Kaum Pluralis

Kaum Pluralis

Bagi Parmenides, hanya Keberadaan yang ada, sedangkan asal-usul, gerak, dan perbedaan tidak ada. Namun bagi orang Yunani lain termasuk bagi orang yang memiliki cara berpikir lazim jaman moderen, kesimpulan ini tampak tidak masuk akal. Namun jika teori Parmenides merupakan hasil logis dari monisme korporeal, maka kita harus menerima kesimpulan tersebut atau menolak monisme korporeal. Orang Yunani yang hidup setelah Parmenides memutuskan untuk menolak monisme korporeal. Karena itu, jika dunia tidak dapat dijelaskan berdasarkan satu benda fisik, maka jelas dunia perlu dijelaskan berdasarkan lebih dari satu benda fisik. Namun gagasan Parmenides tidak hilang begitu saja. Dia telah menunjukkan dengan jelas apa yang melekat dalam pandangan para filsuf Miletus yaitu bahwa asal-usul adalah sebuah kemustahilan. Karena itu, jika terdapat banyak benda fisik, maka setiap benda tersebut pastilah kekal. Setiap benda fisik ini pastilah semacam edisi kecil dari Keberadaan-nya Parmenides, kecuali dalam hal gerak. Artinya setiap benda tersebut pastilah tidak dapat ditembusi, padat, kekal, dan tidak berubah kecuali dalam hal berpindah tempat. Salah satu kesimpulan Parmenides yang lain juga harus tetap dipertahankan. Parmenides telah menunjukkan bahwa perbedaan tidak ada. Namun menurut kaum pluralis, perbedaan itu ada dan harus dijelaskan. Dengan satu cara atau cara lain perbedaan besar dalam pengalaman haruslah dijadikan rasional. Adalah upaya untuk menjelaskan perbedaan kualitatif fenomena-fenomena yang mengharuskan munculnya tiga bentuk pluralisme. Sejarah filsafat bukanlah sesuatu yang serampangan, dan berdasarkan kondisi dalam masa itu, merupakan kesipulan tak terhindarkan bahwa harus ada tiga bentuk pluralisme.

Empedokles

Empedokles memberi bentuk pertama bagi pluralisme. Dia percaya bahwa jika orang memulai dengan empat benda fisik yang secara kualitatif berbeda, maka segala sesuatu dapat dijelaskan. Pada dasarnya inilah posisi dari kimia abad kesembila belas. Entah terdapat empat jenis atau sembilan puluh empat jenis benda fisik, bukan masalah, karena dalam kedua kasus tersebut dunia harus dijelaskan berdasarkan jumlah perbedaan yang berhingga. Timah Hitam, Emas, Belerang, Hidrogen, dan lain-lain adalah unsur-unsur yang berbeda secara kualitatif dan yang tidak dapat dihancurkan. Atom Empedokles tidak dapat dibelah. Semua pengalaman sehari-hari harus disimpulkan dari kombinasi unsur-unsur tersebut. Semua rasa, warna, bau, kecuali kualitas partikular dari unsur-unsur tersebut merupakan hasil dari berbagai rumus. Rasa kalkun panggang berasal dari kombinasi Hidrogen, Karbon, dan unsur-unsur lain. Kalau unsur-unsur tersebut berdiri sendiri, maka tidak ada rasa kalkun panggang. Berat, konsistensi, dan karakteristik fisik materi-materi yang dijumpai merupakan hasil dari kombinasi lain. Tentu saja, Empedokles tidak mengenal Hidrogen dan Karbon. Dia hanya mengenal empat unsur yaitu – bumi, udara, api, dan air. Namun teorinya sama [dengan teori abad kesembilan belas], dan Empedokles mencoba memberi rumus kepada hal-hal yang dijumpai. Sebagai contoh, tulang terdiri dari dua bagian air, empat bagian api, dan (jelas) dua bagian bumi, atau rumus kimianya adalah Ai2Ap4B2.

