ada sedikit masalah formulasi, tetapi masih dipertanyakan lagi hal yang sama.

Point keempat saudara Marvel mempertanyakan apa yang saya maksud dengan saya menyerang implikasi dari argumen dia. Tetapi beta sarankan bung Marvel baca ulang beta pung tulisan yang bu tanggapi dan bandingkan itu dengan tanggapan balik beta. Beta agak malas musti jelaskan beta pung maksud. Tetapi kalau bu do’o, beta akan jelaskan dalam tanggapan berikut.

Pada point 5 Marvel sekali lagi melakukan kesalahan dengan menganggap pikiran sebagai hasil reaksi kimia dalam otak sehingga karena anak-anak yang memiliki sel-sel yang belum saling terhubung, maka pikiran bayi belum ada alias bayi belum berpikir. Seperti yang saya katakan, pikiran bukan hasil reaksi kimia dalam otak. Jadi menurut dia dalam kondisi seperti itu, menjadikan kemampuan berpikir anak belum berfungsi.

Sekarang, mari kita lakukan reductio ad absurdum di sini. Masalahnya dia mengatakan bahwa anak itu pada saat itu sudah bisa mengamini (mengakui) bahwa A adalah A (hukum identitas) benar. Lalu dia menerima hukum identitas itu, apakah dia paham? Kalau tidak paham, apa yang dia terima? Tolong jelaskan ke saya. Apakah dia hanya seperti beo atau robot yang mengungkapkan ulang apa yang didengarnya? Apakah iman itu sesuatu yang terjadi tanpa pemahaman atau pengertian? Lalu apa itu iman kalau iman berarti pemahaman tidak diperlukan? Apa itu iman bung Marvel? Iman itu perasaan? Atau apa?

Masih dalam modus reductio ad absurdum, kalau pikiran bayi belum berfungsi dan iman memerlukan pengertian, apakah iman memungkinkan terjadi kalau demikian? Tentu saja tidak. Tetapi kalau iman adalah sesuatu yang terjadi tanpa ada pengertian, maka ‘iman’ itu bisa terjadi. Tetapi masalahnya itu bukan ‘iman’ dalam definisi Alkitab. Setidaknya itu bukan iman Kristen.

Tetapi jika iman adalah sesuatu yang melibatkan pikiran, maka saat itu, anak batita itu, tidak memiliki iman dan logikapun tidak berfungsi. Jadi kondisi ini tidak dapat membantah bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Juga tidak membuktikan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Hal itu hanya akan tercapai kalau iman adalah sesuatu yang tidak melibatkan pemikiran.

Pada point keenam, anda berbicara tentang apa bung Marvel? Kalaupun benar saya ahli logika (sesuatu yang saya tidak pernah katakan, tetapi mungkin saudara Marvel menggunakan istilah itu itu sesuai dengan apa yang dia anggap tepat atau tidak tepat untuk mengejek), jika sesuatu tidak dinyatakan secara jelas, siapapun tidak akan paham bung. Like…, its gibberish you know! Bukankah status anda yang kami serang karena anda menggunakan iman sebagai ‘prakondisi’ bagi logika? Lalu di tempat lain anda katakan setuju dengan logika sebagai prakondisi? Dan ingat bahwa apakah anda menggunakan kata prakondisi dengan dua makna berbeda dalam argumen yang sama? Kalau tidak, tentunya anda tidak bisa mengatakan bahwa pandangan anda sesuai dengan pandangan kami karena sejak awal kami sudah katakan prakondisi artinya ‘no logic, no faith’. Atau apa maksud anda saudara Marvel? Lalu setelah itu anda katakan kami melakukan straw men karena menentang pandangan anda bahwa iman adalah prakondisi? Bung, jujur saja, yang menjadi prakondisi itu apa sih? Logika atau iman?

Pada Poin ketujuh, bung Marvel mempertanyakan sanggahan saya terhadap tuduhan straw men yang ditujukannya kepada saya karena interpretasi saya bahwa dia percaya “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Namun bukankah saya sudah menjelaskan masalah formulasi dan bukan straw man? Baiklah saya ulangi lagi apa yang saya katakan. Saya katakan bahwa saya seharusnya memformulasikan posisi bung Marvel sebagai ‘menyamakan pikiran dengan reaksi kimia otak.’ Untuk menjustifikasi itu saya kemukakan kembali alasannya dengan menunjukkan bahwa pada awal saya berbicara tentang menyamakan otak dan pikiran, lalu masih pada bagian yang sama (di bagian akhir paragraf) saya menjelaskan itu sebagai bung Marvel percaya pada pandangan bahwa “pikir[sic] adalah hasil reaksi kimia dalam otak”. Jadi, di sana hanya masalah formulasi semata. Bukan straw men.      

Untuk poin 8 bung Marvel menanyakan apa yang saya maksudkan dengan pikiran. Baiklah, Pikiran adalah kemampuan untuk mempertimbangkan proposisi-proposisi, menciptakan proposisi termasuk menghubungkan propisisi satu dengan propisisi lain untuk mengambil kesimpulan tertentu yang tidak atau belum eksplisit sebelumnya. Dengan demikian, Tuhan dan malaikatpun memiliki kemampuan seperti itu, walaupun Tuhan atau malaikat tidak memiliki otak. Demikian pula orang di surga memiliki pikiran walaupun otak mereka tidak ada lagi atau sudah membusuk.

Point 9 saudara Marvel katanya mendefinisikan iman sesuai dengan Ibrani 11 :1 dan dia mendefinisikan iman sebagai bukan percaya kepada proposisi. Tetapi masalahnya dia tidak memperhatikan ayat-ayat lanjutan yang menjelaskan ayat 1. Ayat 2 dikatakan “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Ayat ini tidak bertentangan dengan definisi iman sebagai ‘percaya kepada proposisi yang dinyatakan Tuhan’. Salah satu cara untuk mengetahui pas tidaknya definisi tersebut adalah dengan menempatkan definisi ke dalam kalimat yang menggunakan kata yang didefinisikan. Sekarang coba saya ganti kata ‘iman’ dengan definisinya pada ayat tersebut.

