Pengantar – The Johanine Logos

1. Pengantar

Injil Yohanes merupakan kitab dalam Alkitab yang paling dicintai sekaligus paling dibenci, dengan alasan yang sama, yaitu karena kitab tersebut ditulis agar kita bisa mempercayai bahwa Yesus adalah Sang Kristus, Anak Allah, dan dengan mempercaya itu, kita beroleh hidup yang kekal melalui nama-Nya. Jika isi kitab tersebut tidak penting, maka tidak mungkin kitab itu dibenci sekaligus dicintai. Isi Injil ini sangat penting. Karena itu, kitab ini penuh dengan topik yang menjadi bahan diskusi dan kontroversi. Hal yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Logos Yohanes, seperti yang diindikasikan dalam judul tulisan. Karena sangat penting, topik ini telah dibahas banyak tulisan. Tulisan-tulisan tersebut biasanya membatasi diri pada pasal satu dan mengabaikan bagaimana Yohanes menggunakan kata logos pada bagian bagian lain dari Injil tersebut. Tulisan ini tidak akan mengabaikan hal itu.

Dalam studi-studi tentang Yohanes atau Perjanjian Baru secara keseluruhan, sudah menjadi kebiasaan untuk memulai dengan apa yang disebut Pengantar. Kata ‘Pengantar’ digunakan dengan pengertian yang lebih teknis dibanding dengan penggunaannya pada bidang-bidang lain. Mahasiswa S1 harus mengambil mata kuliah Pengantar Psikologi, Pengantar Botani, Pengantar Logika, dan seterusnya. Kuliah-kuliah ini memberikan materi awal yang paling mudah dari masing-masing bidang yang disebut. Namun Pengantar Injil Yohanes tidaklah terlalu mudah, dan jauh dari meringkas isi utama dari kitab tersebut sehingga hampir-hampir sama sekali tidak memberikan gambaran  tentang apa isi dari Injil tersebut. Pengantar [Injil Yohanes] membahas pertanyaan tentang penulis dan waktu penulisan. Pengantar mengajukan pertanyaan seperti, Apakah penulisnya adalah si murid yang ikut dalam Paskah terakhir dengan Yesus serta dalam Perjamuan Malam, Yohanes anak Zebedeus, atau orang lain yang memiliki nama yang sama? Atau malah penulisnya adalah orang tak dikenal dari akhir abad kedua atau awal abad ketiga, yang memiliki imaninasi yang kuat serta menulis sebuah khayalan dan kemudian menambahkan nama Yohanes sebagai penulisnya? Jika kemungkinan terakhir benar, maka kitab ini tidak memiliki arti penting historis untuk jangka waktu 27 – 30 M atau pada jaman sekitarnya. Kitab ini akan menjadi sebuah sumber pengetahuan yang tidak dapat dipercaya tentang apa yang Yesus katakan dan lakukan. Jika demikian, maka buku ini harus diremehkan.

Buku yang ini secara khusus akan membahas isi yang substansial dari kitab Injil Yohanes, yaitu kandungan intelek atau doktrin dari Kitab Yohanes, kebenaran yang dinyatakannya, dan tidak ada hubungan dengan kritik tinggi atau sebuah Pengantar [Injil Yohanes]. Pertanyaan tentang identitas penulis, waktu penulisan, dan lain-lain tidak akan dibahas dengan sangat seksama. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dihilangkan begitu saja. Sejumlah petunjuk akan muncul seiring dengan pembahasan tentang isi Kitab. Sebagai contoh, beberapa kali naskah kitab ini menunjukkan bahwa penulis adalah saksi mata, misalnya: rincian geografis, suksesi waktu, serta potongan informasi kecil yang merupakan petunjuk yang dianggap penting oleh para sejarawan.