Di samping gagasan bahwa hal-hal yang kita alami beserta kualitas-kualitasnya berasal dari proses pencampuran unsur-unsur, kaum pluralis dipaksa oleh filsafat Elea untuk mempertimbangkan masalah penting lain. Unsur-unsur, atom-atom, atau menurut istilah Empedokles, ‘akar-akar’, merupakan edisi yang lebih kecil dari Keberadaan-nya Parmenides: Setiap atom tidak berubah. Namun semakin ketidakberubahan ditegaskan, maka semakin tidak dapat dijelaskan pula pencampuran antaranya serta gerak dan perubahan. Bagaimana unsur-unsur ini berubah?

Pada titik inilah pembedaan yang lazim bagi kita diperhatikan untuk pertama kalinya. Para filsuf sebelum Empedokles pada umumnya penganut hilozoisme. Bagi mereka, materi bersifat hidup. Namun atom-atom [para filsuf] Pasca Elea bersifat mati, atau lebih akuratnya, tidak bernyawa, karena geraknya tidak bersifat spontan. Karena itu Pluralisme, harus menemukan cara baru untuk menjelaskan tentang kehidupan. Kehidupan ditandai oleh dua fenomena, yaitu gerak dan sensasi inderawi. Walaupun kaum pluralis ini tidak mengabaikan sensasi inderawi, kontribusi mereka yang lebih penting terkait dengan gerak. Berdasarkan situasi historis saat itu, adalah gerak dan bukan sensasi yang merupakan hal penting, karena sebelum disusun teori yang rumit, ada kemungkinan bahwa sensasi merupakan hasil pencampuran dan penggabungan [atom] seperti halnya kualitas dan fungsi lainnya. Namun gerak dan perubahan tidak mungkin merupakan hasil – tetapi merupakan penyebab dari pencampuran. Karena itu, jika dunia terdiri dari atom-atom yang tak berubah, bagaimana gerak dapat dijelaskan/ dipertanggungjawabkan?

Jawaban untuk pertanyaan ini tampak sangat jelas bagi Empedokles. Jika keempat akar tersebut tidak dapat menggerakkan diri sendiri, maka pasti ada realitas lain di alam semesta, yaitu sejenis prinsip atau kekuatan. Kenyataannya ada dua prinsip yaitu: satu penyebab pencampuran/penyatauan dan satu lagi pemisahan. Berturut-turut kedua kekuatan itu disebut Kasih dan Benci. Pada titik tertentu proses dunia ini, Kasih mendominasi dan segala sesuatu begitu tercampur dengan hal lain sehingga tidak ada akar yang berdiri sendiri: Tidak ada kosmos. Namun ketika Benci mulai mengerahkan kekuatan dan memisahkan campuran ini, maka semua yang kita kenal mulai muncul. Pada tahap inilah kosmos itu ada. Namun ketika Benci menjadi begitu berkuasa, segala sesuatu terpisah dari hal lain; sehingga seluruh air menempati tempat sendiri, semua bumi menempati tempat lain, dan seterusnya, sehingga kembali tidak ada kosmos lagi. Setelah itu Kasih perlahan-lahan mengambil alih kendali, dan siklus universal ini terjadi selamanya.

Namun dapatkah para filsuf menciptakan realitas baru hanya karena teorinya membutuhkan realitas-realitas tersebut? Apakah Kasih dan Benci benar-benar menjelaskan sesuatu? Kasih dan benci antara manusia adalah hal yang kita pahami. Namun kasih dan benci antar manusia terjadi dalam kosmos yang merupakan hasil dari penyebab terdahulu. Kasih dan benci ini tidak menjelaskan gerak dan perubahan universal, tetapi membutuhkan penjelasan. Apa itu Kasih dan Benci yang membutuhkan penjelasan dan yang dapat menjelaskan gerak/perubahan universal? Mungkin ada yang mengatakan bahwa hal ini terjadi karena para filsuf kuno melibatkan diri dengan mitologi sehingga menggunakan kata-kata tak bermakna seperti itu. Mungkin memang demikian adanya. Tetapi jika orang kuno menggunakan kata-kata yang tidak bermakna, maka para filsuf moderen pun mengikuti jejak mereka. Dalam Fisika terdapat pembicaraan mengenai tarik-menarik dan tolak-menolak, dan hukum gravitasi dinyatakan sebagai gaya tarik-menarik antara dua partikel sesuai dengan proporsi tertentu. Namun, apakah tarik-menarik lebih dapat dipahami daripada Kasih? Ketika satu partikel materi menarik partikel lain dengan gaya yang berbanding lurus dengan massa dan berbanding terbalik dengan pangkat dua dari jarak antar keduanya, apakah kita akan menganggap bahwa satu atom menggunakan lipstik demi menarik atom lain dan kedekatan mengakibatkan meningkatnya daya tarik? Apa yang Sir Isaac Newton maksudkan dengan daya tarik gravitasi? Tak dapat diragukan bahwa sejumlah filsuf kuno kadang-kadang mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal; namun para ilmuwan moderen juga manusia [dan melakukan hal yang sama].