Sebab oleh “kepercayaan pada wahyu/proposisi yang dinyatakan oleh Tuhan”lah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.

Atau coba aplikasikan definisi tersebut pada ayat 3

Karena “kepercayaan pada wahyu/proposisi yang dinyatakan oleh Tuhan” kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Tidak ada masalah dengan definisi seperti itu dan malah kalau dilihat dalam pengajaran Alkitab, tidak masalah. Ingat ayat 1 bukan ayat yang berdiri sendiri, tetapi dijelaskan dengan ayat lain.

Tetapi coba kita terapkan metode yang sama pada ayat 1 yang berbunyi: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

‘Percaya kepada proposisi/wahyu yang diberikan Tuhan’ adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Tidak ada masalah dengan definisi tersebut!

Nah, sekarang tugas Saudara Marvel untuk melakukan hal yang sama yaitu menaruh definisinya seperti yang saya lakukan. Tetapi ada catatan, ayat 1 agak sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) diangap sebagai definisi karena tidak spesifik. Di sana dikatakan ‘dasar’ lalu apa itu “dasar”? Ayat 1 lebih merupakan penggambaran yang umum. Ingat definisi harus spesifik. Atau kalaupun mau mati-matian menyebutnya sebagai definisi, maka itu definisi yang terlalu umum yang sulit diketahui apa yang dimaksud. 

Point 10 dibahas di point lima.

Point 11 memang benar bahwa perbedaan pandangan tentang definisi iman adalah masalah dari ini semua. Tetapi setidaknya di point ini saya menunjukkan bahwa contoh yang diangkat bung Marvel tidak mengakibatkan masalah pada kepercayaan saya bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman .   

Terima kasih untuk saudara Marvel yang terus berdiskusi. Memang diskusi ini semakin menarik karena semakin jelas yang strategi saudara Marvel. Diskusi ini bukan diskusi baru. Sejak lebih dari setahun yang lalu sudah jelas yang kami maksudkan dengan ‘prakondisi’. Bahkan saudara Marvel berdebat sendiri dengan di Wall saudara Rony dimana saudara Rony mengatakan ‘No Logic, no Faith’. Dalam tulisan saya di link ini, saya menggunakan kata itu sebagai bermakna ‘no logic no faith’. Dalam waktu-waktu antara sampai saat ini juga saya menggunakan kata ‘prasyarat’ untuk menggantikan kata ‘prakondisi’. Saudara Marvel sudah mendebat posisi kami tersebut, tetapi kemudian dia memaksa kami mengakui bahwa kedua term itu memiliki makna yang berbeda. Padahal bukan itu pointnya. Kami jelas mengakui bahwa mungkin saja di luar sana kedua istilah tersebut memiliki makna berbeda. Itu bukan point kami. Tetapi yang menjadi point adalah bahwa kami menggunakannya dengan makna yang sama dan itu sudah berbulan-bulan dan seharusnya saudara Marvel tau itu karena dia mendebat kami. Masalahnya sekarang dia memaksa kami untuk mengakui bahwa kami menggunakan kedua kata itu dengan makna yang berbeda sesuai dengan makna kamus (walaupun sampai saat ini dia belum kasih tunjuk makna kamus yang dimaksud itu mana) supaya dia bisa serang kami dengan tuduhan ekuivokasi. Ini bukan argumen, tetapi bully. Ini pemaksaan. Saya harap saudara Marvel menyadari taktiknya tersebut.

Ini kembali ke apa yang dikatakan saudara Marvel pada tanggapan awalnya, “B jadi pikir, sebenarnya, apa motivasi dia untuk terus membela diri dan menyerang beta selama ini? Demi wisdom atau demi kemuliaan diri sendiri?” Ah, setau beta yang serang kami adalah saudara Marvel. Siapa yang muncul dengan status yang bertentangan dengan posisi kami di Facebook? Saudara Marvel sampai mengatakan kami sesat atau kemungkinan sesat, blah hlah blah. Heloo om Marvel?? Ada perhatikan baik-baik jalannya diskusi kah? Kenapa Saudara Marvel yang mati-matian melakukan bermasalah tetapi kami yang dipersalahkan? Apakah ini dapat diterima secara moral? Beta sonde tau, tetapi tampaknya ini sesuatu yang dapat diterima secara moral dalam pandangan dunia Om Marvel.

Ada istilah-istilah logika yang digunakan dalam bantahan bung Marvel

Eniweis, ini duskusi boleh panas karena beta menganggap ini sangat penting. Dan beta pikir ini diskusi akan tetap panas. Tetapi beta harap panas ini sonde berarti akan berlanjut ke hal lain. :) 

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Polemik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Bungkusan Bagus Tapi isi Memprihatinkan

  1. Marvel Ledo berkata:

    Pertama-tama, saya hendak sampaikan bahwa saya terkesan dengan judul blognya Ma Kuru kali ini. Dan, saya berharap dan doakan agar Ma Kuru mau gunakan judul itu sebagai cermin bagi dirinya sendiri juga. Garis bawah kata “juga”. Saya senang menggunakan judul itu sebagai cermin bagi saya, namun, saya akan lebih senang lagi jika Ma Kuru mau berbesar hati juga bercermin diri.

    Entah, kenapa, apakah ini “jenggot”-nya Ma Kuru yang membuat saya mau berlelah2 menghabiskan waktu ladenin debatnya dia, saya tidak tahu. Apakah orangnya yang asli juga punya “jenggot” setebal itu, saya sulit membayangkannya tanpa harus tersenyum…ini cuma istilah stipulatif pi Ma Kuru sa…

    Tapi, satu hal yang pasti, saya pengen Ma Kuru membuka diri terhadap opsi lain bahwa sebenarnya “Iman adalah prakondisi logika”.

