Para Filsuf dari Miletus

Para Filsuf dari Miletus

Lalu apa yang muncul pada tahun 585 S.M. namun belum ada sebelumnya, dan dimulai pada waktu yang aneh, yaitu jam 6:13 sore/malam? Pada hari itu terjadi gerhana matahari. Tentu saja, gerhana matahari sudah terjadi sebelumnya. Namun ada sesuatu yang baru dengan gerhana matahari tersebut. Gerhana matahari tersebut sudah diramalkan oleh Thales, seorang astronom dari Miletus di Ionia. Catatan tentang fenomena langit telah dibuat olah orang-orang bijak di Timur selama berabad-abad. Namun Thaleslah yang pertama kali melihat adanya keteraturan dalam kejadian-kejadian tersebut serta merumuskan sebuah hukum, dan berhasil menguji rumusan hukum tersebut dengan sebuah ramalan yang tepat[1]. Bersama dengan spekulasi Thales yang lainnya, ramalan disebut filsafat. Hal ini belum pernah ada sebelumnya.

Kesatuan dan Kepelbagaian

Pada jaman-jaman selanjutnya, misalnya pada jaman Johannes Kepler, perumusan hukum-hukum astronomis disebut sebagai keberhasilan astronomi dan tidak disebut filsafat. Salah satu alasan disebut demikian adalah bahwa filsafat telah melahirkan ilmu baru. Ketika ilmu-ilmu ini menjadi dewasa, menjadi terspesialisasi, dan mengalami penambahan informasi yang rinci, mereka meninggalkan rumah orang tuanya dan membangun rumah sendiri. Namun demikian, pada jaman Thales, tidak ada ilmu pengetahuan khusus, dan adalah keberuntungan Thales untuk memulai ilmu pengetahuan sekaligus filsafat.

Hukum yang memprediksi gerhana matahari adalah contoh ilmu pengetahuan/sains dan filsafat karena walaupun hukum ini secara langsung dapat diterapkan pada Matahari, Bulan, dan Bumi, sehingga layak disebut astronomi, namun secara mendasar hukum ini tetaplah merupakan sebuah hukum, yaitu sebuah contoh universalisasi/pengambilan kesimpulan universal. Sifat inilah yang memisahkan peristiwa ini dari peristiwa-peristiwa besar pada jaman itu. Para orang bijak di Timur telah mengumpulkan data astronomi yang berlimpah banyaknya. Namun mereka tidak pernah mereduksi bahan-bahan informasi yang tidak saling terkait tersebut menjadi bentuk yang teratur dan menyatu. Filsafat dimulai dengan mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan.

Ilmu pengetahuan juga mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan. Kepler memiliki data tentang berbagai posisi planet pada waktu berbeda-beda. Kecemerlangannya terletak pada fakta bahwa dia mengatur rincian-rincian data yang sangat besar jumlahnya sehingga tampak sebuah keseragaman. Dia menunjukkan bahwa semua planet bergerak dengan cara yang sama – yaitu secara elips dengan vektor radiusnya melewati luas daerah yang sama dalam jangka waktu yang sama. Yang dilakukan Kepler adalah penyatuan kepelbagaian. Jika yang dilakukan itu sudah cukup independen/berdiri sendiri, maka akan menjadi ilmu pengetahuan. Namun jika masih bersifat umum jika dibandingkan keadaan pengetahuan pada jaman itu, maka disebut filsafat. Karena itu, Thales merupakan orang yang pertama yang memulai keduanya (yaitu filsafat dan ilmu pengetahuan).

Seandainya Thales hanya berspekulasi tentang gerhana, maka sejarah akan mencatatnya hanya sebagai seorang astronom, walaupun gagasan tentang hukum memiliki arti sangat penting yang sangat luas. Namun Thales juga mencoba menerapkan kesatuan pada kepelbagaian yang ditemui di seluruh alam semesta. Di samping matahari, terdapat planet dan bintang. Di bumi sendiri terdapat gunung, laut, dan manusia, serta ada badai, gempa bumi, dan musim-musim. Ada juga kehidupan, pengalaman inderawi, dan kematian. Di samping semua itu, terdapat berbagai kualitas mulai dari rasa zaitun sampai kemerahannya fajar pagi atau beratnya perisai Achilles. Tak dapat dipungkiri bahwa semua itu adalah kepelbagaian. Namun apakah ada kesatuan di sana?

