Baca na, Pake Logika!

Menurut Gordon H. Clark, banyak buku-buku rohani yang sebenarnya omong kosong alias kontradiksi. Mungkin Clark benar dan mungkin juga salah. Tetapi di bawah ini adalah contoh tidak logisnya sebuah buku. Kutipan ini adalah terjemahan dari buku Vincent Cheung, Prayer and Revelation, Halaman 4.

Dalam bukunya, With Christ in the School of Prayer, Andrew Murray menulis, “Membaca buku tentang doa, mendengarkan kuliah dan berbicara tentang doa adalah hal yang sangat baik, tetapi tidak mengajarkan anda berdoa. Anda tidak memperoleh apapun tanpa praktek.” Hampir-hampir dapat dikatakan bahwa yang dikatakan itu adalah hal yang paling bodoh. Jika membaca, mendengar dan berbicara tentang doa “tidak mengajarkan anda berdoa,” bagaiamana mungkin kegiatan-kegiatan tersebut “sangat baik”? Jika saya tidak bisa mendapatkan apapun tanpa praktek, lalu mengapa saya harus membaca bukunya?

Bukunya pasti dia anggap mengandung pelajaran tentang doa yang dia simpulkan dari contoh Yesus. Namun pernyataan yang dikutip di atas berimplikasi bahwa “praktek” atau pengalaman merupakan guru yang lebih baik daripada firman dan tindakan Kristus. Hal ini menakutkan ketika kita sadari bahwa tampaknya banyak orang yang memiliki pandangan yang sama dengan Murray terkait pembelajaran tentang hal-hal rohani. Mereka berkata bahwa anda dapat membaca dan berbicara tentang hal rohani, tetapi pengalaman adalah guru terbaik. Namun jika pengalaman adalah guru terbaik, maka Yesus bukan Guru terbaik dan Alkitab bukan sumber informasi terbaik. Ini jelas penghujatan.

Kita dapat belajar dari “contoh” Yesus hanya dalam pengertian bahwa kata-kata Alkitab menyatakan kepada kita tentang kehidupan doa Kristus, sehingga kita dapat mempelajarinya dengan cara membaca, mendengarkan, dan merenungkan, dan bukan melalui pengalaman atau observasi. Alkitab memang mengajarkan bahwa kita harus menjadi contoh dari apa yang kita ajarkan. Namun itu berbeda sama sekali dari ajaran bahwa kita harus mengajarkan melalui pengalaman. Karena kita tidak sempurna, bagaimana mungkin orang mengetahui apa yang harus ditiru dan tidak ditiru dari kita, kecuali dia sudah mengetahui sebenarnya apa yang benar dan apa yang salah melalui pembacaan, mendengarkan, dan merenungkan kata-kata Alkitab? Tetapi kalau dia sudah mengetahuinya, maka contoh kita paling baik hanyalah dorongan untuk merenungkan dan mengikuti kata-kata Alkitab, sehingga contoh-contoh tersebut tidak dalam dirinya sendiri menyatakan informasi apapun tentang bagaimana seharusnya orang Kristen hidup. Informasi yang diajarkan hanya berasal dari Alkitab, bukan pengalaman atau contoh. Tidak ada contoh yang tidak tanpa salah bagi kita untuk pelajari kecuali yang digambarkan dan ditafsirkan oleh kata-kata Alkitab. Walaupun Yesus tidak berdosa, sehingga semua yang dilakukan-Nya adalah kebenaran, namun ketika dia menunjukkan teladan dalam Yohanes 13:15, para murid tidak memahaminya sampai dia mengajarkannya dengan kata-kata. Pelajaran yang diberikan itu menggunakan kata-kata, bukan tindakan itu sendiri. Teladan itu sendiri hanyalah mengilustrasikan kata-kata yang diajarkan.

Sumber: Prayer and Revelation, Vincent Cheung, Hal. 4, Terjemahan Ma Kuru

Pos ini dipublikasikan di Iman, Injil, Logika, Vincent Cheung. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s