Seperti Sedang Berbicara Tentang Langit Dan Bumi

Di bawah ini adalah tanggapan saya terhadap komentar saudara Marvel di tulisan sebelumnya dan di Facebook

Pada point pertama & ketiga saudara Marvel mengakui hak saya untuk menggunakan kata ‘prakondisi’ sebagai memiliki makna yang sama dengan kata ‘prasyarat’. Tetapi dia tidak percaya bahwa saya konsisten menggunakan kata itu karena ada saat dimana saya menggunakannya dengan makna berbeda. Tetapi aneh tidak ada penjelasan dimana saya melakukan itu. Bukankah sejak awal sampai sekarang saya menggunakan kedua kata itu dengan definisi yang sama?

Mungkin yang dimaksud adalah ketika saya setuju bahwa dalam ‘prakondisi’ terkandung pengertian bahwa tanpa logika iman tidak berkembang. Tetapi masalahnya adalah ‘tanpa logika iman tidak berkembang’ adalah implikasi logis dari proposisi ‘tanpa logika, iman tidak ada.’ Dengan kata lain proposisi ‘tanpa logika iman tidak berkembang’ merupakan sesuatu yang sudah terimplisit dalam proposisi ‘tanpa logika, iman tidak ada.’ Apakah iman bisa berkembang tanpa logika kalau iman itu sendiri tidak bisa ada tanpa logika? Jadi yang dibilang ekuivokasi oleh Bung Marvel tersebut terjadi karena dia tidak memahami apa posisi kami. ‘Tanpa logika iman tidak berkembang’ merupakan implikasi dari ‘Tanpa logika iman tidak ada.’ Jadi kalau dibicarakan tentang ‘iman tidak ada tanpa logika’, maka implikasinya bahwa ‘iman tidak dapat berkembang tanpa logika’ sudah implisit di dalamnya. 

Ini sama seperti contoh tentang lapangan bulutangkis bertaraf internasional yang merupakan prasyarat bagi pertandingan bulu tangkis taraf internasional. Ketika dikatakan ‘Tanpa lapangan bulutangkis bertaraf internasional, tidak mungkin ada pertandingan bulutangkis bertaraf internasional’ maka di balik itu ada implikasi bahwa ‘tanpa lapangan bulu tangkis bertaraf internasional, tidak mungkin Tim Piala Thomas Indonesia mengalahkan Tim Thomas China.”      

Dengan kata lain, tidak ada ekuivokasi pada posisi kami.

Point kedua tentang ekuivokasi, saudara Marvel mengatakan bahwa saya telah melakukan perbaikan. Padahal saya tidak melakukan perbaikan sama sekali. Hal yang sama lebih diperjelas lagi. Jadi seharusnya dia berterima kasih kepada Tuhan bahwa akhirnya dia memahami apa yang saya katakan.

Pada point ketiga, seperti saya katakan, saya tidak mengakui ada ekuivokasi karena saya menggunakan kata ‘prakondisi’ dan para ‘prasyarat’ dengan makna yang sama. Kecuali hak saya diambil untuk menggunakan definisi stipulatif baru saya bisa dikatakan ekuivokasi. Tentang kemungkinan saya menggunakan makna lain untuk kedua kata tersebut, sudah dibahas di atas.    

Point 4, saya diminta tampilkan link dimana prakondisi digunakan sebagai sinonim prasyarat. Permintaan ini tidak perlu diladeni lagi sebenarnya karena setidaknya sudah ada pengakuan bahwa saya punya hak menggunakan definisi stipulatif asalkan saya konsisten. Tetapi sebagai referensi ini saya tampilkan pada level pendefinisian: Situs Persamaan Kata, Situs KKBI, Situs Sinonim Kata. Dan ini adalah salah satu contoh penggunaan kedua kata dianggap sinonim.  

Saudara Marvel mengatakan bahwa sepanjang debat dengai dia, saya menggunakan kata ‘prakondisi’ dengan makna yang berbeda yaitu bahwa logika sebagai ‘syarat’ dan logika sebagai ‘landasan’. Masalahnya saudara Marvel kurang teliti membaca tulisan saya. Ide bahwa ‘logika merupakan landasan bagi perkembangan’ merupakan implikasi yang valid dari posisi ‘tanpa logika, tidak iman’. Dengan kata lain ketika dikatakan ‘tanpa logika, tidak iman,’ maka ide ‘logika merupakan landasan bagi perkembangan’ sudah implisit di sana. Tidak perlu dibahas panjang lebar lagi di sini karena sudah dibahas di atas. 

Point 6 saudara Marvel setidaknya melakukan pengamatan yang tepat ketika mengatakan bahwa dia dan saya memilki definisi berbeda dari kata iman. Implikasi dari pernyataan seperti ini adalah bahwa ketika saudara Marvel mengatakan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika, maka dia tidak sedang (atau setidaknya tidak pasti) membantah pendapat saya karena kami memiliki definisi berbeda. Pandangan saya bahwa logika adalah prakondisi bagi iman juga tidak terbantahkan seandainyapun apa yang dikatakannya benar dan pandangan dunianya koheren. Dengan kata lain kami memiliki sistem kepercayaan yang berbeda sama sekali, dengan definisi yang berbeda sama sekali. Dengan demikian, masalah ini harus diselesaikan pada level sistem pemikiran. Pertama dicari tahu mana definisi yang tepat sesuai atau paling mendekati data Alkitab; dan kedua menilai konsistensi kedua sistem tersebut. Sistem yang lebih konsisten dipilih dan sistem yang tidak konsisten ditolak.

Masih terkait dengan point ini, syukur bahwa saudara Marvel mulai melihat bahwa masalah sebenarnya adalah pada definisi. Ini sudah saya angkat sebelumnya dalam diskusi, tetapi syukurlah sekarang saudara Marvel sudah mulai memahami itu. 

Pada point tujuh saudara Marvel mengangkat referensi online, tetapi masalahnya dalam referensi yang diangkat tidak menyatakan bahwa kedua kata memiliki definisi berbeda. Malah ada kesan bahwa keduanya adalah sinonim. Referensi yang diambil memang di sebut Kamus Besar, tetapi Kamus Besar apa? Tidak jelas. Sekali lagi, saya katakan bahwa ini adalah argumen sampingan saja terhadap argumen utama saya.