Pertanyaannya yang tampaknya jelas bagi Thales dan penerusnya adalah, Bagaimana kepelbagaian yang teratur ini terjadi? Terbuat dari apa semua itu? Dunia tampaknya terbuat dari tak terhingga banyaknya hal – ada tumbuhan, hewan, awan, dan gunung. Namun, tampaknya jelas bahwa banyak hal yang memiliki susunan atau komposisi yang sama. Karena manusia memakan tumbuhan dan hewan, maka tubuh manusia pastilah tersusun oleh bahan yang sama dengan bahan yang menyusun tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dan hewan, serta manusia meminum air; dan bahkan pohon di hutan mengandung 89 persen air. Ketika air mendidih, uapnya serasa seperti dengan api; kilat yang membakar pohon pastilah sama dengan api di tungku yang menyebabkan air mendidih. Jika tubuh kita hangat, maka pasti [saat itu] tubuh juga mengandung api atau air panas. Tidak mungkinkah segala sesuatu terbuat dari satu unsur mendasar saja?

Harus diakui bahwa pada pengamatan awal tampaknya tidak benar bahwa alam semesta hanya tersusun oleh satu unsur mendasar. Tetapi coba andaikan alam semesta tersusun dari sejumlah unsur, misalnya sembilan puluh empat. Apakah ada alasan mengapa harus sembilan puluh empat? Mengapa bukan sembilan puluh satu atau seratus lima puluh dua misalnya? Tidakkah seharusnya ada alasan? Jika tidak ada alasan, maka alam semesta tidak masuk akal dan irasional, sehingga tidak dapat dipahami. Hanya sesuatu yang rasional yang dapat dipahami; dan agar ada pemahaman, maka perlu mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan. Gerhana dapat dipahami setelah hukum tentang gerhana dirumuskan, dan hukum tersebut adalah sebuah kesatuan yang diperoleh dari semua kasus atau kejadian gerhana. Karena itu, secara rasional alam semesta harus pasti tersusun dari satu unsur mendasar saja.

Prinsip [yang menyatakan] bahwa penjelasan bergantung pada reduksi kepelbagaian menjadi kesatuan dan gagasan bahwa alam semesta hanya terdiri dari satu unsur mendasar merupakan sebuah posisi filosofis yang luas dan umum. Namun kalau sudah sampai pada penentuan unsur materi, sulit untuk mengatakan pada abad kedua puluh ini, apakah hal itu merupakan filsafat atau fisika spekulatif. Teori lama yang menyatakan bahwa ada sembilan puluh empat unsur biasanya diajarkan dalam bidang kimia; namun dengan berkembangnya teori kuantum dan dengan dibelahnya atom, nama apa yang kita harus berikan kepada anggapan bahwa alam semesta tidak tersusun oleh partikel materi yang diskrit, tapi tersusun oleh energi atau bidang gaya?

Nama lama yang digunakan adalah kosmologi. Kosmologi moderen ini sangat mirip dengan pandangan Thales dalam hal kepercayaan bahwa hanya ada satu unsur yang mendasari segala sesuatu dan yang darinya segala sesuatu berasal. Namun penentuan atau identifikasi unsur mendasar yang dilakukan Thales jauh lebih naif daripada yang dilakukan pada jaman kita yang mutakhir. Thales tidak memilih energi atau listrik (yang dia memang tidak ketahui) sebagai unsur dasar, tetapi dia memilih air sebagai unsur dasar alam semesta.

Walaupun sulit (kalau tidak dapat dikatakan mustahil) untuk menarik garis batas yang tegas antara fisika spekulatif dan filsafat, dan walaupun sejarah filsafat adalah filsafat itu sendiri, namun identifikasi air sebagai unsur mendasar alam semesta oleh Thales merupakan informasi fisik dan historis yang orang mungkin anggap tidak penting. Sejumlah pendidik memberi kesan bahwa semua fakta tidak penting. Mereka meremehkan transmisi informasi dari guru kepada murid dan [berpandangan bahwa] tujuan pendidikan bukanlah masalah pemerolehan fakta melalui katekisasi dan menghafal, tetapi masalah pemikiran yang independen.

Memang benar bahwa kemampuan berpikir lebih bernilai daripada kumpulan informasi tidak saling terkait. Studi filsafat sendiri harus memberikan pelatihan berpikir dan bukan hanya menghafal kepada mahasiswa. Cara terbaik untuk mempelajari filsfat adalah melalui argumentasi; baik dengan profesor di kelas maupun dengan sesama mahasiswa di luar kelas. Berargumentasi, yaitu berargumentasi secara serius, adalah berfilsafat. Namun masih tersisa sebuah pertanyaan yaitu apakah mahasiswa dapat berpikir atau berargumen secara serius dengan pikiran yang kosong? Jika jelas bahwa orang awam tidak dapat berdiskusi secara cerdas tentang penyebab kanker, seharusnya tidak dapat dipungkiri pula bahwa orang yang tidak paham tentang penempatan dan taktik militer lawan, tidak mampu berargumen secara serius tentang strategi dan taktik internasional. Demikian pula, cara tercepat untuk diperkenalkan kepada filsafat adalah dengan mengetahui sejumlah fakta. Salah satu fakta itu adalah kepercayaan Thales bahwa dia sudah menemukan fakta bahwa segala sesuatu tersusun/terbentuk dari air.

