Hati-Hati Memahami Teks dan Bernalar

Orang lain mungkin berargumen seperti ini,

Premis 1. Jika karburator rusak, maka mesin mati.
Premis 2. Mesin mati.
Kesimpulan. Karena itu, aku perlu memperbaiki karburator.

Bahkan seorang montirpun paham logika kalau sudah berbicara tentang karburator. Menegaskan Konsekuen adalah sebuah sesat pikir……

Dalam agama dan politik, orang sering terjatuh ke dalam sesat pikir seperti ini, karena biasanya mereka mengetahui dan menggunakan premis yang tidak terkandung dalam argumen. Coba asumsikan ada orang yang mengutip Roma 10 : 9, yang berbunyi, Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Orang tersebut kemudian mengatakan, Rasul Paulus atau John Jones pasti diselamatkan, karena itu mereka membuat pengakuan tersebut dan percaya akan kebangkitan [Kristus]. Dalam bahasa yang sederhana, argumennya adalah, Tuan X diselamatkan. Karena itu mereka pasti mempercayai ajaran ini. Argumen teman kita yang saleh tersebut merupakan sesat pikir. Dia melakukan kesalahan besar dalam berlogika. Yang terjadi sebenarnya adalah, berdasarkan bagian Alkitab lain, teman kita ini percaya bahwa tidak ada orang yang diselamatkan tanpa mempercayai bahwa Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati. Namun, dalam dirinya sendiri ayat ini tidak dapat disimpulkan demikian. Kalau hanya ayat ini yang digunakan untuk mendukung kesimpulan [teman kita itu], maka kasusnya sama dengan karburator di atas. Jika karburator rusak, maka mobil berhenti berfungsi. Namun dari mobil berhenti berfungsi, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa karburator-nyalah yang rusak.

Sebuah argumen yang valid berbunyi, Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Pertobatan adalah sine qua non dari keselamatan. Anda tidak diselamatkan tanpa pertobatan. Argumennya adalah, Jika kamu diselamatkan, maka kamu pasti sudah bertobat. Dengan melakukan kontradiksi dan pertukaran tempat [antara subyek dan predikat], argumennya menjadi, Jika kamu belum bertobat, maka kamu belum diselamatkan. Namun hanya dengan menggunakan ayat ini, anda tidak dapat berargumen secara valid bahwa, Jika kamu bertobat, maka kamu akan diselamatkan. Ayat ini berkata bahwa ketiadaan pertobatan menghasilkan kebinasaan, namun tidak berkata bahwa pertobatan menghasilkan ketidakbinasaan. Dibutuhkan ayat lain sebagai premis untuk menunjang kebenaran pernyataan bahwa pertobatan pasti menghasilkan ketidakbinasaan.

Sumber: Logic, karya Gordon H. Clark. Terjemahan Ma Kuru

______________________________________________________________

Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh di tautan ini.
Sampel buku ini dapat diunduh dari tautan ini.
Cara mendapatkan buku ini dapat dibaca pada tautan ini.

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Logic, Logika, Terjemahan. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s