Dilemma – Revisi

Di bawah ini adalah revisi tulisan sebelumnya. Tulisan ini merupakan kutipan terjemahan buku Logic Primer/Pengantar Logika oleh Elihu Carranza tentang bentuk argumen yang disebut Dilemma. Ini adalah terjemahan bersama Sdr. Dhan Makers, Ma Kolo, dan Ma Kuru. Dalam waktu dekat ini, buku ini akan dirilis. Informasi tentang buku ini dapat dibaca di tautan ini.

Bentuk argumen yang dikenal sebagai Dilemma mungkin merupakan argumen yang paling rumit di antara lima bentuk argumen yang dibahas di sini. Gordon Clark mendefinisikan dilemma sebagai sebuah argumen yang kesimpulannya merupakan konsekuensi atau seperti konsekuensi dari premis-premis yang saling berkontradiksi. Ada dua jenis dilemma: yaitu, bentuk konstruktif (DK); dan bentuk destruktif (DD).

a berimplikasi b, atau jika a maka b

c berimplikasi d, atau jika c maka d

a atau c

b atau d

Dengan menggunakan “<” untuk implikasi dan “v” untuk atau inklusif, maka bentuk argumennya dapat diekspresikan sebagai sebuah implikasi dari implikasi-impliasi dan disjungsi-disjungsi. Simbol “<” digunakan di bawah ini untuk memisahkan anteseden/premis dari konsekuen/kesimpulan implikasi. Tanda kurung menunjukkan unit konjungsi tunggal dari kumpulan premis. Dalam bentuk argumen ini, kumpulan premis adalah konjungsi dari tiga premis yang ditandai dengan tanda kurung siku. Tentunya, huruf-huruf mewakili proposisi-proposisi, dan tanda ‘ yang disematkan pada huruf-huruf merupakan lawan dari proposisi yang diwakili oleh huruf tersebut.

Bentuk dilemma konstruktif (DK) adalah:

[ (a < b) (c < d) (a v c) ] < (b v d).

Bentuk dilemma destruktif (DD) adalah:

[ (a < b) (c < d) (b’ v d’) ] < (a’ v c’).

Dua argumen di bawah ini adalah contoh dilemma cacat yang penulis sajikan untuk menjelaskan hal yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah argumen yang berbentuk dilemma.

Pertama, argumen yang merupakan contoh dari Dilemma Konstruktif (DK) :

Jika anda tidak berbuat apa-apa, maka anda akan dianggap anggota komplotan karena anda berdiam diri

Jika anda melawan, maka anda akan disebut pengacau

Jadi, hanya ada dua pilihan yaitu anda tidak berbuat apa-apa, atau anda melawan.

Dengan demikian, anda hanya akan bisa dianggap anggota komplotan atau dianggap seorang pengacau.

Kedua, argumen di bawah ini merupakan contoh dari Dilemma Destruktif (DD) :

Jika saya berbohong, maka saya akan dianggap anggota komplotan.

Jika saya protes, maka saya akan dianggap pengacau.

Hanya ada dua pilihan yaitu, Saya bukan anggota komplotan atau saya bukan pengacau.

Dengan demikian, saya bukan seorang pembohong atau saya bukan seorang tukang protes.

Ada beberapa kesalahan yang dapat dibuat ketika menyusun sebuah dilemma.

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam dilema adalah bentuk dilemma mengasumsikan bahwa dua pernyataan yang pertama merupakan penarikan kesimpulan logis yang valid. Jika salah satu atau dari premis-premis “jika … maka” merupakan penarikan kesimpulan yang tidak valid, maka dilemma tersebut tidak memenuhi syarat sebagai bentuk argumen yang valid. Jadi, sebarang argumen yang dua premis pertamanya tidak tunduk pada aturan penarikan kesimpulan yang valid tidak dapat disebut sebagai dilemma yang sebenarnya.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah bentuk sebuah dilemma mengasumsikan bahwa disjungsinya, yaitu premis ketiga merupakan disjungsi lengkap. Jika disjungsi tidak lengkap, yaitu ada peluang untuk kemungkinan ketiga, maka argumen gagal menjadi dilemma yang valid.

Sebuah argumen dapat saja memiliki bentuk seperti dilemma namun setelah diuji tidak memenuhi kualifikasi sebagai dilemma karena kesalahan konstruksi berupa premis-premis bukan merupakan penarikan kesimpulan logis dan/atau disjungsinya bukan merupakan disjungsi lengkap. Jika salah satu saja dari kedua kesalahan itu didapati, maka argumen dilemma tidak dapat diterima sebagai dilemma dan harus dievaluasi dengan cara lain yang mungkin dapat digunakan.

Harus diingat bahwa variasi huruf dalam dilemma adalah variabel `proposisional. Proposisi identik harus diganti dengan satu huruf yang sama, misalnya, digunakan huruf a, dimanapun proposisi tersebut muncul dalam dilema. Hal yang sama berlaku untuk setiap variabel lainnya. Jika tidak, maka yang dikemukakan  bahkan tidak pantas disebut dilemma gagal, karena sebenarnya tidak pernah ada dilema sama sekali.