Anaxagoras

Namun demikian, dalam Sistem Empedokles terdapat dua kesulitan yang Anaxagoras, yaitu filsuf sejamannya yang lebih muda, ingin selesaikan. Tidak berarti bahwa dia menolak posisi dasar pluralisme. Sebaliknya, dia setuju dengan pandangan bahwa dunia yang nampak mengharuskan rumusan tentang banyak benda fisik; bahwa benda-benda tersebut bergerak, tercampur, dan terpisah; bahwa realitas mendasar pasti tidak berubah; dan bahwa asal-usul mutlak merupakan sebuah kemustahilan. Namun karena dia begitu berpegang pada pandangan-pandangan tersebut, khususnya pandangan yang disebut terakhir, dia tidak bisa percaya bahwa segala perbedaan kualitas yang ada di dunia ini dapat disimpulkan dari hanya empat unsur. Coba pikirkan tentang semua rona langit dan bayang-bayang pegunungan, semua aroma dan bunyi armada kapan tangkap ikan, serta semua rasa anggur, minyak, dan biji-bijian. Menganggap bahwa kisaran perbedaan yang tak terhingga ini dapat dihasilkan hanya dari kombinasi empat unsur, sama dengan menganggap bahwa ada hal berasal dari ketiadaan. Satu-satunya asumsi yang memadai, karena tidak ada perbedaan teoritis antara kimia empat unsur dan kimia sembilan puluh empat unsur, adalah keberadaan asali dan tanpa asal-usul dari berbagai jenis unsur yang perbedaan kualitatifnya tak terhingga. Bumi, udara, api, air bukan unsur sama sekali; tapi hanya tampaknya demikian karena merupakan campuran homogen sehingga unsur penyusunnya tidak dapat dideteksi. Unsur yang sebenarnya adalah rambut, kuku jari, tulang, daging, dan lain-lain dan unsur-unsur tersebut terdapat dalam segala sesuatu. Hal ini juga tampaknya merupakan sesuatu kesimpulan tak terhindarkan dari prinsip bahwa asal-usul mutlak itu mustahil. Jika air menjadi es dan juga uap, dan jika apa yang tidak ada tidak dapat ada, maka es dan uap pastilah sudah ada sebelumnya dalam air. Setiap kualitas yang muncul dalam proses pembentukan tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Pastilah kualitas tersebut sudah ada namun baru muncul kemudian. Karena alam begitu kaya dalam hal proses generatif, dan karena tidak ada batas jumlah kualitas yang bisa muncul dalam segala sesuatu, maka cukup masuk akal untuk berasumsi bahwa terdapat sebagian dari segala unsur di dalam segala sesuatu. Dengan demikian, setiap hal tertentu mereproduksi seluruh alam semesta dalam skala yang kecil. Kesimpulan ini kemudian mendapat tanggapan menarik dari Aristotle. Terlepas dari bagaimana materi dibagi-bagi, setiap bagian masih mereproduksi alam semesta. Tidak ada hal terkecil dari hal yang kecil, karena selalu ada yang lebih kecil; dan selalu ada yang lebih besar dari hal yang besar.