Dalam seratus tahun terakhir, dan bahkan sebelum tahun 1870, kritik destruktif menyatakan bahwa waktu penulisan Injil Yohanes adalah akhir abad kedua. Bruno Bauer, seorang kritik Perjanjian Baru pada pertengahan abad kesembilan belas, menyatakan bahwa Markus merupakan Injil pertama yang ditulis dan waktu penulisannya adalah pada jaman kekuasaan Hadrian, tahun 117-138. Karena itu menurutnya Injil Yohanes ditulis kemudian, yaitu sekitar tahun 165 M. Namun penanggalan ini menghasilkan masalah kalau diingat bahwa Muratorian Canon, yaitu sebuah dokumen yang dibuat tahun 170 M, menunjukkan bahwa Injil ini telah diterima secara universal. Antara penanggalan Bauer dan penanggalan Canon tersebut tidak cukup waktu untuk berkembangnya sebuah tulisan palsu yang tidak dikenali lagi sehingga diterima sebagai tulisan kanonis. Namun jika Injil tersebut diterbitkan antara tahun 110 – 140M, maka ratusan orang Kristen yang mengenal Yohanes pasti dapat mengetahui tulisan tersebut sebagai pemalsuan. Kesimpulannya adalah bahwa Injil ini pasti ditulis pada abad pertama.

Penanggalan penulisan Injil Yohanes yang terlambat itu tidak terlalu banyak dianggap benar lagi saat ini. Salah satu dari pakar pertama yang membantah kritik destruktif ini, yaitu salah satu yang terbaik, adalah profesor Bahasa Ibrani saya di University of Pennsylvania, yaitu seorang ramping yang tingginya enam kaki lima inchi serta yang kepadanya kami belajar. Saat saya baru memulai belajar Bahasa Ibrani, dia menerbitkan sebuah tulisan berjudul, “The Origin of the Gospel According to St. John,” dan memberikan saya salinannya. Setelah dua puluh enam halaman argumen yang kokoh, dia menyimpulkan tulisan tersebut sebagai berikut:

“Akhir dari argumen saya adalah sebagai berikut: Bahwa Injil Santo Yohanes merupakan karya seorang Yahudi yang sangat paham, bukan dari kalangan Farisi, [orang] yang pengalaman hidupnya diperoleh di Palestina pada paruh pertama abad pertama, [orang] yang bahasa ibunya adalah Aramaik, dan kesimpulan ini sendiri menjelaskan keunggulannya dalam data historis serta fenomena filosofis kitab tersebut – kecuali kita setuju dengan Burnley bahwa ini untuk berargumen bahwa karya ini adalah terjemahan dari bahasa Aramaik.”

Salah satu alasan untuk menyebutkan artikel ini, selain isinya yang ilmiah, adalah komentar Dr. Albright tiga puluh satu tahun kemudian.1

“Kita telah melihat baik narasi maupun logia Injil Yohanes pasti atau diperkirakan berasal dari tradisi lisan di Palestina sebelum tahun 170 M…. [Tradisi lisan telah diatur dan disunting ulang].2 Namun secara mutlak tidak ada bukti apapun untuk menunjukkan bahwa ajaran Yesus telah terdistorsi atau diputarbalikkan, atau ada elemen baru yang ditambahkan pada [ajaran-ajaran] tersebut…. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa kebutuhan/kepentingan gereja bertanggung jawab atas penemuan-penemuan atau inovasi-inovasi yang memiliki makna teologis yang signifikan. Entah Injil disunting oleh Yohanes Sang Presbyter atau Papias…atau apakah ada rekonstruksi lain yang lebih memungkinkan, kita dapat yakin bahwa Injil ini mengandung ingatan-ingatan Rasul Yohanes, entah dia meninggal di Yerusalem atau Efesus, walaupun menurut tradisi, sangat mungkin dia meninggal di Efesus.3″

Dalam catatan kakinya Albright melanjutkan, “Dalam kaitan dengan hal ini, saya ingin mengarahkan pembaca kepada sebuah buku yang sangat bagus tulisan almarhum J. A. Montgomery…yang secara cerdas menggunakan bahan-bahan yang terbatas yang tersedia untuk memberi gambaran tentang latar belakang Injil ini. Saya menerima kesimpulannya tanpa keberatan sama sekali” (30).

Dua belas tahun kemudian Albright menulis,

Semua argumen kongkrit tentang penanggalan tulisan Yohanes yang terlambat, telah menghilang saat ini, dan upaya Bultmann untuk mengetahui bentuk Injil yang lebih awal dan yang lebih kemudian terbukti sepenuhnya menyesatkan…. Penanggalan yang saya secara pribadi terima adalah akhir tahun 70-an atau awal 80-an, atau tidak lebih dari tiga puluh atau empat puluh tahun setelah penulisan surat Paulus yang paling awal.4