Pada poin delapan, seperti saya bilang analogi gelas yang diangkat oleh Saudara Marvel cacat dalam pengertian bahwa hal itu tidak merefleksikan pandangan saya sama sekali. Ya saya percaya bahwa iman adalah mempercayai propisisi yang Tuhan katakan sebagai benar. Saudara Marvel memprotes definisi itu karena definisi itu sebagai tindakan. Mungkin saudara Marvel benar kalau saya menggunakan kata tersebut secara strict dalam pengertian kamus. Tetapi masalahnya adalah saya menggunakan definisi tersebut dengan makna ‘hal mempercayai proposisi yang Tuhan katakan benar’ atau ‘kepercayaan kepada proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar.’ Dengan kata lain di sini saya kurang jeli menggunakan kata-kata. Pada bagian lain komentar saya sebenarnya jelas yang saya maksud bukan tindakan tetapi ‘kepercayaan akan proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar.’ Anehnya saudara Marvel tidak melihat perbedaan itu dan mempertanyakannya tetapi mengangkat satu formulasi tetapi tidak mengangkat formulasi yang lain terhadap istilah yang sama. (‘kepercayaan’ bukan kata kerja)

Satu lagi yang menjadi masalah yang saudara Marvel angkat adalah bahwa iman adalah bukti. Namun kalau iman adalah kepercayaan akan proposisi yang Tuhan nyatakan benar, maka itu sudah menjadi bukti akan sesuatu yang tidak pernah kita lihat. Apa yang menjadi bukti bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan pernah menciptakan langit dan bumi selama 6 hari? Jawabannya adalah: kepercayaan bahwa Tuhan memberi wahyu tersebut dan kita mempercayai Wahyu Tuhan itu sebagai benar. Tidak ada yang lebih atau kurang dari itu. Jadi kepercayaan itu menjadi bukti bahwa Tuhan telah melakukan A, B, C, dan D. Tanpa kepercayaan itu, tidak ada bukti lain.   

Pada poin 9 kembali dibahas hal yang sama yaitu masalah prakondisi. Yang kami maksudkan dengan ‘logika Prakondisi iman’ adalah bahwa ‘tanpa logika tidak ada iman’ alias ‘no logic’ no faith’. Dan tentu saja secara implikasi, kalau untuk iman ada saja, harus ada logika, apa lagi kalau untuk dia berkembang? Ini sudah dibahas dalam bagian sebelumnya, jadi tidak perlu dibahas berpanjang lebar lagi di sini.

Pada pont 10 Saudara Marvel kembali mengatakan bahwa kami melakukan ekuivokasi. Tidak perlu lagi saya jelaskan tentang implikasi, tetapi dengan penjelasan sebelumya tentang hubungan implikasi, maka jelas ‘tidak ada iman tanpa logika’ berimplikasi valid ‘tanpa logika, iman tidak berkembang.’ Di sini bukan ekuivokasi tetapi implikasi. Dua hal berbeda. Jadi sekali lagi pertanyaannya, ekuivokasi dari Hongkong?

Pada poin 11, saudara Marvel mempertanyakan apa yang saya maksud dengan saya menyerang implikasi dari pandangan saudara Marvel ketika saya mengatakan bahwa saudara Marvel percaya bahwa anak-anak tidak paham hukum logika tetapi sudah bisa beriman, sedangkan sebenarnya yang dia katakan adalah bahwa ‘“bayi yang baru lahir masih BELUM MAMPU MENGAPLIKASIKAN 3 hukum logika itu, tetapi, toh, mereka tetap beriman.” Masalahnya di sini adalah saudara Marvel sudah akui bahwa pengertian memprasyaratkan logika. Kalau misalnya benar bahwa para anak-anak tersebut sudah tahu hukum logika, namun belum bisa menerapkannya, maka jelas bahwa saat anak-anak itu sudah menerapkan logika. Karena untuk mengetahui, hukum logika harus berlaku. Tetapi itu bertentangan dengan pandangan saudara Marvel bahwa anak-anak itu sudah beriman walaupun tanpa berlogika. Sekarang tinggal pilih, mau menerima bahwa anak-anak sudah paham hukum logika, atau anak-anak belum paham hukum logika. Menerima yang pertama berarti menolak pandangan bahwa sebelum logika, sudah ada iman. Menerima yang kedua, berarti menerima pandangan bahwa iman ada sebelum logika ada. Jelas saudara Marvel menerima pandangan kedua, karena itu secara implikasi anak-anak itu belum paham hukum logika. Semoga tidak terlalu sulit untuk Saudara Marvel pahami.

Point 12 saudara Marvel mempertanyakan bagaimana “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak”. Padahal itu bukan intinya pada point ini. Hal itu sudah dibahas pada poin-poin sebelumnya, bahwa yang terjadi di sana adalah masalah formulasi saya yang kurang tepat. Saudara Marvel memisahkan paragraf ini dari point yang diangkat, seolah-olah tidak ada hubungan. Ini namanya jelas straw men. Sebenarnya ada pertanyaan-pertanyaan yang saya angkat tetapi tidak dijawab oleh bung Marvel. Sedangkan hal-hal yang sudah saya jawab tentang masalah formulasi bukan di sini tempatnya.    

Pada point 13 saya mengatakan bahwa pengertian Kristen tentang iman adalah bahwa iman mempraanggapkan pengertian. Tanpa pengertian, tidak ada iman. Seseorang tidak beriman tanpa paham apa yang diimani. Itu pengertian Kristen. Saudara Marvel membantah itu dan mengatakan bahwa itu adalah pegertian yang dikemukakan 50 tahun lalu. Padahal dalam sejarah kekristenan, iman secara konsisten didefinisikan demikian. Itu bukan pendefinisian 50 tahun lalu seperti yang dikatakan Bung Marvel.  Supaya tidak dikatakan mengada-ngada, saya kutipkan Pengakuan Iman Katekismus Heidelberg yang disusun 1500-an yang bertanya tentang apa sih sebenarnya iman yang sejati itu? Ini jawabannya “Iman yang sejati adalah keyakinan atau pengetahuan yang pasti yang membuat aku mengakui sebagai kebenaran segala sesuatu yang dinyatakan Allah kepada kita di dalam Firman-Nya, dan juga kepercayaan yang teguh (b), yang dikerjakan dalam hatiku oleh Roh Kudus (c), melalui Injil (d).” So, pandangan bahwa definisi saya adalah definisi 50-an tahun lalu adalah pandangan yang tidak sesuai dengan fakta.