    Baiklah, mari kita lihat tanggapan Ma Kuru terhadap saya berikut ini:
    1. Pertama, saudara Marvel masih menyerang definisi stipulatif saya terhadap kata ‘prakondisi’ yang saya samakan dengan definisi kata ‘prasyarat’ karena prasyarat dan prakondisi bukan kata baru. Menurut Marvel, sebuah definisi stipulatif merupakan upaya memperkenalkan kata baru. Mungkin saudara Marvel sedang tidak menyadari apa sebenarnya definisi stipulatif sehingga berani mempersyaratkan demikian. Mari saya kutipkan makna dari definisi stipulatif dari buku yang sedang saya selesaikan penterjemahannya sekarang yaitu buku Logic Primer oleh Elihu Carranza.
    Jenis defisi => Stipulatif. Tujuan Definisi => Untuk memperkenalkan sebuah istilah baru (atau penggunaan istilah lama dengan cara baru) demi meningkatkan kosa kata; usulan untuk menggunakan sebuah kata atau frasa dengan makna tertentu; di dalamnya termasuk singkatan atau akronim-akronim; tidak dinilai sebagai benar atau salah. (definisi nominal atau verbal). (Buka mata lebar-lebar ko baca itu yang dikasih tebal😀 )
    Jadi tidak masalah kalau tidak ada kata baru yang digunakan. Saya menggunakan kata lama dengan cara yang baru (perhatikan tujuan definisi dalam kurung). Saya menggunakannya dengan makna yang juga melekat pada kata prakondisi. Apakah saya tidak punya hak untuk melakukan itu? Mungkin tidak menurut Marvel. Tetapi dia tidak menunjukkan mana aturan yang mengatakan demikian. Dan saya sangka saya tidak akan pernah melihat dia mengutip hukum logika atau hukum apapun yang berlaku universal otoritatif yang melarang saya melakukan apa yang saya lakukan, yaitu menggunakan definisi stipulatif.

    Tanggapan Marvel: Ini adalah tulisan saya sebelumnya: “Dari sekian banyak tipe dan bentuk definisi, definisi stipulatif digunakan apabila kita hendak memperkenalkan sebuah term baru yang sebelumnya tidak diketahui.” Garis bawah pada kata “term”. Apa itu “term”? Jika diterjemahkan langsung, “term” itu adalah “istilah”. Nah, istilah adalah kata atau gabungan kata yg dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yg khas dalam bidang tertentu.
    Ma Kuru menilai bahwa adalah sah-sah saja untuk menambahkan makna dari kata “prasyarat” ke dalam pengertian kata “prakondisi”. Bagi saya, itu tidak masalah juga apabila penggunaan istilah “prakondisi” dengan makna “prasyarat” itu secara konsisten Ma Kuru gunakan dalam konteks makna kata “prasyarat” semata. Tetapi, kenyataan yang terjadi tidak demikian. Dia saat ini bilang “prakondisi” dengan makna “prasyarat”, tapi, di lain waktu, dia bilang “prakondisi” dengan makna “prakondisi” yang asli. Jadi, kalo yang ini dia anggap tidak bermasalah, bagi saya ini benar2 masalah. Apakah Ma Kuru mau menyangkali hal ini?

    2. Dia juga mengatakan bahwa saya melakukan ekuivokasi. Padahal sebenarnya ekuivokasi adalah menggunakan satu kata (yang memiliki makna berbeda) dalam sebuah argumen, dimana pada premis kata tersebut memiliki makna berbeda daripada yang berada dalam kesimpulan. Contoh argumen:
    Premis: Bali adalah surga para wisatawan.
    Kesimpulan: Karena itu kalau para wisatawan meninggal, maka rohnya akan berada surganya wisatawan yaitu di Bali.

    Tanggapan Marvel: Baiklah, karena Ma Kuru sudah memperbaiki pengertiannya akan ekuivokasi. Mungkin, dia sudah baca ulang dan didapati bahwa dia perlu memperbaiki pengertiannya. Syukurlah. Berikut ini adalah tulisannya dia sendiri tentang apa itu ekuivokasi pada beberapa waktu yang lalu: “…menggunakan satu istilah yang memiliki dua makna berbeda dan berpikir bahwa istilah tersebut hanya memiliki satu makna…” Improvement has happened here. Thank’s God! 

    3. Di sini terjadi ekuivokasi pada kata ‘surga’. Pada premis kata tersebut berarti tempat favorit atau tempat disenangi para turis. Sedangkan pada kesimpulan, kata tersebut berarti ‘tempat roh hidup setelah kematian tubuh’. Jadi orang yang mengemukakan argumen dengan term dalam premis yang memiliki makna yang berbeda dengan term yang sama dalam kesimpulan.
    Sekarang…… apakah saya melakukan hal yang sama dengan itu? Tentu saja tidak. Yang saya lakukan adalah menggunakan dua kata yang berbeda tetapi dengan definisi yang sama. Mungkin Marvel bingung dengan penggunaan seperti itu, tetapi kalau dia bingung bukankah sebaiknya dia mengajukan pertanyaan klarifikasi dan bukannya mencoba menggunakan istilah yang tinggi-tinggi seperti ekuivokasi secara tidak tepat?
    Itu adalah reductio ad absurdum saya terhadap yang dikemukakan Saudara Marvel.
    Namun ada kemungkinan saudara Marvel akan mengatakan bahwa dia menggunakan ekuivokasi dengan makna stipulatif. Mungkin dia akan mengatakan bahwa makna stipulatif yang dia terapkan terhadap kata ‘ekuivokasi’ adalah dua istilah berbeda digunakan dengan makna yang sama. Yaa.. itu hak beliau. Tetapi harus diingat, dia tidak sedang berbicara tentang logika saat di saat menggunakan definisi demikian. Ini antisipasi saja (tidak berarti bahwa saudara Marvel akan melakukan ini, tapi siapa tahu).

    Tanggapan Marvel: Jika Ma Kuru merasa tidak sedang melakukan ekuivokasi saat menggunakan kata prakondisi dengan makna yang berbeda-beda, lalu apa lagi yang bisa saya katakan? Ma Kuru menuntut saya untuk meminta klarifikasi setelah saya menyatakan hal itu, bukankah itu juga bagian dari meminta klarifikasi ke Ma Kuru?
    Saya jadi ingat masalah “1×2 = 2” dengan “2×1 = 2” yang akhir2 ini sedang jadi trend perbincangan di media. Seseorang dikatakan sedang melakukan ekuivokasi apabila dia menggunakan satu istilah dengan dua atau lebih makna yang berbeda2 sepanjang proses berargumen. Ma Kuru bilang dia tidak sedang melakukan ekuivokasi karena yang dia lakukan adalah “menggunakan dua kata yang berbeda tetapi dengan definisi yang sama.” Alasannya, satu kata yang lain adalah stipulatif. Itu adalah klarifikasi yang dia kemukakan setelah saya kemukakan keberatan mengenai hal ini. Tidak apa2.