Kelemahan kedua yang Anaxagoras ingin perbaiki dari rumusan Empedokles terkait dengan prinsip gerak dan perubahan. Wajarnya konsep yang baru tentang partikel materi tak bernyawa ini mengharuskan adanya satu prinsip gerak/perubahan; konsep ini tidak menuntut dua prinsip. Satu prinsip saja sudah cukup karena setiap pencampuran adalah juga pemisahan: Air dari sebuah guci emas indah dituangkan ke dalam mangkuk pencampur dari perak, dan potongan-potongan roti dan daging tercerai-berai dari hidangan mempelai laki-laki sebelum akhirnya bersatu kembali dalam kantong si pengemis. Demikian juga di alam semesta pada umumnya, jika satu benda tercampur dengan benda lain, maka pertama-tama benda tersebut harus terpisah terlebih dahulu dari posisi sebelumnya. Anaxagoras juga memberi penjelasan yang lebih baik daripada Empedokles tentang prinsip gerak ini. Alih-alih menggunakan metafora dan menyebut kekuatan tersebut sebagai Kasih dan Benci, Anaxagoras menyebutnya Pikiran. Tampaknya yang menjadi sumber inspirasi bagi Anaxagoras adalah analogi yang masuk akal antara alam semesta yang digerakkan oleh sebuah Pikiran tertinggi dan kendali yang dimiliki pikiran terhadap tubuh kita. Pikiran Universal tersebut haruslah mahatahu dan mahakuasa. Pikiran tersebut memulai rotasi sistem perbintangan (walaupun kalau mau konsisten, sebenarnya tidak ada awal) dengan cara menghasilkan sebuah pusaran kecil yang telah berkembang dan akan terus berkembang. Segala sesuatu, baik yang ada sekarang, mapun yang pernah ada dan yang akan ada, diatur oleh Pikiran tersebut. Sayangnya gagasan-gagasan ini, khususnya gagasan tentang keteraturan yang dikendalikan oleh Pikiran, terlalu aneh dan sarat makna pada saat itu. Anaxagoras sendiri hampir-hampir tidak memahami apa yang dia katakan, dan, seperti dikeluhkan Plato dan Aristotle, Anaxagoras gagal mengembangkan implikasi dari gagasan-gagasan tersebut. Mengingat pandangan Kristen yang muncul kemudian, orang tergoda untuk memandang Anaxagoras sebagai penganut teisme pemula. Namun teisme begitu asing terhadap konteks historis jaman itu sehingga sulit untuk menganggap Anaxagoras memiliki pemikiran demikian. Penjelasan yang lebih cocok dengan perkembangan filsafat abad kelima dan kempat adalah mulai berkembangnya penjelasan teleologis; yaitu, penjelasan berdasarkan tujuan. Bukannya teologi teistik, melainkan teleologi yang lahir mati yang menarik perhatian Plato dan Aristotle. Disebut lahir mati karena perumusan sistem tersebut sepenuhnya bersifat mekanik. Pikiran bisa jadi telah memprakarsai pusaran asli yang darinya kosmos/alam semesta berkembang. Namun pusaran itu berkembang karena adanya rotasi perluasan. Adalah akibat aksi mekanis rotasi yang sejalan dengan pola Anaximander dan Anaximenes, yang menyebabkan terpisahnya kualitas-kualitas. Proses tersebut tidak ada hubungan dengan tujuan sama sekali.

Namun demikian, bukanlah ketiadaan tujuan yang menjadikannya cocok dengan pandangan dunia yang pluralistik, melainkan kehadiran Pikiran. Sampai jaman itu, realitas dipandang sebagai sesuatu yang korporeal/fisik: dimana realitas itu bisa jadi hidup, tetapi tetaplah merupakan benda fisik. Dialektika sejarah memaksa adanya pembedaan antara benda fisik yang digerakkan dan gaya yang menggerakkannya. Pembedaan yang mengharuskan adanya prinsip penggerak tersebut juga mengharuskan kesimpulan bahwa gaya tersebut bukanlah benda fisik. Dalam teori Empedokles, sebagaimana diharapkan dari seorang yang pertama kali mengemukakan konsep seperti itu, pemisahan yang tajam antara benda fisik dan prinsip penggerak tidak diungkap secara jelas. Dia menggambarkan Kasih dan Benci berdasarkan istilah yang dapat digunakan terhadap benda-benda fisik. Namun Anaxagoras menyatakan bahwa walaupun semua benda adalah campuran dari unsur-unsur, prinsip penggerak sama sekali tidak bercampur. Prinsip tersebut berada secara mandiri, karena kalau tidak mandiri, maka dayanya yang menguasai segala sesuatu yang lain akan berkurang. Frasa-frasa tersebut, yang hampir pasti menyatakan bahwa Pikiran bersifat inkorporeal, mengikuti penalaran dari situasi yang ada, yaitu; semakin tidak bernyawa dan lembam partikel-partikel mutlak, maka semakin sulit sebuah prinsip penggerak disebut sebuah benda fisik. Namun demikian kaum pluralis berharap untuk menjelaskan semua realitas berdasarkan benda-benda fisik. Upaya ketiga dan terakhir untuk menjadikan pluralisme konsisten perlu dilakukan. Selain itu, akan ada perbaikan terhadap pandangan ini jika upaya ketiga menghindari diri dari pandangan yang aneh bahwa rambut dan kuku tangan adalah unsur-unsur mendasar.