Tentang masalah bukti, saya sudah katakan di atas. Tidak perlu dijelaskan lagi di sini.

Point 14 dibahas dalam point 13.

Point 15 tidak perlu dibahas lagi karena sejak awal sudah jelas bahwa posisi kami, logika adalah prakondisi bagi iman. Tidak ada logika, maka iman tidak ada. Logika bukan sekedar tanah subur, tetapi logika adalah tanah itu sendiri. Saya pikir ini sudah jelas, di tidak perlu dijelaskan tambahan lagi.

Pada poin 16 sebenarnya sudah menanggapi pertanyaan bung Marvel tetapi dilupakan oleh Bung Marvel sehingga diangkat lagi (point 12) untuk mempertanyakan interpretasi saya bahwa dia percaya “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Kalau saja saudara Marvel membaca tulisan saya sebagai keseluruhan, point yang di atas (point 12) tidak perlu diangkat lagi.

Point 17 saya katakan bahwa Tuhan dan malaikat, tidak punya otak. Sudah jelas bahwa yang dibahas di sini adalah organ fisik yang ada dalam tempurung kepala. Saya tidak tahu apakah bung Marvel berpandangan bahwa Tuhan dan malaikat itu makhluk fisik sehingga ketika saya katakan Tuhan dan malaikat tidak berotak, maka itu dipertanyakan. Artinya tidak jelas yang dimaksud di sini apa. Saya juga sudah katakan pengertian saya tentang pikiran. Bung Marvel menyodorkan kamus. Istilah kamus tidak penting. Saya tidak sedang membahas pengertian kamus. Kita sedang membahas pengertian lawan debat anda bung Marvel. 

Point 18, saya meminta saudara Marvel menerapkan definisi logika saudara Marvel dengan cara mengganti setiap pemunculan kata tersebut dengan definisinya. Dalam upaya memenuhi permintaan saya, saudara Marvel menerapkannya pada Ibrani 11. Untuk poin ini saya hanya akan mengangkat 1 ayat dari Ibrani 11 yaitu ayat 1. Ayat tersebut berbunyi “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Saudara Marvel menuliskannya demikian “KEBENARAN adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ingat permintaan saya adalah mengganti kata yang digunakan dengan definisinya. Apakah saudara Marvel mengganti kata iman dengan definisi yang dia anggap benar? Tidak sama sekali, tetapi dia hanya menggantikannya dengan kata KEBENARAN.

Jadi menurut saudara Marvel iman adalah kebenaran? Itu tidak mendefinisikan iman. Kebenaran itu apa? Menggantikan satu kata dengan kata lain tidak mendefinisikan apa-apa. Itu hanya menunjukkan bahwa kedua kata digunakan secara sinonim. Jadi apa itu iman saudara Marvel? Bagaimana sebuah kebenaran dapat diterima manusia? Tanpa pikiran? Ini masalah besar yang sangat mendasar. Apakah kebenaran itu sesuatu yang non-propositional? Lalu bagaiman sesuatu yang non proposisional diketahui salah atau benar? Bagaimana menilai sesuatu yang non-proposisional dapat diketahui kebenarannya?

Sekali lagi, saudara Marvel belum mendefinisikan iman. Dia hanya mengganti kata tersebut dengan kata, kebenaran. Menyamakan iman dengan kebenaran adalah yang yang tidak pernah ada dalam sejarah kekristenan. Mungkin saudara Marvel bisa memberikan justifikasi kenapa tiba-tiba muncul seperti ini. Saya tidak mau dulu menggubris tentang ayat-ayat yang diangkat, kecuali ada definisi yang jelas tentang apa itu ‘iman’ dalam sistem teologia atau sistem berpikirnya Bung Marvel. Sampai saat ini belum ada justifikasi terhadap pandangan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika.

Point 19, tidak perlu dibahas karena sama dengan point 9.

Pada point 20 saudara Marvel mengatakan bahwa apa yang dikemukakan pada pont 9 membuktikan bahwa dia memperhatikan jalan diskusi. Itu asumsinya kalau dia benar, tetapi setelah dibantah di atas, maka akan sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) mengatakan bahwa saudara saya yang satu ini kurang tajam memperhatikan diskusi.

Akhirnya paling tidak dari diskusi beberapa saat ini, masalah yang paling penting di sini adalah masalah definisi. Tampaknya (walaupun saat ini belum jelas apa definisi yang digunakan saudara Marvel), saya dan saudara Marvel sedang berbicara tentang hal berbeda ketika kami sama-sama menggunakan kata ‘iman’. Apakah ini bermasalah? Tentu saja tidak. Tetapi hanya akan bermasalah, kalau diklaim bahwa definisi iman saudara Marvel (entah bagaimanapun dia mendefinisikannya nanti) adalah definisi yang alkitabiah.

Dengan kemungkinan besar berbedanya definisi, maka jelas, ketika saya katakan bahwa “logika adalah prakondisi bagi iman”, maka tidak berarti pernyataan tersebut pasti berkontradiksi dengan pernyataan bahwa “iman adalah prakondisi bagi logika.” Bahwa hubungannya tidak harus kontradiksi, alasannya adalah karena definisi terhadap istilah pokok yang digunakan berbeda. Saudara Marvel sedang berbicara tentang iman yang merujuk kepada hal berbeda dengan definisi iman yang saya gunakan. Demikian juga dengan prakondisi. Satu-satunya term yang memiliki kesamaan makna dalam hal ini adalah istilah logika.