Sebuah Prinsip Harus Memberi Penjelasan

Walaupun fakta bahwa segala sesuatu terbuat dari air tidak lebih penting daripada fakta bahwa segala sesuatu terbuat dari energi, namun alasan dan motif di balik penegasan tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Thales mencoba memberi penjelasan yang komprehensif tentang alam semesta. Apapun unsur yang dia pilih, unsur tersebut harus memiliki kemasukakalan untuk disebut sebagai sumber dari semua gaya yang tampak dalam fenomena alam. Dapatkah orang yang berada dalam perahu kecil dan diombang-ambingkan oleh badai di Laut Mediterania menyangkali bahwa samudera merupakan sumber kekuatan yang besar? Jika air merupakan dasar dari segala sesuatu dan berada di bawah bumi juga, seperti yang orang ketahui melalui penggalian sumur, maka badai seperti yang terjadi di Laut Mediterania pasti berada di balik gempa bumi. Jika alam semesta dan semua fenomenanya hanya berasal dari satu unsur, maka unsur tersebut harus mampu merubah diri menjadi hal-hal yang lazim kita lihat. Air dapat menghasilkan bumi seperti terlihat dari fakta bahwa ketika air menguap dari dalam cawan percobaan, maka akan terlihat adanya bumi kecil yang tersisa. Penguapan juga menunjukkan bagaimana air menghasilkan udara. Sedangkan dalam kejadian kilat dan hujan, terlihat ada hubungan antara air dan api. Karena itu, bukanlah sebuah kemustahilan untuk mengasumsikan bahwa segala sesuatu berasal dari air. Lebih jauh lagi, tidak hanya fisika, kimia, dan meteorologi yang dapat dijelaskan dengan air. Botani, zoologi, dan psikologi harus pula tunduk pada penjelasan demikian. Filsafat tidak bisa mengabaikan apapun di dunia.

Bagaimana air menjelaskan tentang kehidupan? Pertama-tama, jelas bahwa kehidupan tidak mungkin ada tanpa air: tumbuhan akan cepat mati kalau kekeringan, dan ketika mati akan mengering. Demikian pula dengan manusia. Walaupun manusia dapat hidup cukup lama hanya dengan meminum air, dia tidak dapat hidup tanpa air. Air juga tampaknya dapat menghasilkan makhluk hidup karena kalau kolam mulai kering, akan terlihat adanya makhluk hidup yang menggeliat-geliat. Lebih jauh lagi, air tidak mungkin mendukung kehidupan atau menghasilkan kehidupan kalau air itu sendiri benda tak hidup. Untuk mereduksi kepelbagaian menjadi kesatuan, orang harus menunjukkan bahwa apa yang kelihatan hidup sebenarnya mati atau [berpegang pada pandangan bahwa] segala sesuatu hidup. Sejauh [pembahasan] ini, pandangan kedua yang lebih berpeluang untuk benar. Satu unsur yang menjelaskan tentang dunia haruslah merupakan unsur yang hidup. Pembedaan antara makhluk hidup dan tidak hidup merupakan perkembangan yang terjadi di kemudian waktu. Pada jaman moderen, khususnya sejak abad ketujuh belas, gagasan [bahwa segala sesuatu adalah] benda mati dianggap tidak terhindarkan. Sejumlah pemikir saat itu menyangkali keberadaan jiwa atau prinsip kehidupan dan mencoba menjelaskan tumbuhan, hewan, dan manusia hanya atas dasar materialistik. Pemikir lain percaya bahwa jiwa adalah satu keharusan dan karena mereka tidak dapat menyangkali keberadaan bahan-bahan tidak hidup, maka mereka menegaskan dan mempercayai ajaran dualisme. Namun filsafat Miletus percaya adanya unsur mendasar tunggal yang hidup dan bersifat fisik – dan teori ini disebut Hilozoisme.

Pandangan ini dapat dinyatakan dengan istilah yang lebih universal dan lebih mendasar. Gempa bumi dan adanya makhluk yang menggeliat di kolam, serta revolusi planet dan bintang, merupakan contoh kasus gerak dan perubahan (motion). Tak dapat disangkali bahwa gerak dan perubahan merupakan fenomena alam yang paling universal, dan hilozoisme merupakan upaya untuk menjelaskan tentang gerak dan perubahan. Gerak asali tidak dapat digerakkan oleh gerak lain yang lebih asali. Gerak asali harus menggerakkan diri sendiri. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa hal-hal yang menggerakkan diri sendiri adalah hal yang hidup. Perubahan spontan merupakan kriteria kehidupan. Karena itu gerak dan perubahan merupakan karakteristik asali dari wujud atau keberadaan asali. Mencari prinsip lain selain prinsip tersebut akan merupakan penyangkalan terhadap motivasi monistik dan akan membawa kepada dualisme. Karena itu, spontanitas merupakan ciri melekat dari benda.

