Belajar Teologipun Memerlukan Logika

Anda merasa bahwa belajar teologi tidak memerlukan logika? Berikut ini adalah petikan terjemahan buku Logic, karya Gordon H. Clark (halaman 11-12). Kutipan ini menunjukkan pentingnya logika dalam teologi yang bertanggung jawab. 

Teolog-teolog liberal seringkali menggunakan ambiguitas baik sebagai ekuivokasi maupun sebagai amfibologi untuk mengacaukan doktrin alkitabiah. Mereka menggantikan kata atau frase yang univokal dengan kata atau frase yang samar-samar. Univokal berarti memiliki satu makna. Sebagai contoh, kita berbicara tentang pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Memang benar bahwa itu adalah pengorbanan tetapi bukanlah pengorbanan dalam pengertian yang sama dengan bunt dalam baseball. Sebuah bunt atau pukulan melayang (sacrifice fly) dalam baseball memang pengorbanan dan pengorbanan penggantian atau penebusan, karena yang dikorbankan adalah pemukul demi meloloskan pelari/runner. Pengorbanan Kristus juga adalah pengorbanan penggantian atau penebusan. Jadi pada titik tertentu terdapat tumpang tindih makna antara pengorbanan Kristus dan pengorbanan pemukul pengganti. Namun demikian maknanya tidak identik. Pengorbanan Kristus merupakan pendamaian dengan Allah yang murka. Menggunakan istilah pengorbanan dan menyembunyikan pendamaian antara manusia dan Allah saat berbicara tentang ajaran Alkitab, sama saja dengan melemahkan injil melalui ekuivokasi. Gagasan tentang korban pendamaian serta keadilan Allah merupakan gagasan yang paling dibenci oleh para teolog liberal. Karena itu, ketika menterjemahkan Alkitab, kata korban pendamaian diganti dengan kata yang lebih umum dan ambigu. Hal itu terjadi dalam Terjemahan New International Version. Versi ini menggunakan frasa ‘korban penebusan.’ Namun ada banyak bentuk penebusan. Pendamaian adalah salah satu di antaranya. Namun masih banyak yang lain. Sebagai contoh, orang biasa mengatakan bahwa penjahat membayar hutangnya kepada masyarakat dengan menjalani masa hukuman selama setahun di penjara. Orang demikian mungkin telah menebus dosanya [kepada masyarakat yang jadi korban], tetapi ada kemungkinan dia tidak mendamaikan korbannya. Akibat dari fraseologi yang samar-samar seperti itu adalah bahwa jemaat yang duduk di bangku yang tidak memiliki banyak kepekaan logis akan menerima terjemahan baru tetapi masih mempertahankan pemahaman tentang pendamaian. Tetapi mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka akan melupakannya dan generasi berikutnya tidak diajarkan tentang korban pendamaian, sehingga tidak akan memiliki pemikiran tentang korban pendamaian sama sekali. Dengan demikian, Injil memudar dari pikiran orang.

______________________________________________________________

Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh di tautan ini.
Sampel buku ini dapat diunduh dari tautan ini.
Cara mendapatkan buku ini dapat dibaca pada tautan ini.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Gordon H. Clark, Injil, Logic, Logika, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s