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Polemik. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Seperti Sedang Berbicara Tentang Langit Dan Bumi

  1. Marvel Ledo berkata:

    1. Pada point pertama & ketiga saudara Marvel mengakui hak saya untuk menggunakan kata ‘prakondisi’ sebagai memiliki makna yang sama dengan kata ‘prasyarat’. Tetapi dia tidak percaya bahwa saya konsisten menggunakan kata itu karena ada saat dimana saya menggunakannya dengan makna berbeda. Tetapi aneh tidak ada penjelasan dimana saya melakukan itu. Bukankah sejak awal sampai sekarang saya menggunakan kedua kata itu dengan definisi yang sama?
    Mungkin yang dimaksud adalah ketika saya setuju bahwa dalam ‘prakondisi’ terkandung pengertian bahwa tanpa logika iman tidak berkembang. Tetapi masalahnya adalah ‘tanpa logika iman tidak berkembang’ adalah implikasi logis dari proposisi ‘tanpa logika, iman tidak ada.’ Dengan kata lain proposisi ‘tanpa logika iman tidak berkembang’ merupakan sesuatu yang sudah terimplisit dalam proposisi ‘tanpa logika, iman tidak ada.’ Apakah iman bisa berkembang tanpa logika kalau iman itu sendiri tidak bisa ada tanpa logika? Jadi yang dibilang ekuivokasi oleh Bung Marvel tersebut terjadi karena dia tidak memahami apa posisi kami. ‘Tanpa logika iman tidak berkembang’ merupakan implikasi dari ‘Tanpa logika iman tidak ada.’ Jadi kalau dibicarakan tentang ‘iman tidak ada tanpa logika’, maka implikasinya bahwa ‘iman tidak dapat berkembang tanpa logika’ sudah implisit di dalamnya.
    Ini sama seperti contoh tentang lapangan bulutangkis bertaraf internasional yang merupakan prasyarat bagi pertandingan bulu tangkis taraf internasional. Ketika dikatakan ‘Tanpa lapangan bulutangkis bertaraf internasional, tidak mungkin ada pertandingan bulutangkis bertaraf internasional’ maka di balik itu ada implikasi bahwa ‘tanpa lapangan bulu tangkis bertaraf internasional, tidak mungkin Tim Piala Thomas Indonesia mengalahkan Tim Thomas China.”
    Dengan kata lain, tidak ada ekuivokasi pada posisi kami.

    Tanggapan Marvel: Contoh tentang lapangan bulutangkis bertaraf internasional ini jelas merupakan contoh yang kurang pas (jika tidak mau dikatakan cacat). Contoh ini sama persis dengan ilustrasi “gelas kiri yang ditaruh diatas gelas kanan” yang pernah saya sampaikan. Perhatikan bahwa yang Ma Kuru tuntut disini adalah “tanpa logika, tidak ada iman”. Artinya, kalo kita mau rujuk ke contohnya dia, maka yang terjadi adalah tanpa lapangan bulutangkis bertaraf internasional, tidak mungkin ada pertandingan bulutangkis bertaraf internasional. Apa benar demikian? Jelas tidak. Orang masih bisa menyelenggarakan pertandingan bulutangkis bertaraf internasional pada lapangan bulutangkis bertaraf nasional. Karena, yang dibutuhkan bukan status lapangannya, melainkan kelengkapan pendukung penyelenggaraan kejuaraan bulutangkisnya. Sehingga, apabila syarat kelengkapan minimum sudah bisa dipenuhi, maka, dengan sendirinya suatu kejuaraan bulutangkis bisa diselenggarakan. Status Internasional dan/atau Nasional bukan syarat kunci yang bisa menghalangi terselenggaranya suatu kejuaraan bulutangkis Internasional.
    Demikian juga dengan hubungan antara iman dan logika. Iman ada sendiri. Logika ada sendiri. Masing-masing ada. Pengertian “tanpa logika, iman tidak ada”, merupakan pengertian yang tidak sesuai dengan kenyataan yang Tuhan telah tunjukkan. Tuhan secara gamblang dan apa adanya menunjukkan kasih karunianya dengan mengaruniakan iman (baca: “dasar” dan “bukti”) ke hati sanubari orang-orang yang berkenan kepadaNya. Logika tidak menjadi prasyarat yang Tuhan gunakan, karena, iman adalah bagian dari Tuhan yang dikaruniakan kepada manusia.
    Jika iman itu dikaruniakan kepada seorang manusia normal sehat walafiat, maka iman itu akan mempengaruhi olah pikir manusia tersebut (yang didalamnya melekat logika), sehingga orang tersebut akan berpikir lurus. Pikiran yang lurus tersebut berdampak positif kepada iman juga, sehingga, pengertian yang bertumbuh menjadikan iman itu juga bertumbuh. Ini adalah salah satu pengertian Ma Kuru dan saya setuju 100%.
    Sebaliknya, jika iman dikaruniakan kepada manusia yang sejak dalam kandungan cacat otaknya, maka iman itu tidak akan bisa secara optimal mempengaruhi olah pikir manusia tersebut, karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Disini, logika yang menjadi media untuk perkembangan iman itu tidak jalan. Tetapi, itu tidak berarti iman tidak ada. Suatu benih tanaman yang “kehilangan” media tanah untuk tumbuh-kembangnya, tidak menjadi hilang. Benih itu tetap ada. Jadi, walaupun, iman yang Tuhan taruh pada akhirnya tidak berkembang di orang itu, iman itu tetap ada.
    Jelas sudah logika tidak menjadi prasyarat dari iman. Artinya, ruang lingkup pengertiannya Ma Kuru itu hanya pada contoh yang saya sebutkan saya setuju 100% itu. Jika, Ma Kuru hendak men-generalisirnya, maka Ma Kuru hanya akan keluar dari ruang lingkup itu, sehingga, menjadi tidak pas dan tidak cocok.

    2. Point kedua tentang ekuivokasi, saudara Marvel mengatakan bahwa saya telah melakukan perbaikan. Padahal saya tidak melakukan perbaikan sama sekali. Hal yang sama lebih diperjelas lagi. Jadi seharusnya dia berterima kasih kepada Tuhan bahwa akhirnya dia memahami apa yang saya katakan.
    Pada point ketiga, seperti saya katakan, saya tidak mengakui ada ekuivokasi karena saya menggunakan kata ‘prakondisi’ dan para ‘prasyarat’ dengan makna yang sama. Kecuali hak saya diambil untuk menggunakan definisi stipulatif baru saya bisa dikatakan ekuivokasi. Tentang kemungkinan saya menggunakan makna lain untuk kedua kata tersebut, sudah dibahas di atas.

