Teori dan Fakta Tak Terpisahkan

Anda masih percaya bahwa teori dan fakta adalah dua hal yang dapat dipisahkan? Mungkin anda harus membaca tulisan di bawah ini. Tulisan ini adalah terjemahan kutipan tulisan Vincent Cheung berjudul Presuppositional Confrontation, halaman 4 – 6.

Bayangkan anda sedang menonton permainan tenis di televisi (walaupun sebenarnya dapat digunakan contoh lain juga, entah basket, sepak bila, atau bahkan catur). Bayangkan saya memahami aturan permainan tenis tetapi anda tidak memahaminya. Andaikan lagi bahwa suara televisi dimatikan sama sekali sehingga tidak ada komunikasi verbal dari sang komentator. Akhirnya, andaikan juga bahwa tidak ada komunikasi visual dan tidak ada skor yang ditampilkan. Pertanyaan saya adalah apakah permainan tersebut bisa anda pahami?

Jika saya memperhatikan dengan seksama, saya masih bisa mengikuti permainan tersebut walaupun tanpa komunikasi verbal, karena saya sudah memahami peraturannya. Demikian pula halnya dengan para pemain, mereka bisa mengikuti permainan tersebut tanpa pengumuman atau bantuan papan skor. Sedangkan anda, walaupun anda menonton permainan tersebut, anda tidak akan memahami apa yang anda lihat karena ada tidak paham aturannya.

Hal ini berarti bahwa ketika anda menonton permainan tersebut, apa yang anda amati tidak menyediakan inteligibilitas dan interpretasi bagi diri sendiri. Sebaliknya, agar sebuah permainan dapat anda pahami dan agar anda memiliki interpretasi yang tepat akan apa yang sedang terjadi, maka anda harus sudah memiliki sejumlah pengetahuan saat menonton permainan, dan pengetahuan tersebut tidak berasal menonton pertandingan. Seandainya saya sudah menjelaskan aturan permainan sebelum permainan diadakan, atau saya menjelaskannya saat permainan diadakan, maka apa yang anda tonton akan dapat anda pahami, serta anda mampu menafsirkan permainan yang anda tonton dengan tepat.

Anda mungkin berargumen bahwa, anda dapat menarik kesimpulan tentang beberapa aturan saat anda melakukan observasi. Tetapi masalahnya tidak semudah yang disangka banyak orang. Sebagai contoh, andaikan anda mengamati bahwa setiap kali “skakmat,” kedua pemain pergi meninggalkan papan catur. Apa yang anda dapat simpulkan dari hal ini? Anda tidak dapat menyimpulkan bahwa salah satu dari antara mereka menang kecuali anda memahami peraturannya. Mungkin saja “skakmat” artunya seri. Mungkin pula kata itu berarti kedua pemain sudah bosan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan permainan. Mungkin pula itu berarti waktunya makan siang. Anda harus mengetahui bahwa yang dilakukan itu adalah sebuah permainan yang dapat dimenangkan dan anda harus memahami bagaimana memenangkannya. Bahkan kalaupun anda menyimpulkan bahwa salah seorang di antaranya menang, dari mana anda mendapatkan kategori “menang” dan “kalah” dalam pemikiran anda? Anda tidak mendapatkannya dari pengamatan terhadap permainan itu sendiri. Anda membawa konsep tersebut dan menerapkannya saat anda melakukan pengamatan.

Bagaimana dengan gagasan tentang waktu dan sebab akibat? Kedua konsep ini dibutuhkan untuk mehamai permainan, tetapi keduanya tidak dapat anda peroleh saat menonton permainan. Anda harus mengusung gagasan-gagasan tersebut saat mengamati permainan. Sejumlah prinsip etis juga harus anda anggap sebagai benar. Anda harus mengasumsikan bahwa para pemain tidak saling curang dan mereka tidak dapat lolos kalau melakukan kecurangan. Kalau mereka biasa curang dan selalu lolos dengan kecurangan, maka permainan tersebut tidak akan memiliki cukup keteraturan yang anda dapat gunakan untuk menyimpulkan peraturan yang digunakan. Namun seandainya seorang melakukan kecurangan, bagaimana anda tahu bahwa dia sedang melakukan kecurangan (kalau anda belum paham aturannya). Siapa tahu dia hanya melakukan pengecualian yang diperbolehkan oleh aturan permainan tersebut?