Teori ini penting dan pengikut Thales, yaitu Anaximander dan Anaximenes, yang juga penduduk Miletus, menambahkan lebih banyak fakta [untuk mendukung teori ini]. Mereka bahkan mengemukakan satu atau dua prinsip sekunder. Namun demikian secara mendasar, pandangan mereka sama sehingga ketiganya digolongkan menjadi satu mashab/aliran yang diberi nama para Filsuf Alam dari Ionia, atau Aliran Miletus.

Masalah Murid Thales

Kedua murid Thales terutama Anaximander, menambahkan fakta tentang astronomi. Sejumlah pertanyaan mendesak harus dijawab terkait dengan hubungan antara Bumi dan Matahari. Pergantian siang dan malam dapat dengan mudah dijelaskan dengan mengasumsikan sebagai benar apa yang jelas bagi indera – yaitu bahwa langit berputar mengelilingi Bumi sekali dalam dua puluh empat jam. Namun masalah pergantian musim, panjang musim, serta gerak matahari ke utara dan selatan merupakan masalah yang sulit. Banyak mahasiswa perguruan tinggi saat ini yang tidak tahu apakah keempat musim sama panjang atau tidak. Ketika ditanya bagaimana mereka mengetahui panjangnya musim, jawaban yang mereka berikan adalah mereka akan bertanya kepada astronom atau mencarinya di buku. Penduduk Ionia tidak memiliki astronom atau buku referensi. Mereka juga tidak memiliki teleskop berukuran dua ratus inchi. Bagaimana mereka menjawab pertanyaan tersebut? Yang jelas, jika mereka harus mengukur panjang musim, maka mereka harus menggunakan alat tertentu untuk mengukur waktu. Tampaknya mereka harus menciptakan sebuah alat baru ketika alat yang lazim mereka jumpai dalam budaya mereka tidak dapat digunakan. Instrumen sederhana apa yang mereka gunakan? Bagaimana mereka menentukan awal dan akhir musim? Pertanyaan ini tidak akan dijawab di sini dan mahasiswa perlu melatih kecakapan/kecerdikannya untuk menemukan alat tersebut. Petunjuk untuk menjawabnya adalah, alat ini harus menentukan arah Utara. (Bukan, jawabannya bukan kompas.) Masalah astronomi lain pada jaman itu terdapat pada “pengembara” di angkasa yaitu planet-planet. Kadang-kadang mereka bergerak dari Timur ke Barat seperti bintang tetap. Namun terkadang juga mereka bergerak dari Barat ke Timur seperti matahari. Bagaimana menjelaskan pergerakan planet-planet ini? Masih ada banyak masalah lain yang belum disebutkan di sini, dan perkembangan astronomi di Yunani cepat serta sejarahnya menarik. Namun karena tulisan ini bukan sejarah astronomi, mahasiswa harus memilih untuk meniru para filsuf Yunani dan mencoba mengembangkan sendiri, atau mendapatkannya dari sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, yaitu buku pegangan, demi memastikan fakta-fakta [yang dia dapatkan benar].

Anaximander tidak puas [dengan pandangan bahwa] air merupakan unsur tunggal alam semesta. Bagi Anaximander, air tampaknya berada pada tingkatan yang sama dengan bumi, udara, dan api. Keempatnya merupakan hasil dari proses alamiah, yaitu sesuatu yang berkembang dari hal lain, dan bukan sumber dari segala sesuatu. Keempatnya tidak mungkin merupakan sumber dari segala sesuatu. Namun sumber dari segala sesuatu harus mengandung keempat unsur itu atau setidaknya mengandung kualitas yang darinya keempat unsur itu dapat dihasilkan. Karena itu, Anaximander mempercayai adanya sebuah unsur yang dia sebut “Boundless/Tak Berbatas” atau “Tak Terhingga.”