Demokritus

Karena alasan di atas, daripada mengasumsikan adanya empat unsur/elemen dan daripada mengasumsikan jenis unsur yang tak terbatas jumlahnya, orang dapat mengatakan bahwa secara kualitas semua atom identik. Inilah pandangan Leucippus dan Demokritus. Demokritus lahir di Thrace sekitar tahun 460 S.M. dan hidup selama hampir satu abad. Tidak ada seorangpun, bahkan pada jaman moderen ini, yang mengungkapkan atomisme dan mekanisme secara lebih klasik dari [Demokritus]. Motivasi sistem materialistik dan mekanistik adalah untuk menjelaskan semua fenomena berdasarkan mekanisme; dimana satu-satunya perbedaan asali pada unsur-unsur tersebut hanyalah perbedaan geometris, ditambah dengan gerak dalam ruang yang perlu untuk perubahan posisi. Karena itu, bagi Demokritus, ada dua prinsip yang menjelaskan segala sesuatu yaitu atom dan ruang kosong. Atom-atom tak terhingga jumlahnya; berbeda ukuran dan bentuknya, namun secara kualitas sama. Sebenarnya lebih akurat lagi kalau dikatakan bahwa masing-masing atom tidak memiliki kualitas. Karakteristik masing-masing atom hanya bersifat mekanis dan geometris. Karakteristik pertama yang penting adalah setiap atom tidak dapat dibelah/dibagi. Kata atom itu sendiri berarti tak dapat dibelah/dibagi. Karena itulah Demokritus menggunakan istilah atom dan menerapkannya pada unsur-unsurnya. Atom tidak dapat dibelah karena segala sesuatu yang dapat dibelah/dibagi bukanlah atom. Pakar fisika nuklir jaman ini belum berhasil membelah atom. Mereka hanya berhasil menunjukkan bahwa apa yang disebut pakar kimia abad kesembilan belas sebagai atom, sebenarnya bukanlah atom. Sedikit emas atau hidrogen yang sampai akhir-akhir ini dianggap tidak dapat dibelah, ternyata merupakan senyawa. Hanya senyawa dapat dibelah. Menurut Demokritus atom tidak dapat dibelah, bukan karena kecilnya tetapi karena kepadatannya. Tidak ada nukleus; tidak ada elektron atau proton; serta tidak ada ruang kosong dalam atom-nya Demokritus. Secara konseptual, seperti mungkin terindikasi dalam teori Anaxagoras, adalah memungkinkan untuk membagi/membelah segala sesuatu betapapun kecilnya. Selama materi menempati ruang, selalu ada cara untuk membaginya menjadi dua. Namun demikian, untuk membaginya menjadi dua secara fisik adalah masalah yang berbeda sama sekali; dan alasan bagi tidak dapat dibagi duanya atom Demokritus adalah karena atom bersifat padat. Atom-nya Demokritus tidak selalu harus berukuran kecil. Atom-atom tersebut tidak hanya bervariasi dalam hal ukuran, tetapi sebagian dari atom-atom tersebut sangat besar. Salah satu sumber kuno menyatakan Demokritus mengakui bahwa sebuah atom bisa berukuran sebesar dunia. Pernyataan yang cukup mengejutkan ini dapat dijelaskan atas dasar pandangan bahwa semua variasi haruslah memungkinkan jika satu-satunya karakter asali hanyalah berupa ukuran dan bentuk. Ada kemungkinan terdapat pandangan bahwa semua atom adalah bulatan sempurna dimana radiusnya setara. Namun untuk menjelaskan kualitas yang dapat dirasakan, Demokritus membutuhkan perbedaan bentuk. Sementara itu tidak ada alasan untuk menyangkali perbedaan ukuran, serta tidak ada alasan untuk membatasi jumlah perbedaan.