Dengan alasan dan argumen dalam paragraf yang dikutip di atas, kita tidak perlu mempercayai tuduhan Benjamin W. Bacon, dalam tulisannya The Gospel of the Hellenists, yang menyatakan bahwa tradisi yang mendukung penulisan oleh [Rasul Yohanes] “pada dasarnya mencurigakan.” Yang patut dicurigai adalah imajinasi Bacon. Secara sistematis dia meremehkan petunjuk-petunjuk eksternal dan menerima khayalan-lhayalan subyektifnya sebagai bernilai sejarah. Sebagai contoh dia mengklaim bahwa Yohanes 1:6-8 tidaklah asli, namun disisipkan oleh seorang penyunting (243). Tidak ada petunjuk dari naskah yang mendukung penegasan ini. Demikian juga dengan Yohanes 7:37-44 dan 10:7-10. Bukannya mencari makna naskah, seperti pada manuskrip, dia membuat makna sendiri dan mengatur ulang naskah sesuai dengan gagasannya tentang apa yang akan dilakukan penyunting [dengan naskah tersebut]. Sejumlah penghapusan yang dia lakukannnya adalah keterangan penjelas – seolah-olah penulis asli tidak mungkin membuat keterangan seperti itu.

Waktu penulisan dan makna penting waktu penulisan manuskrip yang jumlahnya banyak tersebut dapat dihilangkan dari studi tentang teologi Yohanes, namun satu hal harus dibahas terkait dengan hal itu. Sebuah potongan kecil papirus yang disebut P52, memiliki tiga ayat dari kitab Yohanes pada satu sisinya dan dua ayat lain pada sisi yang satunya. Potongan papirus tersebut tidak mungkin ditulis setelah tahun 150 M, atau mungkin lebih awal lagi. Karena petunjuk-petunjuk seperti ini, maka pengeritik yang paling radikal sekalipun seperti R. H. Fuller pun telah mengatakan tentang Injil Yohanes bahwa, “Waktu penulisannya tidak lebih dari tahun 100, seperti ditunjukkan fragmen P52 Roberts.”5

Hal kedua kedua yang menjadi bahan diskusi adalah terkait dengan kata-kata yang kita baca dalam Injil yang dicetak saat ini, yaitu, kata yang kita baca dalam Edisi cetak Bahasa Yunani. Apakah kata-kata ini ada pada manuskrip asli? Ataukah kata-kata ini sudah dirubah sedemikian rupa oleh para penyalin selama berabad-abad, sehingga tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa kata-kata ini adalah tulisan Yohanes? Pertanyaan ini adalah pertanyaan tingkat tinggi, termasuk bagi mereka yang memahami Bahasa Yunani. Untungnya, para profesor dengan lembar pairi dan kodeks velumnya dapat menjawab pertanyaan ini dengan relatif mudah. Namun rincian jawaban ini bukan untuk konsumsi pembaca umum.

Hal ketiga yang dibahas adalah pertanyaan tentang apakah Injil ini menggambarkan Yesus sebagai Sang Mesiah, ilahi, Putera Allah, dan Pribadi Kedua Trinitas? Pertanyaan awalnya bukan apakah Yesus adalah Mesias. Pertanyaannya juga bukan apakah Yesus mengklaim diri sebagai Mesias. Masalah-masalah ini adalah implikasi yang dibahas nanti. Namun pertanyaan awalnya adalah, Apakah Injil ini menyajikan Yesus sebagai Mesias? Geerhardus Vos dalam bukunya Self-Disclosure of Jesus menyelidiki hal ini dengan seksama. Pembahasannya mencakup keempat Injil dan ia menganalisa semua teori abad kesembilan belas tentang hal poin-poin ini. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa teori-teori tersebut mempertunjukkan bias yang kuat dan mencurigakan. Buku [yang anda baac] ini tidak terlalu memperhatikan rincian-rincian teori abad kesembilan belas. Naskah Injil ini cukup jelas untuk isu utama. Namun demikian, terdapat pertanyaan tentang eksegesis dan penarikan kesimpulan. Tentu saja, bagian-bagian ceritanya begitu jelas sehingga hampir mustahil ada kesalahpahaman. Karena itu, buku ini tidak dalam bentuk tafsiran/komentari tentang hal yang sudah jelas. Sudah cukup banyak tafsiran/komentari yang ditulis. Namun banyak dari naskah yang membingungkan akan dibahas lagi di sini. Diskusi seperti inilah yang akan mendominasi pada bagian-bagian selanjutnya. Diskusi ini tidak mungkin seluruhnya orisinil. Tidak ada tulisan tentang Yohanes saat ini yang adalah tulisan orisinil, kecuali tulisan yang sangat buruk. Namun apa yang ditulis akan sama orisinilnya dengan sebagian besar studi tentang Yohanes, dan mungkin akan bermanfaat. Setidaknya, itulah yang diharapkan penulis.