    4. Satu lagi yang saudara Marvel lupa adalah bahwa dalam berbagai kamus definisi online (termasuk kamus besar Bahasa Indonesia), penggunaan ‘prakondisi’ sebagai ‘prasyarat’ adalah sesuatu yang lazim. Saya malas untuk memberi di sini link ke yang saya maksud. Tetapi kalau Marvel atau siapapun mempertanyakan, saya akan dengan senang hati menunjukkannya pada tanggapan saya nanti.

    Tanggapan Marvel: Silahkan, Ma Kuru tampilkan link2nya disini.

    5. Lebih aneh lagi dengan tanggapan saudara Marvel adalah bahwa dia mengakui ‘precondition’ (bahasa Inggrisnya prakondisi) bisa berarti prasyarat. Nah, kalau kata itu bisa berarti prasyarat dan saya menggunakan itu dengan makna seperti, apa masalahnya saudara Marvel? Walaupun di luar sana kedua kata itu bisa berarti berbeda, saya tidak menggunakannya dengan cara yang berbeda itu saudara Marvel. Tidak. Tetapi kenapa anda mengharuskan saya menggunakannya dengan makna yang berbeda itu? Hak anda darimana saudara Marvel? Saya ingin tahu. Sangat tidak dapat dipercaya kalau anda mempersoalkan itu saudara Marvel!

    Tanggapan Marvel: Masalahnya, Ma Kuru merasa tidak menggunakannya dengan makna yang berbeda itu, sehingga, Ma Kuru merasa “dipaksa” oleh saya untuk mengakui itu. Padahal, yang saya alami over the course of this debate since long ago, saya ingat betul bahwa Ma Kuru menggunakannya dengan cara yang berbeda-beda. Di satu saat Ma Kuru katakan bahwa makna “prakondisi” itu adalah seperti layaknya landasan atau media, dan, di saat yang berbeda makna “prakondisi” itu adalah seperti layaknya “syarat” yang harus dipenuhi. Mungkin saja Ma Kuru hendak mengatakan bahwa yang dia maksudkan dengan landasan atau media itu adalah prasyarat itu. Tetapi, jika itu yang terjadi, maka tidak bisa dia bilang no logic, no faith! Sekali lagi, pengertian “iman”-nya dia yang jelas berbeda dengan saya telah menjadi penyebab debat panjang lebar ini. Bagi saya iman adalah “dasar” dan “bukti”, kebenaran yang alfa dan omega. Bagi Ma Kuru, iman adalah “mempercayai proposisi” yang adalah hasil olahan pikiran dimana logika melekat.

    6. Lalu apa sebenarnya masalah saudara Marvel dengan penggunaan istilah seperti itu? Dari pembahasan yang dia lakukan, ternyata dia menggunakan kedua istilah itu dengan makna berbeda. Dalam definisi dia, jika digunakan kata ‘prakondisi,’ maka di sana tidak terkandung makna ‘tanpa logika tidak ada iman.’ Tetapi sebaliknya kalau digunakan kata ‘prasyarat’ maka di sana terkandung makna bahwa ‘tanpa logika tidak ada iman.’ Nah, seperti saya katakan, itu hak dia untuk mendefinisikan kata seperti itu. Terserah saja. Saya menggunakan keduanya sebagai sinonim. Logika adalah prasyarat/prakondisi bagi iman. Tanpa logika, tidak akan ada iman. Kalau iman sudah tidak ada tanpa logika, lalu apa dia bisa tumbuh? Proposisi ‘Iman tidak akan tumbuh kalau tidak ada logika’itu merupakan konsekuensi logis yang valid dari proposisi ‘tanpa logika, tidak ada iman’. Itu adalah konsekuensi tidak terhindarkan dari posisi bahwa ‘tanpa logika, tidak ada iman.’

    Tanggapan Marvel: Sekali lagi, definisi iman versi Ma Kuru ini yang menyebabkan dia mengambil kesimpulan bahwa tanpa logika, tidak akan ada iman. Perkaranya adalah apakah versi iman versi Ma Kuru itu benar? Yah, boleh2 saja Ma Kuru bilang itu benar sepanjang itu adalah keyakinannya dia. Tapi, boleh juga dong jika saya adalah salah satu orang yang tidak percaya akan iman versi Ma Kuru itu.

    7. Lalu saudara Marvel mengatakan mungkin saya akan menyalahkan kamus karena mendefinisikan kedua kata tersebut sebagai bukan sinonim. Saya jelas tidak akan menyalahkan kamus bung Marvel. Mungkin bung Marvel yang tidak paham tentang definisi stipulatif yang akan mempersalahkan kamus. Kamus punya definisi sendiri dan saya bisa saja menggunakan definisi stipulatif terlepas dari kamus. Coba pelajari definisi stipulatif lebih baik lagi. Tetapi di sini ada masalah, kamus mana yang saudara Marvel maksudkan? Kita tidak tahu dan tidak pernah diperlihatkan bagaimana kedua istilah tersebut didefinisikan secara berbeda. Apakah akan muncul dalam tanggapan berikut? Mungkin. Kita tinggal melihat saja. Saya juga akan menunjukkan referensi online yang menyatakan sebaliknya.

    Tanggapan Marvel: Ini saya berikan link2nya:
    http://www.kamusbesar.com/30980/prakondisi
    http://www.kamusbesar.com/31049/prasyarat
    Silahkan, Ma Kuru tampilkan referensi online yang menyatakan sebaliknya.

