Heraklitus

Heraklitus

Orang yang pandangan umumnya berkaitan erat dengan pandangan umum aliran Ionia adalah Heraklitus. Dia hidup di Efesus sekitar 525-475 S.M. Hanya perbedaan geografis yang menghalangi kita untuk menyebutnya sebagai filsuf Miletus. Pada dasarnya teori Heraklitus sama dengan para filsuf dari Miletus. Dari sudut pandangan sains, pandangan Heraklitus mungkin justeru dapat disebut lebih buruk daripada pandangan para pendahulunya, karena dia menegaskan bahwa setiap hari ada sebuah matahari baru yang diameter-nya satu kaki. Kalau pernyataan yang menakjubkan ini tidak dapat dipahami secara harafiah, dengan alasan bahwa gaya nubuatnya penuh dengan aforisme dan ungkapan yang tidak jelas yang bertujuan membingungkan orang, maka [ungkapan] itu dimaksudkan untuk mencemooh polymathy/pengetahuan yang luas dan informasi rinci. Menurut Heraklitus, pikiran yang penuh dengan fakta seperti buku telepon yang mungkin juga diatur berdasarkan abjad bukanlah hikmat yang sesungguhnya. Pandangan [Heraklitus] agung dan megah, dan [jika demikian] apakah ada bedanya kalau matahari itu baru setiap hari atau matahari yang sama muncul setiap hari? Namun demikian, pandangannya yang jelas terlihat dari teorinya tentang siklus kosmik. Seperti halnya siang dan malam saling berganti, dan seperti halnya musim saling berganti, demikian pula proses universal akan terus terulang dalam sebuah siklus kosmik. Karena itu, dunia kita yang sekarang, hanyalah seperti sebuah pita film. Ketika pita tersebut berakhir, maka akan diputar ulang lagi dari awal.

Namun demikian, Heraklitus tidak sepenuhnya mengabaikan fenomena alam. Jika gerak planet-planet dan matahari merupakan masalah rinci yang tidak penting, maka gerak dan perubahan (motion), dan hanya gerak dan perubahan itu sendiri, yang perlu mendapatkan perhatian. Ketika Heraklitus menolak air dan udara serta menerima api sebagai unsur dasar/asali karena lebih cepat [berubah] dari unsur-unsur lainnya, tak diragukan bahwa dia melakukan itu karena dorongan keinginan untuk mencari dasar yang tepat bagi gerak/perubahan. Gagasan tentang perubahan di dunia bukanlah gagasan baru. Namun Heraklitus berbeda dari yang lain karena dia memusatkan perhatian pada gerak/perubahan secara umum. Tanpa gerak/perubahan, tanpa perubahan kualitas, tanpa pertentangan dan saling meniadakan antara gaya-gaya berlawanan, tidak akan ada dunia. Adalah perjuangan antara panas dan dingin yang menghasilkan perubahan musim. Adalah gerak maju mundur tali busur yang menyebabkan panah terbang. Ketegangan merupakan keharusan bagi kecapi [untuk berbunyi]. Sakit penyakit menjadikan kesehatan menyenangkan, serta kerja keras menjadikan istirahat menyenangkan. Kehidupan adalah perjuangan, dan perang adalah bapak dari semuanya. Para penyair boleh meratapi perubahan dan kemunduran seiring waktu, serta berlalunya masa keemasan jaman kuno. Homer boleh menginginkan hilangnya perselisihan dan para orang tua boleh menginginkan masa muda tanpa akhir. Ratapan terhadap waktu dan perubahan merupakan akibat dari pandangan manusia yang terbatas. Bagi Tuhan segala sesuatu itu wajar dan baik serta adil. Tetapi manusia menganggap bahwa ada hal yang tidak adil. Dalam dunia ini, atau dalam dunia manapun, segala sesuatu harus berubah.

Dari sebuah dataran tinggi di atas sebuah sungai besar yang airnya mengalir ke lembah, sungai tersebut tampak seperti diam di antara pohon-pohon, seperti halnya sebuah gambar. Walaupun kita mengetahui bahwa sungai bergerak, namun kita tidak melihat gerakannya. Sensasi inderawi terlalu terlalu lemah dan tidak mampu untuk melihat segala sesuatu seperti adanya, sehingga orang beranggapan bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak berubah. Namun sebenarya segala sesuatu mengalir. Tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalam sungai yang sama sebanyak dua kali. Bagaimana hal itu mungkin dilakukan? Kedua kalinya dia mencoba memasuki sungai, air yang baru telah tiba dari hulu. Air tersebut bukan lagi air yang sama. Dasar dan tepi sungai juga bukan lagi dasar dan tepi yang sama, karena erosi yang terus-menerus telah merubahnya juga. Dan jika sungai adalah air, dasar, dan tepi, maka sungai tersebut bukan lagi sungai yang sama. Singkatnya, tidak ada sungai. Ketika orang menamakan sesuatu itu sungai, penamaan tersebut mengasumsikan bahwa nama yang diberikan belaku terhadap sesuatu yang akan ada untuk beberapa saat. Namun sungai tidak tetap ada. Sungai itu sudah berubah setiap kali anda mengucapkan namanya. Tidak ada sungai. Lebih buruk lagi, anda tidak dapat dua kali memasuki sebuah sungai karena anda tidak bisa ada di sungai tersebut dua kali. Anda juga berubah dan orang yang sebelumnya masuk tidak ada lagi sehingga tidak bisa masuk dua kali. Orang juga adalah sebuah sungai, atau sebuah aliran kesadaran, kata William James; dan aliran kesadaran tersebut tidak pernah memiliki muatan atau isi yang sama serta dasar dan tepi yang sama. Pribadi orang tidak ada.