Namun ciri khas dari teori tersebut adalah atom-atom yang tidak punya asal-usul, tidak dapat musnah, dan tidak dapat berubah tersebut tidak memiliki kualitas. Anaxagoras berpendapat bahwa kisaran kualitas yang dapat diinderai terlalu luas untuk dijelaskan hanya berdasarkan perbedaan kualitatif asali yang jumlahnya terbatas. Harus diasumsikan adanya keberagaman yang tak terbatas demi menghindari pandangan akan asal-usul sesuatu dari ketiadaan. Namun demikian, bagi Demokritus, jumlah perbedaan asali yang terbatas sudah terlalu banyak: Semua atom sama dalam hal ketiadaan kualitas. Bahkan atom-atom tidak memiliki kualitas yang berupa berat sama sekali.

Pada awalnya, tampaknya menakjubkan kalau sebuah partikel padat tidak memiliki berat. Namun kalau orang berhenti sebentar untuk memikirkannya, tampaknya itu adalah satu-satunya posisi yang masuk akal. Apa itu berat? Para mahasiswa moderen mengenal gagasan bahwa berat bada kita di bulan lebih rendah dari pada di bumi. Semakin kecil benda tempat kita berada, maka semakin berkurang berat kita. Sekarang, coba andaikan bahwa satu orang atau sebuah partikel tidak berada di atas permukaan sesuatu: Tidakkah tak terhindarkan bahwa orang atau benda tersebut tidak memiliki berat? Memiliki berat tampaknya sama dengan memiliki seorang saudara laki-laki. Tidak ada seorangpun yang bisa menjadi saudara laki-laki bagi dirinya sendiri. Diperlukan dua orang agar ada seorang saudara laki-laki. Karena itu berat adalah sejenis hubungan yang sedemikian rupa sehingga sebuah atom tunggal dalam dirinya sendiri tidak memiliki berat. Lebih tepatnya, berat merupakan kecenderungan untuk bergerak ke arah tertentu. Pada permukaan bumi, benda-benda cendrung bergerak ke bawah; dan pada permukaan Bulan, benda-benda cenderung untuk bergerak ke arah pusat Bulan. Namun bagi sebuah atom tunggal dalam ruang yang tak terhingga, tidak terdapat gerak ke bawah – tidak ada arah dan tidak mungkin ada arah serta tidak ada pembedaan antara diam dan gerak, karena pembedaan ini membutuhkan perbedaan jarak antar dua atau lebih benda. Karena itu, atom ala Demokritus tidak memiliki kecenderungan untuk bergerak. Kalau atom-atom ini bertabrakan, seperti halnya bola bilyar, maka mereka akan akan berpencar. Namun dalam dirinya sendiri, tidak punya alasan untuk bergerak ke arah tertentu. Karena berat adalah kecenderungan untuk bergerak, maka sebuah atom tunggal tidak memiliki berat. Hanya kalau atom tersebut bergabung dengan atom lain, baru ada berat.