    8. Untuk mengilustrasikan pandangannya terhadap pandangan saya, Saudara Marvel mengemukakan analogi 2 gelas. Masalahnya adalah saya tidak berpegang pada analogi gelas. Analogi itu tidak mencerminkan pandangan saya. Analogi tersebut analogi yang cacat. Hubungan logika dan iman lebih seperti hubungan antara ‘kejuaraan bulu tangkis taraf internasional’ dengan ‘lapangan bulu tangkis yang memadai.’ Kejuaraan bulu tangkis internasional hanya dilakukan di lapangan bulu tangkis yang memadai. Tanpa lapangan bulu tangkis yang memadai, tidak ada kejuaraan bulu tangkis internasional. Jadi lapangan bulu tangkis yang memadai adalah prakondisi atau prasyarat bagi kejuaraan bulu tangkis taraf internasional. Namun demikian, tidak berarti bahwa lapangan yang memadai adalah penyebab dari kejuaraan bulu tangkis internasional. Siapa yang straw men? Dengan kata lain, siapa yang menyerang pandangan yang bukan pandangan orang lain? Hmm…

    Tanggapan Marvel: Bisa Ma Kuru jelaskan mengapa analogi 2 gelas yang saya kemukakan itu cacat? Apakah hanya karena pengertian “iman” Ma Kuru yang cacat atau berbeda dengan yang umumnya dipercaya orang Kristen atau apa? Saya orang Kristen dan saya kaget dengan pengertian iman menurut Ma Kuru, yakni: “mempercayai proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar”. Bagi Ma Kuru, iman adalah mempercayai proposisi dengan embel2 yang Tuhan nyatakan sebagai benar. Tapi, garis bawah kalimat “mempercayai proposisi”.
    Dari kalimat itu saja, sudah jelas bahwa iman menurut Ma Kuru adalah suatu “tindakan”. Oleh karena itu, tidak pernah ada “tindakan” yang terjadi tanpa didahului oleh proses berpikir dimana logika melekat. Ini yang saya tolak. Pada kasus2 tertentu, iman bisa terlihat dalam wujud “tindakan” yang diambil oleh manusia. Tetapi, iman itu sendiri jelas bukan “tindakan”, melainkan “dasar” dan “bukti”. Kalau Ma Kuru tidak paham juga beda antara ketiga kata tersebut, silahkan buka kamus dan baca apa itu “tindakan”, “dasar”, dan “bukti”!
    Ini link2nya:
    http://kamusbahasaindonesia.org/tindakan
    http://www.kamusbesar.com/8030/dasar
    http://www.kamusbesar.com/5721/bukti

    9. Satu hal lain yang cukup mengganggu adalah, sejak awal diskusi setahun atau dua tahun lalu, jelas bahwa yang kami maksudkan dengan prakondisi itu adalah tanpa logika, tidak ada iman. Bahkan Ama Rony dalam statusnya mengatakan ‘No logic, no faith’. Ini sudah dibahas dalam postingan saya sebelumnya. Tetapi aneh sekali, Marvel sengaja tidak tahu tentang diskusi lama dan memaksa kami berpegang pada pembedaan antara ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’. Lalu selama ini bung Marvel ini serang katong dengan pemahaman sendiri bahwa prakondisi dan prasayarat berbeda sedangkan sejak awal sudah jelas posisi kami bahwa prakondisi sinonim dengan prasyarat. Apa ini bukan straw men? Straw men berkepanjangan yang kemudian dia putar-putar sehingga akhirnya kamilah yang dia anggap melakukan straw men.

    Tanggapan Marvel: Seingat saya, ada banyak contoh penggunaan makna yang berbeda, tapi, karena keterbatasan, saya tidak bisa akses lagi ke diskusi2 yang dulu2 yang asli. Bahkan, untuk kepentingan ini, saya telah email ke FB untuk apabila mungkin saya mau retrieve kembali semua diskusi saya dengan Ma Kuru dari awal hingga kini. Semoga mereka meresponi permintaan saya. Namun, demikian, ada satu contoh yang terus mengemuka dari pihak Ma Kuru, bahwa agar iman bisa bertumbuh pada seseorang, maka orang tersebut harus MENGERTI terlebih dahulu. Jika orang tersebut tidak mengerti, maka bagaimana mungkin imannya dia bisa bertumbuh? Itu adalah salah satu contoh implikasi dari penggunaan pengertian “prakondisi” yang asli (bukan stipulatif dari kata prasyarat) pada argumen Ma Kuru, dkk. Pernyataan dan contoh yang seperti itu sering mereka kemukakan dalam upaya mereka untuk meyakinkan saya mengapa “logika adalah prakondisi iman”.
    Masih ingat ilustrasi 2 gelas yang saya sampaikan, Ma Kuru? Ilustrasi pertama itu adalah contoh orang musti mengerti dulu baru imannya bisa bertumbuh. Sedangkan, ilustrasi kedua adalah contoh dari no logic, no faith. Apakah Ma Kuru mau menyangkali ini lagi?

    10. Pada point kedua Marvel menyangkali kalau dia melakukan dia melakukan ekuivokasi. Tampaknya dia sudah paham apa itu ekuivokasi (Thanks God), yaitu ekuivokasi adalah menggunakan satu istilah yang sebenarya memiliki lebih dari satu makna tetapi dianggap hanya memiliki satu makna oleh sang pembuat argumen, sehingga dia menganggap kesimpulannya valid (Btw, siapa yang akan secara serius mengemukakan argumen yang dia tidak anggap valid?). Dalam kasus saya, apakah saya menggunakan satu istilah dengan dua makna? Tidak. Saya menggunakan dua istilah dengan satu makna. Sejak awal saya sudah bilang bahwa istilah ‘prakondisi’ dan ‘prasyarat’ saya gunakan sinonim. Jadi tidak masalah kalau saya menggunakan istilah tersebut secara bergantian dalam proposisi sebuah argumen karena maknanya sama. Yang terjadi di sini adalah, Marvel memaksa saya (dengan argumen palsu) mengakui bahwa kedua istilah tersebut merujuk kepada hal berbeda dalam rangka dia bisa menuduh saya melakukan ekuivokasi. Dengan kata lain, dia sengaja membuat saya mengakui straw men yang dia lakukan (pandangan bahwa ‘prasyarat’ dan ‘prakondisi’ memiliki makna berbeda) supaya dengan itu dia dapat ditangkap melakukan ekuivokasi. Tetapi sekali lagi masih sama, pertanyaannya adalah beta lakukan ekuivokasi dari Hongkong?