Masalah kritis (penulis, waktu penulisan, dan historisitas) dan interpretasi dari pasal-pasal yang membingungkan akan saling tumpang tindih. Apakah penulisnya seorang Yahudi? Apakah dia berbicara dari latar belakang Perjanjian Lama? Ataukah dia memperkenalkan spekulasi filosofis Yunani ke dalam gereja Kristen? Sebagai contoh, mengapa penulis memulai dengan Prolog dan apa maknanya? Apakah ia menolak dan mencoba mengoreksi cerita Matius, Markus, dan Lukas? Dalam pertanyaan terakhir ini, masalah historisitas dan interpretasi terjalin erat.

Lebih lanjut, mungkin masalah historisitas tidak perlu diangkat sama sekali. Mungkin masalah tersebut tidak terlalu penting. Injil bisa jadi sebuah gambaran impresionistik, yang merupakan wahyu mistis non-verbal. Tujuannya bukanlah untuk menyatakan informasi tetapi menghasilkan kesan dalam diri kita, sehingga keakuratan bukanlah masalah yang relevan. Yang penting hanyalah emosi subyektif yang dibangkitkannya. Albert Schweitzer mengusulkan sebuah Kekristenan yang hidup dari pengalaman dan energi agama langsung (saat ini) yang terpisah dari setiap dasar historis. Emil Brunner menulis, “Saksi kebangkitan bukanlah saksi mata, tetapi saksi iman. Mereka tidak menginformasikan kita tentang kebangkitan, tetapi membuktikannya.” Brunner mengeluarkan pernyataan yang lebih membingungkan lagi: “Kisah para rasul tentang pertemuan mereka dengan Dia yang bangkit bukanlah dasar dari saksi pewahyuan, tetapi salah satu fase darinya. Fase ini merupakan dasar bagi kepercayaan kita kepada Kristus, dan karena itu [dasar] bagi kepercayaan kita akan kebangkitan.” Ia melanjutkan, “Kita dapat mempercayai tentang kebangkitan walaupun tidak ada laporan tentangnya, sepanjang kita ingat bahwa kita memiliki kesaksian rasuli hanya karena para rasul telah bertemu Tuhan yang bangkit itu, dan tanpa kesaksian itu kita tidak dapat mempercayainya.”6

Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apakah wahyu itu. Apakah Yesus menyatakan kebenaran kepada kita? Apakah Yohanes menulis tentang kebenaran? Apa itu kebenaran? Yohanes menyatakan sesuatu tentang apa itu kebenaran. Mungkin beberapa orang tidak akan mempercayai yang dikatakan Yohanes; namun bukanlah sebuah sikap akademis ataupun kejujuran untuk menjadikan Yohanes mengatakan apa yang tidak dia katakan. Hal pertama yang hendak dilakukan di sini adalah memeriksa naskah Injil Yohanes

Lingkup masalah ini luas dan mendalam. Sejumlah keterangan mendasar bahkan sejumlah bahan khotbah akan disertakan. Namun dalam kaitan dengan itu menjadi pertanyaan, mengapa bahan-bahan akademis tidak boleh menjadi bahan khotbah? Sebagian besar jemaat biasa tidak berkesempatan untuk mempelajari kritik destruktif. Namun mereka harus berjumpa dengan pengaruh kritik destruktif. Kritik destruktif ada dimana-mana. Serangan populer atas Kekristenan didasarkan pada teori-teori Strauss, Renan (yaitu tokoh lama), Brunner, dan Bultmann. Latar belakangnya harusnya diketahui. Namun untuk mengetahui latar belakang, perlu juga ada bahan-bahan mendasar. Selama sepuluh tahun terakhir saya telah mengutip Alkitab sebagai bahan latihan logika. Dari semua pertemuan tersebut, saya dapati hanya satu orang mahasiswa yang mengetahui bahwa yang saya kutip berasal dari Alkitab. Saya berharap, mereka yang ikut kebaktian di gereja atau gereja yang baik, akan lebih baik dari pada para mahasiswa itu. Namun, demi para mahasiswa tersebut, buku ini akan menyertakan sejumlah bahan yang mendasar. Setiap pembaca harus membaca sesuai dengan kebutuhannya.