    Tanggapan Marvel: Diatas telah saya contohkan salah satu pengertian Ma Kuru yang menggambarkan iman bertumbuh setelah berinteraksi dengan logika yang berfungsi normal (pengertian 1). Contoh lain pengertian Ma Kuru yang menggambarkan iman tidak akan ada jika tidak ada logika (pengertian 2) itulah yang menyebabkan saya menilai Ma Kuru telah tidak konsisten menggunakan makna kata “prasyarat”. Boleh-boleh saja Ma Kuru klaim bahwa dia konsisten dengan memberi alasan bahwa pengertiannya dia yang pertama merupakan implikasi dari pengertiannya dia yang kedua. Tetapi, karena pengertiannya yang kedua itu tidak benar dan jelas bisa dibantah, maka, relasi implikatif antara kedua pengertiannya itu menjadi tidak relevan lagi. Jelas, Ma Kuru telah melakukan ekuivokasi.

    3. Point 4, saya diminta tampilkan link dimana prakondisi digunakan sebagai sinonim prasyarat. Permintaan ini tidak perlu diladeni lagi sebenarnya karena setidaknya sudah ada pengakuan bahwa saya punya hak menggunakan definisi stipulatif asalkan saya konsisten. Tetapi sebagai referensi ini saya tampilkan pada level pendefinisian: Situs Persamaan Kata, Situs KKBI, Situs Sinonim Kata. Dan ini adalah salah satu contoh penggunaan kedua kata dianggap sinonim.
    Saudara Marvel mengatakan bahwa sepanjang debat dengai dia, saya menggunakan kata ‘prakondisi’ dengan makna yang berbeda yaitu bahwa logika sebagai ‘syarat’ dan logika sebagai ‘landasan’. Masalahnya saudara Marvel kurang teliti membaca tulisan saya. Ide bahwa ‘logika merupakan landasan bagi perkembangan’ merupakan implikasi yang valid dari posisi ‘tanpa logika, tidak iman’. Dengan kata lain ketika dikatakan ‘tanpa logika, tidak iman,’ maka ide ‘logika merupakan landasan bagi perkembangan’ sudah implisit di sana. Tidak perlu dibahas panjang lebar lagi di sini karena sudah dibahas di atas.

    Tanggapan Marvel: Silahkan baca penjelasan saya di poin 2.

    4. Point 6 saudara Marvel setidaknya melakukan pengamatan yang tepat ketika mengatakan bahwa dia dan saya memilki definisi berbeda dari kata iman. Implikasi dari pernyataan seperti ini adalah bahwa ketika saudara Marvel mengatakan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika, maka dia tidak sedang (atau setidaknya tidak pasti) membantah pendapat saya karena kami memiliki definisi berbeda. Pandangan saya bahwa logika adalah prakondisi bagi iman juga tidak terbantahkan seandainyapun apa yang dikatakannya benar dan pandangan dunianya koheren. Dengan kata lain kami memiliki sistem kepercayaan yang berbeda sama sekali, dengan definisi yang berbeda sama sekali. Dengan demikian, masalah ini harus diselesaikan pada level sistem pemikiran. Pertama dicari tahu mana definisi yang tepat sesuai atau paling mendekati data Alkitab; dan kedua menilai konsistensi kedua sistem tersebut. Sistem yang lebih konsisten dipilih dan sistem yang tidak konsisten ditolak.
    Masih terkait dengan point ini, syukur bahwa saudara Marvel mulai melihat bahwa masalah sebenarnya adalah pada definisi. Ini sudah saya angkat sebelumnya dalam diskusi, tetapi syukurlah sekarang saudara Marvel sudah mulai memahami itu.

    Tanggapan Marvel: Ha..ha..ha… Ma Kuru e. B su omong dari dulu2 bahwa ktong dua ada di rel yang berbeda ju ente tabrak trus sa. Tapi, no problem.

    5. Pada point tujuh saudara Marvel mengangkat referensi online, tetapi masalahnya dalam referensi yang diangkat tidak menyatakan bahwa kedua kata memiliki definisi berbeda. Malah ada kesan bahwa keduanya adalah sinonim. Referensi yang diambil memang di sebut Kamus Besar, tetapi Kamus Besar apa? Tidak jelas. Sekali lagi, saya katakan bahwa ini adalah argumen sampingan saja terhadap argumen utama saya.

    Tanggapan Marvel: Nanti Ma Kuru tanya langsung di itu pembuat Kamus Besar sa. Kesan sinonim yang Ma Kuru lihat itu memang ada, tetapi, perhatikan kedua contoh pengertian Ma Kuru diatas. Kedua pengertian itu menjadi sangat berbeda implikasi pre- dan post- nya. Pada pengertian 1, implikasi pre- nya adalah logika musti ada dahulu baru iman bisa “bertumbuh”. Implikasi post- nya adalah iman akan berkembang semakin “besar” dan “hebat” oleh karena logika. Pada pengertian 2, implikasi pre- nya adalah iman belum ada, hanya logika yang ada. Implikasi post- nya adalah setelah logika ada, barulah iman bisa ada. Implikasi post- di pengertian 2 ini selanjutnya sama dengan pengertian 1 (cocok dengan relasi implikatif yang Ma Kuru sebutkan).
    Perhatikan implikasi pre- dari pengertian 2 diatas. Jika gunakan pengertian Ma Kuru tentang iman yang menyatakan bahwa iman adalah “mempercayai proposisi”, maka, ya, iman belum ada. Tetapi, jika menggunakan pengertian iman sesuai Ibrani 11 yang menyataan bahwa iman adalah “dasar” dan “bukti”, maka pengertian 2 Ma Kuru itu menjadi salah, karena implikasi pre- nya salah.
    Inilah letak perbedaan Ma Kuru dan saya. Benar2 di rel yang berbeda.