    Tanggapan Marvel: Baca bukti yang saya ajukan di poin 9 yang menunjukkan bagaimana Ma Kuru dkk secara bergantian menggunakan makna yang berbeda untuk kata “prakondisi”. Tetap sama, itu “ekuivokasi dari Hongkong” sekarang ada gendong Ma Kuru. Sadar su.

    11. Pada point ketiga saya, saya sudah jelaskan bahwa ada sedikit masalah formulasi, tetapi masih dipertanyakan lagi hal yang sama.
    Point keempat saudara Marvel mempertanyakan apa yang saya maksud dengan saya menyerang implikasi dari argumen dia. Tetapi beta sarankan bung Marvel baca ulang beta pung tulisan yang bu tanggapi dan bandingkan itu dengan tanggapan balik beta. Beta agak malas musti jelaskan beta pung maksud. Tetapi kalau bu do’o, beta akan jelaskan dalam tanggapan berikut.

    Tanggapan Marvel: B do’o, jadi Ma Kuru jelaskan sa di tanggapan berikut.

    12. Pada point 5 Marvel sekali lagi melakukan kesalahan dengan menganggap pikiran sebagai hasil reaksi kimia dalam otak sehingga karena anak-anak yang memiliki sel-sel yang belum saling terhubung, maka pikiran bayi belum ada alias bayi belum berpikir. Seperti yang saya katakan, pikiran bukan hasil reaksi kimia dalam otak. Jadi menurut dia dalam kondisi seperti itu, menjadikan kemampuan berpikir anak belum berfungsi.
    Sekarang, mari kita lakukan reductio ad absurdum di sini. Masalahnya dia mengatakan bahwa anak itu pada saat itu sudah bisa mengamini (mengakui) bahwa A adalah A (hukum identitas) benar. Lalu dia menerima hukum identitas itu, apakah dia paham? Kalau tidak paham, apa yang dia terima? Tolong jelaskan ke saya. Apakah dia hanya seperti beo atau robot yang mengungkapkan ulang apa yang didengarnya? Apakah iman itu sesuatu yang terjadi tanpa pemahaman atau pengertian? Lalu apa itu iman kalau iman berarti pemahaman tidak diperlukan? Apa itu iman bung Marvel? Iman itu perasaan? Atau apa?

    Tanggapan Marvel: Ma Kuru, anda belum memenuhi tantangan saya untuk menjelaskan konstruksi logika anda bagaimana pernyataan “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak?
    Iman adalah “dasar” dan “bukti”. Iman adalah kebenaran. Dan, kebenaran yang saya maksudkan itu bukan proposisi, bukan kata K E B E N A R A N, melainkan lebih dari itu, the real essence of the truth which is God Himself, the alpha and the omega.

    13. Masih dalam modus reductio ad absurdum, kalau pikiran bayi belum berfungsi dan iman memerlukan pengertian, apakah iman memungkinkan terjadi kalau demikian? Tentu saja tidak. Tetapi kalau iman adalah sesuatu yang terjadi tanpa ada pengertian, maka ‘iman’ itu bisa terjadi. Tetapi masalahnya itu bukan ‘iman’ dalam definisi Alkitab. Setidaknya itu bukan iman Kristen.

    Tanggapan Marvel: Iman menurut Kekristenan adalah yang tercantum di Ibrani 11:1. Bukan yang baru dikemukakan oleh satu orang ahli logika sekitar 50 tahun yang lalu. Sekali lagi, baca penjelasan saya berikut tentang iman menurut Kekristenan berikut:
    “Dasar” dan “bukti” dalam Ibrani 11:1 itu sudah ada. Jadi, kalau kita bicara mengenai Tuhan menganugerahkan iman kepada kita, maka yang sebenarnya kita bicara adalah Tuhan menganugerahkan “dasar” dan “bukti” itu kepada kita. Sehingga, saat kita harapkan sesuatu dan tidak melihat sesuatu itu, maka “dasar” dan “bukti” itu telah ada untuk meyakinkan kita bahwa sesuatu itu benar2 ada.
    Nah, sekarang, jika dibandingkan dengan pengertian iman versi Ma Kuru, maka, yang sebenarnya dia maksudkan adalah tindakan untuk mempercayai “dasar” dan “bukti” itu. Dan, itu berarti memahami iman secara keliru. Anda keliru, Ma Kuru!

    14. Tetapi jika iman adalah sesuatu yang melibatkan pikiran, maka saat itu, anak batita itu, tidak memiliki iman dan logikapun tidak berfungsi. Jadi kondisi ini tidak dapat membantah bahwa logika adalah prakondisi bagi iman. Juga tidak membuktikan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika. Hal itu hanya akan tercapai kalau iman adalah sesuatu yang tidak melibatkan pemikiran.

    Tanggapan Marvel: Baca ulang penjelasan saya di poin 13 diatas. Tindakan untuk mempercayai “dasar” dan “bukti” itu-lah yang membuat anda dan saya berbeda mengenai apa itu iman.

    15. Pada point keenam, anda berbicara tentang apa bung Marvel? Kalaupun benar saya ahli logika (sesuatu yang saya tidak pernah katakan, tetapi mungkin saudara Marvel menggunakan istilah itu itu sesuai dengan apa yang dia anggap tepat atau tidak tepat untuk mengejek), jika sesuatu tidak dinyatakan secara jelas, siapapun tidak akan paham bung. Like…, its gibberish you know! Bukankah status anda yang kami serang karena anda menggunakan iman sebagai ‘prakondisi’ bagi logika? Lalu di tempat lain anda katakan setuju dengan logika sebagai prakondisi? Dan ingat bahwa apakah anda menggunakan kata prakondisi dengan dua makna berbeda dalam argumen yang sama? Kalau tidak, tentunya anda tidak bisa mengatakan bahwa pandangan anda sesuai dengan pandangan kami karena sejak awal kami sudah katakan prakondisi artinya ‘no logic, no faith’. Atau apa maksud anda saudara Marvel? Lalu setelah itu anda katakan kami melakukan straw men karena menentang pandangan anda bahwa iman adalah prakondisi? Bung, jujur saja, yang menjadi prakondisi itu apa sih? Logika atau iman?