Sebelum terjun ke dalam masalah yang sulit atau mendalam, ada baiknya memperhatikan secara umum tentang tujuan Yohanes menulis Injilnya. Tak dapat disangsikan bahwa tujuan Yohanes menulis jelas, karena dia menyatakannya: “…semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Walaupun pernyataan ini sangat eksplisit, namun perlu ada penjelasan awal sebagai bahan latar belakang untuk pembahasan rinci pada bagian selanjutnya.

Pertanyaan yang muncul adalah, tidakkah dapat dikatakan bahwa tujuan itu juga merupakan tujuan Matius, Markus, dan Lukas? Apakah Yohanes satu-satunya Murid yang ingin meyakinkan orang bahwa Yesus adalah Putera Allah? Tidak demikian. Namun terdapat perbedaan penekanan dan penulisan, yaitu perbedaan yang menjadikan tujuan ini cocok untuk Injil Yohanes. Terdapat beberapa perbedaan antara keempat Injil.

Perbedaan pertama adalah perbedaan yang paling jelas, yaitu bahwa Matius, Markus, dan Lukas menyajikan cerita yang agak luas tentang pelayanan Kristus. Walaupun mereka mungkin tidak menulis apa yang disebut sejarawan abad kesembilan belas sebagai Kehidupan Yesus, tetapi tulisan mereka mendekati sebuah kisah biografis. Namun Yohanes tidak mengisahkan cerita yang luas; walaupun Yohaneslah yang menjelaskan bahwa pelayanan Yesus berlangsung selama 3 tahun. Namun demikian, dari tiga tahun tersebut, Yohanes hanya memilih untuk mengungkap sekitar 20 hari. Kenyataannya, sepertiga dari Injil ini, yaitu pasal 13-19, terjadi dalam satu hari saja. Secara alamiah, hari penyaliban menjadi bagian besar dalam semua Injil. Karena itu, terdapat sejumlah tumpang tindih antara Yohanes dan ketiga injil lain. Namun, terkait kesembilan belas hari lain [yang dikisahkan], Yohanes tampaknya secara sengaja tidak mengulangi apa yang telah ditulis Matius, Markus, dan Lukas (dengan satu pengecualian utama). Tentu saja tidak ada keharusan untuk [bagi Yohanes] mengulanginya. Karena itu argumen Bultmann tidak bernilai sama sekali ketika dia menyatakan bahwa ada dua kemungkinan yaitu Yohanes tidak pernah mendengar tentang kelahiran dari perawan atau kalau ia pernah mendengarnya, ia menolaknya. Ketika Yohanes menulis Injilnya pada akhir abad pertama, Injil-Injil lain sudah dikenal dan tersebar luas. Perbandingan antara keempat Injil, selain menunukkan bahwa selain minggu sengsara (yang jelas tidak dapat dihilangkan oleh penulis Injil manapun), hanya terdapat dua kaitan yang jelas antara ketiga Injil dengan Injil Yohanes, yaitu terkait pemberian makan lima ribu orang dan berjalan di atas air. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Yohanes tidak tergantung pada tulisan penulis Injil lain. Dia tidak bertujuan untuk menyisihkan, mengoreksi, atau melangkapi Injil yang lain. Tentu saja Yohanes melengkapi yang lain. Namun bukanlah tujuannya untuk melengkapi Injil lain, dan metodenya juga tidak ditiru dari penulis lain.

Perbedaan kedua antara Injil Yohanes dan injil lain (yang secara teknis disebut Injil “Sinoptis” karena sudut pandanganya sama) adalah perbedaan dalam hal metode atau prosedur. Yohanes menggantungkan diri pada kenangan pribadi. Ia adalah saksi mata, dan ia menulis apa yang ia lihat dan dengar. Penulis Injil lain bukan saksi mata, atau setidak-tidanya bukan mereka bukan saksi mata yang sama dengan Yohanes. Tak diragukan bahwa Matius menyaksikan hampir semua setelah dia menjadi murid, namun Markus hanya menyaksikan sedikit. Muratorian Canon menyatakan bahwa Lukas tidak pernah bertemu dengan Yesus. Namun Yohanes bergantung pada ingatan yang jelas serta melaporkan banyak rincian yang tampak sepele. Ini adalah tanda-tanda dari seorang saksi mata. Dia mencatat secara akurat tentang perjalanan waktu (kadang-kadang Matius tidak tertarik dengan urutan waktu sama sekali); dia juga mengemukakan rinciah lokasi geografis; dia menceritakan bahwa tempayan di Kana terbuat dari batu (penterjemah: ini tidak jelas dalam terjemahan Bahasa Indonesia). Ia menyatakan kepada kita apa yang dia lihat; dan di atas semuanya dia melihat Yesus, walaupun dia tidak menyatakan demikian. Dia berkata (1:14) “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Sepanjang Injilnya, dia nyatakan kepada kita apa yang dia dan para murid lain lihat secara langsung, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka pegang dengan tangan mereka yaitu Firman Kehidupan.