Kalau orang mengatakan bahwa sesuatu ada, itu berarti bahwa sesuatu itu tidak berubah. Sebuah obyek yang nyata haruslah merupakan obyek yang diam. Bayangkan ada seorang pemahat yang cakap menggunakan model tanah liat anak-anak dan mulai membentuknya dengan cepat. Awalnya terbentuk seperti Teddy Bear, dan jika pemahat berhenti, maka kita akan menyebutnya Teddy Bear. Namun dia tidak berhenti; jarinya yang cekatan terus bekerja dan yang tadinya tampak seperti Teddy Bear berubah jadi patung kecil Zeus. Namun demikian patung itupun cepat hilang dan berubah menjadi bentuk Empire State Building. “Apa itu?” tanya kita. Jawabannya adalah itu bukan Teddy Bear, atau dewa, atau bangunan. Kita mungkin mengatakan bahwa itu adalah model tanah liat. Kita menyebutnya demikian karena benda tersebut adalah model tanah liat sepanjang perubahan yang dikatakan di atas. Namun jika tanah liat itu sendiri terus berubah, dan berubah dari tanah liat menjadi lilin lalu menjadi campuran kertas dan lem, serta tidak pernah berhenti berubah, kita dapat menyebutnya bukan apa-apa. Bukan apa-apa; artinya tidak ada atau tidak nyata.

Namun jika segala sesuatu tidak nyata, tidak ada nama yang dapat diberikan sama sekali. Jika tidak ada sesuatu apapun yang ada, maka tidak ada apapun untuk diketauhui. Karena itu pengetahuan harus berkaitan dengan hal yang tidak berubah; dan yang tidak berubah itulah yang dimaksud dengan realitas. Walaupun Heraklitus mengatakan bahwa segala sesuatu mengalir, dia mengakui bahwa ada satu hal yang tidak berubah; namun sesuatu itu bukanlah “hal” [yang bersifat fisik]. Yang tidak berubah itu adalah sebuah hukum, yaitu hukum perubahan. Kata Yunani yang digunakan Heraklitus adalah Logos, yaitu sebuah kata yang kemudian diambil alih oleh Kaum Stoa, dan diadopsi oleh Philo, serta melalui Injil Yohanes digunakan pada jaman para Bapa Gereja. Kata Logos dapat berarti hampir setiap wujud dari ekspresi pemikiran: bisa berarti buku, kata, rasio, teori, atau argumen. Karena itu, salah satu fragmen tulisan Heraklitus dapat diterjemahkan sebagai “walaupun teori ini selalu benar, manusia tidak memahaminya”; atau, “walaupun Logos ini selalu ada,” dan seterusnya. Dalam semua terjemahan terdapat kata kata ‘selalu’, yaitu sesuatu yang tidak berubah, entah itu dalam bentuk sebuah kebenaran atau sebuah hukum atau sebuah Logos yang misterius. Apapun itu, yang tak berubah itu bukanlah satu hal individu.

Namun demikian, Heraklitus tetaplah seorang hylozois. Dia tidak dapat membedakan antara hukum immaterial dan api yang bersifat fisik. Seandainya saat ini kita bertanya terlalu dalam terhadap Heraklitus, pertanyaan kita kemungkinan akan bersifat anakronistik. Anehnya Logos, yang mirip dengan kategori-kategori abad kesembilan belas, merupakan energi cerdas – yang mungkin tidak jauh berbeda dengan spekulasi abad kedua puluh. Dengan demikian, frasa-frasa dari Heraklitus dapat diberi makna yang lebih jelas, yaitu: Hikmat/kebijaksanaan adalah memahami kecerdasan yang mengendalikan segala sesuatu, yaitu kecerdasaan yang berkehendak namun tidak berkehendak untuk disebut Zeus; yaitu keteraturan di alam semesta yang telah ada, sudah ada, dan akan terus ada sebagai api yang terus hidup, yang menyala dan padam sesuai dengan rasio matematis yang tetap.

Ada banyak hal rinci yang dapat dibahas tentang Heraklitus; misalnya, dia adalah seorang prohibisionis, karena jika api adalah unsur yang paling mendasar, maka jiwa yang kering adalah jiwa yang paling bijak dan paling baik. Namun demikian, Heraklitus tidak tertarik dengan informasi rinci. Adanya perubahan universal yang mengikuti rasio matematis yang tetap dalam pandangannya, merupakan indikasi pengaruh filosofis lain, selain pengaruh aliran Ionia. Tidak dapat disangkal bahwa Anaximander sedikit banyak paham tentang pentingnya matematika dalam teori fisika, namun studi yang lebih mendalam tentang bilangan merupakan kontribusi dari Penganut Ajaran Pitagoras.

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 27 – 29. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Filsafat Kuno, Filsuf Pra-Sokrates, Gordon H. Clark, Heraclitus, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s