    Tanggapan Marvel: Saya setuju dengan “logika prakondisi iman” dalam konteks yang Ma Kuru dkk selalu jelaskan bahwa dengan pengertian maka iman bisa bertumbuh. Karena, itu bisa dilihat begitu pada konteks kehidupan manusia2 yang sehat walafiat tapi yang masih belum percaya Tuhan. Jadi, logika disini menjadi semacam media yang dibutuhkan agar iman itu bisa tumbuh berkembang seperti “bunga”. Disini, logika itu seperti “tanah subur” dan iman itu seperti “benih bunga”.
    Tetapi, jika kalau yang Ma Kuru dkk maksudkan adalah no logic, no faith, maka, maaf Ma Kuru, as I told you over and over, saya tidak setuju. Itu tidak alkitabiah!
    Apakah ketiadaan “tanah subur” menjadikan “benih bunga” tidak ada? Jelas tidak begitu, dong!

    16. Pada Poin ketujuh, bung Marvel mempertanyakan sanggahan saya terhadap tuduhan straw men yang ditujukannya kepada saya karena interpretasi saya bahwa dia percaya “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Namun bukankah saya sudah menjelaskan masalah formulasi dan bukan straw man? Baiklah saya ulangi lagi apa yang saya katakan. Saya katakan bahwa saya seharusnya memformulasikan posisi bung Marvel sebagai ‘menyamakan pikiran dengan reaksi kimia otak.’ Untuk menjustifikasi itu saya kemukakan kembali alasannya dengan menunjukkan bahwa pada awal saya berbicara tentang menyamakan otak dan pikiran, lalu masih pada bagian yang sama (di bagian akhir paragraf) saya menjelaskan itu sebagai bung Marvel percaya pada pandangan bahwa “pikir[sic] adalah hasil reaksi kimia dalam otak”. Jadi, di sana hanya masalah formulasi semata. Bukan straw men.

    Tanggapan Marvel: Baca tanggapan saya di poin 12 diatas, lalu silahkan tanggapi.

    17. Untuk poin 8 bung Marvel menanyakan apa yang saya maksudkan dengan pikiran. Baiklah, Pikiran adalah kemampuan untuk mempertimbangkan proposisi-proposisi, menciptakan proposisi termasuk menghubungkan propisisi satu dengan propisisi lain untuk mengambil kesimpulan tertentu yang tidak atau belum eksplisit sebelumnya. Dengan demikian, Tuhan dan malaikatpun memiliki kemampuan seperti itu, walaupun Tuhan atau malaikat tidak memiliki otak. Demikian pula orang di surga memiliki pikiran walaupun otak mereka tidak ada lagi atau sudah membusuk.

    Tanggapan Marvel: Menurut kamus, pikiran adalah (1) hasil berpikir (memikirkan):; (2) akal; ingatan; (3) akal (dl arti daya upaya); (4) angan-angan; gagasan; (5) niat; maksud.

    Nah, dari pengertian menurut kamus itu, pengertian Ma Kuru itu masuk di poin berapa?

    Ini link-nya: http://kamusbahasaindonesia.org/pikiran

    Eh, Tuhan dan Malaikat tidak memiliki otak? Itu pengertian yang Ma Kuru dapat darimana? Hati2 Ma Kuru bisa strawman terhadap firman Tuhan, lho.

    18. Point 9 saudara Marvel katanya mendefinisikan iman sesuai dengan Ibrani 11 :1 dan dia mendefinisikan iman sebagai bukan percaya kepada proposisi. Tetapi masalahnya dia tidak memperhatikan ayat-ayat lanjutan yang menjelaskan ayat 1. Ayat 2 dikatakan “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Ayat ini tidak bertentangan dengan definisi iman sebagai ‘percaya kepada proposisi yang dinyatakan Tuhan’. Salah satu cara untuk mengetahui pas tidaknya definisi tersebut adalah dengan menempatkan definisi ke dalam kalimat yang menggunakan kata yang didefinisikan. Sekarang coba saya ganti kata ‘iman’ dengan definisinya pada ayat tersebut.
    Sebab oleh “kepercayaan pada wahyu/proposisi yang dinyatakan oleh Tuhan”lah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
    Atau coba aplikasikan definisi tersebut pada ayat 3
    Karena “kepercayaan pada wahyu/proposisi yang dinyatakan oleh Tuhan” kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
    Tidak ada masalah dengan definisi seperti itu dan malah kalau dilihat dalam pengajaran Alkitab, tidak masalah. Ingat ayat 1 bukan ayat yang berdiri sendiri, tetapi dijelaskan dengan ayat lain.
    Tetapi coba kita terapkan metode yang sama pada ayat 1 yang berbunyi: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
    ‘Percaya kepada proposisi/wahyu yang diberikan Tuhan’ adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
    Tidak ada masalah dengan definisi tersebut!
    Nah, sekarang tugas Saudara Marvel untuk melakukan hal yang sama yaitu menaruh definisinya seperti yang saya lakukan. Tetapi ada catatan, ayat 1 agak sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) diangap sebagai definisi karena tidak spesifik. Di sana dikatakan ‘dasar’ lalu apa itu “dasar”? Ayat 1 lebih merupakan penggambaran yang umum. Ingat definisi harus spesifik. Atau kalaupun mau mati-matian menyebutnya sebagai definisi, maka itu definisi yang terlalu umum yang sulit diketahui apa yang dimaksud.