Perbedaan ketiga antara Injil Yohanes dengan Injil Sinoptik adalah implikasi dari perbedaan sebelumnya. Dengan membatasinya pada kenangan pribadi terhadap kedua puluh hari, Yohanes mengisi Injilnya dengan informasi yang berbeda dari Injil lain. Seperti dikatakan sebelumnya, hanya ada dua titik temu yang jelas (selain minggu terakhir Yesus hidup di dunia) antara keempat Injil. Perbedaan isi adalah: Injil Sinoptik yang cakupannya ekstensif terhadap pelayanan Kristus, mengungkap pandangan orang banyak terhadap Kristus. Mereka menunjukkan kepada kita Yesus di hadapan orang banyak. Di bagian tertentu Yohanes juga berbicara tentang orang banyak; tetapi dia mengambarkan individu tertentu di hadapan Kristus. Orang banyak didesak ke latar belakang dan Yohanes memusatkan perhatian kepada kesan yang Yesus berikan kepada pribadi-pribadi.

Ada Nathaniel, yang setelah beberapa saat mengakui, “Engkau Raja orang Israel.” Ada Nikodemus, yang harus pulang rumah dan merenungkannya. Ada perempuan Samaria, yang menerima Dia sebagai Mesias; dan orang dari kampungnya yang mengatakan, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” Kemudian, jauh setelah itu, ada penjaga yang diutus untuk menangkap dia. Mereka kembali dan menyatakan, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”.”

Para penjaga ini pada dasarnya bukan bukan individu yang bekerja sendiri. Walaupun konfrontasi dengan individu menonjol dalam Yohanes, terdapat beberapa kasus dimana kelompok memainkan peran penting. Penjaga yang baru disebutkan di atas, lima ribu orang yang diberi makan, serta Orang-Orang Farisi adalah contoh kelompok memainkan peranan. Dalam kasus Orang-Orang Farisi, seperti biasanya, Yesus memberi kesan yang sangat jelas, namun kesan tersebut bukan kesan yang baik. Dalam pasal 6 Yesus membangkitkan pertentangan. Ajaran di dalam Bait Suci yang dicatat dalam dua pasal setelahnya, menyebabkan mereka berupaya membunuh Yesus. Orang yang lahir buta, yang matanya dicelikkan, menjadikan Orang-Orang Farisi frustrasi dan marah. Dibangkitkannya Lazarus tidak dapat mereka tolerir; dan akhirnya mereka lebih memilih Barabas daripada Yesus.

Perbedaan-perbedaan antara Sinoptik dan Yohanes, yaitu perbedaan luasnya cakupan, metode, dan isi, bergantung pada perbedaan keempat dan mendasar yaitu perbedaan tujuan.

Tujuan Matius tampaknya untuk meyakinkan orang Yahudi bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Untuk mencapai tujuan ini, ia mengabaikan kronologi pelayanan Yesus (tentu saja dia memulai dengan kelahiran Yesus dan mengakhirinya dengan kebangkitan; namun untuk peristiwa antara keduanya ia tidak terlalu memperhatikan waktu) dengan memberi contoh khotbah Yesus dalam pasal 5, 6, dan 7; setelah itu dilanjutkan dengan serangkaian muizat; dan kemudian mengumpulkan sejumlah perumpamaan. Markus menulis kisah singkat tentang palayanan Yesus, dan diperkirakan terutama untuk Orang Roma. Lukas tertarik dengan kronologi. Tak dapat diragukan bahwa Lukas (serta Matius dan Markus) berharap bahwa orang akan percaya kepada Kristus karena tulisan-tulisan mereka. Namun Lukas lebih memiliki minat seorang sejarawan untuk mengurut-urutkan fakta sesuai urutan kronologis. Tujuan langsung Lukas adalah untuk meyakinkan Theophilus tentang kepastian ajaran Kristennya. Penginjilan dan dampak dari kitab tersebut terhadap orang tidak percaya, tidak disebutkan.