Perbedaan berat antara dua benda yang berukuran sama, seperti dua centi meter kubik gabus dan dua centi meter kubik logam, yaitu benda dengan kepadatan spesifik, dapat dijelaskan menggunakan proporsi atom terhadap dengan ruang kosong dalam benda-benda tersebut. Jika proporsi atom tinggi, maka benda berat; jika terdapat relatif lebih banyak ruang kosong, maka benda itu lebih ringan. Kualitas lain juga harus direduksi menjadi perbedaan geometris atau mekanis. Untuk menjelaskan perbedaan antara benda padat dan cair, dikatakan bahwa atom-atom dalam benda padat relatif lebih diam, sedangkan atom-atom yang berada dalam benda cair bergerak ke sana kemari. Diam menghalangi gerak, sehingga ketika anda mencoba mendorong tangan anda melewati sebuah kayu, maka hal itu hanya akan menyakiti tangan anda. Lebih mudah bagi anda untuk mendorong tangan anda melewati air. Atom-atom kayu diam, sedangkan atom-atom air bergerak, sehingga tangan anda dapat bergerak melewati air. Patut dicatat juga bahwa benda cair dan padat tidak identik dengan dengan berat atau ringan. Merkuri cair, namun berat; gabus padat tetapi ringan. Karakteristik mekanis atau geometris juga harus menjelaskan perbedaan antara panas dan dingin. Benda panas adalah benda-benda yang permukaan tajam atomnya menghadap ke permukaan; jika atom menonjolkan sisinya yang halus ke permukaan, maka benda dingin.

Kecemerlangan atomisme atau materialisme adalah teori ini mereduksi kepelbagaian alam semesta menjadi akibat dari penentu mekanis yang paling sedikit jumlahnya; dan karena tidak ada lagi perbedaan yang lebih sedikit daripada perbedaan geometris yang dikemukakan Demokritus, maka materialis yang hidup kemudian tidak mungkin memperbaiki teori Demokritus. Demokritus mengklaim bahwa semua kualitas yang sering kita alami dapat direduksi menjadi pengaturan kuantitatif. Yang nyata hanyalah atom dan ruang. Hal-hal lain hanya ada karena konvensi, yaitu, semua yang lain hanya kita pikirkan sebagai ada. Walaupun materialis moderen tidak dapat melampaui Demokritus, mereka dapat dan telah menirunya. Sejak awal sains moderen pada abad ketujuh belas, berbagai pemikir telah mengklaim bahwa kehidupan dan sensasi [inderawi] tidaklah nyata. Kehidupan dan sensasi inderawi hanyalah gerak dan kombinasi atom tertentu. Penglihatan adalah reaksi kimia pada retina ditambah dengan geliat tertentu dalam korteks. Reaksi kimia ini nyata atau alami, sedangkan penglihatan adalah fenomena, ilusi, atau setidaknya tidak senyata [reaksi] kimia. Warna sebenarnya tidaklah ada, tetapi getaran eter ada; bunyi atau suara tidak ada, namun gelombang di udara ada. Semua kualitas harus direduksi menjadi kuantitas. Air tidaklah basah atau cair; air adalah H2O.

Jadi, fakta kimia sederhana merupakan bahan pemikiran, baik bagi penganut materialisme maupun bagi non-materialisme. Apakah benar atau tidak bahwa kualitas dapat direduksi menjadi kuantitas? Litharge atau Timbal Monoksida, atau PbO, adalah bubuk berwarna kuning-oranye kusam. Kalau dicampur dengan gliserin, maka akan menjadi semen. Namun demikian, jika timbal atau oksigen ditambahkan ke dalam Litharge, maka kualitas lain akan muncul. Walaupun PbO2 dan PbO3 memiliki substansi yang sama namun dengan jumlah yang lebih banyak, PbO2 dan PbO3 memiliki kualitas keduanya sangat berbeda dari PbO. Perbandingan yang lebih lazim adalah antara air dan peroksida, dimana peroksida adalah air yang ditambahkan satu oksigen. Peroksida tidak terasa seperti air, dan air tidak bisa memutihkan seperti peroksida. Yang lebih membingungkan lagi, satu substansi tunggal seperti timbal oksida, belerang, atau karbon yang berwujud sebagai grafit dan berlian, bisa pula berwujud kristal dan non kristal. Walaupun tetap memiliki substansi kimia yang sama, bahan-bahan ini memiliki sifat fisik yang jelas berbeda dan perbedaan-perbedaan ini hanya bergantung pada pengaturan geometris dari atom dan ion. Apakah ini berarti bahwa kualitas telah direduksi menjadi kuantitas? Apa yang dimaksud dengan reduksi? Apakah itu berarti bahwa kualitas-kualitas inderawi tidak nyata? Apa yang dimaksud dengan nyata? Jika kualitas bersifat inderawi, apakah sensasi inderawi dan kehidupan hanyalah pembedaan kuantitatif yang sedikit lebih rumit dari perbedaan lain? Akhirnya, lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kualitas? Enam puluh atau tujuh puluh tahun kemudian Aristotle berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Di samping masalah-masalah umum yang penting demikian, Demokritus juga mempelajari banyak fenomena khusus. Magnetisme menarik perhatiannya. Demikian juga dengan kadar garam laut. Dia juga memberikan penjelasan tentang gempa bumi, guntur dan kilat, mengapungnya benda lobam di air, serta selain sensasi inderawi, dia juga menjelaskan berbagai hal terkait botani dan zoologi.

