Kutipan Tokoh – Tokoh Kristen Tentang Pentingnya Logika

Beberapa kalangan menyangka bahwa penekanan akan pentingnya logika dalam pembelajaran tentang teologi adalah sesuatu yang dimulai oleh Gordon H. Clark. Namun kutipan-kutipan di bawah ini menunjukkan bahwa arti penting logika sudah dikemukakan oleh teolog-teolog yang hidup pada jaman lampau. Kutipan ini diambil dari ‘Logic Workbook’ karya Dr. Elihu Carranza. Kutipan ini disertakan pada terjemahan buku Logic Primer yang dalam beberapa waktu ke depan akan dirilis.

Agustinus (Abad Kelima)

Ilmu tentang penalaran sangat bermanfaat untuk mempelajari dan menguraikan berbagai pertanyaan yang muncul dalam Kitab Suci…. Validitas penalaran logis bukanlah ciptaan manusia, tetapi sesuatu yang manusia amati dan catat sehingga mereka dapat mempelajari serta mengajarkannya; karena validitas penalaran tersebut berada sejak kekal dalam penalaran tentang segala sesuatu dan berasal dari Allah. (On Christian Doctrine, Book II, pasal 31, alinea 48, dan 35 : 20).

Pengakuan Iman Westminster (Abad Ketujuh Belas)

Seluruh rencana Allah tentang segala sesuatu yang perlu bagi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan, iman, serta kehidupan manusia, tercantum secara tersurat dalam Kitab Suci atau dideduksi dari Kitab Suci dengan penalaran yang tepat dan tak terelakkan, yang kapanpun kepadanya tidak boleh ditambahkan, baik wahyu baru dari Roh maupun tradisi manusia. (1.6)

George Gillespie (Abad ketujuh belas)

Konsekuensi tak terhindarkan dari Firman Allah yang tertulis secara memadai dan kukuh membuktikan bahwa konsekuen atau kesimpulan [yang ditarik], yang jika bersifat teoritis merupakan kebenaran ilahi yang pasti yang harus dipercayai dan yang jika bersifat praktis merupakan kewajiban yang kita harus ditaati, jure divino. (“A Treatise of Miscellany Questions” dalam The Presbyterian’s Armory, Volume 2. 100-101)

William Cunningham (Abad Kesembilan Belas)

Merupakan doktrin yang diterima secara umum oleh para teolog ortodoks dan yang sesuai dengan akal budi dan akal sehat bahwa kita harus menerima sebagai benar berdasarkan otoritas Allah, bukan hanya apa yang “dinyatakan secara tersurat dalam Kitab Suci” tetapi juga apa “yang dideduksi dari Alkitab dengan penalaran yang tepat dan tak terhindarkan”. Bidat di segala jaman dan dari semua kalangan telah menunjukkan kebencian terbesar pada apa yang disebut konsekuensi Kitab Suci (yaitu kesimpulan atau hasil deduksi dari Kitab Suci) yang tercatat dalam pengakuan-pengakuan, walaupun mereka mengakui apa yang dinyatakan dalam Alkitab secara tersurat. (The Reformers and the Theology of the Reformation, dicetak ulang Banner of Truth, halaman 526)

Abraham Kuyper (Abad Kesembilan Belas)

Teolog yang memandang rendah Logika sebagai sesuatu yang bukan keharusan untuk dipahami, sedang melucuti diri sendiri. [Sikap] seperti ini bukanlah sikap yang dianut para teolog pada masa lampau. Mereka senantiasa tegas menekankan studi logika formal, beserta seni yang terkait dengannya. (Principles of Sacred Theology, 612)

Benjamin Warfield (Abad Kedua Puluh)