Theophrastus, seorang murid Aristotle, menyatakan bahwa istilah Tak Berbatas mengindikasikan hal yang tidak ada batasnya atau yang luasnya tak terbatas. Ke dalam gagasan ini ditambahkan gagasan bahwa tata surya kita hanyalah salah satu dari dunia yang tersebar di dalam ruang dan tak terbatas jumlahnya. Satu setengah abad kemudian memang itulah yang dimaksud dan kaum pluralislah yang mengemukakan gagasan ini. Namun demikian patut diragukan apakah pada abad keenam Sebelum Masehi telah ada gagasan tentang ruang yang tak terbatas; dan bukanlah sesuatu yang konsisten kalau penekanan awal akan kesatuan pada saat yang sama menghasilkan penegasan tentang adanya banyak dunia. Ada peluang untuk menafsir kata ini dengan cara lain. Dalam Bahasa Yunani, istilah tidak berbatas atau tidak terbatas diterapkan pada hal-hal yang tidak memiliki bagian-bagian, tanpa awal dan tanpa akhir. Sebagai contoh, sebuah cincin yang mulus disebut tak terbatas. Demikian juga sebuah lingkaran wanita yang mengelilingi sebuah altar, sebuah jubah tak berjahit, dan bulatan adalah hal-hal yang tidak terbatas[2]. Dalam contoh-contoh ini tidak terdapat gagasan tentang besaran tak terhingga sama sekali. Karena itu, walaupun unsur Tak Berbatas-nya Anaximander bukanlah tak terbatas secara kuantitas, namun ada kemungkinan unsur tersebut merupakan sumber kosmos yang tidak akan habis karena unsur ini merupakan sumber yang yang memadai untuk menghasilkan segala sesuatu. Sebagai sebuah sumber, unsur ini dapat saja habis seiring dengan terbentuknya benda-benda di alam semesta, namun sumber ini terus-menerus dipenuhi kembali karena hal-hal yang telah terbentuk tersebut kembali lagi menjadi bentuk awal. Dengan demikian ketiadaan batasnya terletak pada waktu dan bukan pada ruang.

Unsur asalinya Anaximander juga tak berbatas dalam pengertian bahwa unsur tersebut tidak dibatasi atau dicirikan oleh kualitas tertentu. Air basah dan api panas. Tetapi unsur tak berbatas mungkin lebih baik dikatakan, basah dan panas serta dingin dan kering (daripada disebut tidak basah atau tidak panas). Keempat kualitas dasar ini tercampur merata sedemikian rupa dalam unsur asali tersebut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin hal-hal yang basah dan panas seperti air dan api bisa dihasilkan darinya? Namun dibutuhkan imajinasi berlebih untuk memahami seperti apa benda yang sekaligus dingin, panas, basah, dan kering. Tetapi ada filsuf di kemudian hari yang walaupun lebih menggantungkan diri pada pemikiran daripada imajinasi, mengemukakan gagasan tentang wujud asali yang sangat aneh dibanding pengalaman sehari-hari. Sebagai contoh, Plotinus menyingkirkan semua kualitas dari wujud asali [a la Plotinus] yang paling sederhana dan tak terlukiskan, yang darinya berbagai perbedaan [yang terlihat di alam] dihasilkan dengan cara yang misterius. Sedangkan Spinoza tidak hanya menjadikan wujud asali tersebut bersifat mental sekaligus material, tetapi juga memberinya sifat tak diketahui yang tak terbatas jumlahnya. Memang para filsuf sering melakukan hal aneh. Namun bukankah dunia ini juga adalah dunia yang aneh?

Anaximander mencoba menjadikan proses terjadinya bumi, udara, api dan air dari unsur asali sebagai proses yang dapat dipahami. Yang ada di benaknya adalah sesuatu yang bekerja seperti mesin pemisah susu dan krim, dimana unsur asali tak berbatas tersebut berputar-putar sehingga kualitas-kualitas berbeda itu terpisah dan pada tempat tertentu dihasilkan air dan di tempat lain dihasilkan api, sehingga alam semesta yang kita ketahui ini terbentuk. Karena gerakan berputar ini terkait dengan gerakan bintang dan planet, maka astronomi dan kosmologi dijelaskan dengan prinsip yang sama.

Anaximenes, yang merupakan anggota ketiga dalam aliran Miletus, sulit menerima adanya unsur asali tak berbatas. Bagaimana mungkin orang mengetahui bahwa hal seperti itu ada? Bagi Anaximenes, substansi empiris lebih masuk akal menjadi unsur asali. Dari semua unsur empiris, menurut Anaximenes, udara lebih cocok jadi unsur asali daripada air. Satu alasan yang paling jelas adalah bahwa perbedaan antara makhluk hidup dan makhluk mati bukan pada jumlah air dalam tubuhnya, tetapi pada jumlah udara dalam tubuhnya. Karena itu udara lebih masuk akal untuk disebut prinsip kehidupan. Alasan lain adalah, jika air tidak ditopang, maka akan tumpah dan jatuh ke bawah. Demikian juga dengan bumi. Namun jika anda menaruh udara sebanyak tiga puluh centimeter kubik di sebuah ruangan, udara tersebut diam walaupun tanpa penopang. Karena itu, mengingat udara lebih stabil daripada air, maka udara merupakan penjelasan yang lebih baik bagi fakta bahwa planet tidak jatuh. Udara menopang planet-planet karena udara punya kemampuan menopang diri sendiri. “Seperti halnya jiwa menyatukan diri kita, demikian juga napas dan udara menyatukan alam semesta.”