Jika anda mengambil waktu untuk menyusun sebuah daftar, maka mungkin akan ada ratusan atau bahkan ribuan pra-anggapan dasar yang harus anda gunakan agar permainan itu dapat dipahami, dan pra-anggapan-praanggapan dasar tersebut tidak diperoleh saat anda menonton pertandingan. Kondisinya semakin dipersulit karena terdapat ratusan atau ribuan unsur atau elemen acak yang bukan merupakan sesuatu yang esensial bagi aturan permainan, walaupun merupakan menjadi bahan pengamatan. Sebagai contoh, jika sebuah permainan catur dilakukan oleh dua orang berjas lengkap, apa yang anda dapat simpulkan dari kejadian ini? Apakah anda akan menyimpulkan bahwa setelan jas lengkap adalah aturan yang esensial bagi permainan catur? Jika demikian, haruskah perempuan juga mengenakan setelan jas laki-laki, ataukah mereka boleh mengenakan pakaian perempuan? Tentu saja, ada orang yang mengenakan pakaian biasa saat bermain catur. Tetapi bagaimana anda tahu bahwa mengenakan baju biasa bukan pelanggaran terhadap peraturan dan mereka sebenarnya hanya lolos dari hukuman? Atau apakah anda anda akan mengasumsikan tanpa dasar bahwa jika memang mereka melanggar peraturan, maka peraturan akan ditegakkan terhadap mereka?

Tanpa pengetahuan yang tidak diperoleh dari observasi, maka observasi itu sendiri tidak tidak dapat dipahami atau tidak mengkomunikasikan informasi apapun. Inteligibilitas dan interpretasi terhadap pengamatan secara mendasar mengasumsikan adanya pengetahuan tentang obyek yang diamati, dan pengetahuan ini tidak berasal dari tindakan pengamatan itu sendiri. Artinya, inteligibilitas dan interpretasi terhadap sebuah pengalaman dimungkinkan oleh adanya pengetahuan yang bukan merupakan hasil pengamatan. Pengetahuan ini bisa berupa sesuatu yang sudah melekat atau sesuatu yang diterima melalui instruksi verbal.

Jika pikiran benar-benar kosong sehingga tidak memiliki kategori-kategori seperti waktu, ruang, dan sebab akibat, maka inteligibilitas dan interpretasi tidak mungkin ada. Sesungguhnya, jika pikiran kosong dan tidak memiliki pikiran apapun yang tidak berasal dari observasi atau pengamatan, maka dunia anda hanyalah badai sensasi inderawi yang tidak memiliki cara untuk mengatur dan menginterpretasinya. Namun, jika dibutuhkan pengetahuan non-pengamatan terhadap realitas agar bisa menginterpretasi realitas secara tepat, maka ini berarti bahwa keteraturan dan makna yang anda amati diterapkan pada apa yang anda amati dan tidak pernah disimpulkan darinya. Dengan kata lain makna dari yang anda amati dikendalikan oleh praanggapan dasar anda.

Kita kembali ke ilustrasi awal, apa yang terjadi jika anda memiliki praanggapan dasar aturan permainan bola basket ketika anda menonton permainan tenis? Walaupun tampaknya anda dapat menjelaskan beberapa hal yang anda amati, namun karena anda memiliki praanggapan dasar yang salah, maka interpretasi anda akan salah. Karena itu, tidaklah cukup untuk mengakui bahwa praanggapan dasar mendahului inteligibilitas dan interpretasi, tetapi kita harus menyadari bahwa tidak semua praanggapan dasar sama dan praanggapan dasar yang satu bisa salah dan yang lainnya benar.

Jadi sejauh ini ada beberapa kemungkinan yang dapat kita simpulkan terkait dengan yang terjadi ketika menonton sebuah permainan tenis:

  1. Pikiran benar-benar kosong, dan tidak ada apapun yang dapat dipahami serta interpretasi menjadi tidak mungkin.
  2. Pikiran hanya memiliki kategori-kategori dasar tanpa pengetahuan tentang aturan permainan, sehingga ada pemahaman tentang konsep seperti waktu, sebab akibat, etika, dan menang kalah. Dalam kasus ini interpretasi juga masih tidak memungkinkan.
  3. Pikiran menerapkan praanggapan dasar yang salah tentang permainan, seperti aturan permainan basket diterapkan pada permainan tenis. Dalam kasus ini interpretasi masih belum memungkinkan atau kalau coba dilakukan maka akan menghasilkan interpretasi yang salah.
  4. Pikiran mengandung praanggapan dasar yang benar tentang alam semesta secara umum dan tentang permainan tenis secara khusus. Interpretasi yang benar dapat dilakukan.

Akibatnya adalah orang dapat saja mengamati satu hal yang sama tetapi kemudian menghasilkan dua penafsiran yang berbeda. Namun demikian, hal ini tidak otomatis berarti menghasilkan relativisme, karena bisa jadi seseorang memiliki penafsiran yang benar dan yang lainnya salah. Penafsiran ini tergantung pada siapa yang memiliki praanggapan dasar yang benar tentang alam semesta secara keseluruhan dan tentang obyek yang sedang diamati.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Logika, Terjemahan, Vincent Cheung. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s