Tidak Terelakkannya Gerak

Namun masih ada hal lain lagi yang lebih umum dan lebih penting daripada hal-hal khusus tersebut. Apapun yang dikatakan mengenai realitas kualitas inderawi, asal-usulnya dari kombinasi variasi mekanis membutuhkan gerak dan perubahan. Atom harus bergerak. Lalu bagaimana gerak dan perubahan (motion) dijelaskan? Berdasarkan Kasih dan Benci? Atau berdasarkan Pikiran? Terkait dengan hal ini, Demokritus yakin bahwa penganut pluralisme sebelum dia telah tersesat. Parmenides telah menunjukkan bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan hanya dengan menggunakan satu benda. Karena itu perlu dijelaskan dengan menggunakan banyak benda. Namun demikian, gagasan mengenai Kasih dan Benci, atau Pikiran, merupakan upaya menggunakan sesuatu yang tidak bersifat fisik/jasmani [sebagai penjelasan]. Ini sudah berada di luar batas-batas prinsip-prinsip dasar pluralisme. Jadi, kalau dapat ditunjukkan bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan berdasarkan banyak benda, maka orang dapat berbicara tentang sesuatu yang non-korporeal/non-fisik, atau orang terpaksa harus menyatakan bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan. Tetapi tidak dapat dibayangkan seperti apa realitas non-korporeal itu. Namun demikian, adalah sesuatu yang terlalu gegabah untuk menyimpulkan tentang kegagalan pluralisme korporeal seandainya Demokritus berhasil menyelesaikan masalah-masalah tersebut dalam batas-batas konseptual pluralisme korporeal. Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah menunjukkan penyebab gerak. Dalam pembahasan tentang berat dikatakan bahwa secara individu atom tidak memiliki kecenderungan untuk bergerak. Atom-atom memiliki sifat seperti bola bilyar yang berada di atas meja biliar. Seperti halnya bola bilyar, jika salah satunya tersenggol/tertabrak, maka bola tersebut akan bergerak.

Karena itu, untuk menjelaskan gerak/perubahan atom yang berada di hadapan kita, orang hanya perlu menunjukkan atom mana yang menabrak dengan atom tersebut. Tumbukan adalah penjelasan bagi gerak dan perubahan. Namun jika sebuah atom ditabrak atom lain, apa yang menyebabkan atom yang menabrak itu bergerak? Jawabannya sederhana, yaitu: atom ketiga. Selanjutnya atom keempat menabrak atom yang ketiga. Demikian terus berjalan mundur, sampai selamanya. Namun apa yang menyebabkan gerak tersebut? Apa yang terjadi pada awal rangkaian tabrakan tersebut? Pertanyaan ini hanya muncul kalau orang gagal memahami apa yang dikatakan Demokritus. Tidak ada gerak pertama atau gerak awal. Gerak selalu ada. Terdapat tak terhingga banyaknya atom dan setiap saat atom-atom tersebut bertumbukan dengan atom lain. Dengan demikian, setiap gerak dapat dijelaskan. Karena itu, tidak diperlukan prinsip gerak yang misterius. Tidak ada pikiran ilahi yang mengarahkan alam semesta. Tidak ada tujuan bagi segala sesuatu. Segala sesuatu terjadi karena memang harus terjadi, dan alam semesta merupakan sebuah sistem mekanistik yang sangat luas.

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 37 – 44. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Anaxagoras, Demokritus, Empedokles, Filosofi, Filsafat Kuno, Filsuf Pra-Sokrates, Kaum Pluralis, Sejarah Filsafat, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s