Pemilihan udara sebagai unsur asali oleh Anaximenes mungkin merupakan fakta yang tak penting atau bahkan tak menarik karena alasannya untuk memilih udara adalah tebakan jaman moderen yang masuk akal. Namun metode Anaximenes untuk menjelaskan bagaimana air, bumi dan api dihasilkan oleh udara jauh lebih penting dan mungkin merupakan sebuah alasan utama bagi orisinalitasnya. Pemisah krim dapat dengan mudah dipahami di peternakan susu. Namun diragukan kalau pemisah krim ini akan bermanfaat bagi unsur asali tak berbatas (yang dipertanyakan tersebut). Metode untuk menghasilkan perbedaan kualitas dari udara sebagai unsur asali tidak dapat diragukan. Buka lebar mulut anda dan perlahan-lahan hembuskan nafas ke bagian dalam tangan anda dan andapun merasakan bahwa udara hangat. Tetapi coba rapatkan mulut anda seperti hendak bersiul dan hembuskan nafas, maka yang didapat adalah udara dingin. Jadi kondensasi dan refraksi merupakan penyebab dari timbulnya kualitas berbeda. Kondensasi dan refraksi merupakan proses mekanis. Karena itu, suhu dan kepadatan terhubung secara mekanistik. Walaupun penjelasan mekanis tampaknya janggal dalam hylozoisme, namun memainkan peranan penting dalam sejarah filsafat.

Dalam mengevaluasi filsuf-flisuf awal ini, mustahil untuk menentukan apakah kita telah memberi penghargaan berlebih atau kurang dari yang seharusnya kita berikan kepada mereka. Sebarapa dalam mereka memahami prinsip mereka sendiri? Apakah mereka mengetahui masa depan? Ataukah yang kita anggap pandangan mereka sesungguhnya adalah pandangan para penerusnya? Ajaran mekanisme filosofis sendiri tidak diungkap secara jelas dan eksplisit sampai satu abad kemudian. Namun di pihak lain, para penulis buku pegangan moderen yang berkemampuan rendah bisa saja tidak memberi mereka penghargaan yang mereka pantas dapatkan karena para penulis tersebut menilai pemikiran-pemikiran filosofis awal ini dengan standar yang kurang mendalam. Resiko merendahkan luas dan dalamnya pemikiran para filsuf dari Miletus atau para filsuf Pra-Sokrates lainnya diperparah dengan keadaan historis dimana tulisan mereka sudah tidak ada lagi. Pengetahuan tentang periode ini harus dikumpulkan dari kutipan-kutipan dan diskusi-diskusi Plato, Aristotel, dan para penulis lain yang muncul kemudian. Seandainya Kant hanya dikenali dari satu halaman tulisan dari masing-masing enam atau delapan penulis abad kedua puluh, bisakah kita menganggapnya sebagai filsuf yang lebih besar dari pada Anaximenes? Tak diragukan bahwa para filsuf awal ini memiliki pandangan dunia yang sangat terpadu. Pokok-pokok esensial pandangan mereka telah disebutkan di atas. Semua fenomena seluruh alam semesta, tanpa kecuali, harus dijelaskan berdasarkan sebuah prinsip atau unsur korporeal/fisik/jasmani tunggal. Karena unsur ini merupakan asal dari segala sesuatu, maka unsur ini haruslah bersifat kekal, tanpa awal dan tanpa akhir. Proses yang dengannya unsur asali ini membentuk obyek-obyek yang kita lihat sehari-hari bersifat hidup sekaligus mekanis. Proses tersebut bersifat mekanistik dalam hal penggambaran/deskripsi; dan bersifat hidup dalam hal unsur tersebut menggerakkan diri sendiri – tidak ada yang memulainya bergerak. Unsur itu bergerak secara spontan. Jadi, filsafat Ionia tidak berbeda jauh dengan naturalisme abad kedua puluh.

Namun demikian, walaupun sejarawan moderen harus lebih mengakui luasnya wawasan yang dimiliki para filsuf awal, namun ada sebuah gagasan yang tidak pernah terbersit dalam benak para filsuf awal ini. Setidaknya semua petunjuk dan alasan yang masuk akal tidak mendukung pandangan bahwa para filsuf awal ini pernah memikirkannya. Pemikiran yang dominan di antara para filsuf Miletus adalah prinsip monisme korporeal/fisik. Mereka mungkin telah memikirkan tentang peluang adanya kemajemukan unsur asali. Mereka juga mungkin telah memikirkan kemungkinan tentang asal-usul dan penghancuran mutlak dari sebuah unsur. Mereka mungkin telah mempertimbangkan tentang klaim bahwa alam semesta terbatas atau tak terbatas. Mereka juga mungkin telah bertanya-tanya tentang kemungkinan adanya alternatif terhadap gerak spontan. Namun jika dalam pengertian tertentu penjelasan adalah reduksi kepelbagaian menjadi kesatuan, maka tampaknya mereka tidak pernah berpikir tentang alternatif lain selain kesatuan korporeal/fisik.