Sekarang kita membahas argumen kedua yang diajukan sebagai satu contoh Dilemma Destruktif untuk menjelaskan tindakan pencegahan seperti disebutkan diatas.

Jika saya berbohong, saya akan dianggap seorang anggota komplotan.

Jika saya protes, saya akan dianggap pengacau.

Hal pertama pertama yang harus diperhatikan adalah implikasi yang digunakan haruslah merupakan penarikan kesimpulan valid. Apakah tiap premis merupakan penarikan kesimpulan tak terhindarkan?

Pengujian terhadap premis-premis di atas menunjukkan bahwa tidak ada kesimpulan tak terhindarkan dalam kedua premis. Yang ditegaskan pada masing-masing premis adalah definisi yang diungkapkan dalam bentuk sebuah implikasi. Jadi, “berbohong” berarti “dianggap seorang anggota komplotan.” Dan “protes” berarti “dianggap seorang pengacau.” Dengan demikian, semua kedua implikasi ini menegaskan arti, bukan menegaskan hubungan logis antara anteseden dan konsekuen.

Singkatnya, “X berbohong” tidak berarti bahwa “X adalah anggota komplotan.” Dan “X adalah seorang pengacau” bukanlah kesimpulan tidak terhindarkan dari “X protes.” Lebih jauh lagi, tidak ada satupun dari kedua implikasi di atas yang merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari implikasi lainnya. Semua pernyataan kondisional tersebut tidak pantas untuk diuji validitasnya, karena tidak ada hubungan logis antara anteseden dan konsekuennya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa implikasi-implikasi di atas bukanlah kesimpulan yang valid. Alasannya bukan karena masing-masing gagal uji validitas, namun karena tidak ada hubungan logis antara anteseden dan konsekuen yang dapat uji validitasnya. Contoh ini gagal memenuhi persyaratan untuk disebut dilemma yang sebenarnya.

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bahwa disjungsi (premis ketiga) haruslah disjungsi lengkap.

Saya bukan anggota komplotan atau saya bukan seorang tukang protes.

Kedua unit disjungsi ini tidak sungguh-sungguh merupakan opsi yang saling meniadakan/eksklusif. Opsi-opsi yang dikemukakan juga bukanlah semua opsi yang ada/memungkinkan. Masih ada opsi lain yang dapat diungkapkan.  Sebagai contoh, bisa saja seorang itu bukan seorang anggota komplotan dan bukan tukang protes. Dengan demikian, disjungsi ini bukanlah disjungsi lengkap karena disjungsi ini memungkinkan adanya opsi atau alternatif lain. Sekali lagi, contoh ini gagal memenuhi persyaratan menjadi dilemma yang sebenarnya.

Untuk melengkapi pengujian kita atas argumen tersebut, patut dicatat bahwa term-term dari sebuah argumen tidak bisa tidak `univokal`, bukan hanya dalam dilemma, tapi juga dalam argumen apapun.

Dengan demikian, saya bukan seorang pembohong atau saya bukan seorang tukang protes.

Term-term dalam kesimpulan tidak identik dengan term-term dalam premis. Namun demikian, seandainyapun term-term dalam kesimpulan identik dengan semua term dalam premis, penyangkalan dalam kesimpulan tersebut bersifat ambigu. Term “bukan-seorang-pembohong” dan “bukan-seorang-tukang-protes” bisa bermakna sama atau tidak sama dengan term-term terkait yang berada dalam premis.

Sebagai contoh Dilemma Destruktif, argumen ini tidak memenuhi syarat sebagai dilemma sebenarnya. Lebih jauh lagi, apapun dasar pertimbangannya, kesimpulannya bukanlah konsekuensi tak terhindarkan dari premis. Oleh sebab itu, argumen ini tidak valid. (Analisa serupa terhadap argumen pertama yang dikemukakan sebagai sebuah contoh Dilema Konstruktif akan menunjukkan bahwa argumen tersebut juga tidak memenuhi kualifikasi sebagai dilemma yang sebenarnya.)

Kita akan menutup bab ini dengan pembahasan tentang tiga hubungan, yang masing-masing memperlihatkan `interdefinabilitas`/kaitan erat antara (1) konjungsi dan disjungsi; (2) implikasi dan konjungsi;  dan (3) antara implikasi dan disjungsi. Dalam konteks ini “interdefinabilitas,” berarti bahwa sebuah konjungsi dapat dinyatakan sebagai disjungsi; implikasi dapat dinyatakan sebagai konjungsi;  dan sebuah implikasi dapat dinyatakan sebagai disjungsi.

 

Pos ini dipublikasikan di Dilemma, Elihu Carranza, Filosofi, Logika, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s