Namun perlu diperhatikan bahwa Pengakuan Iman Westminster tidak membatasi ajaran dan keputusan-keputusan Kitab Suci hanya pada “yang dinyatakan secara tersurat dalam Kitab Suci” tetapi juga meliputi apa yang dideduksi dengan tepat dan tak terelakkan dari Kitab Suci. Ini adalah pandangan teologi Reformed yang tegas dan universal melawan pandangan penganut Arminianisme dan Sosinianisme yang ingin membatasi otoritas Kitab Suci hanya pada penegasan tersurat serta merupakan ciri penghormatan pada akal budi[1] sebagai instrumen untuk memastikan kebenaran. Kita bergantung pada akal budi untuk memastikan apa yang Alkitab katakan. Kita tidak dapat begitu saja melepaskannya dan menolak mengikuti tuntunannya dalam menentukan apa yang dikatakan Kitab Suci. Tentu saja ini tidak sama dengan menjadikan akal budi sebagai dasar dari doktrin dan kewajiban yang disimpulkan dari Kitab Suci. Akal budi adalah instrumen untuk menemukan semua doktrin dan kewajiban, “yang dinyatakan secara tersurat oleh Kitab Suci” atau “yang dideduksi secara tepat dan tidak terelakkan dari Kitab Suci.” Namun ketika doktrin dan kewajiban itu ditemukan, maka otoritasnya berasal dari Allah yang menyatakan dan menetapkannya dalam Kitab Suci, entah melalui penegasan secara tersurat maupun melalui implikasi tak terelakkan….. Adalah pandangan teologi Reformed yang dicerminkan dalam Pengakuan tersebut, bahwa Kitab Suci ditafsirkan oleh Kitab Suci dan manusia tunduk pada semua pengertian tersebut beserta semua implikasinya. Karena itu kontroversi yang muncul baru-baru ini tentang gagasan untuk membatasi otoritas Kitab Suci hanya pada penegasan tersurat dan bahwa logika manusia tidak dapat dipercaya terkait hal-hal ilahi, merupakan penyangkalan terhadap posisi mendasar (Teologi Reformed yang secara eksplisit diakui dalam Pengkakuan Iman Westmister), serta penyangkalan akan akal budi yang mendasar yang tidak hanya mengakibatkan mustahilnya pemikiran dalam sebuah sistem, tetapi juga sekaligus menyangkali berbagai dasar iman seperti doktrin Trinitas. Pada gilirannya hal ini merupakan penyangkalan akan otoritas semua doktrin Kitab Suci, karena tidak ada satu doktrin yang bagaimanapun sederhananya yang dapat dipastikan dari Kitab Suci kecuali dengan menggunakan proses pemahaman. Dengan demikian, bukanlah sebuah kejadian yang tidak penting ketika baru-baru ini penolakan akan penggunaan logika manusia dikemukakan sebagai alasan untuk memberi justifikasi bagi penolakan terhadap sebuah doktrin yang diajarkan secara eksplisit dan berulang kali dalam kata-kata Alkitab sendiri ini. Jika dalih tersebut memang valid, maka akan menghancurkan kepercayaan kita kepada semua doktrin (dan semua doktrin tersebut tidak pernah dipastikan atau dirumuskan tanpa bantuan logika manusia). (The Westminster Assembly and Its Work, Cherry Hill, NJ: Mack Publishing Company, 1977, 226 – 227)

James Oliver Buswell (Abad Kedua Puluh)

Ketika kita menerima hukum-hukum logika, kita tidak menerima hukum-hukum yang berada di luar Allah, yang terhadapnya Allah juga harus tunduk, melainkan kita menerima hukum-hukum kebenaran yang diturunkan dari sifat Allah sendiri yang suci. (A Systematic Theology of the Christian Religion, 1963, Volume 1, 70).

Jika kita menerima Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam Alkitab, maka tidak terhindarkan bahwa kita menerima kebenaran propisisional dan hukum-hukum yang melekat dalam sifat kebenaran proposisional. Hukum-hukum ini bukan sesuatu yang dipaksakan pada pranggapan dasar (presaposisi) kita tetapi merupakan sesuatu yang implisit di dalam presaposisi tersebut dan kita harus mempercayai aturan-aturan ekspresi linguistik. Alkitab sebagai sebuah buku yang ditulis dalam bahasa manusia mengklaim diri menyatakan kebenaran. Jika kata kebenaran bukanlah kata yang tak bermakna, maka kebenaran berimplikasi pada [benarnya] hukum-hukum kebenaran, yaitu hukum-hukum logika. (Volume 1, 19)

John Leith (Abad Kedua Puluh)

Pengakuan Iman Westminster merupakan perwujudan sebuah teologi yang mencoba menyatakan iman Kristen dengan proposisi yang tepat dan abstrak yang bersama-sama diikat oleh logika yang tak bercacat. Para penulis Pengakuan tersebut sangat menjunjung tinggi logika. Sebagai guru di mimbar dan dalam ruang kelas, mereka menemukan bahwa presisi/keseksamaan dan logika merupakan penolong dalam mengajar serta mencari solusi terhadap masalah teologis. (Assembly at Westmister: Reformed Theology in the Making, 69)

Gordon H. Clark (Abad Kedua Puluh)

Logika, hukum kontradiksi, tidak dipengaruhi oleh dosa. Bahkan walaupun semua orang terus menerus melanggar hukum-hukum logika, hukum-hukum tersebut tidak menjadi kurang benar dibanding saat semua orang mematuhinya. Atau kalau kita menggunakan contoh lain sebagai ilustrasi, walaupun terdapat begitu banyak kesalahan operasi pengurangan dalam buku-buku kas, matematika tidak terpengaruh oleh kesalahan-kesalahan tersebut….. Sebenarnya tidaklah sulit melakukan pembedaan antara kegiatan psikologis berpikir sebagai sebuah kejadian unik dalam waktu yang tunduk pada berbagai keadaan yang dialami setiap orang dan proposisi logika dan teologi yang selalu benar setiap saat bagi semua orang. (A Christian View of Men and Things, 210)

Tulisan Dr. Clark berjudul, “God and Logic” yang ditampilkan dalam buku-nya Logic, merupakan pernyataan yang lebih panjang tentang hubungan antara Allah, logika, Alkitab, dan manusia.

[1] Yang dimaksud akal budi di sini adalah kemampuan manusia untuk berargumen alias berlogika.

Pos ini dipublikasikan di Abraham Kuyper, Agustinus, Benjamin Warfield, Elihu Carranza, Filosofi, George Gillespie, Gordon H. Clark, James Oliver Buswell, John Leith, Logika, Terjemahan, William Cunningham. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s