Keterasingan Budaya

Tampaknya wajar untuk memulai filsafat seperti yang dilakukan para filsuf Ionia yaitu dengan cara mencoba menjelaskan alam semesta berdasarkan benda fisik. Hal ini juga sesuai dengan penalaran lazim bahwa para pemikir awal ini tidak dapat diharapkan untuk memikirkan kemungkinan lain (selain unsur asali tunggal yang bersifat korporeal/fisik). Namun selain masalah psikologi individu ini, terdapat keterasingan budaya yang menyebabkan mereka tidak terpapar pada gagasan lain. Keterasingan budaya ini terus berlanjut beberapa abad, tak terbatas pada masa awal filsafat Ionia ini. Bahkan kalaupun penerus dari para filsuf awal ini akhirnya mempertimbangkan pandangan tentang realitas inkorporeal/non-fisik, mereka tidak pernah berpikir untuk mereduksi kepelbagaian alam semesta menjadi tindakan penciptaan dari pribadi Allah yang mahakuasa. Konsep Ibrani ini pertama-tama diperkenalkan ke peradaban Greko-Romawi melalui penyebaran Kekristenan. Tentu saja, orang Yunani memikirkan tentang dewa. Bahkan Thales dilaporkan pernah mengatakan bahwa segala sesuatu penuh dengan dewa. Namun para dewa yang secara ilmiah namun tak historis diinterpretasi sebagai personifikasi kekuatan-kekuatan alam ini, merupakan makhluk korporeal/fisik, yang sama seperti pribadi hylozois lainnya berasal dari proses alamiah. Para dewa ini tidak kekal tetapi dilahirkan serta dapat disingkirkan dan mungkin juga dihancurkan. Gagasan tentang Allah yang Mahakuasa sangat asing bagi orang Yunani. Demikian juga konsep tentang penciptaan. Konsep Allah mahakuasa yang mampu menciptakan dunia dari ketiadaan bukan merupakan konsep yang mereka tolak, melainkan konsep yang tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka. Penciptaan merupakan gagasan yang hanya ditemukan dalam pemikiran Ibrani. Bahkan sampai pada masa Lucretius pun, ketika dia menyangkali bahwa ada hal yang timbul karena kuasa ilahi, tidak ada indikasi bahwa ada orang pada jamannya yang pernah mendengar tentang penciptaan. Yang dimaksud Lucretius hanyalah bahwa para dewa Yunani dan Romawi tidak punya pengaruh apapun di dunia ini. Tentu saja Lucretius akan menyangkali gagasan Ibrani mengenai penciptaan seandainya dia mengetahui tentang gagasan tersebut. Namun intinya adalah mereka tidak pernah berpikir tentang gagasan seperti itu.

Hal yang baru saja dikemukakan sebelumnya tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk meremehkan Thales, Plato, atau bahkan Lucretius, yang dengan sedikit usaha mungkin bisa mengetahui/mempelajari tentang kepercayaan Orang Yahudi. Tujuan dikemukakannya hal ini ada dua, yaitu tujuan pedagogis dan logis. Perbandingan dua pandangan yang saling bertentangan akan memperjelas perbedaan antara keduanya. Walaupun pada titik ini terlalu awal untuk membicarakan tentang gagasan Ibrani – Kristen karena akan dibahas pada bagian tentang Jaman Pertengahan, namun budaya Barat jaman kita begitu banyak dipengaruhi oleh konsep Kekristenan sehingga dianggap bahwa semua orang sudah memahami Kekristenan. Tujuan logis tulisan ini adalah menunjukkan bahwa setiap sistem filsafat memiliki aksioma tertentu yang dipegang sebagai benar dan memiliki metode untuk menentukan sifat dari kesimpulan yang diambil. Mulai dari Thales sampai ke John Dewey, boleh dikatakan bahwa kesulitan yang rumit dapat dianggap tidak penting karena sebenarnya kesulitannya terletak pada titik tolak awal. Penerimaan yang begitu saja terhadap sebuah posisi awal, entah karena ketidaktahuan akan alternatif dari posisi tersebut atau penolakan untuk memikirkan tentang alternatif lain, tidak hanya membawa kepada kesimpulan yang tidak terelakkan (itu terjadi pada setiap aksioma), tetapi juga membawa kepada penerimaan akan sebuah sistem tanpa memperhitungkan sejumlah penolakan yang berbobot yang harus dihadapi sistem tersebut. Walaupun sebuah metode filosofis memungkinkan adanya beberapa pilihan dan bahkan menjawab sejumlah keberatan, bisa jadi pada saat yang sama sistem tersebut mengabaikan keberatan lainnya sehingga langsung berprasangka terhadap keberatan-keberatan tersebut. Dengan demikian, sistem yang saling bertentangan tidak diberikan perhatian yang adil. Titik tolak awal sudah menghalangi [penganut sistem tersebut] untuk mempertimbangkan sistem lain.