    6. Pada poin delapan, seperti saya bilang analogi gelas yang diangkat oleh Saudara Marvel cacat dalam pengertian bahwa hal itu tidak merefleksikan pandangan saya sama sekali. Ya saya percaya bahwa iman adalah mempercayai propisisi yang Tuhan katakan sebagai benar. Saudara Marvel memprotes definisi itu karena definisi itu sebagai tindakan. Mungkin saudara Marvel benar kalau saya menggunakan kata tersebut secara strict dalam pengertian kamus. Tetapi masalahnya adalah saya menggunakan definisi tersebut dengan makna ‘hal mempercayai proposisi yang Tuhan katakan benar’ atau ‘kepercayaan kepada proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar.’ Dengan kata lain di sini saya kurang jeli menggunakan kata-kata. Pada bagian lain komentar saya sebenarnya jelas yang saya maksud bukan tindakan tetapi ‘kepercayaan akan proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar.’ Anehnya saudara Marvel tidak melihat perbedaan itu dan mempertanyakannya tetapi mengangkat satu formulasi tetapi tidak mengangkat formulasi yang lain terhadap istilah yang sama. (‘kepercayaan’ bukan kata kerja)
    Satu lagi yang menjadi masalah yang saudara Marvel angkat adalah bahwa iman adalah bukti. Namun kalau iman adalah kepercayaan akan proposisi yang Tuhan nyatakan benar, maka itu sudah menjadi bukti akan sesuatu yang tidak pernah kita lihat. Apa yang menjadi bukti bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan pernah menciptakan langit dan bumi selama 6 hari? Jawabannya adalah: kepercayaan bahwa Tuhan memberi wahyu tersebut dan kita mempercayai Wahyu Tuhan itu sebagai benar. Tidak ada yang lebih atau kurang dari itu. Jadi kepercayaan itu menjadi bukti bahwa Tuhan telah melakukan A, B, C, dan D. Tanpa kepercayaan itu, tidak ada bukti lain.

    Tanggapan Marvel: Satu lagi perbedaan Ma Kuru dan saya. Pengertian iman menurut Ma Kuru itu lebih cocok dikatakan sebagai “tindakan imani” dan bukan “iman”. Istilah “kepercayaan” yang Ma Kuru kemukakan itu merupakan respon manusia terhadap anugerah iman yang Tuhan berikan. Garis bawah kata “respon”. Disini terdapat unsur keaktifan manusia. Kesannya adalah iman hanya bisa didapat apabila manusia juga turut aktif memperjuangkannya. Kesan ini berbeda dengan keyakinan saya bahwa iman diterima manusia “hanya karena anugerah Tuhan semata”. Karena, semua manusia berdosa, maka, iman yang diterima manusia semata-mata merupakan anugerah Tuhan.

    Bagi saya, iman adalah kebenaran itu sendiri. Dan, kebenaran itu Tuhan anugerahkan kepada manusia sesuai kemurahan hatiNya. Tindakan mempercayai kebenaran itu adalah satu hal yang tidak bisa disamakan dengan kebenaran itu sendiri. Semoga Ma Kuru semakin jelas.

    7. Pada poin 9 kembali dibahas hal yang sama yaitu masalah prakondisi. Yang kami maksudkan dengan ‘logika Prakondisi iman’ adalah bahwa ‘tanpa logika tidak ada iman’ alias ‘no logic’ no faith’. Dan tentu saja secara implikasi, kalau untuk iman ada saja, harus ada logika, apa lagi kalau untuk dia berkembang? Ini sudah dibahas dalam bagian sebelumnya, jadi tidak perlu dibahas berpanjang lebar lagi di sini.

    Tanggapan Marvel: Baca penjelasan2 saya di poin 1 dst.

    8. Pada pont 10 Saudara Marvel kembali mengatakan bahwa kami melakukan ekuivokasi. Tidak perlu lagi saya jelaskan tentang implikasi, tetapi dengan penjelasan sebelumya tentang hubungan implikasi, maka jelas ‘tidak ada iman tanpa logika’ berimplikasi valid ‘tanpa logika, iman tidak berkembang.’ Di sini bukan ekuivokasi tetapi implikasi. Dua hal berbeda. Jadi sekali lagi pertanyaannya, ekuivokasi dari Hongkong?

    Tanggapan Marvel: Ha..ha..ha…baca penjelasan saya di poin 2 diatas.

    9. Pada poin 11, saudara Marvel mempertanyakan apa yang saya maksud dengan saya menyerang implikasi dari pandangan saudara Marvel ketika saya mengatakan bahwa saudara Marvel percaya bahwa anak-anak tidak paham hukum logika tetapi sudah bisa beriman, sedangkan sebenarnya yang dia katakan adalah bahwa ‘“bayi yang baru lahir masih BELUM MAMPU MENGAPLIKASIKAN 3 hukum logika itu, tetapi, toh, mereka tetap beriman.” Masalahnya di sini adalah saudara Marvel sudah akui bahwa pengertian memprasyaratkan logika. Kalau misalnya benar bahwa para anak-anak tersebut sudah tahu hukum logika, namun belum bisa menerapkannya, maka jelas bahwa saat anak-anak itu sudah menerapkan logika. Karena untuk mengetahui, hukum logika harus berlaku. Tetapi itu bertentangan dengan pandangan saudara Marvel bahwa anak-anak itu sudah beriman walaupun tanpa berlogika. Sekarang tinggal pilih, mau menerima bahwa anak-anak sudah paham hukum logika, atau anak-anak belum paham hukum logika. Menerima yang pertama berarti menolak pandangan bahwa sebelum logika, sudah ada iman. Menerima yang kedua, berarti menerima pandangan bahwa iman ada sebelum logika ada. Jelas saudara Marvel menerima pandangan kedua, karena itu secara implikasi anak-anak itu belum paham hukum logika. Semoga tidak terlalu sulit untuk Saudara Marvel pahami.

    Tanggapan Marvel: Exactly, ada masa dimana bayi baru lahir (saya lebih suka pakai istilah bayi baru lahir ketimbang anak2. Dulu sudah pernah saya akui bahwa contoh anak2 bukan contoh yang baik untuk menggambarkan maksud saya) sama sekali belum paham hukum logika, sehingga mereka belum bisa memfungsikannya untuk meresponi anugerah iman yang mereka dapatkan. Dan, itu menunjukkan bahwa iman tetap Tuhan berikan kepada mereka. Selanjutnya, setelah mereka masuk ke masa dimana logika bisa mereka fungsikan, iman mereka itu yang menjadi dasar bagi mereka untuk menggunakan logika dengan benar (kata lain: berpikir lurus). Jika tidak ada kebenaran itu (baca: iman), maka, bagaimana mereka bisa berpikir lurus?