Namun Yohanes dalam Injilnya adalah seorang penginjil par excellence/piawai. Karena bertempat tinggal di Kota Efesus dengan penyembahannya terhadap Diana, maka kejadian-kejadian masa mudanya muncul kembali dalam benak Yohanes yang sudah tua, dan sebelum dia meninggalkan dunia ini, dia menulis buku terakhirnya, yaitu Injil Yohanes, dengan memilih bahan-bahan agar para pembacanya, termasuk mereka yang hidup di abad-abad kemudian, mempercayai bahwa Yesus adalah Sang Kristus, Anak Allah, dan dengan mempercayai-Nya, mereka mendapat kehidupan kekal dalam Nama-Nya.

1. “Recent Discoveries in Palestine and the Gospel of John,” The Background of the New Testament and Its Eschatology, disunting Davies dan Daube. Cambridge University Press, 1954, 170-171.
2. Albright memiliki kesukaan aneh terhadap tradisi lisan, walaupun tradisi lisan tidak diperlukan.
3. Pernyataan tentang Yohanes yang meninggal di Yerusalem ditujukan kepada penegasan R. H. Charles dalam tulisannya mengenai Wahyu, bahwa Rasul Yohanes menjadi martir sebelum tahun 70 M.  Tentu saja Charles mengemukakan itu dengan tujuan untuk menyangkali keaslian Injil Yohanes. Namun kalaupun Yohanes jadi martir pada waktu yang dikatakan tersebut, ia bisa saja telah menulis Injilnya sebelumnya karena tidak ada bukti internal yang membantah bahwa penulisannya dilakukan sebelum kehancuran Yerusalem. Pertimbangan ini sesuai dengan posisi Charles, karena jika dia menolak petunjuk eksternal yang menyatakan Yohanes berada di Efesus dua puluh tahun kemudian, maka dia hanya mempunyai petunjuk internal bagi penanggalannya.
4. New Horizons in Biblical Research. Oxford University Press, 1966, 46.
5. A Critical Introduction to the New Testament. London, 1966, 177.
6. Die christliche Lehre von Schöpfung, 439-441.

Diterjemahkan dari Pengantar Buku Jonanine Logos, Gordon H. Clark, oleh Ma Kuru

Catatan: ada kemungkinan terjemahan masih bermasalah, sehingga perlu dibaca dengan kehati-hatian.

Pos ini dipublikasikan di Gordon H. Clark, Injil, Terjemahan, The Johanine Logos. Tandai permalink.

2 Balasan ke Pengantar – The Johanine Logos

  1. Mata malaikat berkata:

    Pada mulanya meja, lalu meja bersama-sama kursi. dan meja adalah kursi?

    Ayat ini terlalu membingungkan, bahkan tidak sedikit pendeta yang tidak mampu menjawab ini selain “Tuhan tidak bisa disamakan dengan meja dan kursi”. Tapi pada kenyataannya mereka sering mengurai trinitas ibarat telur yang terdiri dari : Kulit, putih telur, kuning telur…. ini tidak disebut sbg 3 telur, tapi satu telur.

    Dalam debat panjang saya dengan pastur wenas, dia menjelaskan seperti itu.. tapi setelah saya katakan bahwa orang membeli telur tidak akan mau di kasih kulitnya saja, atau putihnya saja. kemudian ia menjelaskan lagi bahwa itu faham sabelianism…

    Hanya johanes yang menulis seperti itu, tidak terdapat dalam kitab lainnya.

    • admin berkata:

      Hmmmm…. Mata Malaikat, apa sebenarnya keberatan anda? Bisa dirumuskan dalam bentuk argumen yang jelas premis dan kesimpulannya? Anda boleh saja berdebat dengan orang lain yang tidak dapat menjelaskan tentang hal ini. Tetapi orang lain yang berdiskusi dengan anda tidak sama dengan orang lain yang tidak berdiskusi dengan anda.

      Jadi kalau anda punya keberatan, silahkan saja dikemukakan di sini keberatannya dan kita coba lihat seberapa tajam keberatan anda.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s