Namun demikian, setidaknya ada satu keuntungan mempelajari filsafat yang ditulis dalam sebuah budaya yang terasing/terisolasi. Beberapa halaman sebelumnya dikemukakan pembelaan terhadap arti penting filsafat kuno dengan alasan bahwa filsafat kuno lebih sederhana dan lebih mudah dari filsafat moderen. Berabad-abad refleksi filosofis mau tidak mau harus menghasilkan kerumitan. Hal ini juga berlaku pada jaman filsafat Yunani, mengingat Aristotle lebih rumit filsafatnya daripada para filsuf dari Ionia. Namun selain kerumitan, peradaban moderen juga mewarisi tradisi Ibrani sekaligus tradisi Yunani, dan merupakan campuran dari keduanya. Karena itu masuk akal kalau pencampuran antara dua pandangan yang saling berbeda secara radikal tersebut menghasilkan kebingungan. Karl Marx dan Friedrich Nietzsche ingin menghilangkan kebingungan tersebut dengan memulihkan kemurnian paganisme/kekafiran, sedangkan fundamentalis Kristen lebih memilih kemurnian tradisi Kristen. Thomas Aquinas, seorang pemikir besar abad pertengahan, tidak percaya bahwa pencampuran antara gagasan kafir dan kekristenan mengakibatkan kebingungan. Karena itu dia menetapkan tujuannya untuk mengintegrasikan yang terbaik dari spekulasi Yunani dengan pandangan dunia Kristen. Secara khusus Aquinas percaya bahwa dalam diri Aristotle dia menyaksikan apa yang dapat pikiran manusia lakukan tanpa wahyu ilahi. Sebagai contoh, walaupun memungkinkan untuk membuktikan keberadaan Allah, namun doktrin providensia Allah berada di luar jangkauan akal manusia (tanpa bantuan Allah), karena kalau hal itu bisa didemonstrasikan akal manusia (tanpa bantuan Allah), pasti Aristotle sudah mendemonstrasikannya. Saat ini mungkin tidak perlu untuk terlalu memberi penilaian setinggi itu tentang Aristotle, dan kita juga tidak perlu menganggap bahwa filsafat Yunani secara keseluruhan merupakan puncak kecerdasan manusia. Namun demikian, jika terjadi konflik antara kekafiran dan kekristenan; dan jika timbul keraguan apakah Hegelianisme, Pragmatisme, dan Humanisme kontemporer berhak untuk memasukkan nilai-nilai Kekrsitenan yaitu kasih, kemurahan, dan keadilan (yang didasari pada konsep tentang Allah yang mahakuasa) ke dalam sistem filsafatnya atau apakah bersama dengan Spinoza dan Nietzsche kita menganggap sebagian atau semua nilai tersebut sebagai kejahatan, maka kemurnian filsafat Yunani beserta analisa logis yang tajam akan bermanfaat sebagai dasar penilaian terhadap pemikiran filsafat pada jaman kita.

[1] Para astronom moderen menghitung bahwa gerhana tersebut terjadi setelah jam 6:00 sore di Asia Kecil. Pembaca tidak dapat menganggap bahwa Thales meramalkan menit, jam, dan bahkan hari gerhana. Jika dia berhasil memprediksikan bulan terjadinya gerhana, maka keberhasilannya sudah gemilang.
[2] Bandingkan F. M. Cornford, Principium Sapientiae(Cambridge University Press, 1952), 171-178

Terjemahan dari Buku Thales to Dewey, tulisan Gordon H. Clark,hal 19 – 27. (oleh Ma Kuru)

Pos ini dipublikasikan di Anaximander, Filosofi, Filsuf Dari Miletus, Gordon H. Clark, Sejarah Filsafat, Terjemahan, Thales, Thales to Dewey. Tandai permalink.

Mau Komentar? Silahkan! Tetapi perhatikan cara diskusi yang baik! Perhatikan juga bahwa semua tulisan di sini berhak cipta, jadi tolong identifikasi sumber anda kalau mau mengutip tulisan di sini! Terima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s