    10. Point 12 saudara Marvel mempertanyakan bagaimana “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak”. Padahal itu bukan intinya pada point ini. Hal itu sudah dibahas pada poin-poin sebelumnya, bahwa yang terjadi di sana adalah masalah formulasi saya yang kurang tepat. Saudara Marvel memisahkan paragraf ini dari point yang diangkat, seolah-olah tidak ada hubungan. Ini namanya jelas straw men. Sebenarnya ada pertanyaan-pertanyaan yang saya angkat tetapi tidak dijawab oleh bung Marvel. Sedangkan hal-hal yang sudah saya jawab tentang masalah formulasi bukan di sini tempatnya.

    Tanggapan Marvel: Apa saja sih pertanyaan2nya yang terlewatkan oleh saya? Formulasikan ulang saja pertanyaan2 tersebut supaya saya bisa jawab dengan benar.

    11. Pada point 13 saya mengatakan bahwa pengertian Kristen tentang iman adalah bahwa iman mempraanggapkan pengertian. Tanpa pengertian, tidak ada iman. Seseorang tidak beriman tanpa paham apa yang diimani. Itu pengertian Kristen. Saudara Marvel membantah itu dan mengatakan bahwa itu adalah pegertian yang dikemukakan 50 tahun lalu. Padahal dalam sejarah kekristenan, iman secara konsisten didefinisikan demikian. Itu bukan pendefinisian 50 tahun lalu seperti yang dikatakan Bung Marvel. Supaya tidak dikatakan mengada-ngada, saya kutipkan Pengakuan Iman Katekismus Heidelberg yang disusun 1500-an yang bertanya tentang apa sih sebenarnya iman yang sejati itu? Ini jawabannya “Iman yang sejati adalah keyakinan atau pengetahuan yang pasti yang membuat aku mengakui sebagai kebenaran segala sesuatu yang dinyatakan Allah kepada kita di dalam Firman-Nya, dan juga kepercayaan yang teguh (b), yang dikerjakan dalam hatiku oleh Roh Kudus (c), melalui Injil (d).” So, pandangan bahwa definisi saya adalah definisi 50-an tahun lalu adalah pandangan yang tidak sesuai dengan fakta.
    Tentang masalah bukti, saya sudah katakan di atas. Tidak perlu dijelaskan lagi di sini.

    Tanggapan Marvel: Yah, yang saya maksudkan dengan ekspresi “50 tahun lalu” itu hanyalah ekspresi saya saja terkait sumber “baru” yang Ma Kuru gunakan yang tidak sesuai dengan pengertian iman menurut Alkitab dalam Ibrani 11 yang merupakan sumber paling sahih yang sudah dari dulu2. Perhatikan bahwa pada Ibrani 11, iman adalah “dasar” dan “bukti”, bukan “keyakinan” atau “mempercayai proposisi”.
    Tetap, pengertian Ma Kuru dan sumber yang Ma Kuru kutip itu merupakan suatu “tindakan imani” bukan “iman” itu sendiri.

    12. Point 14 dibahas dalam point 13.
    Point 15 tidak perlu dibahas lagi karena sejak awal sudah jelas bahwa posisi kami, logika adalah prakondisi bagi iman. Tidak ada logika, maka iman tidak ada. Logika bukan sekedar tanah subur, tetapi logika adalah tanah itu sendiri. Saya pikir ini sudah jelas, di tidak perlu dijelaskan tambahan lagi.

    Tanggapan Marvel: “Tanah subur” dan “tanah” adalah “tanah” sebagai “media”. No problem.

    13. Pada poin 16 sebenarnya sudah menanggapi pertanyaan bung Marvel tetapi dilupakan oleh Bung Marvel sehingga diangkat lagi (point 12) untuk mempertanyakan interpretasi saya bahwa dia percaya “kalau otak rusak, maka pikiran akan rusak” berarti menyamakan pikiran dengan hasil reaksi kimia dalam otak. Kalau saja saudara Marvel membaca tulisan saya sebagai keseluruhan, point yang di atas (point 12) tidak perlu diangkat lagi.

    Tanggapan Marvel: Baca poin 10 diatas.

    14. Point 17 saya katakan bahwa Tuhan dan malaikat, tidak punya otak. Sudah jelas bahwa yang dibahas di sini adalah organ fisik yang ada dalam tempurung kepala. Saya tidak tahu apakah bung Marvel berpandangan bahwa Tuhan dan malaikat itu makhluk fisik sehingga ketika saya katakan Tuhan dan malaikat tidak berotak, maka itu dipertanyakan. Artinya tidak jelas yang dimaksud di sini apa. Saya juga sudah katakan pengertian saya tentang pikiran. Bung Marvel menyodorkan kamus. Istilah kamus tidak penting. Saya tidak sedang membahas pengertian kamus. Kita sedang membahas pengertian lawan debat anda bung Marvel.

    Tanggapan Marvel: Ha..ha..ha…hati2 lho, Ma Kuru, ada Tuhan yang telah menjadi manusia bernama Tuhan Yesus yang adalah pusat kepercayaan iman kristiani. Okelah, sonde usah bahas itu lagi. Mungkin, waktu itu Ma Kuru cuma slipped of the thought saja…:)
    Pengertian tentang pikiran menurut Ma Kuru sebenarnya apa, ya? Bisa diulangi lagi biar saya tidak salah mengerti?