    Tanggapan Marvel: Pada bagian ini, saya tersenyum. Ma Kuru e, ente betul2 su salah mengerti Ibrani 11:1. Ini yang disebut dengan Ma Kuru strawman terhadap Ibrani 11:1…

    Ini contoh aplikasi versi Ibrani 11
    11:1. KEBENARAN adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
    11:2 Sebab oleh KEBENARAN-lah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
    11:3 Karena KEBENARAN kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
    11:4. Karena KEBENARAN Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena KEBENARAN ia masih berbicara, sesudah ia mati.
    11:5 Karena KEBENARAN Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.
    11:6 Tetapi tanpa KEBENARAN tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
    11:7 Karena KEBENARAN, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena KEBENARAN itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.
    11:8 Karena KEBENARAN Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
    11:9 Karena KEBENARAN ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.
    11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
    11:11 Karena KEBENARAN ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
    11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
    11:13 Dalam KEBENARAN mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

    Iman = kebenaran. Dan, karena Tuhan itu kebenaran, maka iman itu adalah Tuhan, sang alfa dan omega. Mari kita coba ganti kata iman dengan Tuhan pada ayat2 dari Ibrani 11 berikut:

    11:1. TUHAN adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
    11:2 Sebab oleh TUHAN-lah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
    11:3 Karena TUHAN kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
    11:4. Karena TUHAN Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena TUHAN ia masih berbicara, sesudah ia mati.
    11:5 Karena TUHAN Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.
    11:6 Tetapi tanpa TUHAN tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
    11:7 Karena TUHAN, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena TUHAN itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima TUHAN, sesuai dengan imannya.
    11:8 Karena TUHAN Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
    11:9 Karena TUHAN ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.
    11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
    11:11 Karena TUHAN ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
    11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
    11:13 Dalam TUHAN mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

    Inilah sebabnya, mengapa semua pendeta Kristen dan penginjil Kristen yang benar selalu mewartakan “biarlah Tuhan bertahta di hati saudara/i sekalian”. Karena, jika seseorang membiarkan Tuhan bertahta di hatinya, maka sudah pasti dia beriman(baca: ber-kebenaran/ber-Tuhan).

    Ayat2 lain dalam Alkitab mengatakan bahwa “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.”. Jika, kalimat “takut akan Tuhan” diterjemahkan sebagai sebuah tindakan iman, maka itu adalah bukti bahwa iman adalah prakondisi logika.

    Jadi, Ma Kuru iman adalah prakondisi logika.

    19. Point 10 dibahas di point lima.
    Point 11 memang benar bahwa perbedaan pandangan tentang definisi iman adalah masalah dari ini semua. Tetapi setidaknya di point ini saya menunjukkan bahwa contoh yang diangkat bung Marvel tidak mengakibatkan masalah pada kepercayaan saya bahwa logika merupakan prakondisi bagi iman .
    Terima kasih untuk saudara Marvel yang terus berdiskusi. Memang diskusi ini semakin menarik karena semakin jelas yang strategi saudara Marvel. Diskusi ini bukan diskusi baru. Sejak lebih dari setahun yang lalu sudah jelas yang kami maksudkan dengan ‘prakondisi’. Bahkan saudara Marvel berdebat sendiri dengan di Wall saudara Rony dimana saudara Rony mengatakan ‘No Logic, no Faith’. Dalam tulisan saya di link ini, saya menggunakan kata itu sebagai bermakna ‘no logic no faith’. Dalam waktu-waktu antara sampai saat ini juga saya menggunakan kata ‘prasyarat’ untuk menggantikan kata ‘prakondisi’. Saudara Marvel sudah mendebat posisi kami tersebut, tetapi kemudian dia memaksa kami mengakui bahwa kedua term itu memiliki makna yang berbeda. Padahal bukan itu pointnya. Kami jelas mengakui bahwa mungkin saja di luar sana kedua istilah tersebut memiliki makna berbeda. Itu bukan point kami. Tetapi yang menjadi point adalah bahwa kami menggunakannya dengan makna yang sama dan itu sudah berbulan-bulan dan seharusnya saudara Marvel tau itu karena dia mendebat kami. Masalahnya sekarang dia memaksa kami untuk mengakui bahwa kami menggunakan kedua kata itu dengan makna yang berbeda sesuai dengan makna kamus (walaupun sampai saat ini dia belum kasih tunjuk makna kamus yang dimaksud itu mana) supaya dia bisa serang kami dengan tuduhan ekuivokasi. Ini bukan argumen, tetapi bully. Ini pemaksaan. Saya harap saudara Marvel menyadari taktiknya tersebut.

    Tanggapan Marvel: Baca penjelasan saya di poin 9 diatas yang membuktikan bahwa saya tidak sedang memaksa Ma Kuru dkk.

    20. Ini kembali ke apa yang dikatakan saudara Marvel pada tanggapan awalnya, “B jadi pikir, sebenarnya, apa motivasi dia untuk terus membela diri dan menyerang beta selama ini? Demi wisdom atau demi kemuliaan diri sendiri?” Ah, setau beta yang serang kami adalah saudara Marvel. Siapa yang muncul dengan status yang bertentangan dengan posisi kami di Facebook? Saudara Marvel sampai mengatakan kami sesat atau kemungkinan sesat, blah hlah blah. Heloo om Marvel?? Ada perhatikan baik-baik jalannya diskusi kah? Kenapa Saudara Marvel yang mati-matian melakukan bermasalah tetapi kami yang dipersalahkan? Apakah ini dapat diterima secara moral? Beta sonde tau, tetapi tampaknya ini sesuatu yang dapat diterima secara moral dalam pandangan dunia Om Marvel.
    Ada istilah-istilah logika yang digunakan dalam bantahan bung Marvel

    Tanggapan Marvel: Baca penjelasan saya di poin 9 yang membuktikan bahwa saya sedang memperhatikan jalannya diskusi dengan seksama. Terkait motivasi saya, Ma Kuru, saya cuma mau menyampaikan kebenaran itu kepada Ma Kuru.

    21. Eniweis, ini duskusi boleh panas karena beta menganggap ini sangat penting. Dan beta pikir ini diskusi akan tetap panas. Tetapi beta harap panas ini sonde berarti akan berlanjut ke hal lain.🙂

    Tanggapan Marvel: Aman, Ma Kuru. Saya mengasihi Ma Kuru sebagai saudara didalam Kristus. Kata2 saya yang keras itu hanya bagian dari taktik saya untuk mendapat perhatian Ma Kuru. Beta su jadi fasilitator community development lama, jadi, biasa untuk menggugah orang, ktong musti bikin diri sedemikian rupa agar dia pikir ktong musuh ko biar dia pung potensi yang sebenarnya keluar. Sori, kalo Ma Kuru sempat tersinggung.…

  2. Ping balik: Seperti Sedang Berbicara Tentang Langit Dan Bumi | Futility over Futility

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s