    15. Point 18, saya meminta saudara Marvel menerapkan definisi logika saudara Marvel dengan cara mengganti setiap pemunculan kata tersebut dengan definisinya. Dalam upaya memenuhi permintaan saya, saudara Marvel menerapkannya pada Ibrani 11. Untuk poin ini saya hanya akan mengangkat 1 ayat dari Ibrani 11 yaitu ayat 1. Ayat tersebut berbunyi “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Saudara Marvel menuliskannya demikian “KEBENARAN adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ingat permintaan saya adalah mengganti kata yang digunakan dengan definisinya. Apakah saudara Marvel mengganti kata iman dengan definisi yang dia anggap benar? Tidak sama sekali, tetapi dia hanya menggantikannya dengan kata KEBENARAN.
    Jadi menurut saudara Marvel iman adalah kebenaran? Itu tidak mendefinisikan iman. Kebenaran itu apa? Menggantikan satu kata dengan kata lain tidak mendefinisikan apa-apa. Itu hanya menunjukkan bahwa kedua kata digunakan secara sinonim. Jadi apa itu iman saudara Marvel? Bagaimana sebuah kebenaran dapat diterima manusia? Tanpa pikiran? Ini masalah besar yang sangat mendasar. Apakah kebenaran itu sesuatu yang non-propositional? Lalu bagaiman sesuatu yang non proposisional diketahui salah atau benar? Bagaimana menilai sesuatu yang non-proposisional dapat diketahui kebenarannya?
    Sekali lagi, saudara Marvel belum mendefinisikan iman. Dia hanya mengganti kata tersebut dengan kata, kebenaran. Menyamakan iman dengan kebenaran adalah yang yang tidak pernah ada dalam sejarah kekristenan. Mungkin saudara Marvel bisa memberikan justifikasi kenapa tiba-tiba muncul seperti ini. Saya tidak mau dulu menggubris tentang ayat-ayat yang diangkat, kecuali ada definisi yang jelas tentang apa itu ‘iman’ dalam sistem teologia atau sistem berpikirnya Bung Marvel. Sampai saat ini belum ada justifikasi terhadap pandangan bahwa iman adalah prakondisi bagi logika.

    Tanggapan Marvel: Rupanya, Ma Kuru bingung atau tidak baca baik2 penjelasan saya terkait itu. Ini saya kutip ulang yang beberapa waktu pernah saya tulis tentang pengertian iman menurut saya setelah membaca Alkitab:

    {Menurut Alkitab dalam Ibrani 11:1, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Perhatikan dua kata kunci pada ayat itu: “dasar” dan “bukti”. Dan, “dasar” dan “bukti” TIDAK SAMA dengan “mempercayai proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar”?

    “Dasar” dan “bukti” dalam Ibrani 11:1 itu sudah ada. Jadi, kalau kita bicara mengenai Tuhan menganugerahkan iman kepada kita, maka yang sebenarnya kita bicara adalah Tuhan menganugerahkan “dasar” dan “bukti” itu kepada kita. Sehingga, saat kita harapkan sesuatu dan tidak melihat sesuatu itu, maka “dasar” dan “bukti” itu telah ada untuk meyakinkan kita bahwa sesuatu itu benar2 ada. Implikasi dari pemahaman ini adalah “iman adalah prakondisi dari logika”. Contohnya, pikiran Ma Kuru sedang menalar kalimat “mempercayai proposisi yang Tuhan nyatakan sebagai benar”. Ma Kuru belum yakin benar bahwa kalimat itu bernilai benar, tetapi, oleh “dasar” dan “bukti” itu, Ma Kuru merasa bahwa kalimat itu bernilai benar. Oleh karena itu, Ma Kuru mengambil sikap dan tindakan mendalami makna kalimat itu sampai akhirnya Ma Kuru yakin bahwa Ma Kuru sudah menemukan kebenaran yang terkandung dalam kalimat itu. Jadi, nyatalah bahwa iman Ma Kuru telah menggerakkan dia untuk menggunakan pikirannya (yang ada melekat logika itu) untuk mencapai kebenaran.

    Apakah “dasar” dan “bukti” itu berupa proposisi? Ingat, proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Apakah “dasar” dan “bukti” itu berupa kalimat pernyataan? Jelas saja bukan! “Dasar” dan “bukti” itu adalah “the truth” dan “the truth” itu Tuhan anugerahkan kepada manusia, sehingga manusia bisa yakin akan sesuatu bahkan sebelum dia melihat bukti. Saya minta Ma Kuru jangan melihat “the truth” itu sebagai satu kata yang berisi huruf2 T R U T H. Tapi, sense the essence of the “truth”. The truth is the truth! The truth needs no reasoning, because the truth is God, alpha and omega.}

    Jelas, Ma Kuru? Sudah saya katakan, jangan melihat kata K E B E N A R A N. Baca ulang di paragraph terakhir diatas. Baca pelan2 dan jangan melompat-lompat.

    16. Point 19, tidak perlu dibahas karena sama dengan point 9.
    Pada point 20 saudara Marvel mengatakan bahwa apa yang dikemukakan pada pont 9 membuktikan bahwa dia memperhatikan jalan diskusi. Itu asumsinya kalau dia benar, tetapi setelah dibantah di atas, maka akan sulit (kalau tidak dapat dikatakan tidak mungkin) mengatakan bahwa saudara saya yang satu ini kurang tajam memperhatikan diskusi.
    Akhirnya paling tidak dari diskusi beberapa saat ini, masalah yang paling penting di sini adalah masalah definisi. Tampaknya (walaupun saat ini belum jelas apa definisi yang digunakan saudara Marvel), saya dan saudara Marvel sedang berbicara tentang hal berbeda ketika kami sama-sama menggunakan kata ‘iman’. Apakah ini bermasalah? Tentu saja tidak. Tetapi hanya akan bermasalah, kalau diklaim bahwa definisi iman saudara Marvel (entah bagaimanapun dia mendefinisikannya nanti) adalah definisi yang alkitabiah.
    Dengan kemungkinan besar berbedanya definisi, maka jelas, ketika saya katakan bahwa “logika adalah prakondisi bagi iman”, maka tidak berarti pernyataan tersebut pasti berkontradiksi dengan pernyataan bahwa “iman adalah prakondisi bagi logika.” Bahwa hubungannya tidak harus kontradiksi, alasannya adalah karena definisi terhadap istilah pokok yang digunakan berbeda. Saudara Marvel sedang berbicara tentang iman yang merujuk kepada hal berbeda dengan definisi iman yang saya gunakan. Demikian juga dengan prakondisi. Satu-satunya term yang memiliki kesamaan makna dalam hal ini adalah istilah logika.

    Tanggapan Marvel: Definisi yang saya gunakan berasal dari Alkitab dalam Ibrani 11. Sah dan tidak diragukan kebenarannya. Definisi yang Ma Kuru pakai tidak ada dalam Alkitab. Definisi yang Ma Kuru pakai lebih merupakan hasil olah pikir orang lain terhadap, -salah satunya-, Alkitab. Yah, jadi maklum sajalah kenapa sampai saat ini masih berbeda.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s